NOT Second Lead

NOT Second Lead
Tanggung Jawab



"Tunggulah. Sebentar lagi aku akan menyelesaikan semuanya," kata Xavi setelah mengakhiri ciuman mereka.


Daiva hanya bisa mengangguk. Pikirannya lagi ngga ada di tempatnya. Ciuman Xavi tadi masih membiusnya.


Xavi tersenyum sambil merapikan anak anak rambut Daiva yang mengurai di pipinya.


"Mau lagi?" canda Xavi membuat Daiva tergagap malu.


Dia baru sadar kalo tangannya masih mengalung di leher Xavi. Walau kakinya sudah ngga menjinjit lagi.


Dengan canggung Daiva menurunkan kedua tangannya dari leher Xavi yang bergerak mundur perlahan dengan senyum di bibirnya.


"Aku sudah kelamaan perginya," keluh Daiva teringat tujuannya ke parkiran. Tapi Xavi malah memaksanya(?) dengan ciuman yang cukup lama.


Xavi tertawa lirih, dia pun mengikuti langkah Daiva yang menuju mobilnya. Cukup jauh dari keberadaan mobilnya.


Maaf, batinnya membuat Daiva jadi pergi terlalu lama meninggalkan ponakannya yang sednag dirawat.


Dia sedikit mengumpati dirinya yang jadi egois. Harusnya dia memikirkan kepentingan bayi itu yang merupakan keponakannya.


Tapi nyatanya dia malah ngga bisa menahan untuk melepaskan rindunya.


'Biar aku yang bawa," ucap Xavi sambil meraih tas yang cukup besar, berisi pakaian Bayi Eldar.


"Makasih."


"Kalo udah nikah sama aku, ngga akan aku biarkan kamu begadang," kata Xavi lembut, sedikit memprotes mata panda Daiva.


Wajah Daiva merona karenanya. Dia berjaga karena khawatir dengan keadaan ponakannya yang masih sangat kecil.


Tanpa ragu Xavi menggandeng lengan Daiva. Ngga ada yang mengenalnya di rumah sakit. Kalo pun ada dan nantinya akan viral, malah akan semakin memudahkannya untuk menikahi Daiva. Xavi sudah ngga peduli lagi.


Ciuman yang diberikannya dan juga tadi sempat dibalas Daiva, memberikan banyak amunisi padanya.


Dia akan nekad. Lagi pula papinya sudah mengijinkannya menikah dengan Daiva.


Bukan Xavi mau jadi anak durhaka. Tapi kata kata papinya beberapa hari yang lalu, sudah cukup melegakannya.


"Mami adalah tanggung jawab papi. Tapi Daiva tanggung jawab kamu."


Xavi tambah melebarkan senyum senangnya. Dia yakin suatu hari nanti pasti maminya akan berubah dan bisa menerima Daiva. Daiva gadis baik, di hati maminya pasti sudah tau akan hal ini. Hanya masih tertutup kemarahannya saja.


Daiva melirik tangannya yang digenggam Xavi dengan lengkungan bibir yang manis.


Dia akan menunggu dengan sabar, seperti permintaan Xavi. Seberapa lama pun.


Ngga jauh dari sana. Afif-Papi Xavi sedang menatap dua sejoli yang sedang tampak sangat bahagia itu.


Beliau akan membantu Xavi mendapatkan kebahagiaannya. Mimpinya Xavi akan dia wujudkan. Aiden sudah ngga ada, sekarang hanyalah Xavi satu satunya putranya. Dia ngga akan menghancurkan hati putranya itu.


Istrinya adalah tanggung jawabnya. Xavi ngga bisa terus menerus mengorbankan kebahagiaannya.


*


*


*


Emir memenuhi janjinya. Dia datang menjemput Kamila besok paginya. Masih setia dengan ducatinya.


Dia masih ingin mengulang kembali pulukan hangat Kamila di atas motor balapnya itu.


Pelayan rumah Kamila pun membawa Emir ke ruang makan, karena keluarga itu sedang berada di sana.


Tuan besarnya yang meminta pelayannya membawa Emir saat tau ada teman laki laki putri tunggalnya yang akan mengantarnya ke rumah sakit.


Sekuriti dan pelayan rumah menggambarkan sosok Emir dengan sangat jelas.


