NOT Second Lead

NOT Second Lead
Surat Dilara



Ngga lama kemudian Bu Saras kembali. Dia mengulurkan dua lembar amplop. Satu pada Oma Mien dan satu lagi untuk Dewan.


"Titipan Dilara. Dia meminta saya menyerahkannya secara langsung. Saya ngga tau apa isinya karena ngga pernah membacanya," ucapnya saat keduanya menerima amplop itu dengan tangan bergetar.


Oma Mien dengan ngga sabar merobek dengan hati hati pinggiran amplop. Opa Airlangga beserta ketiga anak dan mantunya mendekat.


Begitu juga Opa Iskandardinata dan Oma Mora yang mendekati Dewan. Afif memberikan space untuk mereka.


Oma Mien bergetar membuka lipatan surat yang sangat beliau kenal. Air mata Oma Mien langsung jatuh melihat bentuk tulisan yang sangat dia hafal. Tulisan indah putrinya.


Mama


Papa


Kakak


Maaf, aku baru bisa mengingat kalian setelah lima tahun ini.


Maaf sudah membuat kalian pusing mencariku.


Maaf. Dilara minta maaf. Benar benar minta maaf.


Ma, Pa, Kak, Dila minta tolong. Bantu panti ini, ya. Kak Saras sangat baik pada Dila dan Rihana.


Rihana cantik, kan. Dia anak Dilara sama kakak kelas di kampus. Dia baik dan sangat pintar. Dila sangat menyukainya.


Namanya Kak Dewan Iskandardinata.


Mama, papa, Kak Cakra, Kak Akbar, Kak Wingky.


Titip Rihana ya. Dila rasanya ngga bisa menemaninya sampai dia dewasa. Rihana anak yang ngga pernah menyusahkan.


Sekecil itu dia sangat mandiri dan ngga manja. Tapi Dila merasa bersalah karenanya.


Mama, Papa, Kak Cakra, Kak Akbar, Kak Wingky......


Jaga kesehatan baik baik. Dila sayang banget dengan kalian semua. Terutama mama. Dila kangen, Ma.


Peluk cium dari Dila.


Tubuh Oma Mien bergetar. Beliau pun menyerahkan surat itu pada suaminya yang kembali membacanya lagi bersama sama anak dan menantunya.


Sesak. Itu yang mereka rasakan. Tulisan tangan terakhir adik yang sangat mereka sayangi.


Alena, istri Cakra pun menangis sesunggukan saat membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Perasaan Dilara langsung mengena di hati mereka.


Wingky dan Akbar pun ngga lagi menahan diri. Suara tangisan memilukan mereka terdengar cukup keras.


Sementara Dewan pun membuka lembaran surat itu dengan tangan bergetar.


Kak, maaf sudah melupakanmu selama lima tahun ini.


Kak, anak kita perempuan. Dia cantik dan pintar seperti kamu.


Kak, aku bahagia melihatmu bahagia. Walau aku ngga bisa memilikimu, tapi aku punya Rihana, anak kita berdua.


Oh iya, Kak. Nama anak kita Rihana Fazira.


Kak, tapi umurku sepertinya ngga panjang lagi. Aku ingin kamu melihatnya. Tapi aku takut mengganggu kebahagiaanmu yang sekarang.


Tapi Rihana berhak tau siapa kamu, kak. Semoga kalian bisa cepat bertemu. Sayangi dia, Kak. Dia anak yang cantik, baik dan pintar.


Kak, aku selalu menyayangimu.


Surat Dilara terlepas dan jatuh ke lantai dari tangan Dewan. Tubuhnya terasa limbung, ngga bertenanga. Untung Opa Iskandardinata masih gesit menangkap surat itu.


Dengan kaki yang terasa berat, Dewan menghampiri Rihana yang masih dalan dekapan Alexander.


Ketika jarak hanya menyisakan dua langkah, netra Rihana bertatapan dengan netra basah Dewan.


Tangan Dewan terulur seakan memberi isyarat agar Rihana mendekatinya.


Rihana menatap Alexander yang menganggukkan kepalanya. Dekapannya dilepaskan.


Rihana pun meraih tangan Papanya yang membawanya ke dalam pelukannya.


Dewan menangis seperti anak kecil. Kata maaf terus menerus terlontar dari bibirnya.


Andai saja waktu itu mamanya ngga salah paham dan menemui papanya, pasti mereka masih sempat menghabiskan waktu bersama.


Sekarang harapan Rihana, mamanya bahagia melihatnya berada dalam pelukan papanya.


