
"Kamu curang," kekeh Kalandra yang sengaja datang ke perusahaan Kiara pagi ini.
"Curang kenapa?" tanya Kiara heran. Dia pun terkejut melihat kehadiran Kalandra di ruangannya.
Karena ini terlalu pagi. Apa dia ngga ada kerjaan? batin Kiara.
Karena harusnya sebagai bos, dia ke perusahaannya dulu, kan?
Apalagi mereka ngga ada janjian meeting di pagi ini.
Kiara semakin aneh melihat Kalandra sering tersenyum, walau tipis. Karena setaunya laki laki ini sangat irit ekspresi. Selalu datar dan dingin.
Kecuali saat membahas idamannya yang sudah menjadi milik orang lain.
Kalandra dengan santai duduk dan menyilangkan kakinya di depan gadis yang hampir bertunangan dengannya. Dia menatap gadis itu dengan seksama membuat Kiara merasa semakin aneh dan kini memicingkan kedua matanya mengamati laki laki yang naksir berat dengan sekretarisnya itu.
"Kamu kenapa? Sudah ngga naksir Adriana lagi? Ganti naksir aku?" tanya Kiara mencoba menggoda.
Kalandra kembali tersenyum tipis menanggapinya.
Mungkin gadis seperti kamu yang memang dicari Emra, batin Kalandra. Kiara terlihat tangguh menghadapi Emra. Bukan seperti perempuan lemah yang selalu bersama sepupu playernya itu. Karena akan sulit menghandle tipe pemuja wanita seperti Emra.
Watak player dan ngga pernah setianya akan menjadi tantangan berat buat para gadis untuk menaklukkannya.
Kiara sepertinya udah mendapatkan enam puluh persen hati Emra. Kalandra ngga bisa memberi point lebih dari itu. Walau nurut hatinya, Kiara punya kesempatan besar untuk membuat Emra takluk, bertekuk di kakinya.
"Ternyata kamu juga memanfaatkan aku, ya," ucap Kalandra membuat Kiara tercekat. Dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Kalandra. Hanya saja Kiara mencoba bersikap pura pura ngga ngerti.
"Maksudnya?"
Kalandra menatapnya dengan sorot lekatnya penuh tuduhan yang diyakini benar.
"Kamu dan Emra."
Kalandra menahan tawanya melihat sedikit riak kaget di mata Kiara.
"Foto dan video kalian berdua tadi malam viral," sambungnya lagi. Kembali Kalandra dapat menangkap riak terkejut lagi di mata Kiara.
Kiara masih ngga menjawab. Dia bingung bagaimana mau menyangkal. Sepertinya Kalandra sudah sangat yakin.
Foto foto dan videonya sudah bertebaran di media sosial. Pertanyaan pun sudah banyak dia dapatkan. Dari kedua temannya tadi malam. Juga dari teman di grup kuliah dan SMAnya. Mereka malah mempostingnya di kedua grup itu membuat Kiara memvakumkan dirinya untuk sementara waktu.
Kedua orang tuanya dan kakak laki lakinya juga melenparkan banyak pertanyaan tentang kedekatannya dengan Emra.
"Kamu lebih suka dengan Emra dari pada Kalandra?" Mamanya tersenyum senang. Akhirnya ada juga jalan agar mereka bisa berbesanan. Opa dan Oma Kiara pun menatap cucunya dengan mata penuh binar.
"Mama ngomong apa?' tanyanya pura pura ngga ngerti dengan nada lembut.
Ngga nyangka keluarganya seupdate ini. Mereka seperti sengaja menunggu dia pulang untuk mencecarnya dengan pertanyaan yang penuh dengan harapan.
"Tapi kamu harus hati hati, dek. Emra bukan laki laki setia," kata Kaif, kakak laki lakinya mengingatkan.
"Mending kamu dengan Emir," lanjutnya lagi.
Emra selain rekan bisnis, juga rekannya clubbing. Dia cukup tau sepak terjang laki laki itu dengan para pemujanya.
Agak ngga rela kalo adiknya jatuh dalam pelukan tukang maen perempuan itu.
Dia lebih setuju kalo Kalandra yang menjadi jodoh adiknya. Tapi adiknya menolak tegas.
Bahkan dia lebih mendukung kalo adiknya bersama Emir saja.
"Apaan, sih, Bang," sangkalnya. Dadanya berdebar juga.
Abangnya tau? Juga yang laimnya?
Mama, papa, Kaif, beserta opa omanya tersenyum lebar saat Kiara menatap mereka. Mereka semua terlihat bahagia karena perjodohan untuk mengeratkan ikatan keluarga mereka ngga jadi batal.
Biarlah calonnya berubah, begitu pikir mereka.
Karena ngga ingin mendapat interogasi lagi, Kiara pergi menghindar dengan alasan sudah ngantuk dan bergegas menuju kamar tidurnya.
Pagi tadi pun Kiara ngga ikut sarapan dan sengaja berangkat pagi pagi ke perusahaan keluarganya.
Tapi sekarang malah ada Kalandra yang sudah mencurigainya kalo ada sesuatu antara dia dengan Emra.
Padahal Kiara sudah berusaha menyembunyikan dalam dalam ketertarikannya pada Emra.
Tapi sikap agresif laki laki itu tadi malam membuat banyak orang mulai dilanda pikiran aneh.
Walaupun dia sangat tersanjung mendapat perlakuan istimewa itu. Sampai kini debarannya masih tersisa.
Setelah merasa puas dengan keterdiaman Kiara dan raut malu malunya, Kalandra bangkit dari duduknya. Hatinya sudah seratus persen yakin.
