NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kepergian yang mengundang tanya



"Ada apa?" tanya Sofia heran melihat raut cemas suaminya ketika membuka pesan suara diponselnya. Samar dia mendengar suara Alexander.


"Alexander pamit pergi bersama Dewan. Ngga bilang mau kemana. Katanya ada urusan penting," bisiknya.


"Ada apa?" tanya mama Sofia, Oma Lauren. Beliau dengan sang suami khusus datang untuk acara lamaran ini. Oma Mora dan Oma Mien adalah sahabat lamanya.


"Alexander mengantar Dewan pergi," kata Afif akhirnya menjelaskan.


"Kemana?" tanya Oma Mora heran.


Kenapa ngga pamit padanya?


"Sepertinya urusan kerjaan," bohong Afif. Dia pun ngga tau kemana sahabat dan putranya pergi. Karena itu dirinya agak cemas. Acara pertunangan ini belum ditutup. Padahal Dewan dan Alexander yang sangat antusias. Adalah aneh keduanya malah pergi begitu saja.


"Rihana, kamu tau kemana Alexander pergi?" tanya Oma Mien jadi ingin tau.


"Alexander hanya bilang mau ngantar papa, Oma," jawab Rihana jujur. Dia pun baru membuka pesan suara singkat Alexander.


Sepertinya Alexander sedang terburu buru, karena laki laki itu biasanya suka mengetikkan pesannya. Baru kali ini Rihana mendapatkan pesan suaranya yang membuat hatinya lebih senang, karena bisa mendengar suara Alexander.


"Kemana, ya?" gumam Opa Iskandardinata ikut berpendapat. Tapi syukurlah karena ada Alexander yang menemani Dewan. Sepertinya urusannya penting, sampai putranya ngga sempat berpamitan.


Tapi dalam benaknya tetap penuh banyak pertanyaan. Terkenang lagi kejadian dulu, saat Dewan buru buru membawa pergi mobilnya dan berakhir dengan kecelakaan.


Untungnya ada Alexander yang menemani. Opa Iskandardinata menghela nafas lega


"Om Iskan dan Oma, biar aku yang antar pulang aja," kata Cakra menawarkan.


"Boleh juga," sahut Opa Iskandardinata setuju. Oma Mora pun menganggukkan kepalanya.


Kembali mereka mengobrol lagi, melanjutkan yang tadi.


"Aku mau menemui Rihana, ya, Pa. Aku mau minta maaf," ucap Sofia pamit pada suaminya.


"Ya, sayang."


Setelah tersenyum, Sofia-Mama Alexander menghanpiri Rihana yang masih mengibrol dengan ketiga sepupunya.


"Rihana, tante mau bicara sebentar. Kita ke depan, ya," ucapnya lembut.


"Ya, tante. Sebentar, ya," pamitnya pada ketiga sepupunya.


"Oke," sahut Ansel sambil mengedipkan sebelah matanya yang langsung dijewer Kirania, adiknya.


"Sama sepupu, genit, ih," kesalnya sekaligus gemas. Gimana ada perempuan yang bertahan dengannya. Nayara pasti sering sakit hati tuh, padanya, monolog Kirania kesal.


Puspa dan Rihana hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Rihana pun mengikuti langkah Mama Alexander dengan perasaan ngga tenang.


Apalagi ya, yang mau Mama Alexander katakan? Apa permintaan yang kemarin lagi? batin Rihana resah.


Begitu mereka sampai di teras, Mama Alexander langsung memeluk Rihana. Rihana yang terkejut hanya diam mematung.


"Maafkan tante. Maaf," ucapnya terisak.


Akhirnya Rihana pun balas memeluk Mama Alexande,r dan juga ikut menangis.


Tapi pelukan ini terasa hangat. Rihana merasa kali ini Mama Alexander tulus padanya. Dia jadi merindukan mamanya.


Afif yang melihatnya juga mengusap matanya yang mulai basah.


*


*


*


"Apa yang sudah kamu tau, Alexander?" tanya Dewan saat mereka dalam perjalanan ke kantor polisi.


Hatinya ngga tenang karena tuduhan terhadap Aurora bukan tuduhan kecil. Masa depan putrinya bisa hancur, begitu juga hubungan persahabatannya dengan keluarga Aiden.


Tapi hatinya tetap saja menolak untuk percaya. Karena Aurora sangat lembut dan jauh dari skandal.