Rihana dan Dewan pun ngga bisa meredakan tangis mereka. Dewan menepuk nepuk lembut punggung putrinya yang seharusnya sudah sejak lama berada dalam dekapannya. Juga Dilara, Mama Rihana. Gadis yang sudah lama dia sukai dan dia rindukan hingga saat ini.


"Sayang, maafkan papa. Maafkan papa. Papa berdosa sekali padamu dan mamamu. Papa sangat berdosa pada kalian."


Afif, Papa Alexander menghapus air natanya yang juga menetes.


Papa Alex minta maaf ya, Rihana. Dilara, maafkan Kak Afif


Bu Saras juga menitikkan air mara kembali. Mengingat Dilara akan membuka luka lamanya. Ternyata dia bukan gadis biasa. Begitu juga kekasihnya. Tapi takdir telah memisahkan. Memberikan nuansa cerita sedih dalam perrjalanan hidup mereka.


*


*


*


"Papa, kenapa papa berada di sini sendirian?" tanya Fathan yang mengikuti papanya yang berjalan keluar meninggalkan ruamgan yang menimbukan gelombang perasaan sedih yang memilukan.


Alexander juga mengikuti di belakangnya. Merasa ada yang aneh dengan sikap papanya yang tampak juga sama terguncangnya dengan Om Dewan.


Apa sebegitu dekatnya persahabatan papanya dengan Om Dewan? duga Alexander dalam hati.


Memang menurut papanya, beliau sudah bersahabat lama dengan Om Dewan. Sejak mereka jadi mahasiswa.


Afif melihat pada kedua putranya dengan wajah penuh beban. Kemudian beliau memilih menatap langit yang jauh di atasnya.


Terdengar helaan nafas beratnya.


"Alex, jaga Rihana baik baik. Jangan pernah sakiti hatinya," ucapnya setelah beberapa saat kemudian.


"Tentu, Pa," jawab Alexander cepat. Lagi lagi Alexander merasa aneh. Ucapan papanya seperti mengandung makna yang lain.


"Papa kenal juga dengan Mamanya Rihana?" tanya Fathan yang ngga bisa lagi menahan rasa ingin taunya atas keanehan sikap papanya.


Papanya tersenyum pahit.


"Tentu. Mama Rihana adalah perempuan yang sudah lama menarik perhatian Om Dewan."


"Cantik, dong, Pa," tukas Alexander antusias.


Afif menganggukkan kepalanya.


"Cantik dan lembut. Juga pendiam. Dilara adik kelas kita. Dua tahun lah jaraknya." Afif tersenyum getir mengenang sosok Dilara.


Alexander dan Fathan semakin mendekat. Tertarik ingin lebih jauh mengetahui tentang Mama Dilara.


Seakan tau apa yang dipikirkan kedua putranya, Afif pun melanjutkan ceritanya.


"Dia bagai putri yang sangat dijaga dengan hati hati. Mobil mewah selalu mengantar jemputnya di kampus."


Afif menghela nafas panjang.


"Dilara sosok pendiam yang pemalu. Dulu banyak sekali yang terang terangan mengejar Om Dewan. Tapi perhatian Om Dewan hanya tertuju pada Dilara."


Afif tersenyum melihat kedua putranya yang juga tersenyum seakan sedang menikmati ceritanya.


"Tapi Om Dewan ngga seperti papa. Dia lebih mendahulukan kuliahnya karena dia punya cita cita untuk bisa masuk ke MIT. Om Dewan hanya suka mengawasinya saja tanpa.mau mencari tau siapa sosok Dilara. Kami benar benar ngga tau siapa Dilara," jelas Afif lagi


"Jadi papa menikah lebih dulu dari Om Dewan?" tanya Fathan sambil nyengir.


Papanya melebarkan senyumnya. Bebannya sedikit terangkat.


"Mama mu terlalu seksi. Saat awal kuliah kami menikah," kekehnya pelan.


Fathan dan Alexander juga ikut tertawa pelan.


"Papa ngga pernah menyangka kalo Om Dewan menyimpan rahasia hubungannya dengan Dilara. Seandainya dia cerita, papa pasti akan membantunya saat itu," sesal Afif setelah kekehannya mereda.


Keduamya dapat menangkap rasa penyesalan yang amat sangat dalam diri papanya.


Afif menghela nafas berkali kali. Ngga sanggup dia mengutarakan dosa besarnya pada kedua putranya. Ya, dia benar benar ngga sanggup melukai hati putranya Alexander. Alexander pasti juga akan terpukul kalo tau ternyata papanyalah biang dari keruwetan ini.