
Ngga lama kemudian seorang laki laki muda berpakain supir mendekat dan menyodorkan amplop coklat agak tebal pada Kamila.
"Nona."
"Oke, terima kasih."
Emir memperhatikan interaksi itu. Dia semakin yakin kalo gadis di depannya bukan dokter yang biasa biasa saja.
Setelah menunduk hormat, laki laki muda itu pun pergi.
Kamila tersenyum pada Emir sambil menyerahkan amplop itu.
Emir menerima dengan tenang, kemudian membuka ujung amplpnya dan sedikit menggerakkan tangannya seakan sedang menghitung uangnya sekilas
Emir pun tersenyum lagi. Dia ngga tau uangnya pas, kurang atau lebih. Dia hanya merasa senang saja kalo gadis itu sedang intens memperhatikannya.
"Bisa aku mentraktirmu makan siang menjelang sore dengan uang ini."
Selina melirik Kamila yang juga balas meliriknya dengan tawa kecil di sudut bibirnya yang melengkung.
Selina berharap, laki laki ini akan membawa bos yang diakuinya sebagai temannya. Karena itu Selina menganggukkan kepalanya.
"Bisa aku mengajak Selina?"
"Kita bisa couple mungkin," usul Selina dengan maksud tersirat.
Bibir Emir berkedut. Dia tau dengab jelas maksud sahabat Kamila.
"Sayangnya sekarang bosku lagi ke luar negeri. Karena itulah aku bebas memakai mobilnya."
"Ooo... Bosmu berarti orang yang sangat baik ya," puji Selina senang. Dalam hati berharap suatu hari nanti akan dikenalkan dengannya. Dan semoga dia bisa mengambil hatinya.
Bukankah begini yang namanya subsidi silang, gelak Selina dalam hati. Yang kaya ngga selamanya mendapat pasangan kaya juga, kan, sambungnya lagi dalam hati.
"Begitulah," jawab Emir tanpa mengalihkan fokusnya pada Kamila.
"Kamu mau, kan. Lagi pula aku membawa mobil mewah temanku itu," sambung Emir.
Kamila terdiam dan melirik lagi pada Selina yang memberikannya anggukan.
"Oke."
"Karena bosmu ngga ikut, aku juga batal ikut. Kaena aku pastinya akan jadi obat nyamuk," gelak Selina dengan tawa yang dibuat buat.
Ngga masalah, batin Emir, karena bukan targetnya.
"Ayo," ujar Emir sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Kamila yang tersenyum melihat tingkah Emir. Tapi dia mendadak merasa dadanya menjadi hangat.
"Aku tinggal, Lin," lambai Kamila saat menyambut tangan Emir. Genggaman Emir terasa erat, Kamila menatap genggaman tangan Emir, kemudian menatap mata laki laki tampan itu yang tampak teduh.
Selina bersorak dalam hati. Dia yakin keduanya sudah mendapatkan chemistry. Dengan begini Kamila ngga akan tertarik dengan bos laki laki ini.
Kadang dia bingung dengan Kamila. Kenapa dia ngga menolak ajakan Emir, padahal jelas jelas Emir mengatakan kalo dia bukan siapa siapa dan hanya menggunakan fasilitas mewah bosnya.
Sama seperti dirinya. Yang sahabatnya itu juga pasti sadar kalo dia selalu menumpang hidup mewah dengannya.
Bahkan Kamila pernah berkata, kekayaan bukanlah segala galanya. Dengan entengnya Kamila berkata kalo dia ngga butuh laki laki kaya. Biarpun OB, asalkan dia baik, dan Kamila jatuh cinta dengannya, pasti dia akan mau dinikahinya.
Orang tuanya sudah kaya raya. Begitu juga dua kakak perempuannya yang sudah menikah dengan suami yang juga kaya raya.
Mereka pun membebaskan Kamila memilih jodohnya sendiri.
Selina tentu berbeda. Walau bukan miskin, tapi keluarganya jauh dari srata keluarga Kamila. Dia dari kalangan menengah. Karena orang tuanya sama sama pegawai bank.
Dulunya Selina sudah merasa cukup dengan hidupnya. Kakaknya pun sudah menikah dengan pegawai pemerintah. Hidupnya baik baik saja.
Tapi sejak mengenal Kamila pemikirannya mulai berubah. Mulai melenceng jauh.
Meliihat rumah mewah Selina yang gedenya hampir sekomplek perumahannya, yang dilengkapi dengan taman taman, kolam renang dan gazebo gazebo, banyaknya pelayan yang hilir mudik dengan seragam khas di telenovela atau film korea, juga pakaian, tas, sepatu branded terkenal, kartu kredit yang tanpa batas dan yang paling membuat gadis itu silau adalah berjejernya motor dan mobil mewah, yang ditaksir harganya bisa mencapai milyaran rupiah.
Selina pernah beberapa kali diajak Kamila menaiki mobil mewahnya. Selina bagai terbang ke atas awan dengan khayalan tingginya. Berharap suatu hari nanti ada pangeran yang menawarkan kemewahan ini padanya.
Tapi sayangnya dan yang paling menyebalkannya, sahabatnya itu lebih suka mengendarai motor dua puluh jutaannya saja sehari harinya.