Alexander terdiam. Dia tadi baru saja menghubungi Herdin agar menyusulnya ke kantor polisi. Dia masih bingung bagaimana mengatakan yang dia tau. Pasti akan sangat menyakitkan hati Om Dewan.


Melihat Alexander diam saja ngga menjawab, Dewan menghela nafas panjang.


"Aurora pernah menyuruh Aiden untuk melukai Rihana. Tapi saat itu keduanya ngga tau kalo Rihana putri Om. Setelah tau, Aiden minta maaf penuh penyesalan. Karena itu Om mau jadikan dia pendamping Aurora. Om lihat Aiden juga memiliki hati yang baik. Sayang takdir berkata lain," jelas Dewan dengan suara berat penuh beban.


"Kamu sudah tau, kan," senyum Dewan hambar karena melihat ekspresi datar Aiden.


"Xavi yang cerita, Om.'


"Kembarannya Aiden?"


"Iya."


Dewan menarik nafas panjang.


"Aurora berubah setelah tau kamu punya kekasih. Dia lebih pendiam dan murung. Tapi yang ngga terduga kekasihmu adalah putrri Om juga. Putri yang hidupnya jauh dari Om dan kemewahan," ungkapnya getir.


Iya, Alexander setuju. Ngga seharusnya Rihana menjalani hidup yang sulit. Tapi dia tumbuh menjadi gadis yang periang, smart dan baik hati.


"Takdir kedua putri om cukup buruk. Mungkin ini karma untuk om."


Alexander kembali diam. Hanya mendengarkan saja curahan isi hati Om Dewan. Mungkin hanya papalah tempat Om Dewan berkeluh kesah atas carut marut kehidupannya.


Mereka pun tiba di kantor polisi. Herdin yang sudah sampai sejak tadi menunggu menghampiri Dewan dan Alexander yang baru keluar dari nobil.


"Kamu sudah bertemu dengan Aurora?" tanya Dewan ngga sabar.


"Sudah, Om."


"Dia baik baik saja?"


"Ya, lumayan baik. Tante Irena juga menemani Aurora," lapor Alexander lagi.


Kemudian ketiga terus melangkah tanla berkata apa pun lagi.


Seorang pengacara keluarga yang akan membantu kasus Aurora menghampiri Dewan


"Bagaimana?" tanya Dewan ngga sabar.


Dia ingin segera bertemu putrinya dan tau kabarnya


"Nona muda bisa bebas sebagai tahanan kota, Tuan Dewan," ucap pengacaranya hati hati.


"Maksudnya?"


"Polisi sedang mencari mobil putih milik nona muda yang katanya sudah dicuri orang, Tuan Dewan," jelas pengacara itu lagi.


Dewan terdiam. Ingatannya kembali pada permintaan Alexander.


Ada rasa takut mendera hatinya. Dia takut kalo Aurora berbohong dan Alexander menemukan bukti kalo Aurora pelakunya.


Dewan memegang dadanya yang terasa sesak tiba tiba


"Om, om ngga apa apa?" tanga Alexander cukup panik.


Pengacara yang sedang berjalan di depan menghentikan langkahnya dan mendekati Dewan.


"Tuan Dewam. Saya akan meneolpon dokter Gani," katanya berinisiatif.


Dewan menggeleng.


"Cepat .... bebaskan ..... putriku. Kasian .... dia," katanya dengan nafas terengah.


Alexander dan Herdin pun mendudukkan Dewan di kursi panjang yang ada di sana. Melepaskan dasinya dan membuka dua kancing di atasnya


"Ba baik, Pak," sahut pengacaranya agak tergagap.


Dewan secara perlahan melakukan inhale dan exhale agar sesaknya berkurang dan reda.


"Apa kalian yakin Aurora yang melakukannya?" pelan Dewan bertanya setelah keheningan mengungkungi mereka bertiga.


Alexander dan Herdin ngga menjawab. Keduanya saling pandang.


Dewan memejamkan mata. Dia semakin takut dengan kenyataan yang nantinya akan terungkap.


Ngga jauh dari sana Xavi memandang kesal ketiganya. Dis sudah tau kalo Auroda akan bebas dengan jaminan. Itu yang membuatnya jengkel setengah mati.


Xavi yakin kalo Aurora tau siapa yang membunuh Aiden. Dan dia berusaha melindunginya.


"Dia akan mendapatkan hadiahnya besok," gumamnya penuh makna.