NOT Second Lead

NOT Second Lead
Persiapan lamaran



"Serius Nidya akan dilamar Fathan?" setelah bertanya begitu Ansel pun tergelak gelak.


Emir langsung menoyor kening Ansel.


Kalandra malas menanggapi sepupu usilnya. Pikiran dan hatinya masih belum bisa percaya kalo nanti malam Fathan akan datang melamar Nidya.


Pasti mamanya sudah bercerita pada mama Ansel. Dan teman kurang ajarnya itu sudah mengatakan niatnya malam ini akan datang untuk melamar Nidya.


Omanya, oma Mien langsung meminta agar acara lamaran dilakukan di mansion utama. Tempat tinggal beliau dan opa. Sekarang saja semua anggota keluarga sedang sibuk mempersiapkan semuanya.


Papa dan om omnya pun ngga masuk kerja. Semua secara khusus melakukan persiapan untuk acara lamaran nanti malam.


Bahkan mereka pun diminta pulang saat jam makan siang. Oma Mien ingin semuanya tampak sempurna seperti saat acara Rihana dulu.


"Fathan..... Fathan..... Ternyata jodohmu ngga jauh juga keberadaannya," celoteh Ansel masih dalam derai tawanya.


Dalam hatinya dia sangat bahagia, karena Nidya berakhir dengan Fathan.


Fathan buka tipe laki laki yang suka maen perempuan. Dia beda dengan seratus delapan puluh derajat dengan Daniel. Dia mirip sekali dengan Kalandra. Gila kerja. Sekalinya jatuh cinta langsung diseriusi. Mungkin Fathan lebih mirip dengan adiknya Alexander, terlepas dari isu hubungan Alexander dengan Aurora. Laki laki itu menikahi Rihana-sepupunya yang katanya cinta


Hanya mulutnya saja suka terasa gatal jika ngga mengoceh meledek para sepupunya.


Sekali lagi keningnya mendapat toyoran. Tapi bukan dari Emir, kali ini dari Emra.


Kalandra akhirnya melangkah keluar meninggalkan ruangannya, membiarkan ketiganya berdebat di dalam.


Begitu sampai di meja sekretarisnya, dia pun berhenti dan Adriana pun mendongakkan kepalanya.


"Ikut aku."


Seakan tau perasaan Kalandra yang sedang galau, tanpa banyak bertanya Adriana pun mengambil tas tangannya dan segera berdiri.


Hari ini memang sudah ngga ada agenda apa apa lagi. Semua sudah di close karena cucu pemilik Airlangga group akan dilamar cucu dari Merapi Steels.


Begitulah. Yang kaya akan menikah dengan yang kaya juga, batin Adriana skeptis akan kelanjutan hubungannya dengan Kalandra nantinya.


Mengingat kembali pertunangan yang mendadak jadi menimbulkan dugaan kalo mereka berdua dijodohkan. Juga sama sekali ngga ada gosip apa pun yang kedengaran.


Agak berbeda dengan Alexander, karena mereka sempat terekspose.


Sekarang pun dia bingung akan hubungannya dengan Kalandra.


Apakah Kalandra serius atau hanya main main saja dengannya?


Adriana bukan pewaris kekayaan suatu grup yang perusahaannya ada dimana mana. Di dalam maupun di luar negeri.


Dia hanya gadis biasa dari keluarga kalangan menengah. Orang tuanya juga hanya pegawai. Tapi dirinya jadi bermimpi tinggi akibat perhatian Kalandra akhir akhir ini.


Apa perasaannya salah karena sudah telanjur jatuh hati pada bosnya? Terlalu jauh srata sosial diantara mereka.


Adriana pun membayangkan kenapa bisa dia seberani ini memimpikan hidup bersama Kalandra.


Bahkan beberapa tetangga sempat bergosip tentangnya yang beberapa hari ini selalu diantar bosnya dengan mobil mewah.


Gosip miring sudah tersebar di perumahan mereka tentang hubungannya. Ada yang mendukung dan ada juga yang sedikit menyangsikannya.


Tapi mama dan papanya tetap tenang. Ngga mengatakan apa pun. Sama sekali ngga menyangkal. Juga malas untuk menjelaskan pada mereka. Bagi orang tuanya sebentar lagi gosip gosip itu juga akan berlalu seiring waktu.


"Masuk."


Adriana terkejut ketika Kalandra sudah membukakan pintu untuknya.


