NOT Second Lead

NOT Second Lead
Rahasia Player Daniel yang diketahui Emir



Emir tadi hanya mengantar Kamila di depan pintu gerbangnya saja.


Bahkan dia terpaksa menolak ajakan atau mungkin sekadar basa basi dari Kamila agar mampir.


Tadi di separuh perjalanannya, Emir melihat mobil sport Daniel terparkir di depan area pemakaman yang cukup luas dan sangat terawat.


Emir merasa penasaran. Kapan sahabatnya itu ingat akan kematian. Karena itu dia pun terburu buru meninggalkan Kamila yang masih berdiri bengong menatap kepergiannya.


Emir tersenyum saat melihat gadis itu masih nampak linglung di kaca spionnya.


Bahkan Emir tau di depan itu ada kamera CCTV, tapi dengan lancang dia mencium sekilas bibir merah penuh itu.


Bodoh amat. Besok dia akan menghadapi kemarahan sang pemilik gadis cantik ini jika ketahuan akan kelakuan nekatnya tadi.


Emir pun belum bisa menduga siapa sebenarnya nama keluarga Kamila. Tapi besok saat akan menjemput gadis itu, dia akan segera tau.


Jantungnya berdebaran ngga menentu saking ngga sabarnya menunggu besok.


Tapi sekarang fokusnya pada Daniel yang akhir akhir ini sikapnya agak aneh.


Apalagi sekarang dia lagi ke kuburan. Setau Emir, belum ada keluarganya yang meninggal. Bahkan oma dan opanya saja, empat empatnya masih sehat wa'alfiat.


Kalo buyutnya, Emir yakin, ngga dimakankan di sini, tapi jauh di pulau sebelah.


Makanya Emir bingung, kuburan siapa yang Daniel datangi.


Untunglah mobil Daniel masih diparkir ketika Emir tiba setelah dia ngebut setengah mati karena rasa penasarannya yang besar.


Melihat mobil yang masih dalam keadaan kosong, Emir membuka helmnya dan setelah menyantelnya di stangnya, Emir pun duduk di atas kap depan mobil Daniel. Untungnya ada pohon yang meneduhi mobil Daniel hingga Emir yang berada di sana ngga kepanasan.


Ada sekitaran waktu setengah jam an baru Emir melihat Daniel yang sedang berjalan keluar dari pemakaman. Iseng Emir melihat kaki Daniel.


Emir tersenyum miring ketika melihat kaki Daniel menjejak tanah.


Dia pun mengejek kebodohannya yang muncul mendadak. Mungkin karena hari sudah menjelang sore, jadi muncul pikiran anehnya.


Daniel terkejut melihat ada Emir yang sedang duduk di kap mobilnya.


Dia pun mendekat dan duduk di samping Emir yang hanya melihatnya saja tanpa sepatah kata pun.


"Dari mana?" tanya Daniel setelah cukup lama keduanya terdiam.


'Abis ngantar pacar," sahut Emir kalem.


"Beneran punya pacar?" Tatap mata Daniel menyorot ngga percaya.


Emir tersenyum simpul.


"Ngapain di sini? Keluarga kita ngga ada yang dikubur di sini," tanya Emir mengalihkan topik pembicaraan.


Daniel menghela nafas panjang.


"Menjenguk pacar," ucap Daniel sambil menyandarkan tubuhnya di kap mobil dengan tangan menyangga kepalanya. Tubuhnya berselonjor di kap mobil dengan satu kaki di silangkan. Tatapnya seolah menembus langit sore.


Emir menatap Daniel sedikit terkejut mendengar apa yang dia ucapkan. Mata sahabatnya pun terlihat sedih.


"Jangan bilang tadi kamu ke kuburannya," todong Emir dengan jantung berdebar keras.


Daniel ngga menjawab. Pandangannya masih tetap ke langit yang jauh di atasnya.


"Dia sudah meninggal?" Emir merasa kerongkongannya tercekat


Keanehan sikap Daniel akhir akhir ini terjawab sudah.


Tapi kenapa dia ngga tau yang mana kekasih Daniel. Setaunya sahabatnya itu selalu berganti perempuan setiap harinya.


Jadi siapa diantaranya yang meninggal?


Karena seingat Emir dia ngga menerima notif ada model model yang dikencani Daniel meninggal.


