
"Ttipan Oma," ucap Ansel sambil memberikan paper bag pada Nayara. Tunangannya.
Nayara mendongak. Agak kaget karena Ansel menghampiri meja kerjanya.
Beberapa rekan stafnya yang berada satu ruangan dengannya mencuri lirik pada keduanya.
"Makasih."
"Supirku akan menjemputmu besok," ucapnya sambil berjalan pergi.
"Ya," sahut Nayara pelan sambil menyimpulkan senyum tipis.
Selalu bertingkah begitu di hadapan pekerjanya. Sok nge bosy. Padahal aslinya ngga begitu jika hanya berdua.
Perjodohan mereka membuatnya kaget. Dia yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan Opa Airlangga. Tiga tahun. Karena Opa Airlangga sahabat opanya juga. Perjodohan ini pun atas keinginan kedua opa itu. Baru setahun ini.
Ansel juga baru kembali dari luar negeri setahun yang lalu dan langsung ditunangkan dengannya.
Mereka pun baru saat itu bertemu secara ngga sengaja juga. Tapi yang menyebalkan Ansel selalu saja memerintahnya membuat ini dan itu. Bersikap dialah bosnya. Belum lagi Nayara harus selalu menahan nafas karena di awal awal pertunangan mereka, banyak sekali perempuan perempuan cantik dan seksi yang mencarinya.
Berjalannya waktu, akhir akhir ini sudah ngga ada lagi karena selalu diusir oleh Kirania dan Puspa.
Tapi karena melihat bos kembarnya yang kerap didatangi para perempuan seksi, Nayara menganggapnya biasa saja.
Sampai sekarang pun Nayara bingung dengan perasaan mereka. Sampai kapan pertunangan ini akan berubah menjadi pernikahan.
Memang Ansel kadang kadang menunjukkan perhatian spesialnya yang membuat jantungnya hampir terbang. Tapi laki laki yang selalu dimarahi adiknya itu belum juga mengungkapkan keseriusannya akan kelanjutan hubungan mereka.
Sehingga Nayara juga ngga terlalu jauh memikirkan hubungan mereka. Melihat opanya senang dengan pertunangannya sudah membuat hatinya bahagia.
Nayara dibesarkan opa dan omanya karena orang tuanya sudah meninggal akibat kecelakaan saat dia masih kecil. Hanya opa dan omanya saja yang dia punya karena orang tuanya anak tunggal. Oma opa dari papanya juga sudah ngga ada.
Dengan bertunangnya dia dengan Ansel, membuatnya ngga merasa sendiri lagi, karena keluarga Opa Airlangga sangat rame. Bahkan Nayara cukup dekat dengan Kirania-adiknya dan sepupu sepupu Ansel. Puspa, Rihana dan Nidya. Bahkan bos kembar dan Kak Kalandra sangat baik padanya.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Fitri, rekan satu ruangannya.
"Ngga tau," senyum Nayara tanpa beban. Sudah terlalu sering dia mendapat pertanyaan hopeless seperti itu. Dia pun cuek aja mendapatkan tatapan kasian dari staf staf yang lain.
"Tapi bos Ansel memang gitu, padahal dia perhatian sama kamu," sambung Fitri membesarkan hati Nayara.
Nayara hanya membalasnya dengan senyuman.
*
*
*
Setahun yang lalu.
"Nay, cucu Opa Airlangga mau pulang. Kuliahnya udah selesai," ucap opanya memberitau.
"Anak bandel itu pulang juga akhirnya," kekeh omanya sambil menuangkan minuman untuknya. Pagi ini mereka sedang sarapan bersama sebelum Nayara berangkat kerja.
Opa juga ikut tertawa.
"Akbar dulu juga begitu. Setelah kuliahnya selesai, malah memilih kerja di sana. Wataknya menurun pada anaknya," kekeh Opanya.
Berbeda dengan keluarga Opa Airlangga. Opa Nayara bukan dari kalangan bisnis. Opa mantan pejabat pemerintah sedangkan oma dulunya seorang dokter gigi. Putri mereka-Mama Nayara juga seorang dokter gigi. Begitu juga papanya yang seorang dokter bedah. Keduanya bertemu di rumah sakit yang sama.
Nayara malah menyimpang jauh dari keluarganya. Dia lebih suka ke bidang teknologi dari pada menjadi dokter.
