NOT Second Lead

NOT Second Lead
Emra-Kiara



"Hai," sapa Emra sambil mendekati Kiara yang sedang mengobrol bersama Shiza dan Mela


Mereka bertiga diundang ke acara pernikahan Puspa dan Herdin, karena orang tua mereka merupakan relasi bisnis.


Ketiga gadis cantik itu sama tersenyum. Shiza melirik Kiara yang tenang. Sedangkan Mela tampak nervous.


"Dansa," pinta Emra sambil mengulurkan tangannya ke depan Kiara.


"Gimana kalo dengan aku saja," ucap Mela spontan sambil menyambut tangan Emra. Tapi Emra malah menjauhkannya membuat wajah Mela memerah karena malu.


Shiza menahan senyumnya sambil melirik Mela kasian. Sudah jelas Emra mengulurkan tangannya pada Kiara.


Salah sendiri maen sambar aja.


Mungkin di pikiran Mela, Emra ngga akan mungkin menolak. Karena biasanya Emra juga begitu selalu menerima uluran dari perempuan mana pun. Yang penting cantik dan seksi.


Dia ngga kurang seksi, kan? batin Mela sangat malu dan dalam hati menahan marah.


"Maaf, nona. Aku hanya ingin berdansa dengan temanmu," ucap Emra dengan mata menyorot lembut pada Kiara. Tangannya kembali terulur pada Kiara.


Kiara yang menyadari kemarahan Mela, ingin menolak untuk menjaga perasaan temannya.Tapi tangannya malah terulur menyambut tangan Emra. Tentu saja ulah Shiza yang sengaja mengayunkan tangan Kiara mendekati tangan Emra.


Saat Kiara menoleh pada teman usilnya itu, Shiza mengedipkan sebelah matanya.


Kiara menghela nafas kemudian dia ganti melirik Mela yang memalingkan wajahnya.


Kiara tau saat ini pasti Mela sangat marah dalam malunya yang pasti sudah ngga bisa ditahannya lagi.


Dia ditolak. Padahal awalnya menolak. Nasibnya terasa tragis.


Awalny jual mahal, malah sekarang diobralpun ngga laku juga.


"Ayo," ajak Emra sambil menarik tangan Kiara agar mengikuti langkahnya ke tengah ruangan, di mana banyak pasangan yang lain sedang berdansa di sana.


Tangan Emra pun mengalung di leher Kiara.


Tangan Kiara sendiri dibawa Emra memeluk pinggangnya.


"Kenapa?" tanya Kiara pelan setelah terdiam cukup lama.


Setelah pertemuan mereka siang itu, Emra ngga kelihatan batang hidungnya lagi.


Seperti kebiasaan laki laki itu, paling banyak memberi perhatian hanya dua kali saja pada satu perempuan, laki laki itu menghilang. Bayangannya pun ngga pernah nongol lagi.


Hari demi hari dan minggu berlalu begitu saja. Walaupun merasa kehilangan, tapi Kiara menyembunyikan dari kedua temannya.


Mela yang awalnya menjaga jarak dengannya dan Shiza, kini sudah merapat kembali.


Tapi karena kejadian sekarang, Kiara sangat yakin, Mela pasti akan semakin mengamuk dan menyalahkannya.


Bukan salahnya, kan, kalo Emra sekarang mendekatinya.


"Sudah kubilang, kan, kalo aku butuh waktu," ucap Emra dengan kedipan nakalnya.


Kiara menatap Emra ngga ngerti.


Emra tersenyum sambil tubuh keduanya bergerak lembut.


"Sudah kubilang, kan, kalo aku butuh waktu biar bisa fokus hanya padamu," kata Emra mengingatkan.


Kiara langsung merasa blushing di seluruh permukaan wajahnya.


Jantungnya pun berdebar hebat.


Maksudnya?


Apa.dia serius?


Ngga mungkin.


Dia mata keranjang.


Dia player bukan? Ngga mungkin dia sangat gampang tobat.


Pikirannya seakan dibombardir dengan kemungkinan kemungkinan yang ngga masuk akal.


Kiara ngga mungkin akan percaya semudah ini.


Nggak akan! Pungkasnya dalam hati.


"Rasanya cukup sulit. Godaan dengan mudahnya datang di depan mata. Kamu tadi lihat sendiri, kan, kalo temanmu saja hendak menikungmu," tukas Emra panjang lebar, masih dengan wajah santainya dan terkesan sombong.


