
"Aku juga mau satu unit apartemen mewah di New York," ucap Hazka memberikan penawaran. Mumpung ada kesempatan. Lagipula Kirania galaknya minta ampun. Dia harus dapat kompensasi yang yang menguntungkan dari pengorbanannya. Jangan sampai sia sia.
Siang ini Ansel sengaja menemui Hazka. Mereka pun terlibat obrolan santai tapi cukup serius.
"Boleh, pilih apartemen yang kau suka. Syaratnya hanya harus menemani Kiran jika aku mau nge date," tandas Ansel cepat, ngga menolak apa pun yang diminta Hazka. Yang penting kencannya bebas dari kuntitan adik semata wayangnya.
"Oke. Aku siap kapan aja."
"Besok malam. Kita couple date. Siapkan dirimu baik baik," putus Ansel sambil bangkit dari duduknya. Dia sedikit menyindir jika mengingat kelakuan bar bar adiknya pada Hazka.
Hazka hanya nyengir melihat temannya pergi.
Kirania. Mengingat gadis itu membuat cengirannya tetap bertahan di sana.
Gadis cantik tapi selalu galak dengannya. Hazka ingat, saking kesalnya gadis itu padanya, kepalanya pun sering dijitak.
Gadis yang kurang ajar, batinnya gemas. Sudah lama ngga berinteraksi dengannya, tiba tiba kakaknya mengajukan permintaan aneh.
Menjauhkan adiknya saat dia akan berkencan.
Wajar Ansel merasa sangat terganggu. Gadis itu pasti sudah sangat merepotkannya.
Besok dia akan mengamankan gadis ini dari Ansel. Tentu dia butuh kompensasi yang gede. Karena selain fisik, dia juga harus mempersiapkan mentalnya harus kuat.
"
"
"
*
Kalandra seperti biasa mengantar Adriana pulang ke rumahnya. Kali ini seperti biasa Kalandra mengantarkannya sampai ke pintu gerbang yang sudah di buka pembantunya.
"Besok aku jemput," kata Kalandra sambil mengacak rambut Adriana lembut.
"Ngga masuk dulu?" tawar Adriana. Dia merasa tetangga di depan rumahnya sedang memata matainya.
"Laen kali ya," ucap lembut Kalandra. Setelah ini dia akan ke rumah Oma Mora, untuk melihat bayi Aurora. Keluarga besarnya diundang khusus untuk acara ganti acara akikahan sang bayi. Karena acara ini tertutup, sehingga Kalandra ngga bisa membawa Adriana. Karena hanya keluarga resmi saja yang bisa hadir.
"Istirahatlah yang cukup. Besok aku akan jemput kamu," ucap Kalandra lembut sambil menatap penuh damba pada bibir merah muda yang agak bengkak itu.
Reflek Adriana menutup bibirnya dengan tas yang dibawanya membuat Kalandra tersenyum geli.
"Jangan lupa dikompres. Karena besok akan lebih lama dari hari ini," kata Kalandra penuh arti sebelum membalikkan punggungnya pergi.
Adriana menatap kesal. Hampir saja dia menimpuk laki laki kurang ajar ini dengan tasnya.
Di perusahaan bahkan di mobil. Bibirnya sudah sangat menderita karenanya.
Dengan ringannya selalu meminta lagi buat besok dan pasti besoknya lagi.
Kalandra melebarkan senyumnya saat melambaikan tangannya, pergi meninggalkan kekasihnya yang masih memancarkan wajah horornya.
Kamu cantik dan menggemaskan, Adri.
Kalandra ngga bisa lagi menyimpan tawanya sepanjang perjalanan.
Terbayang lagi ciumannya yang membuat kekasihnya yang awalnya menolak tapi selanjutnya malah meminta lagi dan lagi.
Kalandra sudah ngga sabar menghalalkan Adriana jadi istrinya. Dia harus minta bantuan Emra dan Emir agar Nidya cepat move on dan punya kekasih
Saat ini dia tau Ansel sedang menyodorkan Hazka buat Kirania sebelum dia menemukan pilihan yang lebih baik.
Kedua perempuan jomblo terakhir di keluarga mereka harus cepat mendapatkan jodohnya. Barulah dia, Emra dan Ansel bisa melanjutkan niat luhur mereka. Menikahi kekasih masing masing. Dan Emir mungkin akan mulai berburu perempuan untuk jadi pendampingnya.
