NOT Second Lead

NOT Second Lead
Berpisah?



"Maaf," ucap Daiva sambil menguraikan pelukan. Dia terlalu terbawa perasaan. Daiva terpana saat tengadah dan melihat mata Xavi juga basah.


"Kita pergi sebentar," ucap Xavi sambil mengalihkan tatapannya ke depan. Jadi kikuk mendapat tatapan Daiva sangat dalam padanya.


Xavi pun menjalankan mobil Daiva tanpa menunggu protes gadis itu.


Lagian ngga mungkin Daiva masuk ke rumah oma opanya dalam keadaan mata dan pipi basah. Pasti mereka akan banyak bertanya. Daiva mungkib harue banyak berbohong karenanya.


Daiva meluruskan tatapannya. Dia berusaha menenangkan debaran di hatinya.


Apa Xavi merasakan sesak yang sama? batinnya sulit untuk percaya. Selama ini Xavi benar benar ngga ada kabar beritanya. Meninggalkan cerita mereka yang belum selesai begitu saja


Xavi memberhentikan mobil Daiva di halaman sebuah minimarket yang cukup luas.


"Tunggu sebentar," ucap Xavi sambil melepas seatbeltnya. Xavi pun menurunkan kaca jendela Daiva dan juga kaca jendelanya. Kemudian keluar setelah menatap Daiva sejenak.


Daiva ngga menyahut. Dia hanya melihat kepergian Xavi yang berjalan cepat memasuki minimarket.


Kemudian mengalihkan ke arah lain. Daiva mulai merasa sangat bersalah dengan tingkahnya hari ini. Xavi masih suami orang. Mungkin sekarang saatnya untuk mengakhiri hubungan mereka secara baik baik.


Kedepannya Daiva akan lebih berusaha keras melupakan Xavi. Akan menjadi egois kalo dia tetap mengganggu hubungan Xavi dan Zerina seperti ini. Orang tua Xavi juga pasti akan terus menentangnya. Ngga akan turun restu.


Daiva menghela nafas berulang kali. Kali ini dia benar benar akan melepas Xavi. Selamanya. Dadanya kembali sesak.


CEKLEK


Daiva menoleh saat Xavi membuka pintu mobilnya, kemudian masuk ke dalam sambil memberikannya air mineral dingin dan cheess burger mini pada Daiva.


"Terima kasih," ucap Daiva pelan. Dia memang butuh beberapa teguk air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena terlalu lama menangis.


Tapi burger? Daiva tersenyum tipis. Dia ngga lapar, hanya haus


"Masih hangat," ucap Xavi kemudian menggigit separuh burger itu setelah meneguk separuh air mineralnya.


Daiva akhirnya menggigit juga sedikit burger mini itu. Untung kecil, jadi Daiva ngga perlu membuka mulutnya terlalu lebar.


Xavi tersenyum sambil meliriknya.


Setelah cukup lama menunggu Daiva menghabiskan burgersnya, Xavi mengubah posisi duduknya menghadap gadis itu.


"Daiva, ada yang mau aku bicarakan," ucapnya tenang. Saat menunggu burger dan isinya dipanggang tadi, Xavi memutuskan untuk mengatakan terus terang rencananya. Akan menceraikan Devina dan menikah dengannya.


Air mata dan tangisan gadis itu sudah cukup membuat dia yakin, kalo perasaan mereka sama.


"Emm.... Aku juga. Ada yang mau aku bicarakan." Daiva membetulka posisi duduknya.à


"Ohya? Kalo begitu lady first," senyum Xavi, kini mereka sudah saling duduk berhadapan.


Daiva menatap Xavi dengan hati bergetar. Pancaran mata laki laki ini terasa hangat, ngga dingin seperti dulu lagi.


"Xavi, ini salah. Kamu sudah menikah. Ngga seharusnya kita seperti ini," ucap Daiva dengan suara bergetar.


"Aku mengerti," sahut Xavi paham. Dia juga tau status dirinya. Xavi juga ngga mau Daiva digosipkan yang ngga benar. Apalagi keluarga Om Dewan masih jadi bahan ghibah nasional karena kejahatan Aurora. Apalagi kalo ada yang tau Daiva adalah sepupu Aurora yang sedang bersamanya, kembaran Aiden yang sudah menikah.


"A aku berharap, kamu akan bahagia selamanya dengan Zerina."


Kedua pasang mata saling tatap. Kemudian Xavi tersenyum lembut.


"Maaf. Aku menghilang begitu saja. Mungkin sekarang saatnya kita berpisah secara baik baik," ucap Xavi lembut. Dia meralat keinginannya untuk meminta Daiva menunggunya dua bulan lagi setelah mendengar pernyataan gadis ini.


Akan terlihat jahat untuk Daiva, jjka setelah dirinya menceraikan Zerina, kemudian menjadi pasangannya.


Daiva bisa saja mendapatkan banyak celaan secara langsung atau melalui akun sosmed


Xavi ngga mau itu terjadi. Gadis itu sangat berharga untuknya.


Saat ini Xavi hanya menyerahkan hidupnya pada Penentu takdirnya yang sudah memberikannya hidup.


Dia yakin, hanya butuh sedikit waktu lagi saja untuk bisa memulai hal yang baru dengan Daiva. Sekarang Xavi hanya bisa berdo'a dan bersabar.


"Ya," sahut Daiva berusaha menerima dengan lapang dada. Dia juga ngga mau menyakiti Zerina. Mungkin jodohnya dengan Xavi sudah berhenti sampai di sini.


Melihat Xavi bisa hidup dengan bahagia pun sudah merupakan kebahagiaannya. Mungkin kalimat cinta tidak harus memiliki harus dilakoninya dalam hidupnya saat ini.


