NOT Second Lead

NOT Second Lead
DOR part 2



BRUGH


BRUGH


"Aaahhh!"


"Aaahhh!"


"Kalian ngga apa apa?!" tanya Kalandra setelah beberapa saat mobil mereka berhenti bergucang dan menabrak pohon di sisi bagian depan. tepatmya pada kap mobil.


Tangannya kini sibuk mengisi peluru peluru pada dua pistol yang mungkin akan dia gunakan.


"Kak," seru Rihana bergetar. Dia takut terjadi sesuatu dengan kakak sepupunya.


"Tenanglah," sahut Kalandra sambil menatap ke arah spion luar.


Dia yakin musuh akan lebih dari empat orang. Jika semuanya bersenjata, dan pertolongan datang terlambat, mereka bisa habis. Karena peluru yang ada dalam dua pistolnya ngga akan cukup untuk menahan orang orang itu.


Tapi Kalandra ngga akan menunjukkan wajah jerih. Dia akan mencoba sekuat tenaganya.


"Oma, oma, ngga pa pa, kan?" seru Daiva cemas melihat mata omanya terpejam dan tubuh yang ngga bergerak. Reflek Daiva mendekatkan telinganya ke dada omanya.


"Oma kenapa?" tanya Rihana panik, sementara Kalandra sibuk melepaskan seatbeltnya. Apalagi dilihatnya mobil yang mengejarnya juga berhenti. Ternyata ada tiga mobil.


Mereka niat banget pengen menghabisi mereka, dengus Kalandra dalam hati.


"Oma pingsan," tukas Daiva dengan tatap cemas.


"Kalian tetap di mobil," ucap Kalandra bersiap membuka pintu mobil.


"Kak," tahan Rihana cemas. Apalagi melihat pintu pintu mobil di belakang mereka yang sudah setengah terbuka.


"Tenanglah. Sampai Kakak bilang keluar, baru kalian keluar. Nanti kakak akan bantu Daiva bawa Oma," ucap Kalandra dengan senyum tenangnya. Berusaha menguatkan kepercayaan Rihana pada dirinya.


"Hati hati, kak," ucap Rihana makin cemas.


Apa mereka bisa selamat sekarang?


DOR


DOR


DOR


DOR


DOR


Tembakan tiada henti bergema memekakkaan telinga.


Daiva dan Rihana sama merundukkan tubuh mereka sambil menutup telinga.


"Aku takut Kak Kalandra terluka," panik Rihana berseru.


"Semoga enggak. Kita nunggu isyarat dia dulu sebelum keluar," harap Daiva ngga kalah panik. Apalagi omanya harus cepat mendapat perawatan medis.


PYARRR


"Aaahh," jerit keduanya ketika mendengar suara kaca mobil yang pecah. Tapi suara tembakan terus tiada henti. Malah semakin bertambah. Kemudian berganti dengan suara pukulan dan tendangan. Juga teriakan teriakan marah.


Tapi ngga lama kemudian terdengar suara mobil yang bergerak menjauh.


Mereka selamat?


Kak Kalandra berhasil?


Rihana dan Daiva saling pandang. Mereka masih menunduk, ngga berani melihat ke arah perkelahian. Kak Kalandra juga sudah keluar dari mobil sejak tadi. Hati mereka cemas memikirkan nasib Kalandra.


BRAK


"Aaahh!" jerit Rihana ketika mendengar suara pintu mobil di dekatnya dibuka kasar.


"Ini aku, sayang," tukas Alexander sambil menarik tubuh Rihana dalam pelukannya. Jantungnya masih berdebar hebat.


"Alex!" tangis Rihana pecah di dada laki laki itu.


Alexander memeluknya erat.


"Alex, syukurlah kamu datang. Aku takut sekali. Gimana keadaan Kak Kalandra?" tanya Rihana panik dalam tangisnya. Kakak sepupunya itu seorang diri berjibaku melawan orang orang yang berniat jahat pada mereka.


"Kalandra baik baik saja," sahut Alexander menenangkan Rihana. Juga hatinya. Tadi dia juga sangat panik.


"Kamu ngga terluka?" tanya Alexander sambil mengendurkan pelukan. Menatap wajah Rihana yang basah oleh air mata dengan sorot lembutnya.


"Laen kali kasih tau aku kalo mau pergi kemana pun, Zira."


"Ya, maaf."


Alexander kembali membawa gadis itu dalam pelukannya. Lega melihat keadaan Rihana yang baik baik saja.


BRAK


Begitu mendengar suara Rihana yang


memanggil nama Alexander, Daiva menegakkan tubuhnya dan berpaling saat mendengar pintu mobilnya yang terbuka.


Dia terpana, karena Xavi yang ada di depannya, berdiri dengan wajah dan sikap kerennya. Daiva sesaat terpesona.


"Kamu kelihatannya baik baik saja."


"I iya," sahut Daiva tergagap. Seketika dia menarik nafas panjang untuk mengatur detak jantungnya yang ngga normal.


"Tapi tolong Omaku," ucapnya sambil mengalihkan tatapnya pada omanya yang tergeletak di pangkuannya.