Okelah kalo Kamila bosan dengan hidupnya yang begitu begitu saja, tapi tidak dengannya. Selina malah menginginkan kehidupan Kamila sekarang. Setidaknya laki laki yang menjadi kekasih dan suaminya nanti haruslah yang sekaya, atau kalo perlu lebih kaya dari Kamila.
*
*
*
Ada apa di sana? batinnya bingung.
"Di atas root top loh. Ada apa di sana?" Tapi Kamila penasaran dan hanya membiarkan Emir melakukannya. Lift pun melaju ke atas.
"Kendaraanku ada di sana."
Kamila menatap laki laki itu ngga mengerti. Setaunya kalo di root top, karena ada helipad, maka yang ada hanyalah helikopter medis, yang membawa pasien dari relasi relasi orang tuanya.
Maksudnya temannya memiliki helikopter juga?
Kamila menoleh ketika merasa laki laki tampan ini menggenggam erat tangannya. Dia mau melepaskan tapi hembusan angin menampar wajahnya karena pintu lift yang sudah terbuka.
"Biar ngga dibawa angin," candanya.
Kamila melengkungkan bibirnya menanggapinya
Terasa dingin karena tadi jubah dokternya sudah dia lepas. Sekarang hanya tinggal kemeja dan celana kainnya yang berkibaran ditiup angin.
Emir melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Kamila.
"Biar ngga terlalu dingin," ucap Emir saat Kamila menatapnya. Gadis itu hanya mengangguk, menyimpan kegugupannya karena jarak mereka yang cukup dekat.
"Kita pake helikopter medis?" canda Kamila berusaha tetap tenang dalam tatapan teduh Emir.
Emir tertawa dan tanpa ragu merangkul Kamila, mengajaknya mendekati sebuah helikopter yang ada di sana.
Bukan helikopter medis. Malah seperti punya Daddynya. Kamila melirik Emir yang dengan tenangnya membukakannya pintu, membiarkannya masuk.
Beneran ini punya temannya? batin Kamila sulit untuk percaya. Karena Emir terlihat santai sekali dan sudah terbiasa. Bahkan dari tatapan serta caranya bersikap sangat jauh berbeda dengan Selina yang selalu terlihat canggung, jika Kamila mengajaknya mengendarai mobil mewahnya.
Tapi ini helikopter yang harganya puluhan bahkan ratusan kali lipat dari mobil mewahnya. Tapi Emir tampak biasa saja, seakan akan itu adalah tunggangannya sehari hari.
Apa benar hanya milik bosnya yang diakui sebagai sahabatnya?
Mereka seakrab itu?
Hati Kamila penuh banyak tanya, sambil dia memperhatikan segala gerak gerik Emir yang begitu lugas menerbangkan helikopternya.
Mereka terbang? batinnya berseru girang. Ini yang paling dia suka karena mengingat lagi jika papinya sudah lama ngga mengajaknya terbang dengan helikopternya.
"Kamu suka?" tanya Emir sambil meliriknya dengan sudut bibir ketarik ke atas.
"Ya," jawab Kamila jujur.
"Apa ini beneran punya temanmu?" tanya Kamila lagi mengandung kecurigaan. Dia sangat penasaran.
"Pikirmu?" Emir balik bertanya dengan senyum smirknya.
Kamila terdiam.
Miliknya?
Matanya kini menatap Emir yang fokus menatap ke depan dengan tangannya yang lincah memainkan kemudi dan tombol tombol keren yang ada di sana. Kamila yakin laki laki ini pasti sudah memiliki sertifikat buat terbang. Kamila jadi ngga yakin kalo laki tampan berkharisma di sampingnya merupakan orang biasa. Jas miliknya yang dikenakan Kamila memiliki kadar kelembutan bahan yang sangat baik.
Siapa tau dia dan sahabat yang dibilang bosnya itu sama sama orang kaya?
Kamila merasa isi otaknya harus diupgrade karena pikiran pikiran ngga jelas yang bermunculan di dalamnya.
"Jangan terlalu tegang, santai saja," senyum Emir lagi, lebih lembut dari yang tadi.
"A aku biasa saja," agak terbata Kamila menjawab. Terlalu banyak yang dipikirkan.
Apa yang akan dikatakan Selina jika temannya itu tau kalo sekarang dia berada di dalam helikopter?
Iseng, Kamila mengambil gambarnya dengan Emir yang sedang mengendalikan helikopternya.
Emir tersenyum melihat ulahnya. Apalagi gadis itu agak menempelkan kepalanya pada lenggannya. Harum rambut dan tubuhnya memasuki penciumannya.
Kamila tersenyum setelah menjepretnya beberapa kali. Doa seperti berfoto dengan kekasihnya. Memikirkan hal itu wajahnya memanas. Tapi melihat pendekatan Emir, membuatnya merasa ngga salah dengan kelancangan intuisinya.
Nanti dia akan mengirimkannya pada Selina, setelah heli ini mendarat. Kamila pun belun tau dia akan dibawa kemana. Tapi pemandangan di atas langit sangat indah. Kamila akan memanjakan matanya selama Emir juga masih betah menerbangkannya.