Tapi cinta Xavi untuknya sudah cukup menghangatkan hatinya. Juga cintanya yang terlihat makin nyata sekarang. Cinta mereka berdua.


"Aku antar kamu pulang. Jangan nangjs lagi," ucap Xavi sambil.mengacak puncak kepala Daiva dengan lembut.


Berat rasanya hatinya melepaskan gadis ini lagi. Tapi dia berharap, suatu saat nanti kesedihan mereka akan berganti kebahagiaan.


"Iya," senyum Daiva menguatkan hatinya untuk ngga menangis lagi.


Perpisahan memang sangat menyakitkan.


*


*


*


Gadis itu terlihat acuh dan terus saja menikmati makanannya dengan tenang. Seolah sudah melupakan mahluk tampan yang datang bersamanya ke restoran ini.


"Kamu kapan menikah?" ceplos Fathan kemudian mengutuki mulutnya yang seperti lambe murah.


Dirinya hanya bingung melihat keterdiaman NIdya sepanjang perjalanan. Sayangnya topik yang dibuka terlalu sensitif.


"Belum ada rencana. Aku sedang berusaha move on dulu," jujur Nidya penuh makna.


Fathan mengangguk maklum. Dalam hati sedikit memaki kehebatan adiknya menaklukan gadis judes yang menurut Daniel, tanpa usaha apa apa bisa membuat banyak perempuan, termasuk Nidya takluk.


Entah pelet apa yang melekat pada Alexander hingga sangat mudah membuat laki laki itu terlihat sangat menarik di mata kaum hawa.


"Kamu sendiri, kapan?" sambung Nidya kepo. Setaunya Fathan belum memiliki kekasih. Beda dengan Daniel yang selalu menganggap perempuan seperti gantungan baju saja.


Senyum Fathan melebar membuat Nidya agak tertegun dan mengakui kalo kakak tertua Alexander sangat tampan.


"Kekasih aja belum punya."


Nidya juga balas tersenyum agak lebar.


Ternyata benar kabar itu, batin Nidya.


"Kamu beneran belum bisa melupakan Alex?" tanyanya tanpa bermaksud menghakimi.


Ini masalah perasaan. Akan susah untuk diatur kemana dia harusnya bertahta, belanya dalam hati.


Wajah Nidya agak merona. Entahlah kenapa dia merasa malu mendengar ucapan Fathan. Padahal jika diucapkan kakaknya atau para sepupunya, Nidya akan menjawab dengan cuek. Tanpa beban.


"Sudah mulai lupa, kok," bantah Nidya ngga terima. Ngga tau kenapa, lagi lagi Nidya ngga ingin laki laki di depannya ilfeel padanya.


Dia sudah gila agaknya, omelnya.dalam hati.


"Syukurlah," jawab Fathan sambil meliriik Nidya yang sedang mengalihkan tatapannya.


Mata Fathan sedikit berpendar ngga percaya melihat ronan merah di pipi Nidya.


"Mau mencobanya denganku biar cepat move on?" Ide itu tercetus begitu saja dari bibir Fathan.


"Becanda aja." Kali ini bukan senyum lebar lagi, tapi Nidya memperdengatkan tawa renyahnya.


Fathan ikut tertawa melihatnya sambil ngga lupa memuji kecantikan Nidya dalam hati.


Kenapa selama ini dia ngga pernah melihat kecantikan Nidya?


Mungkin tertutup dengan sifat galaknya, batinnya lagi.


Daniel selalu mengatakan kalo Nidya gadis galak yang cantik. Tapi saat itu dia hanya tersenyum saja. Dia lebih tertarik dengan segala pekerjaannya dari pada para perempuan yang namanya berganti ganti selalu disebut sebut adiknya yang player itu.


Tapi saat bertemu Daniel, dia akan sedikit meralat ucapan adiknya itu.


Dia ngga galak, dia hanya cantik. Sangat cantik.


Ada desiran hangat di dada Fathan saat ini, apalagi saat membatin, mata mereka beradu pandang.


"Aku serius," ucap Fathan tegas.


Nidya mengibaskan tangannya.


"Becanda terus."


Laki laki ini sepertinya kurang waras. Padahal yang membuat Nidya mau move on adalah adiknya. Tapi dia malah mengajukan dirinya.


Dari jutaan laki laki yang ada di dunia ini, kenapa dia harus menerimanya, decihnya dalam hati.


"Aku janji, bersamaku, kamu akan move on lebih cepat," ujar Fathan seolah sedang mengadakan negoisasi untuk proyek kerja sama.


"Maaf, aku ngga minat," tolaknya masih dengan sisa tawanya.


Laki laki ini ada ada saja, batinnya geli. Ngga mungkin, kan, dia tetap berhubungan dengan keluarga Alexander? Nidya bahkan ingin menghindar dan lari sejauh jauhnya. Ini minpi buruk.


Fathan terkekeh, ngga nyangka akan ditolak secepat ini.


"Satu bulan. Setelahnya terserah kamu mau lanjut atau berhenti," kejar Fathan ngga nyerah.


"Ini tentang hati Fathan, bukan tentang bisnis," tolak Nidya dengan mimik serius.


"Karena itu. Apa salahnya kita mencobanya," ngeyel Fathan lagi.


"Aku yakin, kamu akn cepat move on," lanjutnya lagi sangat meyakinkan.


"Entahlah. Berikan aku waktu," ucap Nidya merasa tergelitik juga dengan kengeyelan Fathan


"Oke. Tapi jangan terlalu lama."


Nidya ngga menjawab lagi. Hanya berharap besok besok Fathan sudah lupa dengan kata nyelenehnya.