
Oma Mien terpaku melihat hasil test DNA yang diserahkan suaminya. Sekarang beliau di kelilingi anak anak dan para mantunya yang menatapnya dengan wajah sukar di tebak. Bahkan mantu mantunya terlihat habis menangis.
"Dia cucu kita?" suara Oma Mien Arthipura bergetar.
Dadanya mendadak sangat sesak.
Artinya ... putrinya sudah meninggal?
Seakan ada palu godam yang memukul jantungnya sangat keras. Tubuhnya yang terhuyung dengan cepat ditahan suaminya.
Tangis Oma Mien Artipura pun meledak. Sangat menyayat hati. Ketiga istri putranya pun terisak. Bahkan air mata di pipi suami suami mereka juga turun dengan deras, walau tanpa suara.
Opa Airlangga pun sedang menahan remuk redam di dalam rongga dadanya. Jantungnya memompa dengan sangat kuat. Beliau merasa lemah dan sangat terguncang. Kenyataan ini sangat menghancur luluhkan hati mereka. Apalagi melihat istrinya yang sangat terpukul.
Rasa bersalah tergurat jelas di di wajahnya dan ketiga putranya karena selama ini ngga berhasil menemukan putrinya dalam keadaan hidup.
Terbayang penderitaan putrinya yang ngga pernah hidup susah sungguh memilukan. Sampai akhirnya meninggal dalam kesedihan dan kekecewaan.
Harusnya mereka sudah bertemu sejak dulu lagi saat putri dan cucunya kembali ke rumahnya.
Sayangnya, ngga ada satu orang pun yang bisa menerima kedatangannya. Membuatnya bisa berada di rumahnya.
Harusnya cucunya pun ngga harus merasa jadi yatim piatu dan tinggal di panti asuhan yang pasti serba terbatas.
Harusnya mereka sudah bahagia sejak dulu.
Persetan dengan ba*ngsat yang sudah menodai putrinya.
Mereka tidak butuh pertanggungjawaban laki laki itu!
Dan banyak lagi kata harusnya yang bercokol di kepalanya dan sudah sangat penuh dan ingin meledakkan semua isinya.
"Aku akan minta informasi panti asuhannya pada Puspa," kata Wingky memecahkan keheningan dan rasa sesak yang hampir membuncah.
"Apa kita akan langsung mengatakan saja padanya kalo kita keluarganya?" tanya Akbar ngambang. Melihat reaksi mamanya membuatnya takut kalo jantungnya akan kambuh lagi.
Mamanya pasti sangat tertekan. Sama seperti mereka. Adiknya sudah tiada tanpa mereka pernah melihatnya untuk yang terakhir kali. Hanya ada rekaman cctv saja yang menjadi kenangan tentang keadaan adiknya saat itu.
Sekarang mereka harus cepat bergerak. Membawa anak adiknya ke dalam keluarga mereka. Memberikan segala haknya yang terampas oleh keadaan.
Papanya-Airlangga memberikan isyarat agar anak anak dan mantunya meninggalkannya berdua saja dengan istrinya.
Ketiga pasangan itu pun menganggukkan kepalanya dan perlahan berjalan pergi sambil membisu.
"Aku akan bunuh laki laki baji*ngan itu," geram Wingky ngga terima. Nafasnya memburu. Kedua tangannya mengepal kuat menahan gemuruh di dadanya yang sudah porak poranda.
Adik tercinta mereka ternyata sudah lama meninggal. Padahal selama ini dia mengira adiknya masih baik baik saja di suatu tempat dengan ponakannya.
Tapi nyatanya!
Adiknya sudah meninggal tanpa dia bisa memanjakannya lagi dengan kemewahan dan perlindungan kasih sayangnya.
Cakra dan Akbar juga merasakan kemarahan yang sama. Begitu ingin meledak. Begitu ingin memaki dan memecahkan segala barang yang ada di depannya.
Cakra dan Akbar pun memiliki keinginan yang sama dengan Wingky. Mereka akan membuat perhitungan dengan laki laki yang sudah menyebabkan penderitaan adiknya dan keluarganya yang kini sudah ditinggalkannya untuk selama lamanya.
"Ada yang aneh," kata Akbar membuat langkah kaki mereka terhenti.
"Apa?" tanya Wimgky ngga mengerti.
"Apa dia benar benar ngga tau siapa kita? Aku agak ragu," ucap Akbar sambil melihat kakak tertuanya Cakra. Karena mereka berdua sudah melihat gadis itu secara langsung. Tapi Wingky belum.
"Kalo dia tau kita keluarganya, pasti dia sudah mengatakannya," jawab Cakra setelah terdiam sebentar.
"Apa anak itu benar benar ngga tau kalo kita om omnya?" sela Wingky mencoba mengambil kesimpulan.