"Ya."


Emir termangu. Jawaban yang walau sudah dia duga tapi ngga pernah dia sangka.


"Siapa dia? Apa aku kenal?" Rasa penasaran masih mengisi seluruh ruang kosong di kepalanya.


"Tidak. Itu sepuluh tahun yang lalu." Kemudian Daniel mengalihkan lagi tatapannya ke langit.


Kening Emir tambah berkerut.


Maksudnya apa? Sudah sepuluh tahun tapi seperti barusan saja ditinggal, decih Emir semakin ngga ngerti dengan keadaan Daniel yang tampak sangat terguncang.


"Aku baru tau dia sudah meninggal dari kembarannya." Seakan tau apa yang dipikirkan Emir, Daniel sedikit memberikan penjelasan. Baru kali ini dia seterbuka ini menceritakan rahasianya. Emir adalah orang pertama yang tau tentang betapa semrawutnya hatinya sekarang.


"Kembar?" Emir semakin tertarik dan banyak bertanya. Dia merasa saat ini Daniel sedang butuh seseorang untuk mendengar curhatannya.


"Nadira. Dia juga yang ngasih tau kalo Nadine sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu," cerita Daniel dengan suara getir.


Nadira-Nadine....? Emir berusaha mencerna setiap perkataan Daniel.


"Ku kira dulu Nadine meninggalkanku karena ingin menikah dengan orang lain. Tapi ternyata dia sedang sakit parah." Daniel mengambil nafas dalam dalam seakan pasokan oksigennya sudah menipis.


Emir masih setia mendengarkan.


"Dan aku baru tau sebulan yang lalu, kalo Nadineku sudah meninggal. Aku bodoh. Aku mengira dia mencampakkanku. Tapi ternyata dia sedang berjuang melawan penyakitnya," kekeh Daniel berusaha tegar.


Emir termangu mendengar suara tawa yang penuh getaran kesakitan itu.


"Kamu lagi dimana?"


"Aku kecelakaan karena berhari hari menunggu dia kembali, tapi sia sia. Kemudian aku menjalani pengobatan di Inggris."


Emir tertegun. Ngga nyangka kisah player yang ngga pernah serius itu sepahit ini


"Sekarang tiap minggu aku hanya bisa mengunjungi kuburannya. Membayangkan kembali bagaimana ekspresinya saat tersenyum, tertawa dan malu malu. Hanya membayangkan saja, hatiku sudah sangat terhibur," lanjut Daniel lagi. Dia tersenyum dalam kegetiran sambil terus menatap jauh ke langit. Seakan akan kekasihnya ada di sana sedang balas menatapnya.


Emir shock mendengarnya. Ini kisah tragis terhebat yang pernah didengarnya dari seorang player yang selalu ditempeli para perempuan cantik dan seksi.


Ternyata player pun bisa merasa patah hati sehebat ini.


"Mereka kembar identik?" tanya Emir yang juga ikutan menatap langit. Seakan ingin ikut menyapa gadisnya Daniel.


"Ya."


Emir menoleh sebentar.pada laki laki yang tampak rapuh di depannya.


Emir yakin, pasti Daniel bisa gila jika dihadapkan setiap hari pada wajah kekasihnya yang ternyata bukan, melainkan kembarannya.


*


*


*


"Gimana kencannya?" tanya Selina via video call. Dia sudah ngga sabar mendengar cerita Kamila atas kencannya tadi dengan Emir.


Laki laki.yang sangat tampan dan penuh kharisma.


Sayangnya dia hanya laki laki biasa saja. Apalagi dia ngga malu mengakui kalo slalu menggunakan fasilitas bosnya yang sudah dianggapnya sebagai temannya.


Seharusnya laki laki itu untuknya karena mereka setipe. Tapi Selina menginginkan lebih. Padahal Emir sangat tampan. Tapi dia ngga hanya butuh laki laki yang sekedar tampan saja.


Dia iri melihat kehidupan mewah Kamila. Padahal dulu dia ngga begitu. Semua ini juga salah Kamila yang mengenalkan kehidupan jet set padanya.


Karena itu dia mulai terpikir untuk mencari pacar sekaya atau lebih kalo bisa dari Kamila.


Semoga saja Emir mau mengenalkan bosnya itu padanya.