NOT Second Lead

NOT Second Lead
Gara gara lift (Kalandra-Adriana)



"Banyak kerjaan kamu?" tanya Emra ketika melihat kesibukan Adriana.


"Ya, tuan muda," jawab Adriana sambil mendongak sebentar ke arah Emra yang menyandarkan bokongnya di depan meja Adriana. Tangannya memegang salah satu berkas dari setumpuk berkas yang ada di atas meja Adriana.


"Ini semua dari Kalandra? Kapan deadlinenya?" tanya Emra sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Kakak sepupunya itu suka sekali berlaku kejam pada sekretarisnya.


Punya sekretaris cantik, pintar, bisa bela diri, harusnya di sayang, batinnya mencela.


Tapi ini malah disiksa dengan kerjaan sebanyak ini, sambungnya lagi dalam hati dengan prihatin.


Tap Tap Tap


Keduanya menoleh.


Seorang gadis cantik dan anggun sedang berjalan ke arah mereka. Kiara.


Adriana berdiri sebagai wujud kesopanan. Sementara Emra bersikap acuh dan cuek.


"Kalandranya ada?" tanya Kiara sambil melirik Emra sekilas.


"Ada, nona muda. Silakan masuk saja," ucap Adriana ramah, menekan perasaan cemburunya.


Gadis ini terlalu sering berada di sekitar Kalandra, batinnya pahit.


"Terima kasih," balas Kiara dan berjalan begitu saja melewati Emra untuk masuk ke ruangan Kalandra.


Adriana kembali duduk dan mengerjakan tugas tugasnya. Ngga semuanya deadline hari ini atau besok. Ada juga yang beberapa hari ke depan. Tapi bosnya beberapa hari ini agak sensitif. Suka mengecek semua kerjaannya yang bahkan belum saatnya deadline.


Untuk menghindari omelan lagi, Adriana mengerjakan semua pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Bahkan dia membawanya pulang untuk lembur di rumah juga.


"Kita makan siang? Aku traktir," ajak Emra setelah mengamati punggung Kiara yang lenyap di balik pintu ruangan sepupunya.


"Saya sudah pesan online makanan, tuan muda."


"Kamu makan di sini?" selidik Emra.


"Iya."


Emra kembali menggelengkan kepalanya.


Sekretaris setangguh ini masih juga ngga ada nilai positifnya di mata Kalandra, makinya gemas dalam hati.


"Sudah, ikut aku makan di luar. Nanti kerjaan kamu, aku bantuin," tukas Emra sambil berdiri dan meletakkan berkasnya itu di tumpukan paling atas.


"Tapi tuan muda....." Adriana menatap bingung. Menatap Emra dan tumpukan berkasnya bergantian.


Masa tuan muda tengil ini mau membantunya. Engga salah dengar, kan, dia, batin Adriana ngga percaya.


"Sudah, jangan banyak mikir. Ikut aku," sergah Emra sambil menarik tangan Adriana agar pergi mengikutinya.


"Tap tapi---," ucap Adriana terpotong oleh suara pintu bosnya.


CEKLEK!


"Mau kemana kalian?" tanya Kalandra yang ternyata membuka pintu ruangannya. Kiara berdiri di sampingnya.


"Makan siang. Aku pinjam sekretarismu yang jelita ini," tukas Emra santai, tapi sekilas matanya melirik Kiara tajam.


"Gimana kalo kita makan bareng," usul Kalandra membuat ketiganya menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


"Setuju," jawab Emra cepat.


"Aku juga setuju," ngga kalah cepat Kiara menjawab. Keduanya saling beradu pandang sesaat.


"Kamu setuju, kan, Adriana," tanya Emra sambil berpaling ke arahmya.


"Emm... saya ikut saja."


Ngga mungkin Adriana bisa membantah keinginan bos bosnya, kan.


"Oke. Mau makan dimana?" tanya Emra sambil melihat Kiara super tajam.


"Ehem.... aku, sih, terserah Emra aja," ucap Kiara dengan suara manjanya.


Adriana menahan nafasnya melihat betapa dekatnya Kiara dengan Kalandra.


"Oke. Ikuti kami aja," sahut Kalandra kemudian melangkah melewati Adriana yang menundukkan kepalanya.


Kiara melirik Adriana sambil melangkah di samping Kalandra.


"Oke."


Masih tetap memegang lengan Adriana, Emra mengikuti langkah keduanya.


"Tuan muda, tangannya dilepas, ya," pinta Adriana berbisik.


"Ups, sorry. Lupa," senyum Emra melebar sambil melepaskan pegangannya.


Adriana juga balas tersenyum. Kesedihan dan kekecewaannya sedikit menjauh pergi.