"Aku rasa dia tau. Tapi dia bingung mau mengatakannya," sanggah Akbar yang kembali merasa dadanya sesak.
"Apa dia melihat foto di ruang keluarga?" tebak istri Akbar- Misel.
"Atau dia masih ingat jalan ke rumah mama?" istri Cakra-Alena, juga mencoba memberikan dugaannya. Seingatnya waktu itu ponakannya masih kecil saat dibawa ke rumah mama mertuanya. Bersama mamanya, Dilara.
Ada yang perih dalam hatinya. Alena sempat mengenal adik perempuan Cakra. Gadis cantik yang pendiam. Ngga nyangka bisa seperti ini akhirnya.
Alena pun merasa blank tentang siapa kekasih Dilara. Karena gadis itu terlalu pendiam. Dan menyimpan semuanya sendiri.
"Aku yakin dia sudah tau saat Puspa membawanya ke sini. Karena dia putri asli Dilaralah makanya dia hanya diam saja. Ngga mengatakan apa apa. Dia sama seperti mamanya," tukas Akbar getir.
Adik perempuannya yang ngga pernah mengeluh. Yang selalu memendam semuanya sendiri.
Akbar memejamkan matanya. Matanya terbuka saat merasa ada kepala yang bersandar di lengannya. Istrinya seakan ingin menguatkan hatinya.
Cakra pun membuang nafasnya kasar. Begitu juga Wingky.
Hati mereka semakin yakin kalo gadis itu beneran Rihana Fazira, anak adiknya.
Sebenarnya tanpa test dna pun, hati Cakra dan Akbar sudah bergetar aneh saat bertemu dengan salah satu teman ponakannya
Wingky pun berinisiatif menelpon putrinya. Dia yang paling berjasa. Karena kebawelan Puspalah, ponakannya berhasil ditemukan.
"Sayang, Rihana itu sepupu kamu," ucap Wingky saat sambungan telponnya diangkat putrinya. Suaranya terdengar bahagia saat menginformasikannya.
"Sungguh Pa?" Ada kelegaan dan rasa senang terdengar dari suara Puspa. Saat ini dia agak menjauh dari teman temannya ketika papa menelponnya.
"Iya sayang. Kamu senang?" senyum Wingky sangat lebar. Begitu juga senyum yang lainnya. Ini kabar paling gembira setelah sekian lama mereka menunggu.
"Senang papa."
"Coba kamu tanya, alamatnya tempat tinggal lengkap Rihana di jogja. Sekarang ya." Hati Wingky agak berat untuk menyebut kata panti.
Hening.
"Puspa?" panggil Wingky ngga sabar.
"Ngga bisa sekarang nanyanya, Pa. Rihana sudah dipindahkan ke lapangan Pa, hari ini," jelas Puspa ragu
"Apa? Rihana dipindahkan ke lapangan?" kaget Wingky ngga bisa meredam suaranya.
Yang lainnya pun langsung menatap pada wajah kesal Wingky yang masih memegang ponselnya.
"Iya, Pa. Aku sama teman teman juga kaget. Mendadak soalnya."
Alis Wingky berkerut.
"Mendadak?"
"Iya pa. Tapi aku rasa karena Ri dekat dengan Alexander Monoarfa."
Wingky terdiam. Dia cukup mengenal nama itu karena Papa Alexander Monoarfa adalah rekan bisnisnya. Biasanya dia ngga suka melayani gosip dari putrinya. Tapi ada firasat aneh yang menyusup dalam dadanya yang memintanya untuk terus melanjutkan percakapan tentang ini.
"Apa hubungannya?"
Hening.
"Puspa, kamu masih di sana?" kesal Wingky karena anak perempuannya kali ini cukup lama terdiam.
"Mas, kamu diajak gibah sama Puspa, ya?" senyum istrinya yang juga diikuti istri istri saudaranya yang lain.
Puspa selalu updet dengan berita berita terbaru. Otaknya pintar. Apalagi dia sengaja memilih bekerja di perusahaan milik orang lain. Tanpa rekomendasi keluarga.
"Sebentar, yang. Ini penting," kesal Wingky ngga terima dengan candaan istrinya. Bahkan kedua kakak laki lakinya juga menarik sedikit sudut bibir mereka.
"Pa," panggil Puspa.
"Ya, papa dengar. Kamu lanjutkan," titahnya.
"Begini Pa. Ada gosip.di kantor kalo putri Pak Dewan akan dijodohkan dengan Alexander Monoarfa. Tapi Alexander sepertinya menyukai Ri. Tadi dia bahkan mencari Ri di ruanganku," cicit Puspa.
Wingky terdiam. Ada yang menghantam dadanya sangat kuat.
Jangan terjadi lagi, batinnya kalut
Dia ngga akan membiarkan putri adiknya memiliki jalan takdir yang sama dengan adiknya.