NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kesadaran yang terlambat



"Kamu, kok, bisa ada di sini?" tanya Kalandra datar melihat gadis itu dengan telaten sedang membalut lengannya dengan perban.


Bahkan gadis itu ngga sungkan membuka jasnya dan menggunting lengan kemejanya agar mudah untuk mengobatinya.


"Ada satu berkas yang belum anda tandatangani, tuan muda. Makanya saya susul," jawab Adriana tenang seolah ngga terintimidasi tatapan tajam bosnya yang angkuh.


"Hemm... Kamu menyadap saya?" tuduh Kalandra kesal. Karena dia ngga memberitau Adriana tentang keberadaannya. Bahkan meeting siang tadi pun Adriana ngga ikut.


"Jangan salah paham, tuan muda. Saya mengikuti gps anda yang aktif," bantah Adriana ringan.


Oh iya, batin Kalandra malu campur kesal. Tapi dalam hati bersyukur karena tuduhannya ngga benar.


Masih dia ingat Adriana begitu lincah menggunakan senjata api dan berkelahi dengan beberapa laki laki tadi saat membantunya.


"Kamu bisa menggunakan pistol?" Kalandra masih penasaran.


"Bisa tuan muda."


"Kamu dapat dari mana?" kejar Kalandra lagi.


"Dari papa saya."


Kalandra terdiam. Bukan hobinya kepo. Dia pun ngga ingin tau lagi. Tapi mulai mengamati gadis itu.


"Kamu ngga terluka?"


"Bukannya tuan muda terkena peluru karena melindungi saya?" Adriana balik bertanya.


Kalandra mendengus kesal.


"Syukurlah kamu sadar. Tugasmu membersihkan dan mengobati luka di lenganku sampai sembuh."


"Kenapa ngga di rumah sakit aja, tuan muda? Biar lebih intensif dan ngga ada bekasnya?" Adriana menatap bosnya heran. Dia hanya mengobati alakadarnya saja. Membersihkan luka dengan antiseptik dan mengoleskan bet@dine, serta membalut biasa aja. Layaknya siswa PMR. Adriana memang selalu menyimpan kotak p3k di dalam mobilnya. Dan ternyata sekarang berguna.


"Ya itu tugas kamu," ngeles Kalandra kini netranya menyorot pada dua rubicon yang berhenti di depannya.


Emir, Emra dan Ansel keluar terburu buru dari dalam mobil. Ketiganya memperhatikan perban di lengan Kalandra.


"Kalian terlambat," decih Kalandra membuat ketiganya nyengir.


"Sudah tau siapa pelakunya?" tanya Kalandra lagi sambil melihat hasil perban sekertarisnya.


Cukup rapi, pujinya dalam hati.


"Ketiga mobilnya kosong. Mereka memakai plat palsu," lapor Emra.


Gedeg juga hatinya karena gagal untuk tau siapa yang menyerang sepupunya.


"Sialan," maki Kalandra kesal. Tadi pun dia terpaksa membiarkan ketiga mobil itu pergi


Tiga laki laki yang terluka memilih bunuh diri pada tertangkap.


"Sepertinya ada mafia luar yang terlibat," ucap Emir sambil menunjukkan tato tengkorak di salah satu lengan laki laki yang sudah meninggal itu.


Ketiganya saling pandang. Mereka cukup mengenal tato itu karena mereka dulunya kuliah di luar negeri.


"Kenapa dia terlibat? Siapa yang membayar jasanya?" tanya Emir lagi membuat mereka saling pandang.


"Kita harus perketat penjagaan pernikahan Rihana dan Alexander," putus Kalandra sambil menatap ketiga sepupunya.


"Siap!"


*


*


*


"Aku ngga minta kamu ikut campur urusanku," bentak Aurora saat laki laki yang ingin menjadikannya selir itu menelponnya lagi.


Terdengar suara kekehannya.


'Baru kali ini ada yang menolak niat baikku. Tapi baiklah, aku ngga marah karena tergila gila padamu," ucapnya setelah tawanya reda.


"Tergila gila tapi hanya menjadikan aku selir?" sarkas Aurora membuat laki laki itu terdiam.


"Kamu serius mau menjadi ratuku?"


Aurora ganti terdiam. Ngga nyangka kalimat ejekannya ditanggapi dengan serius.


"Siapa kamu sebenarnya?" paling engga Aurora harus tau siapa laki laki ini jika ingin menerima tawarannya.


"Aku ngga suka berurusan dengan orang yang ngga aku kenal."


"Oke. Aku akan kirimkan foto terbaikku. Semoga kamu masih mengingatnya."