"Kita diundang malam ini dalam acara penyambutan cucu nakalnya itu," sambung opa lagi masih terkekeh
Nayara hanya ikut tersenyum, hatinya bahagia melihat opa dan omanya terlihat gembira menceritakan tentang kelakuan cucu sahabatnya.
Ada sebersit rasa ingin tau Nayara tentang sosok yang sepertinya sudah menyusahkan keluarganya itu.
Ngga lama kemudian Nayara berpamitan dan berangkat menuju perusahaan tempatnya bekerja.
Padahal dia sudah berangkat cukup awal, tapi masih saja terjebak kemacetan.
BRUG
Tubuh Nayara sedikit berguncang. Untung dia selalu menggunakan seatbelt dengan benar.
Astaga, batinnya nyeri.
Ada yang menabrak bagian belakang mobilnya. Tapi kemacetan ini membuatnya ngga bisa berhenti. Dia bisa terlambat hanya mengurusi orang yang menabrak mobilnya. Juga dapat menambah lama kemacetan.
Pengalaman mengajarkannya, belum tentu jika dia menghadapi orang tersebut akan mendapatkan keinginannya dengan mudah. Misalnya menggratiskan biaya perbaikan mobil ke bengkel.
Yang ada dia akan mendapat teriakan dan omelan dari penabrak yang pastinya ngga akan merasa bersalah. Dunia sudah terlalu kejam. Karenanya Nayara memilih pergi dan nanti akan memperbaiki bagian belakang mobilnya yang penyok. Mungkin setelah ada waktu siang, Nayara akan menelpon bengkel langganannya untuk mengurus mobilnya.
Setelah keluar dari kemacetan, Nayara bernafas lega karena sudah bisa memacu mobilnya sedikit lebih kencang.
Tapi kembali jantungnya hampir copot karena ada mobil yang menyalibnya dengan cepat dan langsung berhenti mendadak di depan mobilnya.
Untungnya Nayara dengan sigap menginjak rem dan hanya berhenti tepat beberapa centi saja di depan mobil yang hampir menabraknya.
Kali ini Nayara mulai sebal. Pemilik mobil di depannya sedang mencari masalah dengannya rupanya.
Melihat pintu mobil di depannya terbuka, Nayara pun membuka pintu mobilnya.
Dia perlu menanyakan alasan orang gila ini secepatnya, karena Nayara ngga mau sampai tetlambat.
Seorang laki laki muda yang penampilannya seperti seorang bos angkuh itu kini sudah berdiri di hadapannya.
Tampan, sih, aku Nayara dalam hati.
Tapi sombong, sok kaya, sok paling penting, umpatnya dalam hati.
Sepersekian detik keduanya saling beradu pandang.
"Kamu berani sekali," katanya sambil netranya terus menyorot tajam pada Nayara.
"Tolong minggirkan mobil anda. Saya bisa terlambat," sahut Nayara tenang berusaha menahan rasa dongkolnya.
Lagi pula apa yang dia takutkan. Jalan ini rame kendaraan yang berlalu lalang. Laki laki di depannya ngga mungkin nekat berlaku aneh aneh padanya.
"Hemm..." seringai tipis mencuat di wajahnya saat menyadari logo di blazer gadis itu.
"Sepertinya urusannya akan panjang," decihnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Kening Nayara mengernyit ngga mengerti akan maksud ucapan laki laki itu.
Tapi dalam hati bersyukur karena laki laki itu kini sudah pergi meninggalkkannya.
Orang aneh, batin Nayara kesal sambil memasuki mobilnya lagi. Dia sudah membazirkan sedikit waktunya saat menghadapi laki laki aneh itu.
Begitu berjalan di lobi perusahaan, Nayara heran melihat para pegawai berkumpul dan berbisik bisik heboh. Seperti ada hot isu.
Nayara ngga mempedulikannya. Dia mempercepat langkahnya memasuki lift yang sudah diisi beberapa pegawai lainnya.
"Makasih," senyumnya saat melihat salah satu pegawai itu menekan tombol lift untuk menahan pintunya agar ngga menutup.
"Sama sama."
"Eh, kalian sudah tau? Katanya anak Pak Akbar akan kerja di sini hari ini," celoteh salah satu pegawai perempuan.
"Aku tadi sempat melihatnya. Dia ganteng banget," puji yang lainnya.
