
"Kamila, kita harus bicara," cegat Selina ketika pagi ini melihat temannya sedang melintas di depannya.
"Ya?" jawab Kamila sambil menghentikan langkahya. Dia baru saja diantar Emir. Laki laki itu sekarang sudah pergi ke perusahaannya.
"Ada yang harus aku katakan padamu."
"Katakan saja." Kamila berdiri tenang. Dia ingin tau apalagi yang akan dilakukan Selina agar dia menyerahkan Emir padanya.
"Emir bukan laki laki yang baik. Dia sudah punya pacar," jelas Selina walaupun reaksi Kamila terlihat datar.
Setelah ini baru BAMM, kekeh Selina dalam hati bahagia.
"Trus kenapa?" tanya Kamila agak malas.
Mata Selina membesar.
"Kamu ngga marah? Kamu diduain loh?" seru Selina ngga abis pikir. Dia pikir akan mendapatkan wajah kaget dan putus asa Kamila. Tapi nyata malah wajah ngga peduli Kamila.
"Biarlah, ngapain kamu repot repot ngurusin aku."
Selina terdiam, ngga nyangka mendapat kalimat pedas dari Kamila.
"Aku duluan, ya. Udah ada janji dengan pasien," tukas Kamila lagi sambil melangkahkan kakinya agak cepat meninggalkan Selina.
Sekarang Kamila.udah ngga bisa beramah tamah lagi dengan Selina. Dia telanjur kecewa pada temannya itu.
Selina menatapnya kesal, akhirnya dia pun menjejeri langkah Kamila dalam diam.
"Apa kamu marah kalo aku mencoba mendekati Emir?" Selina mencoba membuka percakapan.
"Bosan, Sel, aku dengarnya," jawab Kamila sambil masuk ke ruangannya.
Selina ngga bisa bertanya lagi karena pintu ruangannya sudah ditutup Kamila dengan cukup kasar.
Bibir Selina berdecak kesal, dia pun masuk ke ruangannya.
*
*
*
"Terima kasih ya, sayang, udah bantu jaga Hazka. Pasti merepotkan ya," ucap mami Hazka sambil menggenggam lengan Kirania dengan sangat ramah.
Papi Hazka juga ikut tersenyum ramah dan kini sedang duduk di samping putra tunggalnya itu.
Papi dan mami Hazka baru saja tiba dan baru bisa melihat putranya.
Kirania hanya membalas ucapan mami Hazka dengan senyum saja. Menurutnya ngga perlulah Kirania mengakui secara terang terangan seberapa.parah kelakuan Hazka. Maminya pasti sudah tau.
"Aku biasa, aja, mam," protes Hazka ngga terima. Walaupun gadis itu ngga mengatakan apa, tapi dari senyumnya sudah membuat Hazka kesal. Seakan meyetujui apa yang dikatakan maminya.
"Tante bawa oleh oleh buat kamu," ucap mami Hazka sambil menarik tangannya ke arah kursi tempat beberapa paper bag yang dibawa pengawalnya tadi pas datang.
"Ini buat kamu semua sayang. Terima, ya, sayang. Semoga kamu suka," ucap mami Hazka sambil menunjukkan banyaknya paper bag itu.
"Tante, ngga usah repot repot. Ini banyak sekali," tolak Kirania ngga enak hati. Dia pun ngga terlalu intens merawat Hazka. Hanya menungguinya saja dan melihat para tenaga medis melakukan tugasnya.
Hazka menatap gadis itu dengan aneh. Itu barang branded yang harganya belasan hingga puluhan jutaan rupiah.
Gadis gadis lain pasti akan langsung menerimanya. Ngga mungkin ada kata untuk menolak.
Biarpun Kirania bisa membelinya, belum tentu dia bisa mendapatkan barang yang sama. Karena Hazka yakin ,yang maminya belikan itu adalah limited edition. Kalo sudah sold out semua ngga akan dijual lagi.
"Ngga apa apa sayang. Ini ngga ada bandingannya dengan pertolongan kamu pada Hazka," ucap mami Hazka sambil memperlihatkan isi paper bag itu pada Kirania.
Nanti dia akan menyuruh para pengawalnya membantu gadis ini membawakan paper bag paper bag itu ke dalam mobilnya.
Mami Hazka sudah mendengar cerita dari Ansel dan Hazka. Hazka beruntung cepat ditangani karena bertemu Kirania. Gadis itu mengusahakan yang terbaik begitu melihat Hazka.
Ngga disangka adik Ansel begitu penurut dan mau menemani Hazka sampai mereka datang.
Kirania jadi bingung untuk menolak. Tapi menerima semuanya bukannya dia kelihatan serakah?
Saat melihat barang barang yang ada di dalam paper bag itu, dia tau kalo itu adalah barang barang yang limitted edition.