"Jangan berikan hal mudah buat Emra. Oke, aku pergi dulu," senyumnya sebelum berbalik pergi.
"Kamu dan Adriana bagaimana?" keluar juga suara dari bibir Kiara saat laki laki itu sedang membuka pintu.
"Aku akan lebih berusaha keras agar dia secepatnya putus dengan kekasihnya," jawab Kalandra santai.
"Semoga berhasil," senyum Kiara agak melebar.
Laki laki aneh. Seperti ngga ada perempuan lain saja.
Kalandra melambaikan tangannya tanpa berbalik dan sekarang dia benar benar sudah menghilang setelah menutup pintu ruangannya.
*
*
*
Kalandra menahan dadanya yang memanas melihat kedekatan Emra pada Adriana. Sepupunya itu duduk di sudut meja kerja Adriana dengan kedua kakinya menahan lantai. Di kedua tangannya memegang kertas kertas dokumen.
"Dari mana?" sapa Emra terlihat biasa saja.
Seperti mengejeknya membuat Kalandra yakin kalo Emra sudah tau soal hubungannya dengan Kiara hanya bisnis.
Berbeda reaksi dengan Adriana yang semakin dalam menundukkan kepalanya kian dalam.
Dia cemburu? batin Kalandra senang. Dan Emra dapat menangkapnya.
Benar dugaan Emir ternyata. Tapi bukannya Adriana sudah punya pacar?
Emra tentu masih ingat dengan laki laki berambut cepak yang diyakini mereka sebagai pacar Adriana.
Perjuanganmu akan cukup berat, brother, kekehnya dalam hati.
'Nanti siang kita makan bareng, ya, Adriana," ajak Emra yang bergema dalam liang telinga Kalandra yang sedang berjalan melewati keduanya.
Keduanya tangannya mengepal kuat, menahan emosinya yang naek tiba tiba. Dia menahan kemarahannya sekuatnya agar ngga meninju mulut Emra yang sangat ringan merayu.
Apa apaan ini. Apa Emra juga bermaksud mendekati sekretarisnya juga?
BRAKK!
Tanpa sadar Kalandra membanting pintu ruangannya dengan keras saat dia menutupnya.
Emra memalingkan wajahnya dari Adriana sambil tersenyum geli.
Adriana mengangkat wajahnya dan menatap pintu ruangan Kalandra yang sudah tertutup rapat. Dia cukup terkejut mendengar suara keras dari pintu ruangan Kalandra.
Ngga biasanya bosnya bersikap begini.
Apa karena foto foto dan video kedekatan Emra dengan tunangannya?
Entahlah, Adriana agak bingung saat melihat foto dan menonton video keduanya.
"Adriana?" panggil Emra lagi.
"Eh, i iya, pak," sahut Adriana gugup.
"Oke, aku ke ruanganku dulu."
Adriana menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Bos bosnya nampak bersikap aneh, batinnya penuh tanya.
Mereka memperebutkan nona Kiara? batinnya sedih.
Nona Kiara memang beruntung, batinnya lagi sedikit iri. Tapi kemudian menepisnya agar jauh jauh. Saat ini yang dibutuhkan Adriana adalah secangkir kopi panas di pantri.
*
*
*
"Kalian jangan sampai keterlaluam mengerjai kakakku," ultimatum Nidya di ruangan Emir. Ada Ansel di sana. Keduanya tertawa kecil.
Tumben kompak, batinnya sinis.
Biar bagaimana pun juga Nidya sangat menyayangi Kalandra. Walaupun kakak tersayangnya itu sudah menipunya, tapi dia ngga akan memberikan balasan yang berat. Cukup menyentilnya saja.
"Tenanglah. Oh iya, apa benar Adriana sudah punya pacar?" tanya Emir lembut.
"Nanti akan ku tanyakan padanya."
"Good," puji Ansel dengan menunjukkan dua jempol tangannya di depan Nidya.
Nidya melengos kesal.
"Apa kakakku akan tetap mengejar Adriana kalo dia sudah punya pacar," gumamnya lirih. Tapi masih bisa terdengar jelas oleh keduanya.
"Kurasa iya," sahut Ansel cepat.
"Mungkin dia akan membuatnya putus," sambung Ansel tanpa beban.
Nisya mendelikkan matanya. Rasanya kakakmya ngga seseram itu.
"Kamu berlebihan," belanya sengit.
Kembali Emir dan Ansel tergelak.
"Ngga disangka Emra menyukai Kiara," dengus Nidya sambil menatap kesal pada sepupunya yang masih tertawa.
"Dia seperti cacing kepanasan," ejek Ansel dalam tawanya.
Dalan hati Emir mengakui kebenaran kata kata Ansel. Dia sudah melihat sendiri kelakuan Emra yang aneh akhir akhir ini. Selalu uring uringan tanpa alasan jelas.
"Hebat kalo Kiara bisa menaklukkan si buaya itu. Tapi aku ngga respek, malah kasian. Aku takut dia akan dikhianati," tutur Nidya panjang lebar.
Menurutnya lebih baik Kiara bersama Emir.
"Aku penasaran dengan endingnya," respon Ansel dengan senyum miringnya.
"Juga endingmu," kekeh Emir menyindir
Ansel tergelak. Senyum mengejek terukir di bibir Nidya.
Ya, Ansel juga buaya, dan Nayara ngga tau juga apa nantinya akan dikhianati Ansel atau tidak.
Bagi Nidya laki laki idama itu seperti kakaknya-Kalandra, Emir, Alexander dan Fathan.
Eh, mikir apaan, kenapa larinya ke Fathan, tawanya dalam hati.
Tapi Fathan memang sosok setia yang pantas di sejajarkan dengan ketiga laki laki itu.