Kalandra menatap geram pada bayangan akrab keduanya yang terpantul jelas di pintu kaca yang berada di depan.


Emra bodoh! Masih saja genit dengan pacar orang, batin Kalandra mengumpat kesal.


Atau mungkin selama ini dia yang salah mengartikan kebaikan Adriana padanya. Sampai mengira gadis itu masih single. Sedangkan Emra yang sudah terbiasa bersikap humble, jadi ngga terlalu ge er dengan kebaikan Adriana.


Kiara teringat saat dia berkumpul dengan teman teman sosialitanya tadi malam.


"Laki laki itu terlalu menarik. Bahkan kembaran juga sama kerennya. Cuma yang sstu itu aura badboynya kentara banget," cerocos Mela penuh semangat


"Jadi yang satu lagi ngga badboy?" tanya Shiza manggut manggut.


"Engga terlalu. Terkesan dingin. Kalo yang badboy banget itu ramah dan cool banget," sambung Mela menggebu.


"Kamu suka yang mana?" tanya Kaira tertarik, karena dia tau selera Mela sangat tinggi.


"Yang badboy lah. Sayangnya aku ditolak." Ada gurat kecewa saat Mela mengucapkannya.


"Tumben. Biasanya kamu yang nolak," kekeh Shiza diikuti Kiara.


Mela tertawa getir.


"Dia cuma ngajakin aku kencan semalam aja. Ya aku tolak lah."


"What's? Serius?" kaget Shiza.


Mela tertawa kecil


"Kalo kalian bertemu dengannya, aku jamin, kalian pasti akan terpesona," kekehnya yang dibalas dengan cibiran Shiza dan Kiara malam itu.


Tapi ternyata Mela benar. Laki laki yang bernama Emra yang memiliki aura badboy yang sangat kuat, sudah membuatnya terpesona lewat kedipan nakalnya.


Tanpa sadar Kiara tersenyum. Dia belum menceritakan pada kedua sahabatnya. Masih dia dirahasiakan. Kiara masih menunggu reaksi Emra selanjutnya. Untuk saat ini dia akan menempel dulu dengan Kalandra.


*


*


*


Sekretarisnya itu ngga banyak bicara, tapi menerima semua yang ditawarkan Emra. Sepupunya itu terlihat sangat perhatian, itu membuatnya gerah.


Sikap Adriana yang terkesan menghindar dan buru buru meninggalkannya, seolah dia adalah virus penyakit berbahaya membuatnya jadi cepat emosi.


Beberapa kali Kalandra membentaknya dengan alasan pekerjaannya ngga becus. Padahal wajar kalo pekerjaan untuk minggu depan belum digarap Adriana.


Ulah kekanakannya yang lain adalah semakin memberinya banyak kerjaan, agar gadis itu tambah sibuk hingga ngga punya waktu untuk memikirkan kekasih sialannya itu


"Kalandra, ada saos di bibir kamu," ucap Kiara sambil menunjukkan salah satu sudut bibirnya yang ternoda bercak saos.


"Ooh, makasih," jawab Kalandra setelah menerima tisu dari Kiara dan mengelapnya sesuai petunjuk Kiara.


"Atas dikit," senyum Kiara membuat Kalandra juga menaikkan sedikit sudut bibirnya.


"Sudah benar?"


"Ya, sip. Sudah bersih sekarang," tawa Kiara renyah.


Kalandra tambah menaikkan sudut bibirnya.


Emra melirik tajam melihat keakraban mereka. Sedangkan Adriana pura pura konsen dengan makanannya dengan hati nyeri.


Baru kali ini Emra terusik dengan perempuan yang ngga tertarik dengannya sama sekali.


Mungkin karena selama ini para perempuan selalu memujanya. Ngga ada seorang pun yang mengacuhkannya.


Diam diam Kiara memperhatikan raut kesal Emra.


Dia cemburu? batin Kiara senang.


Ngga lama kemudian mereka mengakhiri makan siang mereka dan kembali ke perusahaan.


Kiara sengaja mengikuti Kalandra ke ruangannya untuk mengambil berkas yang tertinggal. Dia semakin ingin membuat situasi tambah panas.


Kalandra yang bermaksud mengantarkan Kiara ke basemen jadi ternganga melihat betapa dekatnya posisi Emra dan Adriana.


Sepupunya itu sedang membantu sekretarisnya menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang dia berikan.


"Ehem," batuk Kalandra membuat keduanya menoleh


Adriana mengangguk kecil dan agak sungkan pada Kiara yang berada di samping tuan mudanya. Sedangkan Emra melambaikan berkas yang dia pegang ke arah Kalandra.


"Kerjaannya banyak banget, brother," protes Emra sambil nyengir.


