NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kenyataan yang sangat menyedihkan



"Kamu berhasil?" Wajah Aurora tambah bahagia saat menelpon Aiden.


"Tentu honey."


"Oke. Sediakan fasilitas hotel yang mewah untukku. Kamu tau kelasku, kan?"


"As you wish, darling."


Aurora tersenyum sangat lebar. Hatinya bahagia. Apa lagi tadi di lorong dia mendengar ada pegawai kontrak yang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan luka parah.


Rasakan. Makanya jangan berani beraninya mendekati milikku, batinnya menyumpah puas.


*


*


*


Opa Airlangga langsung memeluk Dewan ketika sudah kembali dari ruang transfusi darah.


"Terimakasih. Terimakasih," kata Opa Airlangga berulang kali. Ngga disangkanya Dewan mau menolong, padahal baru baru ini kontrak kerja perusahaan di antara mereka sudah diputus sepihak untuk ngga dilanjutkan lagi olehnya.


Bahkan sahabatnya yang merupakan papa Dewan sudah mengomelinya berjam jam.


"Nanti setelah Rihana dan Puspa kembali ke perusaahaan Om, kita lanjutkan kontrak kerja kita lagi," kata Opa Airlangga membuat Dewan terkekeh.


"Katakan itu pada papamu," kekeh Opa Airlangga.


Cakra, Akbar dan Wingky yang mendengar ikut terkekeh pelan.


Oma Mien pun sudah mulai bisa tersenyum, walau sangat tipis. Kekhawatiran masih tergambar jelas di wajahnya.


"Teman kamu mana?" tanya Dewan pada Puspa karena ngga melihat keberadaan Winta.


"Balik ke perusahaan, Pak. Tadi diantar supir Opa," jelas Puspa


"Oooh.... Padahal saga juga mau balik."


"Biar Cakra yang mengantar. Kamu, kan, abis ambil darah," larang Opa Airlangga.


"Ngga apa. Om. Saya masih bisa nyetir," senyum Dewan.


"Sudah, jangan menolak. Biarkan aku yang menyetir," tukas Cakra sambil menepuk pundak Dewan.


"Baiklah," senyum Dewan lagi


Keduanya pun berpamitan pada yang lain. Oma Mien pun memeluk erat Dewan.


"Terimakasih. Salam buat Omamu."


"Sama sama. Ya, tante."


Berdua Cakra, Dewan melangkahkan kaki meninggalkan ruang operasi. Awalnya dia sempat terdiam sebentar.


"Nanti akan aku kabari kalo operasi sudah selesai," kata Akbar yang mendapat anggukan Dewan.


Hanya Dewan merasa berat untuk pergi. Tapi meetingnya ngga bisa dia tinggal.


Dewan mengirim pesan pada papanya tentang keadaan cucu Om Airlangga.


"Semoga papamu ngga marah marah lagi dengan papaku," kekeh Cakra pelan.


"Harusnya. Tapi papaku memang hobi mengomel," balas Dewan juga dengan kekehan ringannya.


Keduanya pun sangat paham dengan watak papa mereka masing masing.


"Tadi putri Wingky yang menyetir rubiconku. Awalnya aku kaget. Tapi wajarlah, ada darah Wingky di dalamnya," kekeh Dewan sambil menyerahkan kunci mobil.


"Anak itu memang duplikat Wingky. Hanya gendernya saja yang membuatnya tampak beda," sambung Cakra tetep setia dengan kekehannya.


Cakra pun menyetir rubicon Dewan dengan diikuti pengawalnya di belakangnya.


Ngga lama kemudian mereka sampai di basemen perusahaan.


"Oke, aku harus segera kembali," pamit Cakra sambil menyerahkan kunci rubicon Dewan.


"Kabari aku, ya," balas Dewan sambil menatap Cakra yang akan memasuki mobilnya.


"Oke."


Dewan menatap mobil Cakra sampai keluar dari basemen.


Dia pun menelpon Gusti yang tadi dia perintahkan untuk mengecek rekaman kamera CCTV.


"Apa yang kamu temukan?" tanyanya langsung begitu Gusti mengangkat telponnya.


"Maaf, Pak. Kamera cctv yang ada di sana rusak. Sepertinya seseorang sengaja melakukannya," lapor Gusti agak panik.


Dewan terdiam. Dia merasa kejadian Rihana disengaja. Ada orang yang ngga menyukainya dan berniat mencelakakannya.


"Ada petunuk lain?"


"Kami belum bisa menemukan pelakunya. Maaf, Pak."


Dewan menghela nafas.


Siapa yang merasa terancam dengan kehadiran gadis itu.


Kaki Dewan melangkah keluar dari pintu Lift. Yang anehnya dia menuju lantai tempat ruangan Rihana bekerja.


Begitu memasukinya, semua pegawai langsung berdiri dan menunduk hormat.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dewan pada Winta yang baru keluar dari kubikel Rihana.


