
Emir sedang memakaikan Kamila helm saat mereka mendengar sapaan ramah dari teman Kamila.
"Kalian mau pulang?" Selina menatap sangat ramah pada Emir dan Kamila.
Baru kali ini Kamila merasa muak melihat Selina.
Kamila tau kemana arah sorot mata Selina menatap.
Emir melihat Kamila seperti kurang nyaman karena kehadiran Selina. Dia ngga membalas sapaan itu dan hanya fokus menatap Kamila sambil membenarkan tali helm gadis itu.
Merasa ngga dipedulikan apa lagi oleh Emir, sebenarnya sudah membuat Selina sangat malu. Tapi dia berusaha menahannya. Mungkin ini trik Emir agar ngga ketahuan kalo dirinya sudah punya pacar, dan Kamila hanyalah selingkuhannya.
Poor Kamila, ejek Selina lagi dalam hati.
"Apakah kalian akan naik helikopter lagi? Kalo iya, bolehkah aku ikut menumpang?" tanya Selina masih dengan eskpresi ramahnya, seolah ngga terganggu karena sudah dicuekin sedari tadi.
Tekadnya sudah bulat, ingin merasakan bagaimana rasanya menaiki helikopter.
Emir menatap Kamila, agar gadis itu saja yang menjawabnya. Tapi baru saja Kamila akan menjawab, Selina sudah nyerocos lagi.
"Maaf sebelumnya, Emir. Kamila sempat memperlihatkan foto kalian berdua naek heli. Jadi siapa tau mau naek lagi, aku mau nebeng," senyum Selina amat manis kini ditujukan pada Emir, bukan Kamila.
Emir bukannya ngga tau kalo teman Kamila ini sedang mendekatinya. Hanya saja dia heran mengapa gadis ini melakukannya di depan Kamila?
Bukannya itu sangat ngga sopan sekali? Lagi lagi Emir menatap Kamila, bingung bagaimana caranya mengusir gadis yang caper banget dengannya ini.
Dia malas sekali membuka mulutnya walau hanya sepatah kata untuk menanggapi teman Kamila.
"Ohya, Emir, waktu di root top aku melihat obrolan kalian seru sekali," sambung Selina memberikannya ancaman kalo dirinya tau Kamila hanya selingkuhannya saja.
Dia harus berhasil dengan cara ini. Keinginannya untuk naek heli sudah ngga terbendung.
Dia punya kartu As yang bisa membuat Kamila tersingkir dan Emir akan selalu menuruti permintaannya.
Tanpa sadar Emir dan Kamila tersenyum mendengarnya.
Kemudian Emir menganggukkan kepalanya pada Kamila memintanya untuk cepat menaiki ducatynya. Mereka ngga perlu buang buang waktu mengurus mulut sampah seperti ini.
Kamila pun dengan cepat menaiki ducaty Emir dan memeluk pinggang laki laki itu dengan erat, seperti permintaan yang sering diucapkan laki laki ini padanya.
Selina ternganga melihatnya. Ngga percaya kalo dia akan dicuekin sampai seperti ini.
Bahkan Kamila sedikit pun ngga tersenyum padanya, seolah menjadi isyarat kalo temannya itu ngga mau kenal dengannya lagi.
Motor pun melaju kencang melewatiinya sampai dia harus memundurkan tubuhnya untuk memberikan jalan. Karena kalo tidak dia lakukan maka motor keren itu akan menabraknya. Paling tidak, dia akan kena serempet.
Selina terbatuk begitu asap motor yang sengaja di gas Emir mengotori wajahnya dan masuk ke dalam ruang penciumannya.
"Sialan!" makinya sambil menghentakkan kaki dan berjalan menjauhi asap.
Di pikiran Selina sangat heran kenapa Emir ngga takut dengan ancamannya.
"Oke, kalo itu mau kamu. Aku akan mengatakannya pada Kamila kalo kamu sebenarnya sudah punya pacar," decaknya emosional. Ngga terima dia direndahin hingga seperti ini.
Sementara itu Emir dan Kamila sontak tertawa setelah meninggalkan Selina yang nampak marah atas perlakuan ducaty Emir padanya tadi.
Kamila menghela nafas lega, bersyukur Emir ngga mudah tergoda oleh Selina.
*
*
*
Seperti janjinya, pagi ini Xavi sudah datang di mansion mewah milik Opa dan Oma Daiva.
Bahkan papi dan maminya pun sudah duduk manis seoah sedang menunggu kedatangan Xavi. Mungkin Daiva sudah memberitau akan kedatangannya pada keluarganya, hingga mereka cukup lengkap menerima kedatangannya.