Lelaki muda tampan dengan motor balap yang kemarin sore mengantar nona mudanya saat pulang dari rumah sakit.


Suatu kejutan buat bos dan nyonya besarnya mendengar hal itu karena sudah lama sekali ngga ada laki laki yang datang ke rumah mengantar atau menemui putrinya.


Ini adalah laki laki kedua. Tuan besar dan nyonyanya kali ini ngga mau sampai kecolongan lagi. Mereka harus melihat lebih teliti siapa pemuda yang namanya seperti pernah dia dengar.


Kamila yang ngga nyangka kalo Emir bakalan benaran menjemputnya menjadi was was melihat reaksi kaku papinya yang merupakan seorang perwira. Juga maminya yang masih menjadi dokter di rumah sakit tentara. Begitu juga opanya yang purnawirawan.


Kedua orang tuanya saling pandang. Begitu juga oma dan opanya. Opanya merupakan purnawirawan yang masih tampak gagah di usia hampir tujuh puluh tahun itu juga terlihat kaku. Setipe dengan papinya.


"Kamu kenal dimana?" papimya memulai interogasi. Ngga ada angin ngga ada ujan, tiba tiba saja putrinya akan dijemput laki laki berjas dengan motor yang diketahuinya setelah di foto sekuritinya berharga lebih dari satu milyar.


Kapan putrinya mengenal laki laki sekaya itu, karena beliau tau kalo putrinya sangat sibuk dengan karir dokternya.


Bahhkan dulu laki laki yang sempat sekali ke rumahnya ngga sekaya itu. Hanya membawa mobil yang harganya ngga sampai satu milyar. Itu juga langsung mundur, keluarganya pun ngga ngerti kenapa bisa begitu.


Padahal dirinya dan juga istrinya sudah bermaksud mengenalkan putri mereka dengan salah satu perwira muda berbakat di kesatuannya dalam waktu dekat ini.


"Selamat pagi," sapa Emir begitu tiba di hadapan keluarga Kamila tenang.


Dia dapat melihat aura Kamila yang cukup tegang menyambutnya.


Emir melemparkan senyum pada wajah kaku di depannya. Tapi dia mendapat balasan hangat dari dua wanita beda usia yang Emir yakini sebagai ibu dan nenek Kamila.


"Pagi," senyum ramah kedua wanita itu. Papi dan opa Kamila hanya mengangguk dalam hati melihat betapa berkelasnya laki laki pilhan Kamila.


Kamila pun buru buru menghampiri Emir dengan gugup.


Sangat ngga banget kalo laki laki ini dari kalangan biasa. Bahkan kalangan menengah seperti Deco pun pasti sudah terlindas.


"Terlalu pagi, ya? Maaf, aku ada meeting," jawab Emir lembut, juga pelan.


Pantasan dia perfect banget.


Apa sekretarisnya dan staf perempuan di sana ngga kepincut dengannya? batin Kamila memuji.


Jas warna hitam yang membalutnya dengan kemeja walau tanpa dasi, tetap ngga bisa menolak pesonanya yang sudah mematikan hati Kamila.


Kamila sendiri pun ngga luput dari pandangan kagum Emir. Dia mengenakan celana panjang kain warna abu muda dan kemeja putih motif bunga menambah kesannya sebagai dokter cantik yang tegas.


"Ehem...." Batuk Opa menyadarkan keduanya dan membuat keduanya melengkungkan sudut bibir masing masing.


Kamila yang tau Emir bakal diinterogasi, menggandeng tangan laki laki itu dan akan mengajaknya duduk di sampingnya.


Tapi Emir menahannya. Dia malah mengajak Kamila menghampiri opanya.


Kamila jadi panik, padahal tadi dia sengaja menggamdeng Emir agar menjauhi biang masalah. Tapi Emir malah menghampirinya.


Tapi apa yang diperbuat Emir, menghangatkan hati Kamila.


Emir menyalim satu persatu dan mencium tangan itu sebelum mengikuti tarikan tangan Kamila agar segera duduk di dekatmya.


Opa, Oma, papi dan maminya langsung terkesan. Aura kaku yang ditampilkan dua laki laki paruh baya itu menghilang, walau belum seluruhnya. Tapi ini sudah cukup baik bagi Kamila.


"Kenal Kamila dimana?" papi mengulang pertanyaan yang awalnya ditujukan pada Kamila, kini berpindah pada laki laki itu.