Kirania sangat tau karena Puspa selalu menunjukkannya kalo ada limitted edition launching.
Jika Puspa melihatnya pasti dia akan meraaa ngga tahan. Kirania jadi tersenyum membayangkan wajah sepupunya.
Mami dan papi Hazka yang mendengarnya tertawa berderai derai. Hazka hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sudut bibir yang ketarik sedikit.
Baru kali ini dia nemu perempuan sepolos ini. Ngga perlu, 'kali ngasih tau mau kasih siapa aja pemberian maminya. Toh, udah jadi hak miliknya. Terserah dia mau kasih siapa.
Kirania jadi merasa malu.
Apa dia salah bicara, ya?
"Sayang, itu sudah milik kamu. Ohya, banyakkah sepupu kamu? Takutnya kurang," sela mami dengan bibir yang menyisakan tawanya. Wajahnya kini agak khawatir.
Kalo tau Kirania sebaik ini pada sepupu sepupunya, dia akan lebih banyak membanjiri gadis ini dan para sepupunya.
Kirania tertawa pelan mendengarnya. Bukan mengecilkan hati mami Hazka, tapi sepupunya Puspa ngga akan pernah cukup sebelum memborong lebih dari satu isi toko.
"Ini sudah sangat cukup, tante. Terimakasih banyak," sahutnya menenangkan hati mami Hazka yang tampak cemas.
"Syukurlah, tante takutnya kurang," senyumnya lega.
Dalam benak Kirania dia sudah memikirkan akan memberikan buat Rihana dan Kak Nidya juga. Nayara dan Adriana juga akan dia kasih.
Maminya Hazka terlalu baik memberinya dengan banyak paper bag yang sangat mahal.
*
*
*
Setelah berbasa basi sedikit, Kirania pun pamit, karena sudah ada mami dan papi Hazka. Rencananya besok mereka akan membawa Hazka ke London, untuk pengobatan selanjutnya. Karena orang tuaHazka sedang sibuk sibuknya mengurus bisnis mereka di sana. Jadi mereka bisa mengawasi Hazka.
Tapi langkah Kirania langsung dipercepat saat melihat sepupunya sedang bersama seorang dokter yang sangat cantik. Dia sangat penasaran.
Siapa ya? Kenapa aku ngga pernah ketemu? Hati Kirania penuh tanya.
Tiba tiba Kirania melihat ada lagi seorang dokter perempuan yang lain mendekati mereka.
WOW... ternyata Kak Emir sukanya dokter. Kirain yang sama sama menggeluti bidang bisnis.
Agak diluar dugaan juga.
"Kak Emir," panggil Kirania menghentikan perdebatan dua dokter perempuan, tepatnya salah satu dokter yang baru datang tadi seperti agak ngotot pada sepupunya.
Beberapa saat sebelum Kirania memanggil Emir.
Selina yang melihat dua sejoli yang sedang tertawa bersama itu menjadi panas
Ngga diisangka Kamila yang kaya raya memilih menjadi pelakor. Padahal Emir orang miskin, ngga setara denhannya. Kenapa dia rela merendahkan diri.
"Kalian mau pulang bersama?" tanya Selina menhan nada sinisnya. Ada Emir, dia harus kelihatan baik.
"Ya."
"Aku bisa ikut menumpang? Mobilku dibengkel.'
"Naek ojek online aja," jawab Kamila malas. Ya ampun, kenapa Selina makin menyebalkan, batin Kamila sewot.
"Emir, apa aku ngga bisa ikut menumpang?" tanya Selina membuat Kamila memutar bola matanya. Temannya benar benar sudah ngga menganggapnya lagi.
"Kak Emir."
Perhatian ketiga orang itu teralihkan pada Kirania yang diikuti dua orang laki laki berseragam pengawal, yang sedang menenteng banyak paper bag.
"Kiran?" Mata Emir menatap heran pada adik sepupunya yang sedang mendekat dengan senyum manjanya.
"Mereka siapa?" tanya Kirania sambil menggayuti lengan Emir.
Selina tersenyum sinis melihat seorang perempuan yang sangat manja pada Emir. Tapi seingatnya bukan pacar Emir yang dilihatnya di root top.
Siapa gadis ini? Selingkuhannya?
Kamila yakin dia pernah melihat gadis ini di foto pernikahan adik dan sepupunya Emir.
Emir langsung meraih tangan Kamila yang tersenyum melihatnya.
"Kenalkan calon kakak ipar kamu, dokter Kamila."
Selina bagai dilempar sangat jauh saat Emir meraih tangan Kamila.Tambah lagi setelah mendengar kata kata Emir, Selina semakin dibenamkan sangat dalam ke rawa rawa ngga berdasar.