
"Tuan muda! Tuan muda! Anda masih baik baik saja?" seru Pak Abeng melalui interkom. Dia panik karena ngga terdengar suara apa pun. Sementara kamera yang ada di dalam lift juga rusak akibat konsleting listrik. Sekarang mereka sedang bekerja keras memperbaikinya. Ada tiga tukang repair yang sedang bekerja keras.
Kalandra menjauhkan bibirnya dari bibir yang membuatnya mabok. Mata Adriana yang terpejam terbuka perlahan. Dia merasa pasokan oksigennya menipis.
"Tuan muda. Anda ngga apa apa. Hey, cepat selesaikan perbaikannya," seru Pak Abeng sangat panik. Dia sangat takut terjadi apa apa dengan pewaris keluarga Airlangga. Nyawanya taruhannya.
Di dalam lift.
Dua pasang mata saling bertatapan.
"Tuan muda---."
"Aku masih bisa bertahan, Pak Abeng," potong Kalandra tanpa memutus tatapannya pada Adriana yang kini menunduk resah.
Terdengar helaan nafas lega Pak Abeng.
"Syukurlah. Maafkan kami tuan muda. Sepuluh menit lagi. Kameranya off jadi saya ngga tau keadaan tuan muda," jelas Pak Abeng panjang lebar penuh rasa bersalah.
Hati Adriana lega juga mendengar penuturan Pak Abeng. Dia baru teringat ada kamera di dalam lift dan saat ini pasti adegan ciuman mereka tertangkap oleh mata mereka jika kameranya baik baik saja. Tapi untungnya kameranya off karena ikutan rusak juga.
"Oke, lakukan saja dengan tenang, Pak Abeng. Aku ngga apa apa. Sekretarisku juga baik baik saja," sahut Kalandra sambil mengusap lembut bibir Adriana dengan satu jempolnya
"Kenapa bibirmu manis sekali," gumam Kalandra dengan suara serak.
Kembali mendekatkan bibirnya lagi tanpa sempat dibantah sekretarisnya yang masih kelihatan shock atas perbuatan gilanya tadi.
Kali ini Kalandra menyesapnya cukup kuat seakan ingin menghabiskan semua sari manis di bibir merekah itu tanpa sisa.
Adriana lagi lagi menahan des@hannya akibat dorongan aneh yang ada dari dalam tubuhnya. Dia pun ngga ingin berhenti.
Maaf, nona Kiara. Setelah ini saya akan menghindar dari tuan muda Kalandra, janjinya dalam hati.
Kalandra melirik jam yang melingkar di tangannya. Kemudian melepaskannya perlahan.
Kemudian membantu Adriana berdiri. Merapikan rambutnya, mengusap lagi bibirnya. Tatapnya sangat tajam seolah menembus manik yang sedang menatapnya sayu.
Adriana hanya bisa mematung. Ngga tau harus berbuat apa. Dia seperti sudah kena pelet bibir Kalandra. Membiarkan laki laki itu melakukan apa pun padanya.
Kalandra pun menepuk pelan beberapa kali celana kain Adriana untuk menghilangkan debunya. Setelahnya dia baru merapikan jas dan celana panjangnya.
TING!
Pintu lift terbuka. Kalandra melangkah keluar dengan tenang diikuti Adriana dalam diamnya. Adriana masih bingung dengan apa yang sudah terjadi. Juga jantungnya seakan menjadi sangat murahan, ngga henti hentinya berdebar kencang.
"Maaf, Tuan muda. Agak lama," kata Pak Abeng penuh sesal begitu melihat tuan mudanya melangkah keluar dari dalam lift. Ketiga tukang repair itu pun sama menghembuskan nafas lega melihat keadaan keduanya baik baik saja.
Dalam hati Pak Abeng memanjatkan rasa penuh syukur karena melihat tuan mudanya dan sekretarisnya ngga apa apa. Terutama tuan mudanya.
"Aku ngga apa apa, Pak. Terima kasih," ucap Kalandra dengan senyum tipisnya agar orang tua itu ngga terlalu merasa bersalah. Lagian dia merasa beruntung, dengan rusaknya lift yang agak lama, dia bisa merasakan bibir manis Adriana beberapa kali.
Biar saja dia jadi selingkuhan Adriana saat ini. Dirinya akan membuat Adriana bingung dan akhirnya memutuskan memilihnya dan menendang pacarnya.
"Syukurlah, tuan muda. Syukurlah," sahut Pak Abeng dengan senyum lega yang terus terkembang di bibirnya.
Adriana menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh terima kasih saat melewati Pak Abeng dan para tukang repair.
Pak Abeng dan para tukang yang sedang menyimpan alat alat mereka, membalas hangat senyum sekretaris cantik itu.
Beberapa langkah di depan mereka terlihat Kiara mendekat.
"Hai, katanya kalian terjebak di lift?" tanyanya agak kuatir. Dia datang ke perusahaan karena papinya memintanya mengantarkan undangan pernikahan sepupunya untuk papa Kalandra.
"Kami ngga apa apa," ucap Kalandra sambil melirik ke arah Adriana yang tampak menatap Kiara dengan tatapan sayunya.
Kalandra meneruskan fokus yang dilihat Adriana.
Dan seringai jahilnya terukir tipis.
"Undangannya udah jadi?"
Sesaat nampak bingung, tapi kemudian Kiara menunjukkan undangan yang dibawanya ke arah Kalandra dan Adriana. Sudah mengerti setelah melihat kode tipis dari Kalandra.
"Sudah."