Kiara tersenyum kecut.


Kenapa laki laki ini sangat pede.


"Sekarang aku sudah siap fokus hanya pada dirimu saja," sambung Emra dengan senyum hangatnya.


Kiara ngga bisa menyembunyikan kegugupannya mendengar pernyataan terakhir Emra.


Dia menembak ku?


Emra makin mendekatkan wajah mereka, kemudian berbisik lembut di dekat telinga kanan Kiara.


"Tenang saja. Aku laki laki yang sabar. Aku akan menunggu kapan pun kamu sudah siap."


Walau Emra ngga menciumnya setelahnya, tapi perlakuannya membuat Kiara meleleh.


Mereka masih terus berdansa


Sementara itu Mela dan Shiza masih fokus menatap dua orang yang sedang berdansa mesra dengan tatapan berbeda.


Kalo Shiza tampak bahagia dan berharap kutukan Emra yang hanya memberikan seorang perempuan berdekatan dengannya maksimal dua kali, ngga berlaku buat Kiara.


Sedangkan Mela menatap marah. Dia sudah menyusun strategi ampuh untuk memisahkan keduanya. Kalo perlu sampai membuat Emra akan membenci Kiara selamanya.


Dan dia akan menyerahkan dirinya pada Emra, sehingga Emra menyadari kalo selama ini dia hanya mengetes laki laki itu saja. Semoga dengan ini Emra akan menjadi miliknya.


Keluarganya pun kaya raya dan sejajar dengan keluarga Kiara. Emra ngga akan rugi apa apa.


"Apa pun yang kamu pikirkan, jangan kamu lakukan," ucap Shiza tiba tiba. Seakan bisa membaca isi kepala Mela.


Mela menoleh dan dia pun menyeringai.


"Segala cara sah sah saja dalam cinta. Apa kamu takut Emra akan lebih memilihku dari pada teman kesayanganmu?" decih Mela mengejek.


Shiza ngga kesal, dia malah tersenyum smirk.


"Aku bicara begini agar kamu ngga mempermalukan dirimu lebih dari ini pagi," sahut Shiza sarkastis.


"Hemmhh.... Kita lihat saja nanti, siapa yang akan mendapt malu," dengus Mela sinis menantang.


"Kalo begitu berusahalah lebih keras lagi," senyum Shiza sambil mengajak Mela bersulang.


Mela pun menyambutnya dengan menyentuhkan gelasnya pada gelas yang dipegang Shiza.


*


*


*


"Emra, tunggu," panggil Mela begitu laki laki ini akan berbalik setelah mengembalikan Kiara pada mereka.


Merasa mendapat harapan palsu, Mela pun ngga akan menyia nyiakannya.


Awalnya dia ingin mengajak Emra pergi, agak menjauh dari Kiara dan Shiza.


Tapi melihat kesempatan yang diberikan Emra, dia rasa ngga ada salahnya mengeluarkan salah satu peluru tajamnya.


"Kemarin dulu kami bertiga menjadikanmu taruhan. Dan ternyata Kiara pemenangnya."


Shiza mendelik kesal.


Si bodoh ini! Apa dia ngga sadar, kalo dia juga ikut taruhan.


Sepertinya Shiza yakin kalo Mela berprinsip kalo dia ngga bisa mendapatkan Emra, Kiara juga ngga boleh.


Kiara hanya menatap Mela datar.


"Ohya, apa taruhannya?" tanya Emra terlihat senang alih alih marah.


Mela agak tercekat karenanya


Syukurin lo, hina Shiza dengan senyum smirknya.


"Apa?" tanya Emra ngga sabar. Dia penasaran, berapa tinggi nilainya di mata para perempuan ini.


Seharga Ferari keluaran terbaru atau sebuah pulau mungkin, tebaknya dalam hati dengan penuh rasa percaya diri.


Dirinya ini sangat sangat berharga.


Ngga nyangka para perempuan juga menyukai taruhan seperti kaumnya.


"Apartemen mewah dua kamar," yang menyahut Shiza membuat rona senang di wajah Emra berubah kesal.


"Hanya apartemen?" sungutnya kesal


Apa mereka terlalu miskin?


Rasanya tidak.


Atau mungkin terlalu pelit?


Jika ada anggota keluarganya yang mendengar kalo nilainya serendah itu, pasti mereka akan dengan senang hati tertawa sampai pagi.


