NOT Second Lead

NOT Second Lead
Di kamar mama



Mereka sekarang duduk di kafe dekat kost. Kafe yang sama waktu Rihana bertemu Alexander.


Tangan Oma terus saja menggenggamnya. Seakan dia ngga mau ditinggal pergi cucunya lagi.


Air mata mereka kembali tercurah saat Rihana menceritakan saat mamanya meninggal dunia..Setahun setelah mengunjungi rumah Omanya di Jakarta.


"Maafkan Oma," isak Omanya merasa sangat bersalah. Dada Oma tambah sesak.


Rihana hanya diam. Tapi air matanya juga terus mengalir. Mengingat mamanya sama saja membuka luka lamanya yang masih sangat berdarah.


"Ikut Oma pindah ke rumah, ya. Kamu bisa menempati kamar mamamu, sayang," bujuk oma setelah menenangkan perasaannya.


Rihana ngga tau apa yang dia inginkan sekarang. Apakah sudah waktunya dia memang berkumpul.dengan keluarganya?


Oma dan Opa menatapnya penuh harap. Rihana ngga tega mengecewakannya.


"Iya."


Keduanya pun tersenyum lega. Demikian juga mm om dan tante tantenya.


Bahkan dokter Misel tersenyum penuh arti padanya.


"Ayo, kita beresi barang barang mu," kata Oma dengan perasaan bahagia.


Rihana hanya mengangguk dan menurut.


*


*


*


Rihana memasuki kamar mamanya yang sangat luas dengan langkah perlahan. Ada fotonya dan mamanya yang pernah dilihatnya dulu dalam pigura yang besar.


Air matanya mengalir lagi saat melihat senyum bahagianya saat mamanya sedang bersama keluarganya.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa mamanya meninggalkan keluarga yang begitu mencintainya?


Rihana hanya bisa menyimpan semua pertanyaan dalam hatinya.


"Rihana, bisa kita bicara sebentar?" tanya Oma Mien sambil menariknya dan mengajaknya duduk di tempat tidurnya.


"Ya, Oma," sahutnya sambil menghapus air matanya.


Oma Mien menarik nafas panjang. Kemudian menatapnya lekat.


"Kamu tau siapa papa kamu?"


Rihana terdiam. Tenggorokannya tercekat.


Dia tau, tapi ngga bisa mengatakannya.


Oma Mien menggenggam tangannya lembut.


"Sampai sekarang, Oma, opa, om om dan tante tante kamu, ngga tau apa yang menyebabkan mama kamu pergi. Semua terasa gelap sampai kalian berdua kembali ke sini. Sayangnya Oma harus menjalani operasi ke.luar negeri," jelas Oma Mien panjang lebar. Dadanya terasa sesak akibat penyesalan yang ngga berkesudahan.


Rihana terdiam.


Haruskah dia mengatakannya?


Pikirannya jadi semrawut karena bingung.


Dia ngga mungkin bisa mengatakan kalo orang itu adalah papanya.


Bisa bisa dia dilaporkan ke polisi akibat pencemaran nama baik.


Kembali Rihana bermonolog dalam hati.


Oma Mien menepuk lengannya lembut.


Mungkin Rihana memang ngga tau, pikirnya dalam hati.


"Ya sudah. Ngga usah kamu pikirkan lagi. Yang penting kamu sudah kembali ke rumah ini," putus Oma Mien untuk ngga mendesak cucunya lagi


Kalo laki laki kurang ajar itu ngga mau muncul dan bertanggung jawab hingga sekarang, ngga apa. Keluarganya pun ngga membutuhkannya, batin Oma dengan menyimpan amarahnya.


"Mandilah..Setelah itu tidur. Di lemari banyak sekali pakaian pakaian yang sudah Oma dan tante tante kamu belikan. Semoga kamu suka," ucap Oma.sambil mengecup keningnya.


Rihana hanya menganggukkan kepalanya.


Niatnya untuk menceritakan tentang papanya pudar sudah. Dia takut kesehatan jantung omanya memburuk. Apalagi jika tau kalo papanya sudah menikah lagi.


Biarlah, untuk sementara dia akan menyimpannya dulu.


"Sayang," panggil Oma membuyarkan lamunannya.


"Ya, Oma."


'Di sebelah lemari kamu, itu lemari pakaiam mama kamu. Kamu boleh memakainya. Karena waktu muda dulu, tubuhnya juga seperti kamu. Ramping," kata Oma dengan mata berkaca kaca.