"Memang kerjaan perusahaan lagi over loaded," jawab Kalandra lugas.


Emra melebarkan cengirannya mendengar sahutan ngga berperasaan sepupunya.


"Kamu lagi ngga ada kerjaan?" Kalandra merasa ucapan yang keluar dari bibirnya agak sinis.


"Tinggal dikit. Aku udah serahkan pada Emir. Jadi sekarang aku menjadi asisten Adriana," tawa Emra berderai.


"Hemmm...." dengus Kalandra kesal.


"Kami duluan," pamit Kiara sambil memegang tangan laki laki itu yang sedang terkepal.


"Silakan," sahut Emra membiarkan keduanya pergi. Dan lagi lagi Kalandra membiarkan Kiara menggenggam tangannya.


Tapi sudut mata Emra menyorot kesal pada punggung keduanya yang melangkah pergi.


*


*


*


Malam ini Adriana pulang melebihi jam kerja biasanya. Dia beruntung karena tuan muda Emra membantu mempercepat kerjaannya. Mungkin kalo Emra ngga membantunya, pulangnya akan lebih malam lagi.


"Ngga dijemput?" tanya Kalandra mengagetkannya.


Kalandra sudah berdiri di sampingnya di depan pintu lift.


"Ngga pak," jawabnya setelah meminalisir kekagetannya.


Kalandra ngga menyahut.


TING!


Pintu lift terbuka. Adriana mengekori tuan mudanya memasuki lift. Hanya mereka berdua di dalam lift. Adriana mengambil tempat di pojok belakang, agak menjauh dari Kalandra.


Keduanya saling diam sampai kemudian tersentak karena lift yang berguncang keras.


BRUG!


Lampu lift pun padam. Seketika Adriana panik.


"Kita terjebak?" tanyanya dengan bibir bergetar. Ada ketakutan di dalamnya. Tubuhnya pun sudah gemetar. Selama dia bekerja, baru kali ini lift perusahaannya macet. Dia terbayang film film yang pernah ditontonnya tentang lift macet yang berakhir dengan langsung meluncur ke bawah dan meledak.


Kalandra ngga menyahut, dia menyalakan lampu flash di ponselnya. Kemudian mendekat ke arah interkom.


"Sekuriti! Pak Abeng! Anda di sana?"


"Tuan muda Kalandra? Anda berada di dalam lift," suara Pak Abeng, kepala sekuriti terdengar panik.


"Yes. Cepat perbaiki lift CEO," perintahnya tegas.


"Sedang menuju ke sini pak. Mungkin sekitar lima belas menit baru selesai."


"Oke."


Kalandra mengarahkan lampu flash ponselnya ke arah Adriana.


Nggak ada? batinnya kaget. Reflek dia mengarahkan ke bawah. Hatinya lega, ternyata gadis itu sedang duduk menekuk lutut. Wajahnya terlihat pucat.


"Kamu kenapa?" tanya Kalandra sambil berjalan mendekat. Ikut duduk di sampingnya dengan meluruskan satu kaki panjangnya ke depan dan menekuk yang satunya lagi. Pandangannya agak kuatir melihat wajah pucat Adriana.


Adriana hanya menggelengkan kepalanya. Jantungnya semakin ngga karuan. Dia takut kalo lift ngga bisa diperbaiki. Dia takut akan ngga sempat pamit pada mama dan papanya.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Kalandra lembut sambil memegang lengan Adriana.


"Kamu takut?" tanya Kalandra sambil mengangkat dagu gadis itu hingga kini wajahnya sejajar sejajar dengannya.


Kalandra dapat melihat kalo Adriana ketakutan. Bahkan bibir gadis itu terlihat bergetar.


Kalandra mendekatkan wajahnya. H@sr@tnya muncul begitu saja.


Adriana tersentak ketika merasakan bibir bosnya menyatu di bibirnya.


Kalandra menggerakkannya dengan lembut sambil terus menatap mata Adriana yang membulat. Ngga lama mata itu terpejam, seakan meresapi apa yang dia lakukan.


"Sudah tenang?" tanya Kalandra setelah melepaskan ciumannya. Dia menatap lekat pada sepasang mata yang dari tadi terpejam, kini mulai membuka.


Wajah gadis itu merona dan sangat merah sekali.


Kembali Kalandra menciumnya lagi. Rasanya ciuman pertama tadi masih kurang. Bahkan kini tangan kekarnya menahan tengkuk Adriana hingga ciumannya semakin dalam.


Aku jadi kekasih keduamu ngga apa apa. Asalkan aku bisa terus menciummu, Adriana, batin Kalandra sambil terus membenamkan bibirnya pada bibir yang sudah membuatnya sangat nyandu.