NOT Second Lead

NOT Second Lead
Berhasil?



"Beres, Pak."


"Ngga ada yang lihat?"


"Sepi, Pak."


"Oke, sekarang kamu di mana?"


"Udah di mobil nunggu pak bos."


"Aku ke sana."


"Siap."


Aiden menutup ponselnya dan segera berlalu dari tempatnya berada.


Dia meminta supirnya yang merangkap menjadi pengawalnya untuk melakukan tugas penting itu. Mencelakakan Rihana. Sepertinya berhasil.


*


*


*


Kita kemana?" tanya Wimta mulai ikut panik sambil mengikuti langkah cepat Puspa.


Puspa ngga menjawab. Untunglah pintu lift yang jaraknya ngga jauh dari mereka sedang terbuka.


'Tahan," seru Puspa sambil melarikan kakinya ke arah lift. Winta pun mengikutinya. Untunglah pegawai di lift segera menekan tombol yang menahan pintu lift.


Dada Winta rasanya ngga tenang. Melihat wajah panik dan keterdiaman Puspa membuatnya jadi punya praduga buruk tentang Keadaan Rihana.


Pasti Rihana, kan, yang dikhawatirkan Puspa..


Emang siapa lagi, batinnya.


Begitu pintu lift terbuka, Puspa dan Winta melarikan kaki dengan cepat ke arah ruangan staf lapangan.


Dan kedua nya sama menutup mulut melihat Rihana tergeletak di dekat tangga darurat di dekat ruangan staf lapangan. Perasaan mereka terguncang saat melihat keadaan Rihana.


Dan yang mengejutkan kenapa ada lemari besar yang berisi helm yang jatuh di dekatnya?


"Rihana! Ri!" panggil Puspa mendekat. Winta memperhatikan sekitarnya ngga ada siapa siapa.


"Bantu aku nyingkirin helm helm ini; Win," seru Puspa sambil menjauhkan helm helm yang berserakan di sekitar tenpat Rihana berada..


"Iya," sahut Winta yang dengan cepat membantu Puspa menyingkirkan helm helm itu. Wajah keduanya tanpak panik.


"Ada apa ini?" seru Dewan terkejut. Dia bermaksud ke ruangan staf lapangan untuk menyimpan helm, jadi kaget melihat helm helm yang berantakan. Dan ada lemari yang jatuh.


Jantungnya berdebar keras ketika melihat pegawainya tergeletak pingsan.


Rihana? batinnya dan spontan kakinya melangkah cepat mendekati Rihana.


"Pak, tolong. Tolong, Rihana, Pak," seru Puspa panik.


Winta juga menatap bosnya penuh permohonan.


Mumgkin belakang kepalanya membentur ujung pegangan pada tangga darurat saat menghindari jatuhnya lemari penyimpan helm


Tapi tetap saja aneh di mata mereka, kenapa lemari helm itu bisa jatuh dan hampir menimpa Rihana.


Dewan yang sedang menggendong Rihana sempat terpaku sesaat. Sentuhan kulit mereka menimbulkan getar yang lain di dalam rongga dadamya.


Melihat wajah Rihana yang pucat itu membuat dia shock dan sangat sedih. Dia pun ngga tau kenapa? Darah pun masih menetes di belakang kepalanya.


"Kita bawa teman kamu ke rumah sakit. Kalian ikut saya."


"Baik, Pak. Makasih," seru Puspa sambil menulis pesan untuk Oma kalo mereka sedang on the way ke rumah sakit.


Winta pun menyusul Puspa ke arah lift setelah menemukan ponsel Rihana yang tampak rusak cukup parah karena terhimpit lemari.


Sepanjang jalan dengan menggendong Rihana, jantung Dewan berdebar ngga karuan. Ada perasaan aneh menyelimutinya. Ada perasaan dekat yang ngga bisa dia jabarkan.


Dewan juga mengingat Rihana kalo ngga memiliki papa, sedangkan dia papa yang ngga bertanggung jawab untuk anaknya yang lain dan mamanya.


Begitu sampai di samping mobilnya, dia melihat ke arah ke duanya.


"Ada yang bisa nyetir mobil ini?" tanyanya sambil melihat ke arah dua pegawainya mgga yakin sambil mengulurkan kunci mobilnya. Mereka saat ini sudah berada di samping rubiconnya.


"Saya bisa, Pak," jawab Puspa membuat Winta agak mendelikkan mata ngga percaya.


Kamu serius? batin Winta di tengah kepanikannya.


"Beneran kamu bisa?" tanya Dewan sambil memberikan kunci rubiconnya dengan ragu.


"Bisa, Pak," jawab Rihana sambil menekan tombol remote mobil itu.


Dewan agak terkejut melihat betapa familiarnya salah satu pegawai kontraknya memegang kunci mobil mahalnya. Sama sekali ngga terlihat sungkan.


Winta pun membukakan pintu belakang mobil, menpersilakan Pak bosnya, Dewan masuk ke dalam deretan kursi kedua. Dia pun menyusul masuk ke dalam mobil. Duduk di samping Puspa.


Dewan menahan darah yang masih terus mengalir itu dengan sapu tangannya.


Winta kagum melihat Puspa yang beneran bisa nyetir mobil.yang dikategoriakn untuk laki laki itu.


Semula Winta mengira Puspa.anak yang manja karena selalu diantar jemput supiir. Tapi ternyata dia sangat lihai mengemudikan mobil rubicon pak bosmya.


Dewan pun sampai melirik Puspa kagum.


*


*


*


"Yah, low bat," gumam Alexander ketika akan membuka pesan baru dari Rihana.


Alexanxer menyimpan ponselnya dan kembali mengawasi lokasi proyek ini.


Ada apa, ya? batinnya agak ngga enak.


Alexander takut Rihana membatalkan secara sepihak kesepakatan mereka untuk bertemu. Sedangkan untuk menelpon dia ngga bisa karena batre ponselnya zero.