NOT Second Lead

NOT Second Lead
Cinta dan Rindu



Kamila yang baru sampai di kamarnya hanya tersenyum penuh rahasia membuat sahabatnya penasaran.


Kamila pun melangkah ke balkonnya. Kamarnys berada di lantai dua. Dia menatap jauh ke depannya. Sosok itu sudah benar benar menghilang sejauh matanya memandang.


"Kamu beneran suka, ya, sama dia?" senyum cerah Selina terkembang lebar.


"Sepertinya begitu...." Mata Kamila masih jauh menatap ke arah jalan jalan yang tadi mereka lewati.


Hatinya seperti belun kembali. Bahkan kini dia melihat ke atas. Langit sore seakan sedang tersenyum padanya.


Kamila sudah merasa jiwanya masih berada di antara awan awan indah yang mereka lewati lagi.


Kamila berharap mereka akan mengarunginya lagi. Dia lebih bebas berekspresi.


Bukan Kamila ngga suka berdekatan bahkan dadanya pun menempel erat di punggung atletis Emir saat naek motor.


Dia suka. Sangat suka. Tapi dia merasa sangat malu.


Tapi karena itu Emir pasti jadi tau kalo tadi debaran jantungnya sangat keras. Laki laki itu bahkan bisa membuatnya memeluknya sangat erat. Dia suka harum laki laki itu. Sangat maskulin. Saat tangan laki laki itu sesekali mengusap tangannya yang berada di perut six pack laki laki itu, tubuh Kamila terasa kaku. Dia ngga bisa protes, bahkan membiarkannya mengusap bahkan sesekali menggelitiknya.


Saat itu perasaan Kamila seakan dibawa kembali terbang dengan heli seperti tadi.... dan gilanya Kamila semakin merapatkan pelukannya yang sudah sangat ngga ada jarak sama sekali itu.


Bahkan tadi Kamila merasa dia beberapa kali menggumam ngga jelas ketika merasakan gelitikan Emir yang menjalar ke lengannya.


Laki laki itu sangat berpengalaman sekali membangkitlan naluri alaminya.


Seperti di lift, Kamila seakan lupa kalo ada kamera cctv di sana. Dia membiarkan Emir menodai bibirnya yang selalu dia jaga kemurniannya.


Dulu Kamila pernah dekat dengan seseorang saat masih awal awal menjadi dokter jaga. Tapi Kamila menolak segala bentuk kontak fisik.Tapi kemudian laki laki itu malah mendekati Selina yang memang jauh lebih berani dari dirinya.


Tapi Selina membuangnya karena menurut Selina, Deco bukan tipenya.


Apa Emir akan mendekati Selina juga seperti Deco jjka temannya itu bertindak agresif?


Setidaknya dia akan tau seserius apa Emir dengannya nanti. Tadi pun hatinya sudah sangat senang karena Emir seperti ngga tertarik dengan Selina.


Kamila masih bisa merasakan ciuman Emir di bibirnya. Terlalu lembut. Laki laki itu seperti sengaja memanjakannya.


Dia merasa seperti bukan dirinya saja membiarkan laki laki yang belum dikenalnya menyentuh bibirnya, kini tangan bahkan sampai lengannya.


Apa sebenarnya yang terjadi pada dirimya. Padahal Emir juga belum menyatakan perasaannya. Mereka melakukannya tanpa status.


Dia sudah ngga waras agaknya, batin Kamila resah.


Sebenarnya dia siapa? Ngga mungkin hanya dari kalangan Selina, kan?


Gayanya terlalu kalem memperlakukan kemewahan yang ada di dekatnya.


"Hei.....! Yang lagi kasmaran," kikik Selina gemas melihat wajah Kamila yang tampak seperti gadis belasan tahun yang sedang jatuh cinta.


Syukurlah, batinnya senang. Dia akan mendukungnya, dan memaksa temannya agar Emir mengenalkan bos yang diakui sebagai sahabatnya.


Pasti akan lebih mudah. Mereka bisa kencan couple, kan, batinnya senang dengan khayalan tingkat tingginya.


Kamila pun tertawa.


"Kalo Emir dibandingkan Deko, mana yang lebih tajir temannya?" tanya Selina setelah beberapa saat kemudian.


"Ralat, Deco ngga butuh teman kaya, say," kritik Kamila membenarkan. Ucapan temannya sangat berlepotan.


"Oke, oke.... Diganti kalimatnya.... Mana kaya Deco atau teman Emir emir itu," ulang Selina mengoreksi kesalahan ucapannya tadi.


"Jauh," jawab Kamila masih memandang jauh ke langit. Dadanya masih kembang kempis mengingat pengalamannya tadi.


Tadi sangat luar biasa sekali. Ngga mungkin bisa terlupakan. Laki laki itu kenapa sangat manis.


"Oke oke, nona mudanya ini kelihatannya sudah sangat mabok kepayang," tawa Selina berderai derai.


Kamila pun ikut tertawa lepas. Ngga menyangkal.


