
"Makan yang banyak," ucap Alexander sambil menyodorkan sendok yang berisi potongan ayam dan nasi ke depan wajah Rihana.
"Hemm..." sambut Rihana yang menerima suapan itu tanpa protes. Alexander tersenyum senamg melihatnya.
Hari hari yang mereka lalui selama ini sudah cukup sulit. Sekarang semua masalah sudah hilang. Alexander akan punya banyak waktu untuk memanjakan Zira.
Mereka akan menikmati persiapan pernikahan mereka yang akan dilakukan beberapa hari ini.
Karena Alexander terus saja menyuapi dirinya, Rihana pun berinisiatif menyuapi Alexandet
Alexander tersenyum dengan netra menatap Rihana lekat saat menerima suapan itu.
Mereka seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta. Beberapa pengunjung melihatnya sambil tersenyum senyum.
Alexander cuek saja, dia sudah biasa dalam mode menjadi top fokus dimana saja dia berada. Hanya Rihana yang tampak semakin sungkan, bahkan sendok.yang dipegangnya hampir terlepas.
Alexander menahannnya.
"Tenanglah. Jangan grogi. Mereka hanya iri dengan kita," goda Alexander dengan kedipan nakal sebelah matanya.
"Ck," decak Rihana kesal. Semakin heran dengan sikap Alexander yang biasa cool kini seperti cosplay sebagai Cassanova yang punya banyak stok rayuan yang tiada habisnya.
Alexander tertawa kecil. Baru kali ini dia merasa lega. Dengan pengakuannya kini semua orang ngga akan menghujat hubungan mereka lagi.
Selesai makan, Alexander membawa Rihana pergi lagi. Dan kali ini ke hotel bintang lima tempat mereka akan menikah.
Rihana mengagumi keindahan dan kemewahan dekorasi yang baru setengah jadi yang dikerjakan tim WO. Cukup banyak terlihat para pekerja dengan kesibukan mereka masing masing.
Rihana sudah bisa membayangkan betapa megah pernikahannya nanti.
"Halo sayang," sapa Mama Alexander hangat saat melihat kedatangan Alexander dan Rihana. Beliau sudah berada di hotel itu beberapa waktu yang lalu bersama Mama Puspa.
"Tante," balas Rihana terharu mendapat pelukan hangat dari Mama Alexander.
Kemudian Rihana balas memeluk Mama Puspa. Begitu juga Alexander yang menyalim beliau.
"Ayo, kita lihat kamar pengantinnya," ucap Mama Alexander sambil mengedipkan sebelah matanya pada putranya yang tergelak. Begitu juga Mama Puspa.
Rihana sempat bengong.
Kamar pengantin?
Wajahnya langsung terasa panas. Apalagi melihat Alexander tertawa bahagia. Sungguh Rihana ngga bisa marah melihatnya. Hatinya lumer. Alexander semakin tampan dan mempesona jika sedang tertawa begitu.
Mama Alexander merasa hatinya terusik dan rasa bersalah memenuhi rongga dadanya.
Aurora ngga bisa membuat putranya tertawa selepas ini. Seharusnya dia sadar, Rihana yang bisa menghapus stigma kaku, dingin dan datar yang melekat pada diri putranya.
Rasanya sangat lapang karena sudah memberikan hatinya kesempatan untuk menerima Rihana. Saat susah dulu baginya menggeser Aurora sebagai calon mantu idamannya. Tapi sekarang Rihanalah calon mantu yang dia dan Alexander inginkan.
Kamarnya sangat luas dan mewah. Bahkan Mama Alexander dan Mama Puspa menggiring keduanya ke tempat tidur.
"Nanti ranjang kalian akan bertabur kelopak mawar merah," ucap Mama Puspa bersemangat. Di kepalanya sudah penuh dengan banyaknya rencana agar malam pertama ponakannya sangat romantis.dan ngga bisa terlupakan. Seperti malam pertamanya dulu, tawanya dalam hati.
"Aduuuh... Mama udah bisa membayangkannya," timpal Mama Alexander ngga kalah semangatnya.
Wajah Rihana kembali terasa panas, bahkan sampai ke lehernya. Apalagi saat melirik Alexander. Laki laki yang sudah cosplay jadi cassanova mematikan itu menatapnya nakal, membuat Rihana jadi meremang.
"Langsung buat anak, ya sayang," kelakar Mama Alexander yang ditimpali tawa seru Mama Puspa.
"Siap, Ma," tegas Alexander sambil merangkul bahu Rihana yang hanya bisa mematung saja melihat kegembiraan ketiganya.
Rihana juga bahagia. Tapi dia belum berpikir jauh ke sana.
Malam pertama?
Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding.
Apa Alex akan melakukannya sampai berronde ronde seperti di novel novel romantis yang selalu dibacanya?