"Waktu putri anda menolong korban kecelakaan," jawab Emir tenang, kemudian sedikit menggeser badannya ketika seorang pelayan menghidangkan teh untuknya.


"Emir meminjamkan mobilnya untuk membantu membawa korban kecelakaan yang aku tangani di jalan, Pap," sambung Kamila cepat.


"Ooo."


Kini perhatian tertuju pada Emir dengan semakin mendapatkan nilai plus di hati mereka.


Kalo soal jiwa sosial Kamila sudah lama mereka ketahui. Tapi kalo ada laki laki muda yang tampaknya sukses dan kaya raya berlaku demikian, pasti akan sangat direspek.


Karena cenderung pemuda pemuda kaya dan sukses rata rata ngga punya rasa simpati. Malah cenderung merekalah yang berbuat onar.


"Emir....?" tanya Opa Kamila sengaja agak menggantung agar laki laki itu mengenalkan dirinya.


Emir sadar dia belum mengenalkan siapa dirinya.


"Saya Emir Airlangga Wisesa."


Para orang tua beda generasi itu saling pandang. Dua nama di belakangnya sangat dikenal.


Kamila menatap Emir lekat. Dia juga familiar dan mengenal nama keluarga Emir.


Yang jadi pikiran di dalam benaknya, apa maksud Emir selalu mengaku kalo dia meminjam fasilitas bosnya. Dia saja sudah sangat kaya raya.


Bos siapa yang diakuimya itu?


Apa maksudnya, bos itu papinya? Kamila jadi terhenyak dengan kesimpulannya.


Tentu saja sebagai anak, orang tua adalah bos mereka. Kamila tersenyum tipis. Laki laki itu ngga bohong, tapi dialah yang salah menafsirkan kata katanya.


"Oooh... cucunya Airlangga," kekeh Opa diikuti omanya Kamila juga. Mereka cukup mengenal opa dan oma Emir.


"Benar, Opa, Oma."


Kedua kakek nenek ini semakin tertawa mendengar panggilan akrab dari Emir.


Papi dan mami Kamila pun saling senyum. Rasanya mereka ngga perlu terlalu khawatir karena sudah tau kredibilitas keluarga itu.


Setelah cukup berbasa basi, keduanya pun mendapat ijin dengan mudah untuk pergi bersama.


"Yakin ngga marah karena cctv?" goda istrinya pada suaminya. Rencananya pagi ini suaminya akan menanyai Kamila, siapa pemuda lancang yang sudah berani mencium putri berharga mereka.


Opa dan oma Kamila yang mendengarnya jadi tertarik.


"Cctv apa?" tanya Oma Kamila penasaran. Opa pun menatap ngga sabar agar keduanya segera menjawab pertanyaan istrinya.


"Laki laki itu mencium Kamila sebelum pergi. Persis di depan gerbang rumah,' senyum mami Kamila yang melihat wajah suaminya ngga nyaman.


"Apa? Kenapa ngga bialng dari tadi. Ini ngga bisa dibiarkan. Aku harus bicara dengan Airlangga," seru Opa Kamila ngga terima. Dia ngga rela cucunya disentuh tanpa hubungan yang jelas.


Kakek satu itu harus tau perbuatan kurang ajar cucunya.


"Tenanglah. Dia sepertinya baik," bela Oma Kamila terkekeh, begitu juga Mami Kamila.


"Cuma aku lupa menanyakan siapa nama orang tuanya," keluh Papi agak menyesal. Karena setaunya Om Airlangga pumya tiga putra.


Dia tadi terlalu terkesima dengan sikap santun pemuda itu. Bahkan tangannya dicium sebagai wujud sopan santunnya. Juga tangan orang tua dan istrinya.


"Kau tenang saja. Aku yang akan membicarakan ini pada Airlangga. Dia harus tau kelakuan cucunya," sambar Opa Kamila beneran ngga sabar lagi untuk minta petanggungjawaban Airlangga atas perbuatan lancang Emir.


Walaupun pemuda itu tampak sangat santun, tapi beliau ngga mau cucu kesayangannya sampai dipermainkan.


Kedua wanita berbeda generasi itu pun tertawa lepas, sedangkan papinya Kamila mengulum senyumnya melihat papanya yang sudah sangat kepanasan.