Bahkan Rihana dan Alexander yang kebetulan menginap pun juga ikut duduk manis menemui Xavi.
"Jadi maksud kamu ke sini mau apa?" tanya Opa Iskandardinata pura pura bertanya dengan nada ngga acuh.
Oma Mora pun mencubit lengan suaminya gemas, hingga Opa meringis dengan tatapan manjanya pada istrinya yang menatapnya galak.
"Kita, kan, sudah lama tau maksudnya. Jangan ditanya lagi," omel Oma Mora sebal karena suaminya selalu saja usil, ingin menggoda calon suami Daiva yang nampaknya sudah ngga sabar memperistri ponakannya itu.
Sementara suaminya-Papa Daiva tersenyum simpul.
Rihana pun tersenyum menggoda kakak sepupunya yang nampak malu malu. Dia jadi teringat waktu Alexander di sidang opa dan omanya dulu.
Alexander menatap Xavi dengan senyum smirknya.
Kamu ngga akan bisa cepat menikahi Daiva, Bro. Ikuti antriannya, batinnya mengejek.
Seakan mengerti, Xavi menaikkan satu alisnya sambil menatap kesal pada Alexander.
Aku akan menikungnya, batinnya seolah menjawab arti senyuman di wajah Alexander.
"Kapan kamu mau menikahi, Daiva?" tanya Papi Daiva setelah beberapa menit kemudian.
Tidak perlu basa basi lagi. Ini adalah kedatangan kedua Xavi setelah kedatangan pertamanya dulu untuk meminta Daiva jadi istrinya.
"Kalo bisa secepatnya, Om," respon Xavi cepat. Dia harus bisa menyalib dan menikung sepupu Daiva dari Opa Airlangga.
Alexander hampir saja tertawa melihat mimik serius Xavi.
Apa dia ngga takut jika Kalandra bersaudara itu mendengar niatnya?
Seingatnya setelah Nidya menikah, Kalandra akan menyusul, dilanjutkan Emra dan Ansel.
Emir sendiri juga perlahan akan mendekat dengan calon istri yang sudah dia temukan. Tinggal adik Ansel yang belum jelas akan menikah dengan siapa dan kapan waktunya.
"Minggu depan Fathan sama Nidya.akan menikah. Bagaimana kalo kamu minggu depannya lagi?" usul Opa Iskandardinata sengaja menantang kesiapan Xavi.
YESS! Hampir saja Xavi bersorak.
Sesuai dengan harapannya.
Alexander kembali tersenyum miring.
Bagaimana reaksi Kalandra jika tau kalo dia akan ditikung?
Alexander ngga sabar untuk memberitaunya.
"Jangan kasih tau Kak Kalandra," bisik Rihana memperingatkan, seakan tau apa yang akan dilakukan oleh Alexander ketika tangannya mulai membuka kunci layar ponselnya.
"Hemm.....?" Mata Alexander menatap istrinya bingung.
"Apa?" tanya Rihana malas. Masih dengan nada berbisik pelan.
"Kamu tau dari mana kalo aku akan memberitau Kalandra?"
"Dari senyum kamu."
"What's? Bagaimana bisa," Alexander menggelengkan kepala, istrinya itu kenapa bisa membaca niatnya lewat senyumnya saja.
Mengerikan juga, batinnya tergelak.
"Aku sudah lama mengenalmu. Sejak SMA kalo kamu lupa."
Kali ini Alexander ngga bisa menyembunyikan lengkungan sempurna bibirmya.
Ngga menyangka Rihana begitu dalam mengetahui dirinya.
"Aku semakin cinta sama kamu, Zira," bisiknya lagi.
"Sssttttt....." Lagi lagi Rihana memberikannya peringatannya. Kalo dibiarkan Alexander akan semakin lupa keberadaan mereka serta situasi saat ini.
"Emm.... sorry," bisik Alexander tersandar dan mulai membenarkan posisi duduknya yang tadi sempat menyandar pada bahu Rihana.
Dewan yang tadi sempat memperhatikan putri dan menantunya, mengembangkan senyumnya.
Hatinya sangat bahagia melihatnya. Alexader sangat mencintai Rihana, demikian juga putrinya. Keduanya pun sedang pun dalam fase hidup yang sangat bahagia. Rihana sedang hamil dan Alexander sudah menjadi suami yang penuh cinta dan siaga.
Dewan memejamkan mata, membayangkan itu dirinya dan Dilara yang sedang bermesraan. Hatinya tersenyum. Cintanya hanya satu dan tak terganti.
Sementara Xavi ngga peduli pada pasangan yang selalu saja bermesraan ngga kenal waktu dan tempat itu. Dia tetap fokus pada tujuannya meminta Daiva menjadi istrinya.