Hati Adriana jadi hampa. Sekilas dia menatap protes pada Kalandra yang hanya dibalas Kalandra dengan satu alis terangkat.
Adriana menghela nafas berat.
Kalo mau menikah, kenapa menciumnya. Harusnya laki laki ini tadi ditamparnya dengan keras, batinnya geram.
Apa sebenarnya maksud bosnya? Apa dia hanya mainan sesaatnya saja? sambungnya lagi marah dalam hati.
Kalandra meraih undangan itu dan menatapnya sekilas. Membiarkan Adriana menatap bagian belakang undangan gold yang di desain dengan sangat mewah. Bertabur tali emas dan kristal kecil yang berkilauan.
"It's great," ucapnya dengan senyum puas saat melihat wajah pias Adriana.
Kiara mengambil tempat di antara Kalandra dan Adriana.
"Kamu suka?" tanyanya manja.
"Tentu," senyum tipis Kalandra masih bertahan di sana.
Adriana sengaja memelankan langkahnya, membiarkan pasangan yang segera menikah ini berada di depannya.
Bukannya Kalandra ngga sadar, tapi dia membiarkannya. Sampai kemudian dia berhenti di depan mobilnya bersama Kiara.
"Kamu ngga dijemput?" tanya Kiara ketika Adriana mengangguk kecil saat akan melewatinya.
Adriana menggelengkan kepalanya.
"Engga nona muda. Saya permisi," balasnya sopan. Adriana hanya mengangguk kecil tanpa menyapa bosnya. Hatinya sudah sangat kesal.
Kalandra juga ngga bersuara hanya menatap kepergiannya Adriana.
"Akting ku oke, kan?" senyum Kiara melebar. Dia cukup senang dengan kerja samanya bersama Kalandra tadi.
"Tapi aku rasa udah cukup, ya. Aku merasa bersalah juga nyakitin hati sesama perempuan," sambungnya lagi.
Well, dia hanya sekadar membantu. Sekarang tinggal menunggu aksi Kalandra untuk mendapatkan hati sekretarisnya itu.
"Oke.Thank's banget, ya," kata Kalandra sambil menunjukkan undangan yang diberikan Kiara. Gadis itu melebarkan cengirannya.
"Keliatan shock banget loh. Aku jadi ngga enak," balas Kiara sambil melihat kepergian Adriana.
Kalandra melebarkan senyumnya. Hatinya senang berkali kali lipat. Sudah dapat ciuman, juga dapat melihat kekagetan sekretarisnya karena undangan ini.
Skenario yang ngga terduga. Semesta berpihak padanya.
Kalandra tinggal melihat reaksi gadis iti besok. Apa masih bisa setenang biasanya nanti menghadapinya.
Kalandra pun mulai berpikir untuk menyuruh pengawalnya untuk menyelidiki siapa pacar Adriana.
Dia harus tau, kan, siapa lawan yang akan kalah darinya nanti.
Wajah Kalandra tampak berseri seri.
Kiara menatap Kalandra penuh selidik. Kegembiraan di wajah laki laki ini sangat mencurigakan.
"Terjadi sesuatu yang menyenangkan di dalam lift, ya?" todongnya langsung.
Kalandra ngga menjawab, tapi dari ekspresinya Kiara tau. Pasti sudah terjadi sesuatu yang hot diantara keduanya. Menurut kabar yang dia dengar, Kalandra san sekretarisnya hanya berdua saja terkurung di dalam lift yang macet. Sayangnya kamera nya off jadi ngga bisa merekam cuplikan adegan 21 tahun ke atas.
Memikirkan itu pun membuat cengirannya betah bertahan
"Oke, aku pulang dulu," pamitnya sambil melangkah pergi ke arah mobilnya.
"Oke, thank's a lot, ya," balas Kalandra sangat berterimakasih.
Kalandra pun masuk ke dalam mobilnya dan bermaksud mengawal Adriana sampai ke depan pintu masuk kompleksnya.
Dia agak mengkhawatirkan gadis itu. Pasti perasaannya sedang sangat galau.
Ngga jauh dari sana Emra dan Emir mengamati interaksi keduanya dengan datar.
"Serius Kalandra akan menikah?" cetus Emir yang salfok dengan undangan di tangan Kalandra.
Otaknya berpikir keras.
Ini terlalu terburu buru dan sangat kilat. Seperti bukan Kalandra saja.
"Kenapa kita ngga diberitau. Ini terlalu aneh dan membingungkan," balas Emra kesal karena merasa ngga dianggap oleh keluarga besarnya.
Padahal selama ini ngga pernah begitu. Setidaknya orang tuanya akan memberitaunya kalo memang Kalandra serius akan menikahi Kiara. Ini juga berita besar yang ngga semudah itu untuk disembunyikan.
Ini sama sekali ngga ada selentingan kabar apa pun mengarah ke sana.
Di dalam lingkungan keluarga besarnya pun adem ayem saja, setelah mengadakan pesta mewah pernikahan Rihana dengan Alexander.
Terutama oma mereka. Beliau pasti akan sangat cerewet dan akan membuat semua orang langsung mengetahuinya.
"Kamu patah hati?" tawa Emir mengejek.
Baru kali ini Emra sangat kepo dengan pasangan baru dalam keluarga besar mereka.
"Entahlah. Tapi memang tiap milik Kalandra selalu menarik, kan," jawab Emra ambigu.
"Masa? Aku ngga merasa begitu," bantah Emir masih dengan tawa mengejeknya.
Emra ngga menjawab. Dia juga bingung, kenapa sekarang apa yang dimiliki Kalandra membuatnya iri.