Rihana kembali hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Oma pun melangkah lagi keluar dari kamarnya.


Rihana menatap lagi foto foto mamanya yang sangat cantik dan terlihat bahagia.


Rihana pun mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Dia berjalan ke arah lemari. Banyak sekali pakaian pakaian yang sudah tergantung di sana. Bahkan labelnya pun masih ada.


Dia teringat wajah sedih Oma dan tante tantemya saat membereskan beberapa lembar pakaian saja yang dibawanya Rihana.


Tapi pakaian pakaian itu tetap digantung di antara pakaian yang masih berlabel itu


Rihana juga melihat deretan sepatu dan jam tangan di rak bawahnya yang hanya ditutup dengan pintu kaca.


Dia dari upik abu berubah jadi putri yang kaya raya.


Keluarga mamanya sangat senang menyambut kedatangannya.


Bagaimana reaksi papanya kalo tau dia juga putrinya.


Apakah dia akan senang? Atau malah semakin membencinya?


Rihana menghela nafas panjang.


Dia pun berjalan dan membuka lemari pakaian mamanya.


Hampir sama dengannya. Penuh dengan pakaian pakaian yang mewah.


Dia meraihnya dan menciumnya.


Harum.


Rihana memejamkan matanya. Seakan akan sedang memeluk mamanya.


Rihana kangen ma. Kangen sama mama.


Tanpa dia sadari, oma dan opanya memperhatikan dari balik pintu yang ngga tertutup rapat.


Kembali Opa Airlangga menahan tubuh ringkih istrinya yang akan jatuh.


Pemandangan di depannya sungguh merasuk ke dalam jiwa.


Melihat Rihana yang memeluk pakaian Dilara membuat hati mereka terasa pedih. Seperti ditusuk tusuk jarum yang sangat tajam.


Sifat pendiam Dilara rupanya menurun seratus persen pada putrinya.


"Apa dia benar benar ngga tau siapa papanya?" tanya Opa Airlangga lirih. Ada rasa ngga percaya. Karena sebelumnya Rihana pun ngga mau jujur duluan mengaku kalo dia adalah cucu mereka.


Mungkin dia sungkan dan takut dianggap mau menipu.


Dia rela menahannya.


"Aku rasa dia tau. Mungkin sangat menyakitkan baginya jika harus mengingat laki laki kejam itu," rutuk istrinya geram dalam isaknya.


Opa pun sudah ngga sabar ingin menggebuk laki laki yang ngga bertanggung jawab itu.


"Kita akan mencarinya dan membuatnya membayar penderitaan anak dan cucu kita," janji Opa menahan geram.


Keduanya pun pergi meninggalkan kamar Rihana yang masih berdiri memeluk pakaian mamanya dengan sedih.


*


*


*


"Bu Saras, aku sudah ketemu keluarga mama," lapor Rihana saat menelpon ibu panti tersayangnya.


"Syukurlah. Ibu sangat bahagia mendengarnya. Tapi, kok, bisa secepat ini, sayang? Ceritakan, ibu ingin mendengarnya," ucap Bu Saras beruntun. Suaranya terdengar sangat riang.


"Aku ngga sengaja, bu. Teman satu kantorku ternyata sepupuku. Dia sangat baik. Dia selalu mengantar jemput aku ke kantor. Dia mengajakku ke rumah Omanya, yang ternyata rumah yang aku datangin bersama mama dulu," cerita Rihana penuh semangat.


Saat ini dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil duduk di depan meja rias mamanya.


Hening.


Ngga lama kemudian terdemgar isakan Bu Saras.


"Syukurlah, Rihana sayang. Syukurlah," ucqp Bu Saras berkali kali dalam isaknya.


"Nanti keluarga mama akan mengunjungi Bu Saras." Matanya pun memanas.


"Iya sayang. Iya."


Rihana pun menyusut air matanya.


"Ibu baik baik aja, kan?"


"Ibu sehat. Kamu ngga usah khawatir, ya."


Rihana tersenyum dalam tangisnya yang tanpa suara mengingat keadaan panti.yang sangat jauh dibanding dengan keadaanya saat iini.


Setelah Bu Saras menutup telponnya, Rihana menatap pantulannya di kaca. Sangat kontras karena dia masih mengenakan pakaian tidur miliknya yang dibelikan Bu Saras dulu.


Rihana ingin berbagi kebahagiaanmya dengan Bu Saras, Mba Emi, Mba Rayani, dan anak anak panti. Juga kemewahan yang dia.punya. Dia ngga mau mereka hidup susah lagi.