"Aku kira hanya aku yang punya masalah berat," kekeh Kalandra membuat Adriana berusaha tetap tenang. Rupanya sedari tadi dia melamun.


Bodohnya, batinnya malu.


Tanpa kata Adriana pun masuk ke.dalam mobil.


Kalandra tersenyum melihatnya. Beban pikirannya sedikit berkurang karenanya.


Mobil pun melaju meninggalkan basemen perusahaan.


Adriana menatap ke arah luar jendela dengan pikiran masih ngga berada di tempatnya.


Kalandra pun hanya diam sepanjang perjalanan, tidak membuka satu topik pembicaraan apa pun.


Kiri kanannya ada pohon pohon besar yang teduh. Dan kompleks yang dimasukinya terdiri atas beberapa mansion mewah yang sangat indah dan megah.


Baru kali ini Adriana melihatnya. Memang dia pernah


"Tuan muda, kita kemana?" tanya Adriana sambil menatap bosnya yang masih fokus menatap ke depan.


Kalandra mengacuhkannya. Ngga berpaling apa lagi menjawabnya.


"Pak?" tanya Adriana mulai agak kesal.


Tapi lagi lagi Kalandra hanya diam saja.


Adriana menghela nafas panjang. Dia tau apa yang diinginkan bosnya.


"Kalandra, kita mau kemana?" tanya Adriana mencoba sadar.


Adriana dapat melihat kedutan samar yang membuat dia semakin sebal.


Pemaksa, decihnya dalam hati.


"Ke rmansion Opa dan Oma."


Haah, kaget Adriana dalam hati dengan mulut setengah terbuka.


"U untuk apa?" tanyanya terbata bata.


"Bantu bantu. Nidya, kan, mau nikah," jawab Kalandra lugas.


Tapi... dia, kan, bukan siapa siapa? batinnya panik dan bingung.


"Kamu sudah dianggap bagian keluargaku," senyum Kalandra lebih jelas terlihat sambil menoleh padanya sebentar. Seolah tau apa yang dipikirkan Adriana.


Adriana terpaku dengan wajah merona, sesaat kemudian dengan kikuk dia mengalihkan tatapannya ke arah semula.


Ada yang hangat menyusup dalam aliran darahnya. Dia mencoba menyembunyikan senyumnya yang terkembang begitu saja. Ada rasa bahagia memenuhi rongga dadanya.


Kalandra menipiskan bibirmya melihat reaksi malu malu Adriana.


Ngga lama kemudian mobilnya memasuki mansion melalui gerbang yang otomatis terbuka.


Adriana menahan dirinya agar ngga berteriak kagum melihat mansion yang sangat indah. Ada taman bunga di sana. Dan rasanya Kalandra berbohong kalo dia diminta bantuannya. Karena sudah banyak sekali orang orang di sana.


Kembali Adriana menahan decakan kagumnya melihat banyaknya mobil mewah yang terparkir di sana. Banyak pula yang limitted edition.


"Ayo."


Lagi lagi Adriana merasa malu karena tingkah noraknya sampai ngga sadar Kalandra sudah keluar, dan sekarang sudah membukakan pintu mobil untuknya.


Adriana menyambut uluran tangan Kalandra dengan ragu dan jantung yang berdebar semakin kencang.


Kalandra membawanya melewati mobil mobil mewah yang menimbulkan decak kagum dalam hatinya.


Sampai lah mereka pada taman bunga yang dilihatnya tadi.


Tangannya sempat membelai beberapa kuntum bunga tulip. Dalam hati Adriana bingung, kenapa bisa bunga asal Belanda ini tumbuh subur di sini?


"Kamu suka?" tanya Kalandra ketika menyadari tatapan dan gerak tangan Adriana pada bunga bunga tulip itu.


"Iya. Sangat indah," puji Adriana masih menatap bunga bunga tulip itu.


"Iya, ini bunga kesayangan Oma," sahut Kalandra pelan. Teringat kata kata papanya kalo tantenya-mama Rihana suka menghabiskan waktunya di sini.


Mungkin itu yang membuat Omanya kuat menjalani hari harinya setelah tantenya menghilang.


Sepupunya pun sudah ditemukan. Sekarang beban berat yang terbias di wajah omanya seakan sudah lenyap.


"Kalo kamu suka, nanti di mansion kita, akan aku suruh para pekerja untuk menanamnya.


BLUSHING


Pipi Adriana terasa panas saat mendengar ucapan Kalandra, di luar sangkanya.


Laki laki ini serius? batinnya terpaku menatap Kalandra.