NOT Second Lead

NOT Second Lead
Keluarga Alexander



Rihana terharu saat mendapat pelukan dari mama Alexander. Bahkan.dia langsung digiring ke meja makan yang sudah dipenuhi dengan berbagai macam makanan.


Papanya dan Alexander saling pandang dan tersenyum melihatnya. Mereka pun menyusul sambil berangkulan.


Ternyata kedua kakak laki laki Alexander belum pulang. Jadinya mereka berempat yamg berada di ruang makan


"Alex suka banget makan ayam bakar. Apa kamu juga suka?" tanya Mama Alexander lembut.


"Suka, tante," sahut Rihana demgan wajah sumringah.


"Kamu mau kangkung? Tante menumisnya dengan bawang bombay dan dicampur udang ukuran sedang. Rasanya jadi gurih lho. Mau ya," tawar Mama. Alexander lagi keibuan.


"Boleh tante," sahut Rihana sungkan. Tapi ayam bakar dan kangkung yang ditawarkan memang sangat menggoda. Khususnya tumisan kangkungnya, masih berwarna hijau segar dengan banyak udang di sekitarnya.


Yummiii......


Dari tadi Mama Alexander melayaninya tanpa henti. Sampai Papa dan Alexander mengambil pilihan makanan mereka sendiri. Rihana jadi tambah sungkan.


"Udang bakar mama juga enak, loh," ucap Alexander sambik memberikan seekor udang galah ke piringnya.


"Oh iya, mama lupa menawarkan. Kamu suka sambal? Sambalnya pake terasi udang nomer satu loh," guyon mama serius dengan senyum lebarnya.


Papa dan Alexander pun tersenyum mendengar kata kata mamanya.


Rihana jadi ikut tersenyun.


"Iya, tante. Saya suka."


Suasana di meja makan ini sangat hangat. Sama seperti saat berada di rumah opa dan omanya. Juga di panti. Rihana jadi terkenang saat adik adiknya suka ribut memilih lauk yang mereka suka.


Rihana bersyukur karena Bu Laras mau menerima bantuan kedua opanya. Mereka membangun kembali usaha konveksi yang dulu mensejahterakannya dan anak anak panti yang berada di sana.


"Tante juga buat puding lho. Dihabisin ya, sayang," kata Mama Alexander membuyarkan lamunannya.


"Iya, tante. Terimakasih."


"Sama sama. Sering sering, ya, ke sini. Nanti tante akan manjakan kamu dengan banyak makanan. Jangan khawatir gendut," kekeh Mama Alexander ditimpali suami dan putranya.


Rihana melebarkan senyumnya. Perasaannya sangat nyaman. Kekhawatirannya sudah hilang. Mama Alexander ngga sekali pun menyebut nama Aurora.


Semoga dia sudah bisa diterima, harap Rihana dalam hati.


Setelah acara makan bersama keluarga Alexander selesai, Rihana pun pamit pulang diantar Alexander.


Kembali Mama Alexander memeluknya.


"Hati hati sayang," ucapnya lembut. Matamya sedikit berkaca kaca. Beliau pun menekan kedua ujung matanya saat mengurai pelukan mereka.


Rihana pun merasakan keharuan yang sama.


Papa dan Mama Alexander menatap kepergian mobil Alexander sampai Rihana ngga meninggalkan mansion mewah itu. Rihana terus memperhatikannya dari kaca spion.


"Kamu suka?" tanya Alexander sambil berpaling melihatnya.


"Ya," sahut Rihana dengan binar di matanya.


"Kami menyayangimu, Zira," ucap Alexander lembut sambil mengalihkan kembali tatapannya ke depan.


"Terimakasih, ya, Lex."


Alexander meraih tangan Rihana, menggemggamnya lembut.


*


*


*


"Aurora sudah dibawa ke kantor polisi?" kaget Dewan saat sampai di rumah. Kepala pembantunya yang mengatakannya ketika dia baru saja menjejakkan kakinya di teras rumahnya.


"Benar, tuan. Nyo nyonya juga ikut," jawab Bu Leni panik. Beliau berjalan tergopoh gopoh begitu tau tuan besarnya sampai di rumah.


Aaaarrrgh ... Kenapa Irena ngga mengatakan padanya, geramnya dalam hati.


Amarah Dewan makin menjadi. Dia seakan ngga dianggap lagi oleh istrinya. Padahal putri mereka dalam situasi bahaya


Jadi benar? Aurora yang membunuh Arsen?


Tubuh Dewan bersandar lemah di dinding rumahnya. Matanya terpejam. Beban di dadanya makin terasa berat.


Dewan pun meminta supir mengantarkannya ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan hatinya ngga tenang.


