NOT Second Lead

NOT Second Lead
Perkataan jujur Alexander



"Om, bisa bicara sebentar," ucap Alexander saat melihat Dewan sendirian di depan kamar Mama Rihana.


Dewan yang awalnya ingin ke dapur, jadi menahan langkahnya saat melihat pintu salah satu kamar yang terbuka lebar. Matanya terpaku pada sebuah lukisan sosok Dilara bersama Rihana kecil dalam ukuran yang sangat besar. Kira kira satu meteran.


Jantung Dewan seperti diremas dan ditarik sangat kuat Matanya memanas. Lukisan yang sama seperti foto yang dia lihat di kubikel Rihana.


Maaf, batinnya nyeri. Teringat lagi kata kata Rihana kalo dia dan mamanya melihatnya sudah bahagia bersama keluarga barunya. Sayangnya Dewan ngga tau kapan itu terjadi.


"Om," panggil Alexander lagi. Kali ini lebih pelan karena tau ke arah mana netra itu memandang. Dia kini juga sudah berdiri di samping Om Dewan


"Eh, kamu," senyum Dewan sambil mengusap matanya yang sudah basah.


Alexander tersenyum mengerti. Hatinya pun sedih melihat foto itu. Pasti Rihana sangat kehilamgan sekali. Teringat lagi akan kelakuan Rihana yang selalu mengobrol lama di makam mamanya


"Dulu waktu SMA, saya beberapa kali menguntit Rihana, yang seminggu dua kali pasti ke makam mamanya," cerita Alexander.


"Ohya?" Dewan menatap Alexamder penuh minat


"Rihana gadis yang periang. Selalu tersenyum dan pintar. Tapi dia ngga banyak bicara. Hanya di makam mamanya dia bercerita sangat lama."


Hati Dewan auto sakit dan miris. Pasti putrinya merasa sangat kesepian saat ditinggal oleh mamanya. Dan dia sebagai papanya juga ngga diketahui rimbanya.


"Kamu sudah lama menyukai Rihana? Bahkan jadi penguntit," senyum Dewan yang juga ditanggapi dengan senyum oleh Alexander.


"Saya suka dia sejak lama. Dia pintar dan ngga pelit berbagi. Juga sangat cantik," bibir Alexander tak henti hentinya tersenyum saat bercerita. Dia sudah jadi bucin sejak lama.


"iya. Dia memang sangat cantik dan lembut seperti mamanya. Wajahnya sangat mirip dengan kakak Om, Dewina."


"Tante Dewina. Ya... memang mirip, ya, Om," tukas Alexander sambil membayangkan walau ngga begitu jelas sosok tante Dewina. Karena sudah lama ngga bertemu.


"Om merasa sangat berdosa dengan keduanya," jujur Dewan. Alexander hanya menganggukkan kepalanya.


Hening.


"Ada apa kamu mencari Om?" tanya Dewan setelah cukup lama mereka terdiam.


"Kalo boleh, saya mau lihat rekaman cctv mansion Om, beberapa hari yang lalu," ucap Alexander terus terang.


"Untuk apa?" tanya Dewan mulai curiga.


Alexander terdiam. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.


"Polisi sedang mencari pemilik mobil sedan putih yang ada di video pembunuhan Aiden, Om."


"Lantas?" Dewan semakin tertarik karena ini menyangkut pembunuhan anak sahabatnya.


"Salah satu pembeli mobil itu Aurora, Om. Sehari sebelum hari pembunuhan Aiden."


**DEG**


DEG


DEG


"Kamu jangan ngomong sembarangan, Alex," geramnya.


"Kami sudah menyusuri rekaman cctv sepanjang mansion di rumah Om. Mobil itu terlihat keluar dari arah sana saat kejadian dalam selisih waktu yang ngga jauh beda. Maaf, Om."


Tubuh Dewan bergetar. Dia mencoba memahami kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Alexander.


"Saya hanya ingin memastikan kalo mobil itu ngga keluar dari rumah Om," sambung Alexander lagi. Tetap tenang.


Dewan semakin kesal mendengarnya. Sebelum sempat mendamprat Alexander, ponsel di saku celananya bergetar.


Dia pun mengangkatnya dengan tatapan marahnya pada Alexander. Beliau ngga terima putri kesayangannya dituduh sebagai pembunuh Aiden.


"Kantor polisi?" suara Om Dewan terdengar kaget


"....................................."


"Saya ke sana," ucap Dewan dengan jantung berdebar ngga menentu. Tatapan marahnya pada Alexander mengendur.


"Kamu bisa memeriksanya. Om harus ke kantor polisi sekarang," ucapnya buru buru.


"Ada apa, Om?" Alexander curiga melihat wajah panik Om Dewan.


"Aurora ditahan imigrasi. Dia ingin pergi ke luar negeri sama mamanya. Tapi mengapa mereka ngga pamit sama Om," gusarnya sambil melangkah cepat. Hatinya mulai menyalahkan istrinya yang berani pergi membawa Aurora tanpa sepengetahuannya.


Alexander terdiam.


Dewan menghentikan langkahnya saat melihat Alexander ngga mengikutinya


"Tolong katakan pada semua orang, Om pulang duluan. Tapi hal ini tolong kamu rahasiakan, ya," pintanya agak memohon.


Alexander menganggukkan kepalanya.


"Ya, Om."


"Tolong antar papa dan mama Om pulang, ya, Lex. Sekalian kamu memeriksa rekaman cctv di mansion, Om."


"Iya, Om. Om hati hati," sahut Alexander yang hanya diangguki Dewan dan melanjutkan langkahnya lagi dengan banyak pikiran yang berserabut di dalam kepalanya.


Dalam hati mulai bertanya tanya, apa.yang dikatakan Alexander benar? Kalo benar bagaimana dia harus mempertanggungjawabkannya pada keluarga sahabatnya-Papa Aiden.


Dewan terkejut saat akan membuka pintu mobil, Alexander ternyata menyusulnya dan kini sudah berada di sampingnya.


"Biar aku yang supiri, Om," ucapnya sambil mengambil kunci mobil di tangan Om Dewan. Alexander teringat kalo.dulu Om Dewan pernah kecelakaaan karena buru buru dan panik saat akan menemui Tante Dilara.


"Terima kasih, Alex," ucapnya dengan perasaan ngga menentu.


Sambil menghidupkan mobil, Alexander mengirim pesan suara pada papanya agar mengantar opa dan oma pulang. Karena dia dan papa Rihana harus pergi mengurus urusan penting.