"Oke, aku putus dulu. Jangan lupa minta, kan, pada Emir.agar aku dikenalkan pada bosnya," putus Selina sebelum menutup telponnya. Mengingatkan Kamila.


Kamila masih tertawa.dengan respon terakhir Selina. Selalu begitu.


Dulu Deco yang paling kaya dari mantan mantan Selina saja ditolak temannya itu.


Kamila membuka galery fotonya. Melihat lagi dengan penuh senyum fotonya saat bersama Emir waktu terbang dengan helinya tadi.


Gimana tanggapan Selina nanti kalo melihat foto ini. Apa masih mengira kalo ini semua milik teman Emir?


Atau mungkin dia makin ngga sabar untuk berkenalan dengan si pemilik heli itu.


Kisah Deco sedikit banyak membuat hatinya ngga begitu percaya dengan kesetiaan laki laki. Walaupun waktu itu perasaannya ngga sedalam saat bersama Emir kali ini.


Dan balasan Selina datang dengan cepat


Selina


Really..... WOW


^^^Me^^^


^^^Keren, kan^^^


Selina


Kalo aku sudah kenal dengan temannya, akan aku ijinkan kekasihmu meminjamnya sesuka hati...πŸ€Έβ€β™€οΈπŸ€Έβ€β™€οΈπŸ€Έβ€β™€οΈ


^^^Me^^^


^^^πŸ€£πŸ˜…πŸ€£πŸ€£......Oke^^^


*


*


*


Xavi yang sedang mengantarkan maminya sedang melakukan pemeriksaan jantungnya, merasa melihat bayangan Daiva.


Dia ngga salah lihat, kan?


Gadis itu tampak keluar dari ruang rawat inap yang letaknya ngga jauh dari tempatnya berada.


"Mam, Pap, aku mau beli kopi bentar," pamitnya sambil melangkah keluar.


Dia ingin segera memastikan kalo tadi bukan halusinasinya saja karena perasaan rindunya pada Daiva.


Sejak Zerina meninggal sebulan yang lalu, Xavi sengaja menurut dengan kemauan maminya.


Ini dilakukannya agar Daiva ngga kena inbas negatif jika dia langsung mendekati Daiva. Walaupun itu bukan salahnya. Tapi berita fitnah bisa saja menghancurkan mental gadis itu nantinya.


Dia sudah berjanji akan secepatnya menikahi Daiva pada kedua orang tua gadis itu. Xavi sedang menunggu kabar baik jantung maminya saja sebelum mulai mengajaknya berdebat lagi akan keinginannya.


Xavi mempercepat langkahnya. Bibirnya tersenyum dengan pendar bahagia di sepasang matanya.


Gadis yang nampak terburu buru itu memang Daivanya.


"Hai," bisik Xavi sambil menarik lembut lengan Daiva.


Gadis itu yang awalnya marah dan berniat berontak, kini menatapnya dengan pendar yang sama.


"Xavi.....," ucapnya dengan bibir bergetar. Sorot matanya pun memancarkan rindu yang sama.


Xavi mengeratkan pegangannya pada lengan Daiva. Jika mereka ngga berada di tempat umum, mungkin dia sudah dari tadi memeluknya untuk menumpahkan rasa rindunya.


"Siapa yang sakit?" tanya Xavi sambil mengajaknya menepi.


"Bayi R. Sepertinya susu formulanya ngga cocok. Dia menangis karena selalu muntah setelah meminum susunya," jelas Daiva dengan penuh nada khawatir.


Xavi dapat melihat lingkaran hitam di bawah mata gadis itu. Gadisnya sepertinya kurang tidur. Jika saja mereka sudah menikah, dia yang akan menjaga keponakan nakalnya itu dan membiarkan Daiva tidur dengan nyenyak.


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Mengambil tas pakaian bayi R. Aku meninggalkannya di mobil."


"Aku temani," sahut Xavi cepat.


"Kamu sakit?" tanya Daiva agak khawatir sambil menelisik keadaan Xavi yang syukurlah nampak bugar.


"Ngantar mami periksa jantung. Ngga sengaja lihat kamu. Makanya aku milih ninggalin mami demi kamu," ucap Xavi sambil memgeratkan genggaman jemari tangan Daiva. Wajah Xavi tampak sumringah.


"Kamu ngaco, terus tante sama siapa?" kekeh Daiva dengan perasaan berbunga bunga. Kepanikannya sedikit demi demi sedikit menguap.


"Ada papi," kekeh Xavi lagi sambil menatap Daiva dengan tatapan penuh cinta dan rindu.


Daiva juga balas memandang. Xavi membawanya ke arah rubiconnya yang diparkir agak tersembunyi dari balik pilar.


"Sebentar saja, ya," ucap Xavi kemudian mengecup bibir Daiva sangat dalam sebelum gadis itu memberikan ijinnya.


Tengkuk Daiva pun makin didekatkan ke wajahnya, hingga ciuman mereka pun terasa semakin dalam dan panas. Daiva pun mengalungkan kedua tangannya di leher Xavi sambil menjinjitkan kedua kakinya yang salahnya mengenakan flat shoes, bukan high heels lima belas sentinya.