
"Kamu ngga mikir apa nanti kata orang orang kalo kita berhubungan?" tukas Nidya jutek.
"Kenapa harus memikirkan apa kata orang? Mereka ngasih kamu makan?" balas Fathan dengan wajah tenangnya. Tapi bibirnya agak berkedut menahan senyumnya yang hampir tumpah.
Nidya menutar matanya sebal. Memang mereka ngga ngasih makan. Tapi ngasih komentar komentar pedas yang bisa menyulut emosinya.
"Kita ngelakukan hal baik atau jahat juga bakal tetap dihujat sama orang orang," sambung Fathan sambil metakkan kedua tangannya di saku celananya. Sangat santai.
Kembali Nidya memutar matanya kesal.
Nidya ngga bakal pedul dengan perkataan orang orang. Tapi yang jadi inti masalahnya adalah ledekan Ansel dan Emra. Mungkin kakaknya dan Emir juga akan meledeknya walau ngga separah Emra dan Ansel.
Nidya ngga tau, apa bisa kuat menghadapinya.
Karenanya dia memilih menghindar dari masalah yang bisa membuatnya menderita darah tinggi.
"Kita coba dulu, ya. Apa kamu ngga kasian sama Kalandra? Dia sudah ngebet mau nikah."
DEG
"Kamu tau?" kaget Nidya ngga nyangka Fathan juga tau sampai sejauh ini
"Kalandra yang ngomong langsung. Katanya mau nyariin kamu pacar biar dia bisa tenang," kata Fathan lugas, membocorkan curhatan Kalandra.
"Kalo nunggu laki laki yang sedang dicari Kalandra, pasti akan lama. Tapi, ya, semuanya terserah kamu," sambung Fathan santai.
Dia berbalik pergi. Tapi hatinya yakin Nidya akan memanggilnya. Gadis itu pasti sedang memikirkan kata katanya. Saat ini Fathan hanya perlu menghitung.
Nidya yang terhenyak dengan kata kata Fathan, tambah kaget melihat laki laki itu berbalik pergi. Padahal dia belum memberikan jawaban.
Satu
Fathan mulai menghitung dalam hati
Nidya mulai membenarkan kata kata Fathan.
Dua, hitung Fathan lagi.
Nidya masih menatap ragu punggung laki laki itu yang dengan santainya terus berjalan pergi.
Apa yang harus dia lakukan jika Kalandra membawa laki laki yang ngga disukainya bahkan ngga dikenalnya untuk dijodohkan dengannya?
Ti--
"Fathan, tunggu," teriaknya agak keras, takut Fathan ngga dengar.
Dan memang laki laki itu terus berjalan seakan ngga mendengar. Membuat Nidya kesal.
Yess! Hati Fathan bersorak.
Fathan menahan senyumnya. Dia tau Nidya akan mengejarnya. Dan benar saja, terdengar ketukan heels sepatu yang beradu cepat dengan lantai di belakangnya.
BUKK
"Aw....," ringis Fathan perlahan merasakan pukulan yang cukup kuat pada lengannya. Sepertinya gadis jutek ini beneran kesal dengannya.
'Syukurin. Dipanggil ngga dengar," gemas Nidya dengan tatapannya horornya.
Fathan tersenyum agak lebar. Ngga bisa lagi menahannya.
"Jadi.....?" pancing Fathan sengaja dengan nada suara mengambang.
"Aku setuju. Tapi hanya sampai Kalandra menikah. Setelah itu kita putus," sambar Hera cepat dan galak.
Senyum Fathan masih bertahan di bibirnya. Seakan dia melihat anak kecil yang memaksanya membelikannya mainan baru sebelun keburu habis stoknya yang tinggak sedikit.
"Gimana?" ulang Nidya ngga sabar, tapi terlihat menggemaskan di mata Fathan.
"Oke."
Alis Nidya berkerut. Ngga nyangka semudah ini Fathan menyetujuinya.
Bukannya sangat jelas dia dimanfaatkan?
Seperti pepatah Abis manis Sepah dibuamg?
Benaknya dipenuhi banyak tanya.
"Kenapa kamu setuju? Aku memanfaatkanmu,' umpat Nidya terus terang dengan perasaan jengkel.
"Aku hanya niat membantu. Syukur syukur kita juga nanti nyusul menikah," canda Fathan menggoda.
Wajah Nidya merona dan mulut Nidya pun ternganga mendengar jawaban yang ngga terduga sama sekali di pikirannya.
"Ngga akan," pungkasnya setelah tersadar dari kebengongannya.
Fathan malah tertawa kecil. Seakan melihat lagi anak kecil yang bertingkah menggelikan hati laki laki dewasa di depannya.
Tapi jantung Nidya berdetak cepat melihat wajah minim ekspresi itu tertawa lepas. Nidya akui laki laki ini sangat tampan.
"Oke, mulai sekarang kita pacaran," sela Fathan masih dalam tawanya yang berderai derai.
Nidya kembali tersadar sudah terkesima pada laki laki itu. Dia pun melengos.
"Kamu tau kan, konsep pacaran seperti apa?" tanya Fathan lagi ingin menggoda gadis ini lebih jauh lagi.