*
*
*
Rihana menggendong bayi laki laki mungil yang tampan itu dengan Alexander berada di sampingnya.
"Dia masih punya banyak orang yang menyayangi," balas menyahuti Alexander yang mendengar gumamannya.
Rihana menatap ke arah Alexander yang juga menatapnya lembut.
"Dia akan jadi anak yang kuat. Eldar Fadel Iskandardinata. Petarung yang lahir untuk meraih kehormatannya," timpal Daiva yang turut mendekat.
"Iya. Opa yang memberikannya nama itu," cetus Opa Iskan bangga.
"Nama yang sangat bagus dan penuh makna," puji Opa Airlangga tulus.
Dirinya mengerti, mengapa sahabatnya memberikan nama itu buat cucu pertamanya. Kedepannya hidup cucunya akan cukup berat.
"Aku berharap, besok dia akan tumbuh menjadi anak yang kuat," sambung Opa Iskan. Oma Mora yang berada disamping suaminya pun memegang lembut lengan suaminya.
"Dia akan menjadi yang tertua," sambung Oma Mien membuat Oma Mora tersenyum haru.
"Baby El sangat tampan," puji Kirania gemas.
Begitu juga Nidya. Kebenciannya terhadap Aurora hilang begitu saja saat melihat wajah imut sang bayi.
Dia membelai pipi bayi itu dengan perasaan haru.
Kami akan selalu ada untuk kamu, batinnya.
Bayi itu berpindah lagi gendongannya dengan yang lain.
Saat acara dimulai, satu persatu ikut menggunting sedikit ujung rambut baby Eldar yang sudah tumbuh lebat dan hitam.
Bayi berada dalam gendongan Daiva dibawa mendekat ke arah oma opa dan keluarga besar lainnya yang hadir saat proses akikah dilaksanakan.
"Jadi ngga sabar nunggu benih unggul aku lahir," canda Alexander berbisik setelah dis dan Rihana ikut memggunting ujung rambut baby Eldar.
Rihana tersenyum sambil menatap wajah Alexander.
Nidya berjalan pelan ke arah tempat yang menyediakan minuman.
"Gimana dengan tawaranku?"
Hampir saja Nidya tersedak minumannya mendengar suara yang ingin dia hindar.
Fathan.
Laki laki itu juga datang ternyata, padahal sejak tadi Nidya ngga melihatnya. Atau mungkin dia ngga memperhatikan siapa saja yang datang.
Dengan tenang Fathan mengambil minuman dengan tangan yang terulur melewati bahu Nidya yang masih berdiri memunggungi laki laki itu.
Nidya sampai harus menahan nafasnya karena jantungnya pun serasa berhenti berdetak. Nidya pun hanya bisa mematung dan tubuhnya menjadi kaku.
Hembusan nafas laki laki di dekat telinga dan lehernya membuatnya meremang.
"Terima?" tanya Fathan lagi membuat Nidya tersadar dari keterdiamannnya.
"Nggak," jawab Nidya berusaha tegas, memyembunyikan kegugupannya.
"Kenapa?" tanya Fathan tetap tenang, ngga terintimidasi dengan penolakan Nidyq. Malah ada sedikit kedut di kedua sudut bibirnya. Seperti sedang menahan senyum.
Fathan juga bingung, kenapa dia ingin sekali menaklukkan gadis yang patah hati karena adiknya.
Mungkin sejak dia merasa gadis ini bisa membangkitkan sesuatu yang ada dalam dirinya.
Fathan tau, saat ini pun posisi Nidya sedang kejepit. Karena Kalandra sempat curhat dengannya kalo dia sedang mencari laki laki baik untuk jadi kekasih adiknya.
"Bukannya adikmu belum move on?" pancing Fathan menahan ketertarikannya akan topik ini.
Dia pun baru teringat kalo Nidya belum menerima tawarannya. Sudah lewat beberapa hari.
"Karena itu. Aku ingin cari laki laki yang bisa buat dia move on. Kalo bisa lebih dari adikmu itu."
Fathan tersenyum miring. Setelahnya dia ngga menanggapi lagi. Hingga malam ini dia diminta papa dan mamanya datang ke rumah Oma Mora karena orang tuanya sedang berada di luar negeri. Ngga mungkin bisa datang ke acara privat keluarga ini.