Apa dia bisa? Karena kata pemeran perempuan di novel novel itu akan terasa sakit di awal tapi nikmat di akhir.
Aaarrhh.... Apa yang aku pikirkan, batin Rihana gemas dengan cuitan alam bawah sadarnya.
"Ranjang ini juga kuat, dia ngga akan bergoyang jika Alexander bermain sedikit kasar," cetus Mama Puspa kembali tergelak.
Akexander dapat merasakan tubuh Zira kaku dalam pelukannya. Detakan jantung Zira juga keras dan kencang memukul dadanya.
"Tenanglah. Aku akan bernain sangat lembut," bisiknya seakan tau yang Zira pikirkan.
Bukannya malah tenang, tapi Rihana makin takut dan cemas mendengarnya. Apalagi hembusan panas nafas Alexander menyapu lehernya. Membuatnya meremang dan ada rasa geli dan hasrat aneh yang muncul tiba tiba dari dalam tubuhnya.
"Coba lihat lingerie ini, Rihana sayang. Alexander yang memilihnya sampai tiga lusin," kata Mama Akexander beberapa waktu kemudian. Sisa tawa masih tergambar di wajahnya.
Rihana tersadar dalam lamunannya.
"Wooww.... Ini maksudnya Alex akan merobek lingerie lingerie yang dikenakan ponakanku?" gelak Mama Puspa menggoda. Kembali tawa Mama Alexander pecah.
Rihana reflek menatap Akexander dengan tatapan cenasnya.
Apa sepanjang malam itu dia akan menghabiskan stok lingerie yang ada di lemari?
Bukannya tadi dia sudah berjanji?
Alexander menggaruk kepalanya yang ngga gatal mendengar tebakan Mama Puspa. Dia akan bernain sangat lembut seperti janjinya. Hanya saja dia sudah mengantisipasinya jika nantinya akan khilaf.
Alexander pun jadi salah tingkah mendapat tatapan menohok dari Rihana.
Dia takut Rihana akan mengira dia adalah laki laki bernafsu besar.
Itu hanya antisipasi, kilahnya lagi dalam hati. Membela dirinya
Tapi saat memilih lingerie lingerie itu, Alexander memang sudah membayangkan betapa seksinya saat Zira mengenakannya. Dan dia pun sempat menegang karenanya.
"Apa sepanjang malam keponakanku hanya akan memakai lingerie saja," tambah Mama Puspa di sela gelaknya membuat Alexander semakin salah tingkah.
"Sepertinya begitu," lugas dan ringan Mama Alexander memberikan jawaban. Tawa kedua wanita paruh baya itu pun semakin pecah.
Alexander dapat merasakan gemetarnya tubuh Riihana dalam pelukannya.
*
*
*
Sepanjang perjalanan pulang keduanya ngga terlibat obrolan apa pun. Benak dan pikiran mereka penuh dengan kejadian di kamar hotel. Dengan versi yang berbeda.
Rihana dengan ketakutannya dan Alexander dengan berbagai klarifikasinya yang akan dia utarakan pada kekasihnya itu.
Mobil pun berhenti di basemen. Rihana dengan cepat melepas seatbeltnya. Dia ingin segera pergi menjauh dari Alexander untuk menenangkan debaran ngga sehat di jantungnya.
Memikirkan malam pertama yang akan mereka lalui nanti dengan tiga puluh lebih lingerie membuat Rihana ngga ingin dekat dekat dulu dengan Alexander. Dia baru tau kalo Alexander memiliki fantasi yang sangat tinggi untuk hal itu.
Tapi Alexander cepat meraih tangannya sebelum dia berhasil membuka pintu mobil.
"Zira, kamu marah?" tanya Alexander gusar dan takut melihat reaksi memghindar Rihana.
"Em... Aa ku a ada meeting," bohong Rihana tanpa mau melihat wajah Alexander. Dia menyalahkan suara gagapnya yang keluar
Tapi Alexander ngga mau melepaskannya sebelum Rihana terlalu salah paham dengannya.
"A aku ngga tau mana yang kamu suka. Ma makanya aku memilih sa sampai tiga puluh enam," jelas Alexander ngga kalah tergagapnya Jelas dia berbohong. Dia sangat teliti menilihnya waktu itu. Sambil membayangkan Zira-nya tentu saja.
Rihana menoleh. Netra keduanya beradu.
Benarkah?
Rasanya Rihana sedikit mulai tenang.
Karena kali ini situasi cukup aman, tanpa ragu Alexander menarik Rihana hingga terduduk di atas pahanya.
"A Alex," gugup Rihana terkejut, ngga nyangka Alexander akan membuatnya jatuh dalam pangkuannya.
"Sebentar saja Zira."
Tanpa menunggu jawaban Rihana, Alexander mencecap bibir yang setengah terbuka itu. Menciumnya cukup lama untuk melepaskan hasratnya yang gagal waktu di lift tadi.