NOT Second Lead

NOT Second Lead
Keputusan Daiva



Setelah melihat kepergian Xavi, Daiva segera memesan taksi online. Dia harus menemui sepupunya.


Aurora mau menemuinya. Kini keduanya saling tatap dalan keadaan diam.


"Kejadian hari ini perbuatan kamu?" Nada suara Daiva sudah seperti menuduh, bukan bertanya.


"Kalian ngga apa apa?" Aurora balik bertanya, ngga peduli dengan tanggapan kakak sepupunya. Tidak ada niat untuk membela dirinya. Karena baginya percuma saja. Saat ini dia hanya khawatir, karena Daiva dan omanya ada di sana.


Tapi dia sedikit lega melihat keadaan Daiva yang tampak baik baik saja.


Oma bagaimana? batinnya ngga sabar menunggu jawaban kakak sepupunya.


Daiva menghela nafas kesal.


"Oma di rumah sakit."


Hening.


"Aku harap kamu berhenti," tegas Daiva dengan netra tajamnya.


Aurora mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Aku akan usahakan kamu bebas setelah melahirkan."


Mendengarnya Aurora balik menatap Daiva ngga kalah tajamnya.


"Aku ngga mau anak ini."


"Jangan menambah dosamu lagi."


Dua pasang netra seakan sedang beradu ketajaman.


"Aku jamin, jika anak ini lahir dengan selamat, kamu akan segera bebas."


Aurora tertawa sinis.


"Pendukungku bisa melakukannya tanpa mengharap aku melahirkan anak ini."


"Aku yang akan mengasuhnya," ujar Daiva ngotot. Bayi ngga berdosa, orang tuanya lah yang sudah bersalah. Daiva akan memberikan semua kasih sayangnya. Bahkan keluarga besarnya pasti akan menyayanginya. Bayi itu darah daging Aurora.


Aurora mendelik ngga percaya.


"Jangan becanda." Aurora tertawa sumbang.


Kakak sepupunya aneh aneh saja. Dikira gampang mengurus bayi.


"Aku serius. Fokuslah untuk mengurus dirimu setelah bebas nanti."


Aurora terdiam. Sebenarnya dia ingin menangis. Dia ngga nyangka sebesar itu perhatian kakak sepupunya padanya. Dadanya terasa sesak.


"Kenapa?" tanyanya dengan mata mulai kabur.


"Aku ingin kamu kembali seperti Aurora yang dulu."


Aurora membuang tatapannya ke arah lain. Ngga ingin ketahuan kalo saat ini air matanya mulai bergulir.


*


*


*


"Jangan lakukan apa apa lagi, ma," ucap Aurora ketika mamanya mengunjunginya.


Mamanya menatapnya dengan mara sedikit beriak. Terkejut sekaligus senang. Dia pun sudah lelah dan ingin berhenti. Dirinya ingin bisa hidup dengan tenang. Yang dia inginkan hanya kebebasan Aurora dan membawa putinya meninggalkan negara ini. Melupakan semuanya. Kepahitan dan kegagalannya.


"Kamu sungguh sungguh?"


"Mama tau bagaimana keadaan Oma Mora?" Aurora balik bertanya.


Mama Aurora terdiam.


Apa karena ini? batinnya.


Dia sudah mendapat konfirmasi dari mafia yang disewanya kalo serangan mereka gagal.


Dewan mengabarkannya kalo mamanya mengalami trauma dan sedang dirawat di rumah sakit. Tapi sampai sekarang, Irena belum menjenguk mama mertuanya.


"Oma hanya kaget. Katanya dia mau ketemu kamu tapi kamu ngga mau."


Aurora ngga menjawab.


Irena pun diam.


Hening.


"Kamu jadi mau menggugurkan kandungan?"


Aurora menatap mamanya lekat dan lama. Teringat akan percakapannya dengan Daiva.


"Rora sayang," pangil Irena karena ngga ada jawaban.


"Ngga, Ma. Daiva yang akan mengurusnya."


Irena ganti terdiam. Ngga menyangka mendengar jawaban Aurora.


Daiva, terima kasih, batinnya terharu.


Keponakan yang selalu ada saat mereka terhimpit masalah sebesar ini.


*


*


*


"Kak Daiva mau mengasuh anak Aurora?" manik mata Rihana menatapnya salut.


