
Dewan menatap nanar foto.di dekat nisan pada kuburan Aiden dengan sedih. Dadanya terasa berat oleh beban yang ngga bisa dia jauhkan.
Sampai saat ini dia.masih berharap bukan Aurora penyebab kematian Aiden. Dia takut ngga bisa menerima kenyataan kalo putrinya yang lembut adalah seorang pembunuh berhati kejam.
Apa karena patah hati seseorang yang tanpa cela bisa melakukan hal yang sedemikian jahatnya?
Kenapa Aurora terlalu dibutakan cintanya pada Alexander?
Batinnya terus saja mengeluarkan pendapat pendapat tiada henti yang membuat kepalanya jadi semakin pusing bukan kepalang.
"Kamu di sini?" tanya Hendy yang sudah berada di samping Dewan.
Dewan menoleh dan menganggukkan kepalanya. Hatinya makin sedih melihat wajah hampa Hendy.
"Semasa dia hidup selalu saja membuatku gemas dengan tindakan kekanakannya. Tapi setelah dia tiada, aku jadi merindukan kekonyolannya," ucap Hendy dengan suara serak. Hatinya masih sangat hancur. Aiden masih terlalu muda untuk pergi lebih dulu darinya.
"Iya. Dia anak yang menyenangkan," puji Dewan tulus. Sayangnya Aiden harus mencintai putrinya yang ternyata berhati kejam.
Bagaimana, bagaimana kalo Hendy tau siapa.yang sudah membunuh salah satu putra kembarnya ini. Pasti Hendy dan istrinya akan sangat membenci dan mengutuknya.
Dewan menghela nafas panjang.
Tapi melihat sikap baik Hendy padanya, sepertinya sahabatnya itu belum tau kalo putrinyalah yang sudah membunuh Aiden.
Dewan merasa dadanya sangat sesak menyimpan rahasia ini. Memang belum terbukti kalo putrinya yang sudah membunuh Aiden, tapi sebagian bukti sudah mengarah ke.sana.
Harusnya dia ngga mengusulkan perjodohan itu yang malah membawa Aiden masuk ke dalam kematiannya, sesalnya tanpa henti.
Dia harus mengaku pada sahabatnya. Perasaan berdosa ini terlalu menderanya
"Dewan..."
"Hendy..."
Keduanya saling senyum karena berbarengan memanggil.
"Kamu duluan," ucap Dewan
"Kamu aja," tolak Hendy.
Sesaat kemudian senyum mereka berubah menjadi tawa kecil. Sudah cukup lama mereka ngga melakukannya.
"Ada apa?" tanya Dewan setelah tawanya reda.
Hendy menghela nafas panjang. Agak berat lidahnya mau bertutur mengatakannya. Tapi dia tetap memaksakannya.
"Terima kasih," ucap Hendy pelan.
"Untuk apa?" tanya Dewan dengan sebelah alis yang terangkat.
Kembali Hendy membuang nafas kasarnya.
"Xavi sudah menceritakannya padaku."
Mata Dewan membesar. Dia salah menduga kalo sahabatnya ngga tau apa apa. Ternyata Hendy berusaha menahannya.
Tapi kenapa dia tidak menghajarnya?
"Aiden sudah lama mengenal Aurora. Anak nakal ini menjebak Aurora hingga dia akhirnya menemui kematian tragis," sampai di sini Hendy ngga sanggup melanjutkannya lagi. Dia menyusut air matanya yang mulai menetes.
Dewan masih terpaku menatap wajah Hendy yang berusaha tenang mengendalikan emosinya.
"Aku berterimakasih, karena kamu memberikan bukti keterlibatan anakmu pada Xavi. Tapi maaf, aku dan keluargaku ngga bisa memaafkan Aurora," lanjut Hendy lagi setelah menenangkan perasaan gerudak geruduk di dadamya.
Dewan pun menyusut air matanya yang mulai mengalir. Dia tau, Aurora ngga akan mudah untuk mendapatkan maaf dari keluarga Hendy.
"Kamu tau dari mana kalo Aiden sudah mengenal Aurora cukup lama," tanya Dewan beberapa menit kemudian, karena rasa penasarannya tercubit akibat pernyataan Hendy.
Dia semakin penasaran dengan apa yang sudah disembunyikan putrinya Aurora.
"Mereka ngga sengaja bertemu di klub. Aiden rupanya terobsesi pada Aurora, menjebaknya saat mabuk," jelas Hendy setelah menghirup nafasnya dalam dalam.
"Menjebaknya?" tanya Dewan gamang.
"Ya."
"Kamu tau dari mana?" kejar Dewan makin penasaran. Juga marah. Ternyata putrinya tertekan selama ini dan dia sebagai papanya sama sekali ngga peka. Selalu berpikir kalo Aurora baik baik saja.
"Xavi menemukannya di apartemen Aiden. Aiden memfoto dan memvidiokan Aurora, saat keduanya sedang berlaku sangat intim."
Nafas Dewan serasa putus mendengarnya.
"Aiden menggunakn foto dan video itu untuk mengancam Aurora agar keinginannya tercapai."
"Mereka.selalu berhubungan seperti suami istri. Dan Aiden selalu merekamnya tanpa setau Aurora," sahut Aiden getir, merasa bersalah pada Dewan.
