
Daiva rutin menjenguk sepupunya di lapas. Dia selalu membawakan susu hamil dan makaanan bergizi tinggi untuk calon ponakannya.
"Terima kasih," ucap Aurora saat meneriam pemberian Daiva. Biarpun dia ngga menyukai kehamilannya, tapi dia akan menjaga kehamilannya dengan baik.
Dia juga ngga ingin bayinya lahir cacat dan akan menyusahkan Daiva nantinya. Untuk kali ini saja dia akan bertindak benar.
"Zerina sudah menikah dengan Xavi. Itu yang mamaku dengar," kata Aurora memberitau.
Setidaknya dia tau kalo Zerina juga hamil, sama seperti dirinya. Hamil anak Aiden.
"Ya," ucap.Daiva sambil menganggukkan kepalanya.
Aurora ngga tau perasaan Daiva dengan Xavi. Malah sama sekali ngga da pikiran kalo Daiva menyukai kembaran Aiden. Karena setau Aurora, Daiva bukan gadis yang gampang terpesona dengan ketampanan laki laki.
"Dia sepertinya laki laki yang baik, mau bertanggung jawaɓ atas perbuatan adik kembarnya," komentar Aurora lagi.
"Ya." Lagi lagi Daiva hanya menjawab dengan singkatnya. Menyimpan sendiri perasaan sakitnya.
Beberapa malam ini dia sudah menghabiskannya dengan tangis. Sedikitnya bebannya sudah berkurang.
Oma Mora juga sudah memberitaunya. Mungkin ini yang terbaik. Mereka berdua pun ngga pernah saling menghubungi.
Hanya saja Daiva sering melihat akun media laki laki itu. Tapi sayangnya jarang sekali update. Tapi ada beberapa fotonya yang dulu dulu, yang selalu Daiva klik untuk menuntaskan rindunya. Daiva merindukan laki laki ini.
Daiva merasa dirinya bodoh sekali. Kenapa dia masih merindukan suami orang.
Tapi perasaan itu sudah telanjur mengakar dalam hatinya.
Daiva ngga merasa mengkhianati Zerina, asalkan dia hanya merindu sendiri, rasanya ngga apa apa.
*
*
*
"Apa yang kamu bawa?" tanya Rihana heran.
"Bola basket?" Pupil matamya membesar.
Untuk apa dia bawa bawa bola mereka basket.
"Aku nemu ring basket," senyum Alexander melebar.
"Kamu bawa bola juga?" Rihana ngga abis pikir. Seingatnya saat berangkat suaminya ngga membawa bola itu.q
"Titip sama penjaga vila, agar dibelikan," senyum Alexander sudah berubah seringai mesum, melihat tubuh Rihana hanya berbelutkan kimono. Istrinya baru saja keluar dari kamar mandi saat melihatnya membuka plastik yang berisi bola basket.
Melihat tatapan penuh maksud itu membuat Rihana sadar apa maunya Alexander.
"Ngga Lex. Tiga hari kamu udah kurung aku. Sekarang aku mau jalan jalan keluar. Kalo engga aku akan pulang," ketus Rihana mengancam membuat kekehan renyah keluar dari mulut Alexander.
Tadi malam dia sudah berjanji akan mengajak Rihana jalan jalan ke luar, menikmati pantai. Karena istrinya sudah mengancamnya akan pulang kalo masih juga ngga membiarkannya menghirup udara segar di luar.
Terpaksa Alexander mengikuti kemauan Rihana. Karena Alexander ngga ingin mempercepat honeymoon mereka.
Dia sudah minta ijin ke papanya, kalo bisa dua sampai tiga bulan dia diliburkan dari urusan pekerjaan.
Untungnya kedua kakak laki lakinya ngga rewel dan dengan sangat senang mewakilkan pekerjaannya pada papa mereka.
Tentunya dengan syarat, harus kerja keras sampai keponakan mereka hadir. Jadi kedua kakaknya ngga ditagih orang tua mereka untuk cepat cepat menikah karena mereka sudah dapat cucu dari dirinya.
Baik Daniel maupun Fathan belum ada gambaran buat menikah. Terutama Daniel, dia masih belum menemukan kandidat yang pas buat jadi istrinya.
Jadi keduanya akan melakukan apa saja asalkan Alexander berhasil menghadirkan cucu buat orang tua mereka. Dan setelah lahir, mami dan papi mereka akan sibuk mengurus cucu hingga melupakan tuntutan menikah pada keduanya.
"Iya, sayang," sahut Alexander dan dengan gemas mencubit pipi istrinya.
"Sakit, Alex," gerutu Rihana pura pura kesal dengan jantung berdebar keras. Bohong kalo dia ngga menikmati hari hari mereka.
Apalagi Alexander selalu memperlakukannya sebagai ratu. Seperti sekarang, tanpa lelah Alexander kembali menggendongnya.
"Aku masih bisa jalan," protesnya saat tubuhnya diangkat ala brydal.