"Iya, ngga mungkin, kan, Aurora membesarkan anaknya di penjara," sahut Daiva dengan senyum di wajahnya.


Rihana manggut manggut.


Daiva mampir ke rumah Oma Mien setelah pulang dari menjenguk Aurora.


Alexander saat ini sedang berbicara serius dengan Kalandra dan sepupu kembarnya di ruang kerja Kalandra.


"Kak, biar aku dan Alex saja yang nantinya merawat anak itu," usul Rihana setelah cukup lama berpikir.


"Kamu yakin Alexander mau?" senyum Daiva ngga yakin.


Mereka baru akan menikah.


"Nanti aku tanyakan, kak."


"Jangan, biar aku saja. Aku juga ngga akan sendiri mengurus bayinya. Ada mama papaku, kakakku, juga jangan lupa papamu serta oma opa," kekeh Daiva.


"Nikmati pernikahanmu. Jangan diribetin dengan suara tangis bayi. Kamu juga bisa melihatnya nanti. Kita bisa menjaganya bersama sama," lanjut Daiva sambil menepuk bahu Rihana lembut.


Rihana akhirnya mengangguk dan balas tersenyum.


"Lagi pula aku rasa Alexander ngga akan membiarkanmu beristirahat dengan tenang. Atau pun mengurus hal hal lain," sambung Daiva penuh arti.


"Maksud kakak? Ngga mungkin Alex marah kalo aku mengurus bayi," kilah Rihana heran.


Ini bayi, bukan laki laki lain yang bisa dia cemburui, bantahnya dalam hati


"Pasti Alex juga ingin cepat mendapat bayi sendiri," tawa Daiva lagi semakin berderai melihat adik sepupunya yang masih belum mengerti.


"Bayi? Mak maksud Kak Daiva?" tergagap Rihana menyahut. Dia baru nyambung dengan ucapan kakak sepupunya. Wajahnya mulai memanas.


"Ya. Alexander pasti akan menggempurmu tanpa henti. Ingat, sudah berapa tahun dia menahannya," kekeh Daiva semakin keras, senang melihat wajah malu dan sedikit memucat adik sepupunya.


Apa selama ini kamu ngga pernah memikirkannya? batinnya tergelak.


"Aku menunggu cerita malam pertamamu, ya? Juga malam malam selanjutnya," semakin berderai tawa yang diperdengarkan Daiva.


Sementara Rihana masih mematung karena shock.


*


*


*


"Akan ada penjagaan tiga lapis untuk pernikahan kalian," kata Kalandra membuka pembicaraan.


"Oke," jawab Alexander setuju. Dia ngga mau Zira-nya kenapa napa.


Kenapa Aurora sepertinya sekarang mengincar Zira, batinnya kesal.


"Kejadian hari ini cukup membingungkan. Dari mana Aurora mendapat channel mafia itu," geram Emra sambil menggelengkan kepalanya.


Mafia yang tadi mereka hadapi bukan mafia sembarangan dan hanya orang orang tertentu yang bisa menghubungi mereka.


Ngga nyangka pergaulan Aurora sangat luas dan menembus berbagai kalangan.


"Menikah dan bulan madulah dengan tenang," sambung Emir.


"Tapi ingat, jangan memaksanya. Dia masih sangat polos," kekeh Emra yang disahuti Emir.


"Kalian ngomong apa, sih," decak Kalandra kurang suka. Tapi ada segaris senyum di bibirnya. Memang benar yang diucapkan Emra.


Apa sekertarisnya juga sepolos adik sepupunya itu? Pikirannya mulai membayangkan wajah yang selalu serius itu


Alexander mengalihkan tatapannya ke arah lain sambil menyembunyikan senyumnya.


Pasti akan sangat menyenangkan nantinya, khayal Alexander. Dia sudah menyusun banyak rencana untuk membuat Zira betah berada di kamar saja selama dua minggu nanti. Bahkan setelahnya.


*


*


*


"Kamu kenapa?" tanya Alexanxer heran yang melihat Rihana hanya diam saja saat menjejeri langkahnya.


"Ngga apa apa." Pikiran Rihana masih terpengaruh oleh kata kata Daiva tadi.


"Kamu masih kaget dengan kejadian tadi, ya?" tanya Alexander salah paham, berusaha memakluminya.


Rihana menatap Alexander dan sedang berpikir bagaimana reaksi Alexander jika dia mengungkapkan rencananya.