"Biar aku angkat," ujarnya sambil membungkukkan tubuh dan mengulurkan tangannya meraih tubuh Oma Mora.


"Ken kenapa kamu bisa ada di sini?" Daiva menatap Xavi bingung dan gugup. Secara ngga sengaja kulit keduanya bersentuhan membuat Daiva meremang.


"Aku berada di saat yang tepat, kan," senyum memikatnya terukir jelas.


"Ya," jawab Daiva kemudian membalas senyum itu dengan hati bergetar aneh. Sesaat mereka beradu pandang.


"Oma gimana, kak?" tanya Rihana membuyarkan tatapan keduanya. Rihana dan Alexander sudah berada di dekat mereka.


"Harus dibawa ke rumah sakit," sahut Daiva dengan wajah sedikit merona. Dia merutuki dirinya yang sempat melupakan keadaan omanya.


Untung Alexander dan Xavi belum begitu terlambat datang membantu Kalandra.


Tapi mereka agak terkejut melihat seorang perempuan yang juga sudah ada di sana dan sedang bersama Kalandra membalas gempuran peluru.


Walau kalah jumlah, tapi Alexander dan Xavi juga sama seperti Kalandra. Mereka selalu rutin ikut kegiatan menembak. Bahkan Kalandra sempat jadi atlet nasional dan terkenal dengan tembakannya. yang akurat.


Tadi pun Oma Mien membekalkan beberapa senjata api koleksi keluarganya saat akan pergi.


Sebelumnya saat menghubungi Rihana, Alexander dan Xavi sudah berada di rumah Oma Mien.


Xavi bermaksud menemui Daiva untuk menyerahkan gaun yang sudah dipesannya beberapa hari sebelumnya di butik. Berharap Daiva mau memakainya.


Setelah menemui gadis itu di ruangannya, Xavi merasa bodoh karena sudah mengajak gadis itu pergi. Padahal orang tuanya menginginkan dia menikah dengan Zerina, demi anak Aiden.


Tapi melihat reaksi penolakan Zerina membuatnya lega, karena dia ngga bisa membayangkan hidup dengan perempuan yang hanya memberinya rasa simpati, bukan ketertarikan.


Berbeda dengan Daiva. Kebaikan hati gadis itu mengurus Zerina yang hanyalah teman biasanya, menggugah perasaannya.


Hampir tiap malam Xavi ngga bisa tidur memikirkan Daiva. Inj kegilaan menurutnya. Karena Xavi berbeda dengan Aiden yang hobi bermain dengan banyak perempuan.


Orang tuanya pun pasti ngga akan menyukainya. Papanya sudah memberi isyarat akan itu.


Tapi dia malah memesankan buat Daiva gaun, dan sekarang mengantarkannya lamgsung ke rumah Oma Mien karena mendapat kabar kalo Daiva sedang mengantar Rihana pulang.


Tapi Oma Mien malah memberikannya seragam keluarga sehingga dia bisa couple dengan Daiva.


Alexander sendiri datang karena hatinya mendadak ngga tenang memikirkan Rihana. Ternyata gadis itu sedang pergi ke rumah papanya, tanpa memberitahukan padanya. Jika dia tau, tentu dirinya akan menemani calon istrinya itu. Alexander merasa dirinya dan Rihana sedang diincar seseorang.


Ngga disangka, Rihana dan beberapa orang yang bersamanya dalam bahaya. Untunglah jarak yang ditempuh cukup dekat. Xavi pun ikut bersamanya. Sementara Oma Mien menunggu dengan perasaan cemas sambil menelpon suaminya serta kantor polisi.


Alexander dan Rihana kini sudah berada di luar. Begitu juga Xavi dan Daiva. Xavi sedang menggendong tubuh Oma Mora.


"Kak Kalandra,' panggil Rihana lega melihat kakak sepupunya baik baik saja. Bahkan kini ada seorang gadis cantik yang sedang mengobati lukanya. Adriana, sekertaris kedua kakak sepupunya.


Hanya aneh saja melihat kehadiran sekertaris Kalandra dan Nidya ada di sini


"Kalian baik baik saja? Syukurlah," senyum leganya hilang melihat keadaan Oma Mora.


"Kami akan bawa Oma ke rumah sakit," kata Alexander yang diangguki Rihana, Xavi dan Daiva.


Kalandra terdiam ngga bisa membantah. Bahu kanannya terkena sempretan peluru dan sedang diobati sekertarisnya yang tiba tiba saja muncul dan membantunya lebih dulu sebelum Alexander dan Xavi datang.


Yang mengagumkan dan menimbulkan keanehan, sekertaris lembutnya juga bisa menggunakan senjata dan menguasai ilmu bela diri.


Ternyata selama dua tahun ini, Kalandra tertipu dengan penampilan luar yang nampak lemah dari sekertarisnya itu.


"Kak Adri, tolong jaga kakak sepupuku," ucap Rihana sebelum masuk ke dalam mobil Alexander bersama Daiva dan Xavi.


"Tentu nona muda," balas Adriana dengan senyum manis.