Telpon pun terputus. Hampir saja Aurora membuang ponselnya ke kasur tipisnya saking kesalnya.


Tapi getaran yang menandakan ada notifikasi pesan yang masuk membuat Aurora seakan terlempar ke masa lalu.


Wajah laki laki itu tampan dengan bola mata biru dan usianya ngga jauh dari Alexander terhampar di layar ponselnya.


Aurora pasti masih ingat, karena dia tanpa sengaja menolong laki laki ini yang menyusup ke dalam mobilnya untuk bersembunyi dari kejaran musuh musuhnya.


Laki laki itu mengancamnya dengan pistol di punggungnya. Saat itu Aurora sedang menunggu Alexander meeting di parkiran sebuah hotel mewah.


Tapi penyusup itu hanya sebentar saja, karena ngga lama kemudian ada satu mobil mewah yang menjemputnya.


Aurora masih mengingat hal itu dengan jelas karena menimbulkan ketakutan hebat pada dirinya. Setelahnya papanya menyediakannya pengawal demi keselamatannya.


Ngga lama kemudian pria itu menelpon lagi. Kali ini video call.


"Sudah ingat?" tanya laki laki itu santai setelah Aurora menerimanya.


"Sudah."


"Mamamu menemui daddy ku, meminta melenyapkan calon istri pujaanmu. Tapi aku mengambil alih, sayangnya anak buahku gagal," akunya terus terang.


Aurora terdiam. Dalam hati dia bersyukur karena gagal. Karena di dalam mobil selain ada pegawai kontrak itu, juga ada kakak sepupunya Daiva dan omanya. Dia ngga bisa membayangkan gimana kalo laki laki ini berhasil menjalankan misinya. Dirinya pasti juga akan merasa sangat sedih karena kehilangan Daiva dan Omanya. Dan berdosa. Karenanya Oma dan Daiva menjadi korban sakit hatinya.


"Kamu marah?" tanya laki laki bule itu karena ngga mendapat jawaban Aurora.


"Tidak. Aku lega karena gagal."


"Eh?"


"Di dalam mobil itu juga ada kakak sepupuku dan oma."


Laki laki itu menatap paras cantik yang tampak sendu di layar ponselnya.


"Apa kamu ingin aku menculiknya?" tawar laki laki itu lagi.


Aurora masih ngga menyahut. Ada perang dalam batinnya. Mungkin kali ini akan berhasil dan dia ngga akan ketahuan. Tapi Aurora merasa dia sudah terlalu jauh melangkah. Hati nuraninya seakan mengatakan kalo ini salah.


Setelah melenyapkan Aiden, Aurora ngga bisa tidur berhari hari. Bayangan Aiden mengganggu hingga tidurnya ngga pernah nyenyak lagi.


Apalagi kini dia hamil anak Aiden dan berniat menggugurkannya. Padahal dulunya dia termasuk aktivis sosial yang menentang aborsi.


Aurora merasa dadanya mulai sesak. Dia ingin mimpi buruk ini segera berakhir. Mungkin saran mamanya agar mereka pergi setelah dia dibebaskan bisa dipertimbangkan.


Pengacaranya sudah meyakinkan kalo dia bisa bebas bersyarat ngga lama lagi. Walaupun dia membunuh, tapi alasan Aiden seorang penjahat kelamin yang selalu mengintimidasinya dan alasan membela diri bisa meringankan hukumannya.


Aurora merasa terharu melihat para pendukungnya yang membelanya mati matian. Bahkan secara terang terangan mereka memintanya membuka lembaran baru setelah bebas nanti. Aurora ngga akan melupakannya.


Mungkin kesadarannya datang sangat terlambat. Tapi ini mungkin pelajaran hidupnya yang sangat berharga.


"Oke. Kamu setuju," tukas laki laki bule itu membuyarkan lamunannya.


"Hentikan. Jangan lakukan apa pun."


Laki laki itu menyeringai.


"Kenapa?"


"Jangan campuri urusanku," kertak Aurora galak.


Laki laki itu tertawa mengekeh.


"Oke oke. Karena kamu pernah menolongku, aku akan menurut."


"Hemm..." dengus Aurora kesal.


"Gimana tawaran menjadi ratuku?" tanyanya lagi mengusik.


"Akan kupikirkan nanti setelah aku bebas," sahut Aurora cepat. Dia hanya ingin cepat menyelesaikan percakapan yang ngga penting ini.


"Ok baby."


Telpon pun terputus.


Aurora menyimpan ponsel itu dan memejamkan mata. Mungkin dia ngga akan berakhir di sini jika dulu dia berani menolak ancaman Aiden.