Beliau ngga habis pikir kenapa Aurora bisa melakukan perbuatan yang sangat kejam itu. Sangat di luar dugaannya.


Beliau hanya memberitau sahabatnya Afif agar menemaninya. Ini terlalu berat untuk dia tanggung sendiri.


Dewan hanya menemui istrinya yang sedang menangis. Ada pengacara keluarga yang berusaha menenangkannya.


"Dimana Aurora?" tanya Dewan datar.


Irena menghapus air matanya dengan kasar. Dia menatap Dewan sengit.


"Kamu ayahnya? Kemana kamu selama ini?! Kenapa baru datang! Sana urus anak h@r@mmu!" teriak Irena histeris.


"Tenang Bu. Tenang," kata Pak Rakib berusaha menenangkan emosi kliennya. Beberapa polisi mulai menatap mereka. Karena kali ini mereka akan berurusan dengan orang orang yang punya kekuasaan dengan uang.


Yang mereka khawatirkan, kantor polisi ini akan diserbu para pencari berita sebentar lagi. Apalagi nona yang ditahan seorang model yang sangat terkenal jiwa sosialnya dan diragukan bisa berbuat kejahatan.


Dewan terdiam mendengar makian istrinya. Dia merasa tertampar. Dia memang sedikit menelantarkan Aurora. Tapi selama ini dialah yang lebih memperhatikannya dibandingkan istrinya yang selalu berada di luar negeri.


Afif menepuk pelan bahunya. Dia tau saat ini Dewan sedang menahan emosi. Terlihat dari rahang yang mengetat dan kedua tangan yang terkepal erat.


"Sabar. Ini situasi sulit."


"Aku mau bertemu Aurora," katanya menahan geram.


"Sebentar, pak," ucap Pak Rakib-pengacara keluarga itu kemudian berjalan menghampiri polisi yang berada ngga jaug dari tenpat mereka berada. Berbicara sebentar atas keinginan bosnya Pak Dewan.


Pak Polisi pun masuk ke ruangan yang terpisah dar ruangan mereka.


Ngga lama kemudian polisi itu keluar lagi. Tanpa Aurora.


Pak Rakib tampak berbicara sebentar sebelum kembali pada Dewan


"Aurora ngga mau ketemu siapa pun, Pak," ucap Pak Rakib memberitau.


Dewan langsung lemas. Irena tampak meraung dalam tangisnya. Dia tau putrinya tertekan. Juga dalam kondisi yang ngga sehat.


"Apa yang bisa kita lakukan?" tanyanya lemah.


"Keluarga tuan muda Aiden sudah mengajukan tuntutannya, Pak. Kembaran tuan muda Aiden sudah mendapatkan bukti keterlibatan nona Aurora. Mobil putih milik nona juga sudah ditemukan. Kunci Inggris yang ada darah tuan nuda Aiden," jelas Pak Rakib panjang lebar. Dia ingin Dewan tau, sangat sulit membuat Aurora bebas.


Dada Dewan menjadi sesak. Hampir dia terjatuh kalo Afif ngga menahan tubuhnya.


"Nona muda bisa bebas kalo saja keluarga tuan muda Aiden membatalkan tuntutannya," sambung Pak Rakib lagi


Dewan mencoba mengatur jalan nafasnya yang memburu agar teratur kembali. Dia mencoba berpikir jernih


Tapi tetap saja dia ngga punya keberanian memohon pada Hendy-papa Aiden untuk mencabut tuntutannya. Terlebih sekarang Mama Aiden berada di ICU, terkena serangan jantung.


Tapi membayangkan putrinya harus berada di sel dan menerima tuntutan belasan atau bahkan seumur hidup di penjara, hatinya pun ngga kuat menerimanya.


Pasti sebentar lagi media akan menayangkan berita tentang kejahatan putrinya. Karirnya hancur. Mental putrinya akan down.


Sekarang saja Aurora ngga mau menemuinya. Mungkin dia tau karena dirinya ngga bisa berbuat apa apa untuk membebaskannya.


"Apa tuan mau menemui Papa Aiden?"


Secercah harapan berkelip di mata Irena saat mendengar ucapan Pak Rakib. Dia sangat berharap suaminya mau melakukannya. Demi putri mereka. Apalagi setaunya suaminya bersahabat dengan Papa Aiden.


"Aku ngga bisa," ucap Dewan pahit setelah terdiam beberapa lamanya.


Tapi harapannya kandas ketika mendengar penolakan suaminya. Dia menatap nanar. Ngga percaya suaminya membiarkan putrinya tetap mendekam di dalam penjara.


Tanpa mempedulikan kehadiran Dewan dan Afif juga pengacaranya, dengan hati hancur Irena pergi meninggalkan kantor polisii.