"Saya akan membawa tas tas mereka ke rumah sakit, Pak," kata Winta agak terkejut melihat bos besarnya sudah berada di dekat kubikel Rihana.


"Oooh." Tatap matanya jatuh pada pigura kecil yang nampak ngga begitu jelas gambarnya.


"Itu foto Rihana bersama almarhum mamanya waktu dia masih kecil, Pak," jelas Winta saat tau kemana arah fokus tatapan Pak Dewan.


"Bisa kamu ambilkan. Saya mau lihat," titahnya dengan jantung yang berdebar keras.


Teringat dulu juga ingin lihat tapi dia merasa ngga enak dengan privasi pegawai kontraknya. Tapi sekarang setelah tau kalo Rihana cucu Om Airlangga, rasa penasarannya muncul lagi akan wajah Dilara, Mama Rihana.


Dewan sangat ingin tau bagaimana wajah Dilara, adik Cakra yang menghilang karena dihamili laki laki yang ngga bertanggung jawab.


Agak ragu Winta menyerahkan pigura kecil kesayangan Rihana pada Bos besarnya.


Pigura itu hampir jatuh ke lantai, tapi untunglah Winta cepat menangkapnya.


"Maaf," kata Dewan dengan pikiran mendadak kosong. Dia pun berbalik pergi meninggalkan ruangan pegawainya dengan langkah seperti melayang.


Dewan ngga sabar menuju ke ruangannya sambil menelpon papanya.


"Pa, bisa kirimkan padaku foto keluarga besar Om Airlangga," pintanya dengan suara bergetar.


"Yang ada Dilaranya? Oke. Papa dan mamamu mau ke rumah sakit. Syukurlah anaknya Dilara sudah ketemu. Walau disayangkan Dilara sudah meninggal. Gadis yang malang," kicau papanya panjang lebar. Ada kesedihan yang amat sangat terdengar dalam ucapannya.


Dewan ngga menjawab. Perasaannya kacau balau.


Ngga lama kemudian ada notifikasi pesan.


Dewan memejamkan matanya. Papanya mengirimkannya tiga foto. Foto keluarga Om Airlangga, foto Dilara remaja da terakhir foto yang dilihat Dewan di kubikel Rihana.


Air matamya menetes begitu saja.


Putriku, batinnya sakit yang ngga terperi.


*


*


*


Dewan membuka matanya perlahan. Ada bau obat yang menyengat pernafasannya.


"Syukurlah kamu sudah sadar," seru mamanya sambil menghapus air matanya.


Aku kenapa? Kenapa aku di sini? Aku harus bertemu gadis itu.


Begitu banyak pikiran berkecamuk di dalam otaknya. Tanpa sadar dia bermaksud bangkit dari tidurnya. Tapi terasa sakit luar biasa.


"Tenanglah. Kamu baru saja bangun dari koma, Dewan," cegah kakaknya-Dewina.


Aku koma? batinnya tersentak


Sudah berapa lama? Dewan langsung panik.


"Berbaringlah, papamu sedang memanggil dokter," kata mamanya juga melarang.


"Aku.... aku harus pergi sekarang," bantahnya keras kepala. Ngga peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan.


*Dia sedang menungguku!


"Aaarrrgghhhh*," serunya keras saat rasa sakit itu mendera tubuhnya


"Dewan! Kamu apa apaan, hah! Jangan keras kepala," seru Dewina marah sambil menahan tubuhnya yang sedang berusaha bangkit.


"Aku harus pergi sekarang!" serunya marah karena kini mamanya juga menahan tubuhnya. Selang infusnya sudah mengalirkan darah akibat rontaannya.


"Dewan, tenanglah. Kita akan pergi kemana pun kamu mau. Tapi sekarang kamu harus tenang dulu," mamanya membujuk dengan air mata yang sudah mengalir di pipunya. Bingung dan panik melihat keadaan putranya.


Ngga lama kemudian terdengar langkah langkah mendekat.


"Aku harus pergj sekarang, Ma. Sekarang," katanya memohon.


Kenapa tubuhnya ngga mau berkomproni dengan keinginan otaknya.


"Iya. Sayang. Tapi nanti, ngga bisa sekarang," bujuk mamanya lagi.


Dewan menatap dokter dan perawat yang mendekat. Dia merasa aneh karena melihat raut wajah mereka yang bule.


Tapi dia ngga bisa berpikir lama karena seorang suster menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya yang sudah dibenarkan kembali.


Dewan merasa ngantuk. Dia melawan. Dia ngga boleh tidur. Gadis itu sedang menunggunya. Juga anak mereka yang masih dalan kandungannya. Dia harus menemui mereka. Tapi rasa kantuk keparat ini sangat susah dia lawan.


"Aku harus pergi," desisnya lemah di akhiri dengan matanya yang terpejam.