"Cucu tuan besar Airlangga ngga ada yang jelek. Cakep selangit semua," imbuh pegawai perempuan yang berceloteh pertama kali.
"Sayangnya kita bukan level mereka. Cukup mengagumi saja," balas pegawai perempuan yang tadi menahan pintu lift untuk Nayara.
"Ya," sahut ketiganya berbarengan.
Nayara ngga berkomentar. Hanya menyimak.
Jadi orang itu sudah masuk kerja? batinnya yang teringat obrolan opanya saat sarapan tadi.
Ngga lama kemudian ketiganya keluar di lantai yang sama.
Kembali Nayara mendengar kasak kusuk di ruangannya tentang cucu opa Airlangga. Di perusahaan Nayara memanggilnya tuan besar. Tapi kalo di luar itu memanggilnya opa.
"Eh, sebentar lagi pak bos besar dan anaknya mau ke sini, mau inspeksi," tukas Rania yang barusan berada di luar.
"Yang benar?" seru Fitri sambil buru buru merapikan meja kerjanya. Yang lainnya pun melakukan hal yang sama.
"Iya, sepertinya tadi keliling memantau tiap divisi," sahut Rania sambil merapikan letak berkasnya.
Nayara reflek juga merapikan mejanya.
Ngga lama kemudian pintu ruangan pun terbuka dari luar.
Ada lima orang laki laki yang masuk.
Nayara sempat terpana melihat laki laki yang menghadang mobilnya tadi.
Ngga mungkin dia, kan? sangkal Nayara berkali kali. Tapi sayangnya Nayara harus menelan pil pahit. Laki laki songong itulah cucu Opa Airlangga yang dibicarakan tiada henti dari rumah sampai di perusahaan ini.
Laki laki itu menatapnya ngga acuh, membuat Nayara menahan nafas.
Setelah mengenalkan putranya, Om Akbar dan tiga petinggi lainnya beranjak pergi mengunjungi divisi yang lain.
"Tampannya," seru Asma perlahan setelah pintu ruangan mereka tertutp dengan perasaan shock.
"Iya, ganteng banget," timpal Fitri dengan mata penuh binar.
Faros dan Naufal hanya saling pandang dengan senyun mengejek.
Perempuan perempuan ini terlalu tinggi seleranya, batin keduanya mengejek.
Mereka berdua sama sekali ngga dianggap. Padahal Faros dan Naufal juga berwajah tampan. Tapi di depan rekan rekan divisinya keduanya ngga dianggap. Tapi di divisi lain mereka cukup populer.
Kembali mereka menyibukkan kerja sampai telpon di meja Nayara berbunyi.
Satu suara menyebalkan yang masih diingatnya menyentuh gendang telinganya.
"Ke ruanganku sekarang."
Nayara menghela nafas panjang. Kenapa sepanjang hari ini dia harus berurusan dengan anak manja yang songong ini.
"Siapa Nay?' tanya Rania kepo ketika melihat wajah penuh beban Nayara
"Bos baru," jawabnya sambil bangkit.
"Apa? Kok, bisa?" tanya Asma ngga terima.
Fitri dan Rania juga menatap ngga rela.
Kenapa harus Nay, sih, batinnya bingung.
"Ngga tau. Udah, ya," ucap Nayara sambil melangkah pergi.
Faros dan Naufal sama menyunggingkan senyum sinis melihat kekagetan ketiga rekan kerjanya yang patah semangat.
Nayara menghela nafas lagi menatap pintu ruangan si bos baru.
TOK TOK TOK
"Masuk!"
Dengan enggan Nayara membuka pintu ruangan Ansel.
"Duduk," titah Ansel masih disibukkan dengan layar laptopnya.
Nayara duduk tanpa bersuara sedikit pun.
"Ini. Tulis berapa yang harus kuganti," katanya datar sambil menyodorkan selembar kertas cek yang masih kosong.
Nayara masih belum mengerti maksud ucapan Ansel.
Ansel menghela nafas kesal.
"Aku yang tadi nabrak mobil kamu."
Seketika mata Nayara membulat.
Jadi dia?
Sekarang baru Nayara mengerti kenapa laki laki itu menghadang mobilnya.
Kenapa dia harus repot repot. Padahal dia bisa saja, kan, langsung pergi.
Tanpa sadar Nayara tersenyum tipis.