Tubuh Dewan bergetar menahan amarahnya. Kemudian dia melakukan inhale dan exhale berulang ulang.
"Aku minta maaf untuk kesalahan Aiden. Tapi Aurora ngga perlu membunuhnya, kan," lirih Hendy berucap dalam kesedihannya yang nyata.
Dewam terhenyak. Dia terdiam. Mulai mengerti kenapa Aurora melakukannya. Matanya terpejam. Dia menghela nafas berat.
Tanpa kata Dewan pergi meninggalkan Hendy yang juga ngga menahannya. Mereka saat ini merasa sama hancurnya perasaan masing masing.
*
*
*
"Alex, aku bisa berangkat sama Puspa. Kamu juga ngga perlu nemenin aku kerja," protes Rihana ketika mereka makan siang bersama di kantin perusahaan Opa Airlangga.
Tadi pagi Alexander menjemputnya karena dia bersikeras mau mulai kerja. Dia bosan di rumah. Lagi pula dia sudah merasa sangat sehat.
Yang membuatnya bete, Alexander juga stay di ruangannya. Opa Airlangga memberikannya ruangan khusus sebagai petinggi di perusahaan. Dan Alexander duduk menemaninya. Walaupun sesekali dia pergi menemui Kak Kalandra dan Kedua kakak kembarnya membicarakan bisnis. Tapi ngga pernah lama.
Puspa dan Kirania yang sesekali melongok ke ruangannya hanya bisa tertawa melihat wajah cemberut sepupunya.
"Harusnya kamu bangga, Ri. Seorang Alexander Monoarfa bisa sebucin itu sama kamu." Itu kata Puspa tadi.
"Aku iri. Oooh, kapan aku bisa punya kekasih seperti itu? Tampan, kaya raya dan penuh perhatian," sambung Kirania. Dan keduamya langsung tergelak.
Rihana hanya bisa menghembuskan nafas panjang saat mengingatnya.
Kini tatapan iri tercurah padanya dari para pegawai perusahaan opanya. Khususnya perempuan. Yang jelas tatapan iri dan mendamba pada Alexander Monoarfa yang sudah sangat terkenal.
Alexander menipiskan bibirnya saat mendengar omelan Rihana. Tentu saja reaksi Alexander mengundang gemuruh di hati para pegawai perempuan di sana. Alexander terlihat lebih manusiawi.
"Aku memgkhawatirkanmu," katanya terus terang. Kemudian menyelipkan beberapa helai rambut Rihana yang menjuntai ke balik telinganya.
Rihana sampai menahan nafas, demikian juga para pegawai perempuan yang terus mengawasi mereka. Jantung mereka serasa akan copot.
"A aku baik baik saja, Alex," tukas Rihana jadi gugup. Dan dia membenci suaranya saat ini. Dia harusnya tetap tenang dan ngga terpengaruh. Tapi rasanya sulit.
"Ya, udah, makanannya dihabiskan," senyum Alexander lagi menggetarkan hati para kaum hawa.
Dalam hati Rihana kesal juga melihat Alexander yang berubah jadi hangat di tempat umum. Hatinya pun kesal melihat pegawai pegawai perempuan kakeknya begitu mengagumi Alexander.
"Ya, " ucapnya sambil fokus pada nasi ayam bakarnya.
Alexamder yang juga menikmati makan siang dengab menu yang sama pun masih betah dengan senyumnya dan tatapannya pada Rihana.
"Zira, beneran kamu menolak jadi aspriku?" tanyanya lagi tanpa bosan mengulang permintaannya.
"Iya," tolak Rihana tetap dengan pendiriannya.
"Gimana kalo setelah menikah? Kita bisa sama sama terus. Aku ngga mau kamu jauh jauh dari aku," ucap Alexander pantang nyerah.
Rihana terdiam. Dalam hati setuju.
"Mau, ya, Zira," pinta Alexander lagi penuh harap.
"Setelah nikah, ya," kata Rihana menegaskan.
"Iya, sayang. Leganya," pungkas Alexander benar benar terlepas dari beban berat yang memenuhi hati dan dadanya.
"Lex. tapi apa besok besok kamu juga akan seperti ini?" tanya Rihana agak keberatan. Karena dia merasa Alexander terlalu berlebihan menjaganya.
"Aku juga ada bisnis dengan sepupu kamu. Sekalian saja aku menemani kamu," jawab Alexander ringan.
Kembali tangannya menyentuh sudut bibir Zira-nya yang terdapat noda kecap dari ayam bakarnya.Tepatmya mengusapnya lembut menggunakan tisu.
Lagi lagi wajah Rihana menjadi merah membara dengan jantung berdetak sangat kencang.
"Pengen cium," lirih Alexander berbisik.
"Coba aja ka kalo berani," tukas Rihana grogi sambil mengacungkan sendoknya ke arah wajah Alexander.
Alexander melebarkan senyumnya melihat kegugupan Rihana.
"Kamu cantik banget," puji Alexander lagi.
Seseoramg, tolong jauhkan mahkluk yang selalu membahayakan kesehatan jantungnya, batinnya menjerit ngga tenang.