
Alexander dan Rihana duduk berdua di teras. Membiarkan keluarga mereka rapat membahas tentang hubungan mereka
"Aku minta sama mama dan papa agar kita langsung nikah aja," kata Alexander membuat pipi Rihana merona dan jadi salah tingkah.
Alexander tertawa kecil. melihatnya.
"Akhirnya kita bisa sedekat ini," kata Alexander setelah tawanya reda. Dia menatap lekat Rihana.
Rihana tersenyum tipis.
"Dulu kamu sulit didekati," aku Alexander jujur.
"Masa? Aku biasa aja," tepis Rihana ngga terima.
Bukannya dulu kamu yang sombong, decihnya dalam hati.
"Biasa.gimana. Suka ngindar gitu," towel Alexander gemas pada ujung hidung Rihana.
"Iiih, Alex, apaan, sih," omel Rihana kesel, malu juga senang.
Alexander tertawa renyah. Wajahnya semakin terlihat tampan. Dulu sesekali Alexander tertawa bareng teman temannya membuat Rihana kagum dan terpesona. Seperti sekarang. Rihana seakan de ja vu.
"Besok kamu masih libur, kan?" tanya Alexander setelah puas menggoda Rihana.
"Masa libur terus. Besok udah mulai kerjalah," jawab Rihana agak kesal.
Kenapa semua orang menahannya di rumah, batinnya kesal.
"Kamu sudah sehat?" tanya Alexander lembut dengan nada khawatir. Ada rasa takut menyusup dalam dirinya.
Kasus Aiden belum selesai. Apalagi Aurora sedang dicurigai. Jika Aurora pelakunya, mungkin saja Aurora bisa melakukan apa saja pada Zira. Apalagi sebelumnya Aurora pernah menyuruh Aiden mencelakakan Zira sampai Alexander takut sekali bisa kehilangannya.
Herdin sedang mencocokkan apakah mobil yang mereka lihat pada rekaman cctv salah satu mansion yang berada di dekat sekitar mansion Om Dewan adalah mobil yang sama dengan yang ada di rekaman pembunuhan itu.
Bahkan Herdin sekarang sedang melakukan tracking di setiap rekaman cctv yang ada. Untuk mengetahui kemana arah Mobil sedan putih keluaran terbaru itu pergi.
Bahkan malam ini, setelah acaranya selesai, Alexander akan berusaha membicarakan ini pada Om Dewan. Harus secepatnya ada kejelasan. Apalagi Xavi-kembaran Aiden sudah ngga sabar mengungkapkan kematian adik kembarnya.
Kondisi belum kondusif buat Zira saat ini. Aurora yang mungkin nantinya akan terpojok, bisa melakukan hal nekat itu lagi. Dia lebih aman berada di rumah. Hanya saja Alexander belum bisa memberitahukan pada Zira agar kekasihnya ngga panik dan menjadi cemas sendiri.
Alexander akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan ini pada Om Dewan.
"Sudah, Alex," jawab Rihana menahan kesal. Bukan hanya Alexander yang bertanya tentang ini berkali kali. Oma dan Opa juga begitu. Rihana yang terbiasa mandiri merasa cukup risih mendapat perhatian yang menurutnya sangat berlebihan.
Alexander tersenyum kemudian menggenggam tangannya lembut.
"Jadi aspriku aja, ya. Kita juga akan menikah," ucap Alexander serius.
"Nggak," tolak Rihana malu dengan wajah memerah.
Aspri, kan, mengurus segala kebutuhan Alexander. Selain kerjaan, mungkin memilihkan pakaian dan underwear laki laki ini. Nggak. Nggaaak, tolaknya dalam hati semakin malu. Rihana jadi teringat drakor yang pernah ditontonnya.
"Kenapa? Kan kita juga mau menikah," goda Alexander pada wajah malu malu yang menggemaskan itu.
Rihana menutup wajahnya yang tambah panas karena perkataan Alexander. Jantungnya menari nari tanpa irama yang jelas. Dan bunga bunga bermekaran di dalam hatinya.
Alexandet tertawa melihat kelakuan Rihana.
"Kamu mikirnya terlalu jauh, Zira," ejeknya dalam tawanya yang masih berderai derai.
Rihana membuang wajahnya menjauhi dari tatapan Alexander. Dia benaran merasa malu sekarang. Tapi ngga bisa dipungkiri juga ada rasa senang yang meletup letup dalam hatinya.
Alexander pun merengkuh wajah Rihana dengan kedua telapak tangannya agar menghadap ke arahnya.
Mereka saling tatap dengan jantung yang saling berlompatan. Dan kejadian di kafe terjadi lagi. Bibir Alexander mengecup lembut bibirnya.
*
*
*
Aurora semakin ngga tenang di kamarnya. Asistennya melapor, tadi ada polisi yang melihat lihat mobil di basemen dan meminta diperlihatkan rekaman cctv agensinya.