"Haa.... Konsep apaan?" tanya Nidya ngga ngerti. Dia belum pernah pacaran betulan. Paling hanya mencoba beberapa kali kencan dengan satu atau dua laki laki. Itu pun hanya makan di restoran mahal. Dan jangan lupakan kakaknya yang selalu menyiapkan pengawal untuk menguntitnya dalam jarak beberapa meter.
"Ciuman mungkin?" goda Fathan makin senang melihat wajah Nidya yang semakin merona.
"Nggak. Nggak. Makan siang, makan malam aja bareng," tolak Nidya sambil memberikan alternatifnya. Dia pun ngga yakin akan selamanya berhubungan dengan Fathan.
Kalo udah ciuman, dia bakal rugi besar. Kan, nantinya pasti putus, protesnya dalam hati
"Jangan aneh aneh," kecam Nidya judes sambil menutup bibirnya.
Fathan kembali tergelak. Jantungnya berdebar ngga beraturan. Ada yang
mengembang di dalam hatinya.
Dia jatuh cinta? Fathan mencoba menganalisis perasaannya yang jadi berbunga bunga.
Tak jauh dari sana Ansel yang paling sensitif dalam hal ini memperhatikan seksama kedekatan sepupu perempuannya dengan Fathan.
"Kalandra, apa adikmu masih ikut mengurus proyek dengan Fathan?"
"Engga. Dia sedang menhandle pekerjaan Rihana," jawab Kalandra yang masih sibuk berbalas pesan dengan Adriana.
Kenapa belum tidur?
Terlihat Adriana sedang mengetik, membalas lagi pesannya.
Ini juga mau tidur, tuan muda.
Kalandra menghela nafas jengkel.
Biasakan memanggil nama kalo kita hanya berdua.
Ansel ngga memperhatikan raut kesal Kalandra. Dia masih sibuk memperhatikan Nidya dan Fathan.
Dia mengernyit melihat Fathan tertawa.
Laki laki itu tertawa? batinnya aneh.
"Sepertinya adikmu ganti menyukai kakaknya Alex," ucap Ansel lagi memberitau.
Kalandra ngga menggubris, seperti ngga mendengar dengan jelas. Dia masih kesal dengan Adriana yang belum juga terlihat mengetik untuk membalas pesannya.
"Kalandra, apa mataku ngga salah?" kali ini Emra ikut bersuara.
Dia yang awalnya sedang mengobrol dengan Emir, terkejut melihat isyarat Emir. Emir juga sudah melihatnya.
"Apa?" tanya Kalandra yang masih kesal. Kalo ngga ingat norma kesopanan, dia akan segera pergi menyamperi kekasihnya yang sudah mulai berani mengacuhkannya.
"Adikmu," kata Emra dan Ansel kompak.
"Kenapa lagi dengan Nidya?" erang Kalandra ngga ngerti.
Kenapa para sepupunya selalu saja menggaggu adiknya, batinnya lelah.
"Lihat saja sendiri," tunjuk Emra.
Kalandra mengalihakan perhatiannya dari ponselnya dan mengikuti arah yang ditunjuk Emra.
Seketika dia merasa ada yang aneh. Nidya terlihat akrab dengan Fathan.
Kok bisa?
Kalandra menajamkan matanya. Adalah aneh melihat Fathan tertawa dan adiknya terlihat salah tingkah.
Ngga mungkin, tepisnya saat mengingat curhatannya untuk mencari laki laki yang baik untuk pendamping adiknya.
"Nidya beneran udah move on;" sarkas Emra terkekeh tapi langsung mengaduh karena kakinya ditendang Emir
"Sakit, woi," marah Emra, tapi Emir memberikan isyarst mata tegas.
Kalandra rupanya sedang menatapnya sebal.
"Kelihatannya Fathan tertarik juga dengan Nidya. Fathan tipe yang serius." Emir memberikan pendapatnya.
Bagi Emir, Fathan udah kualitas nomer satu. Rekam jejaknya sudah terlihat jelas. Positif semua. Buat apa mereka mencari laki laki yang ngga jelas buat Nidya.
Lebih baik sekarang mencari laki laki baik untuk Kirania. Hazka terlalu red flag. Emir ngga mau sepupunya darah tinggi tiap menghadapi ketengilan Hazka.
"Belum pernah aku lihat Fathan tertawa di dekat perempuan," kekeh Ansel. Logikanya masih ngga percaya kalo Fathan adalah destinasi Nidya.
"Nanti aku akan bicara dengannya," tukas Kalandra sambil mengamati dua sejoli itu.
"Dengan Fathan atau Nidya?" tanya Emra setengah meledek.
Kalandra hanya bisa menggeram melihat ketiga sepupunya tertawa geli.
*
*
*
Drrrtttt
Xavi yang berada di ruang kerjanya segera meraih ponselnya.
Ada notifikasi pesan dari Alexander.
Bibirnya tersenyum melihat apa yang dikirimkan Alexander padanya.
Foto Daiva yang sedang menggendong bayi laki laki yang merupakan keponakannya.
Gadis itu sangat cantik dan keibuan sekali, batinnya ngga bisa mengalihkan tatap matanya dari sosok yang sudah membuatnya ngga bisa memindahkan hatinya.
Tangannya bahkan mengusap wajah yang tampak bahagia itu dengan bayi yang bukan anak kandungnya. Seakan akan dia memperoleh jackpot yang sangat berharga dan ngga ternilai.
"Hatiku ngga salah memilih kamu," gumamnya lirih.