Apa seperti yang akan dikatakan Kak Daiva? Rihana menepis dugaannya.


Selama ini setaunya Alexander bukan laki laki seperti itu. Dia baik, sopan dan memang sedikit jahil. Hanya itu saja, tegasnya membatin.


Bukan mesum, belanya lagi.


"Ada apa? Kamu jangan buat aku cemas, sayang," tanya Alexander lagi bingung.


Mungkin kejadian tadi cukup mempengaruhi psikologis Rihana saat ini, asumsi Alexander dalam hati.


"Aku ngga apa apa," sangkal Rihana agar Alexander ngga memikirkan yang tidak tidak.


"Tapi kenapa kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?" kejar Alexander menuntut jawaban.


Rihana menghirup nafas perlahan. Menatap wajah tampan calon suaminya.


"Kamu mau kalo kita nanti merawat bayi Aurora kalo sudah lahir?"


Hening. Keduanya saling bersitatap. Alexander mencari kesungguhan dalam sorot lembut itu.


"Kamu mau merawat anak Aurora?" senyum lebar terkembang di bibir Alexander setelah yakin kalo Rihana memang serius.


"Iya, tapi kata Kak Daiva, biar nanti dirawat bersama sama aja," cerita Rihana akan penolakan Daiva.


Dia sedang mengantar Alexander ke dekat mobilnya. Laki laki ini sudah diminta pulang oleh orang tuanya. Bahkan mama dan papanya sudah mengirimkan sepuluh pengawal untuk menjaganya karena khawatir dan cemas akan kejadian tadi siang.


Apalagi tinggal menghitung jam saja pernikahan mereka.


Alexander mengacak gemas rambut Rihana, dan kekehannya terdengar pelan.


"Kamu ngga akan ada waktu mengurus bayi," ucapnya dengan sinar mata jahil.


"Masa? Kata oma dan opa kita akan cuti selama dua minggu, saja, kan? Lagian bayi Aurora masih tujuh bulan lagi lahirnya," bantah Rihana beruntun dengan tatapan polosnya.


Sesuai perkiraan dokter yang dia tau, kandungan Aurora baru berjalan dua bulan.


Alexander mendekatkan bibirnya ke telinga Rihana membuat gadis itu meremang.


"Kamu akan kewalahan mengurusku nanti."


Rihana mematung. Antara merinding, jantung berdebaran yang tambah kencang dan ada sesuatu yang aneh menyusup dalam dadanya. Membuatnya panas dingin.


Tapi Rihana masih mencoba mencerna kata kata Alexander yang sepertinya menjurus pada arah kemesuman tingkat tinggi


"Apaan, sih, Alex," seru Rihana kesal dengan jantung semakin berdebar keras. Dengan gemas dia memukul bahu dan dada Alexander berkali kali saking malunya setelah menyadari kalo dugaannya salah. Alexander ternyata red flag juga.


Sebel, serunya kesal dalam hati.


Alexander tambah keras tawanya melihat ekspresi Rihana.


"Aku akan memakanmu setiap saat," goda Alexander dalam tawanya dan membiarkan Rihana terus memukulnya dengan wajah semakin merona.


"Aku ngga mau," tolak Rihana dengan puluhan kupu kupu beterbangan dari dalam perutnya.


Alexander makin terkekeh.


"Ingat, puluhan lingerie yang udah aku siapin," goda Alexander lagi


"Ngga mau Alex. Nggak!" tolak Rihana bagai anak kecil. Tentu dia ingat jumlah lingerie yang sangat banyak yang sudah disiapkan Alexander.


Laki laki ini maniak juga!


Sial, kenapa dia bisa lupa, rutuk Rihana ngga berhenti dalam hati.


Membayangkannya membuat perutnya mulas.


Apa selama dua minggu itu mereka hanya akan berada di dalam kamar saja? batin Rihana shock.


Dan hari hari setelahnya?


Tiddaaaakkk! teriaknya dalam hati. Baru memikirkannya saja sudah membuat dia stres. Apalagi nanti saat harus menjalaninya.


Sementara itu kekehan gemas Alexander makin keras terdengar.


Ngga jauh dari situ, tepatnya di atas balkon lantai dua sepasang mata menatap sedih.


"Ternyata kamu bisa ketawa selepas itu," gumam Nidya lirih.