Aurora bersyukur karena kamera cctvnya sudah rusak beberapa hari ini jadi ngga ada rekaman mobil sedan putih barunya di basemen kantornya
Tapi kedatangan polisi membuatnya semakin takut.
Polisi sudah curiga? batinnya ngga tenang.
"Ma," serunya sambil mencari mamanya.
"Ada apa, sayang?" sahut mamanya yang baru saja keluar deri kamarnya.
"Polisi.udah mulai mencari mobil putih Aurora di kantor agency," lapornya panik.
Irena terdiam. Bahaya, batinnya.
"Kita berangkat malam ini." ujar Irena ayng diangguki Aurora. Setidaknya kalo dia berada di luar negeri, dia akan lebih aman.
*
*
*
Keluarga Dewan, Keluarga Afif dan Keluarga Opa Airlangga sepakat, kalo Alexander dan Rihana akan langsung mereka nikahkan.
Opa Airlangga dan Oma Mien masih trauma akan kegagalan hubungan Dewan dan Dilara. Semuanya bisa memahami dan Alexander tentu saja sangat senang dengan hal ini.
Bulan depan mereka akan menikah. Sekarang tiap keluarga berbagj tugas untuk menyukseskan pernikahan ini.
"Selamat ya, Rihana," seru Puspa excited sambil memeluk sepupu yang pernah menjadi sahabatnya. Dia sangat bahagia mendengarnya
Kirania juga melakukan hal yang sama. Dia ikut memeluk keduanya.
Saat Ansel ingin ikut memeluk Ketiganya, Emra segera menariknya menjauh.
"Kamu mau dihajat Alexander. Lihat. Dia memelototimu," kata Emra memperingatkan sepupunya yang terkenal usil dan menyebalkan.
Ansel hanya terkekeh. Dia hanya pura pura tadi. Tau kalo pasti ada yang akan menghentikannya.
"Dia cemburu, ya," ejeknya tergelak.
"Dia bisa membunuhmu," tandas Emra membuat Ansel makin tergelak.
Emir hanya menggelengkan kepalanya saja menlihat kelakuan sepupu yang suka bikin kesal.
"Aku lagi mikir pelangkah yang akan diberikan Alex, nih," kata Kalandra menengahi ketiganya.
"Proyek dengan nilai puluhan milyar?" sergah Emir yang disambut kekehan Kalandra.
"Boleh juga. Aku dukung," timpal Ansel.
"Kita bagi sama rata," sambut Emra setuju
Sementara Nidya jengah dengan obrolan ketiganya, kemudian menghampiri Alexander yang berada ngga jauh dari tiga perempuan heboh itu.
"Alex, selamat," ucap Nidya sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih," balas Alexander menyambut tangan Nidya. Dia segera menariknya kala merasa Nidya meremasnya.
"Sorry, tubuhku selalu reflek menyangkut dirimu," jujur Nidya ngga enak hati. Tadi dia memang spontan. Bahkan sekarang dia ingin dipeluk Alexander untuk menunpahkan tangisnya. Untuk yang terakhir. Dia akan berusaha move on. Tapi Nidya takut Alexander akan mendorongnya.
"Hemm...." gumam Alexander ngga nyaman. Dia pun melirik Rihana yang kini sudah melepaskan pelukan kedua sepupunya.
Rihana seakan mengerti dan mulai menghampiri Alexander. Terhadap Aurora mungkin dia bisa sedikit bersikap keras karena adik tirinya itu selalu jutek padanya. Tapi Nidya beda. Sepupunya selalu bersikap baik padanya. Jadi dia bingung harus seperti apa menghadapi sikap abu abu Nidya.
"Selamat, ya, Rihana," ucap Nidya sambil memeluknya. Dia berusaha move on dan ngga ingin membuat Rihana salah paham dengannya.
"Terima kasih, Kak," ucap Rihana lembut.
Setelah pelukan terurai, Alexander pun merengkuh bahu Rihana. Seakan menegaskan kalo Rihanalah pilihannya.
Nidya kembali tertampar melihatnya. Puspa dan Kirania jadi kasian melihat kakak sepupunya yang tampak jelas patah hatinya.
"Kita bisa minta pelangkah apa pun pada Rihana,' tawa Puspa agak dipaksa agar kakak sepupunya bisa melupakan kesedihannya.
Apa pun? batin Nidya seakan mencerna ulang.
"Jalan jalan aja, ya. Ke Maldives. Gimana Rihama?" seru Kirania memberikan usul.
Rihana menatap Alexander yang menganggukkan kepalanya.
"Oke, kalian akan mendapatkannya," jawab Rihana dengan senyum manisnya.
Alexander mengusap rambut panjang Rihana penuh sayang.