"Simpan tenaga kamu buat maen basket sama aku," bisik Alexander di dekat telinganya membuat kupingnya meremang.
Rihana menyembunyikan rona merah wajahnya di leher laki laki yang sangat dicintainya sejak SMA.
Bahkan dengan nakal di menciumi telinga Rihana berkali kali menggodanya hingga membuat helaan nafas istrinya ngga teratur.
"Alex....." bisik Rihana semakin menenggelamkan kepalanya di leher laki laki itu.
Laki laki ini selalu saja bisa membuatnya melayang.
"Hemm... Zira, sebentar saja ya... Aku janji ngga akan lama," pinta Alexander dengan mata sayu dan berkabut.
"Emmffhh..... ya..." jawab Rihana dalam gelisahnya. Nafas panas Alex sudah membangkitkan g@ir@hnya juga.
Tanpa membuang waktu, Alexander pun mendudukkan dirinya di sofa dan mulai menciumi Rihana yang sudah berada di atas pangkuannya.
Tali kimono Rihana pun sudah terlepas dan dengan mudah Alexander melepaskan kimononya tanpa meninggalkan kecup@n kecup@n panasnya.
*
*
*
Keduanya saat ini sudah berada di lapangan basket yang masih sepi. Alexander menepati janjinya.
Rihana hanya menonton laki laki itu yang bermain basket sendirian. Sesekali di bertepuk tangan melihat bola basket yang melewati ringnya
Alexander melakukannya dengan berbagai gaya basket yang menurut Rihana sangat keren dan seksi. Walau hanya sendirian, Alexander tetap penuh semangat dan ngga kenal lelah.
Dia mendribel, melakukan shooting jarak dekat dan jauh, kemudian berlarian mengejar bola.
Keringat membasahi rambut, kening dan punggung bajunya. Jantung Rihana berdebaran melihat betapa tampannya Alexander.
Pantas saja tiap laki laki ini tiap latihan basket atau sedang bertanding, lapangan pasti penuh dengan pemujanya. Rihana saat itu juga ikut menonton, tapi dari sudut yang cukup jauh.
Seperti dulu, matanya selalu bercahaya saat melihat Alexander. Dia mencintai laki laki itu dari dulu hingga sekarang. Ngga pernah berkurang, malah terus bertambah setiap harinya.
Rihana ngga bisa ikut bermain, karena bagian bawahnya sedikit terasa nyeri buat berjalan. Apalagi jika dia melompat. Bisa lepas rasanya engsel engsel di kedua kakinya.
Tadi saja Alexander memaksanya naik ke punggungnya dari vila hingga ke lapangan ini.
Rihana heran, tenaga Alexander sangat kuat. Seakan ngga ada capeknya. Malah sepertinya bertambah kuat saja. Padahal dia saja selalu merasa lemas dan ngga bertenaga setelah mereke menuntaskan pertarungan suami istri itu.
"Aku keren, ya," ucap Alexander menepi dengan bola basketnya, karena sudah ada beberapa orang yang masuk ke lapangan dan mulai bamyak yang menonton dirinya.
"Ya."
Rihana tersenyum manis sambil mengelap peluh di kening dan leher suaminya dengan handuk kecil yang dibawanya. Sangat lembut dia melakukannya.
Bahkan juga lengannya dan tengkuknya sambil laki laki itu memutar bola basket di ujung telunjuknya.
"Banyak yang lihatin kamu loh," canda Rihana yang sadar kini mereka jadi pusat perhatian.
Dimana mana suaminya selalu di puja kaum hawa. Sekarang aja banyak kaun hawa yang menatapnya dengan tatapan mendamba.
"Sudah biasa," kilah Alexander ringan kemudian mengambil botol minuman yang diulurkan istrinya dan meneguknya sampai abis.
"Sombong," senyum Rihana meledek. Dia tau itu benar. Alexander seperti magnet di mana pun dia berada.
"Naik ke punggungku," tawar Alexander lagi sambil memberikan botol minuman yang sudah kosong pada Rihana. Juga bola basketnya.
"Tapi bajuku basah sama keringat," sambung Alexander lagi sambil berjongkok.
"Ngga apa," balas Rihana sambil memeluk tubuh Alexander erat.
Dari dulu dia ingin melakukannya. Ingin tau gimana rasanya memeluk tubuh Alexander setelah selesai bermain basket. Sekaranglah baru bisa dia realisasikan. Ternyata sangat nyaman.
"Baju kamu jadi basah," ucap Alexander sambil berdiri.
"Ngga apa," balas Rihana lembut. Malah dia sengaja meletakkan kepalanya di dekat kepala Alexander. Dia suka bau matahari dari rambut dan tubuh laki laki ini. Dia suka apa pun dari Alexander.
Alexander ngga berkata apa apa lagi. Dia tersenyum lebar dengan perasaan bahagia yang terpancar penuh di wajahnya.
Kedua tangan Alexander menahan paha Rihana di pinggangnya seakan mengatakan pada istrimya, dia akan selalu menggenggamnya selamanya.