Emra mendengus kesal. Benar benar ngga terima.


Ini penghinaan, makinya tiada henti dalam hati.


"Engg.... Ada yang salah?" Mela memberanikan dirinya bertanya.


"Sangat salah nona. Harga taruhan kalian terlalu murah," cetusnya kesal.


Kiara dan Shiza saling pandang mendengarnya.


"Ma maaf kalo gitu," gagap Mela. Tapi setidaknya misinya separuhnya tercapai melihat kekesalan di wajah Emra. Laki laki ini terlihat sangat tersinggung.


Emra pun berbalik pergi dengan menahan dongkol, apa lagi Kiara ngga membujuknya untuk menahannya pergi. Malah hanya diam saja dan malah tersenyum tipis.


"E Emra, tu tunggu," panggil Mela tapi ngga digubris laki laki itu yang terus saja pergi karena sangat kesal.


Tanpa malu diejek Shiza melalui senyum sinisnya, Mela menguatkan hati mengejar Emra.


"Kenapa dulu ditolak kalo sekarang harus ngemis ngemis seperti itu," kekeh Shiza.


"Dia salah taktik," senyum Kiara. Sedikit prihatin.


"Shiza, tadi Emra mengatakan mau serius denganku. Tapi aku ngga bisa percaya begitu saja," ucap Kiara setelah tawa sahabatnya reda.


"Sudah ku tebak." Bibir Shiza merekah senang.


"Mau kamu sekarang gimana? Terima atau ngga? Jangan sampai seperti Mela, menyesal nanti nantinya," tawa Shiza lagi.


Kiara jadi tertawa juga mendengar sindiran sahabatnya.


"Katanya dia mau menunggu. Tapi ngga tau setelah kejadian tadi."


Keduanya kembali terkikik.


"Apa menurutnya apartemen itu kurang mahal. Hampir satu setengah M itu," heran Shiza dalam gelaknya.


Kiara ngga menyahut, tapi deraian tawanya yang terdengar renyah.


Emangnya dia mau nilai taruhan itu semahal apa? batin Kiara geli.


Sementara ngga jauh dari tempat mereka berada, Mela berhasil meraih tangan Emra hingga laki laki itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Emra masih dengan tatapan kesalnya.


Mela jadi grogi ditatap sedingin itu. Hatimya melarangnya untuk meneruskan niatnya, terus mengingatkannya kalo sekarang bukan waktunya. Tapi Mela takut akan sulit mendapat kesempatan seperti ini lagi. Bisa berdekatan berdua dengan Emra bukan hal yang mudah.


"Sebelumnya a aku mau minta maaf."


Emra menaikkan alisnya.


"Minta maaf soal nilai taruhan?"


"Sa salah satunya," sahutnya gugup.


"Katakan yang lainya," ucap Emra ngga minat


Mela menarik nafas panjang. Mencoba menghalau keresahannya.


"A aku setuju de dengan permintaan kamu," gugupnya sambil menundukkan kepalanya.


Kali ini kening Emra berkerut. Dia ngga ngerti arah pembicaraan Mela.


"Aku minta apa ke kamu? Jangan bertele tele. Aku harus segera pergi," tukas Emra ngga sabar. Dia sudah ngga mood melihat perempuan di depannya yang sedari tadi memonopoli Kiara darinya.


"Itu..... ten tentang kencan semalam. A aku mau, Emra," ucap Mela malu malu. Wajahnya sudah sangat merah.


Sedetik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Maaf aku ngga bisa. Aku sudah putuskan untuk serius dengan teman kamu itu," pungkas Emra sambil meletakkan tangannya ke saku celananya. Sekelumit senyum miring muncul di bibirnya.


"Emra..... A aku mohon. Berikan aku kesempatan kedua," mohon Mela dengan harga diri yang sudah dia turunkan serendah rendahnya.


Emra mengamati sesaat wajah cantik merona di depannya.


"Sayangnya aku sudah berjanji pada Kiara kalo akan berubah dan hanya serius dengannya saja."


DEG


Tulang tulang Mela seakan sedang dilolosi saat ini. Dia hampir saja jatuh kalo ngga menemukan pegangan.


Sementara Emra sudah melangkah pergi. Dari tadi adiknya sudah memanggil manggilnya lewat lambaiannya.


Mereka akan melakukan sesi foto keluarga.