NOT Second Lead

NOT Second Lead
Klarifikasi



Selina ngga putus asa. Ketika melihat Emra menjauh dari teman temannya karena akan mengangkat telponnya, Selina pun pamit untuk ke toilet.


Rekan rekannya hanya tersenyum sekilas, kemudian melanjutkan obrolan mereka.


Selina menunggu sampai laki laki itu menyelesaikan telponnya. Cukup lama juga. Sayangnya jarak mereka cukup jauh dan obrolan laki laki itu jadi ngga sampai di liang pendengarannya.


Begitu Emra menyimpan ponselnya, dan berbalik, Selina melangkah mendekati dengan menampakkan raut wajah kaget seolah ngga sengaja sudah bertemu.


"Emir, kan? Kamu di sini juga?" sapanya sok akrab. Tentu saja dengan senyuman semanis mungkin.


"Eh, iya," senyum Emra ramah. Sudah terbiasa bagi dia dan Emir mendapatkan sapaan salah duga seperti ini.


Apalagi dari kenalan atau relasi bisnis mereka yang baru mengenal salah satu dari mereka.


Tapi biasanya setelah dua atau tiga kali bertemu, mereka akan langsung tau perbedaannya.


"Kamu sama siapa?" tanya Emra sok ramah. Jangan sampai kesan Emir yang baik hilang karena kekakuannya.


"Itu teman temanku di sana," tunjuk Selina memberitau pada rombongannya yang untung saja ngga sedang memperhatikannya. Masih sibuk mengobrol dan menikmati hidangan mewah itu.


"Oke. Aku mau balik ke tempat temanku dulu, ya," pamit Emra yang melihat ke arah Kiara yang sedang memperhatikannya.


Bibirnya mengembangkan senyum melihat kekasihnya sedang menyorotnya dengan datar.


"Oke, kapan kapan maen ke rumah sakit lagi, ya," senyum Selina membalas senyum Emra yang dikira untuknya.


"Oke," balas Emra sebelum pergi dengan benak heran


Rumah sakit?


Pacar Emir jadi memang dokter? Mungkin tantenya kenal?


Selina tersenyum puas melihat keramahan Emir. Melihat Emir ngga menyinggung Kamila, Selina.yakin seperti kata teman temannya tadi, kalo foto yang diberikan Kamila hanya foto biasa saja di kalangan jetset.


Berarti dia masih punya harapan untuk menggaet Emir.


Apalagi Selina mendengar cukup jelas betapa mudahnya Emir meminjam heli pada teman temannya itu. Seperti dia dan tetangganya yang biasa saja saling meminjam motor.


Jadi pelakor? Biar saja. Lagi pula mereka belum menikah. Sudah menikah pun bisa cerai, apalagi ini yang baru pacaran.


Selina hampir tertawa dengan isi pikirannya.


Jadi selingan juga ngga apa apa asalkan bisa merasakan kemewahan itu.


Senyum Selina ngga pernah hilang sampai dia berakhir di tempat teman temannya lagi.


"Tadi aku ketemu perempuan yang salah mengira aku Emir," senyum Emra masih mengerling pada Kiara yang tampak cuek. Mungkin hatinya sedang panas sekarang.


Dia malah semakin gemas melihat cara gadis itu cemburu.


Wajarlah kalo Kiara merasa begitu, karena gadis tadi pun menurutnya terlalu over menyapanya. Padahal Emra yakin, antara Emir dengannya mungkij hanya kenalan biasa.


"Perempuan yang ngobrol sama kamu tadi?" tanya Kalandra yang sempat memperhatikan interaksi sepupunya.


"Aku kira mantan pacar," kekeh Ansel.


"Akrab banget. Bukan pacar kamu?" selidik Fathan merasa aneh dengan gestur perempuan tadi.


Emra menggelengkan kepalanya.


"Bukan. Dia bilang kapan kapan ke rumah sakit, ya. Ngapain Emir ke rumah sakit," herannya sambil mengaduk es telernya.


"Apa dia sakit?" lanjutnya lagi mulai khawatir.


Tapi dia kelihatan baik baik saja, tepisnya dalam hati.


"Apa pacar Emir ada di sana, jadi dokter?" tebak Kalandra, teringat pesan yang dikirimkan Emir tadi.


Kalo ngga, ngapain sepupunya yang sehat wa'alfiat itu ke rumah sakit.


"Katamu pacarnya lagi operasi, kan?" sambungnya lagi.


"Mungkin saja, kan," timpal Herdin baru buka suara.


"Ya, aku rasa begitu," sambung Alexander mengiyakan.


Yang lainnya manggut manggut seperti membenarkan.


Hatinya cukup senang karena sudah mulai ada dugaan profesi tentang pacar kembarannya.


"Aku merasa perempuan tadi suka sama Emir," tebak Kalandra berdasarkan pengamatannya.


"Bahkan udah siap nampung Emir, jika Emir sudah bosan dengan pacarnya," sambung Fathan terkekeh.


Mereka ngga akan sulit mendapatkan perempuan, karena para perempuan itulah yang mendekati mereka.


Tapi bukan untuk diseriusi. Fathan melirik adiknya-Daniel yang cukup berubah akhir akhir ini. Ngga ada isu perempuan mana yang sedang dekat dengannya.


"Boleh juga Niel dibawa pas nikahnya Fathan kalo lagi kosong," usul Ansel mendahului isi pikiran Fathan.


Daniel hanya nyengir.


"Nggak lah. Itu acara keluarga," tolaknya. Memang dia maupun yang lainnya ngga pernah bawa perempuan yang ngga pasti di tiap acara keluarga mereka.


"Kamu jomblo sendiri ntar," walau menyindir, nada suara Ansel terdengar khawatir.


"Biar aja. Aku juga mau cari perempuan yang bisa di ajak serius," kilahnya lagi masih dengan sisa tawa di bibirnya.


"Lagakmu," dengus Ansel ngga yakin.


"Syukurlah ada lagi playboy yang insaf," kekeh Emra. Kalandra pun tergelak melihatnya.


Berbeda Fathan dan Alexander menatap Daniel tajam, cenderung khawatir dari pada mencemooh seperti Ansel dan Emra.


Masih teringat dengan jelas peristiwa yang membuat saudaranya hampir kehilangan kewarasannya gara gara patah hati.


Alih alih senang, Fathan dan Alexander jadi cemas. Mereka lebih suka kalo Daniel jadi player saja. Karena kalo dia sudah serius jatuh cinta, efek kehilangannya bisa membuat Daniel hancur.


Jangan sampai Daniel hancur untuk kedua kalinya.


Kiara yang merasa gemas dengan sikap perayu Emra di depan matanya tadi, ingin sekali menghampiri keduanya. Apalagj perempuan yang mengobrol dengan Emra kelihatan sekali ingin memikat hati kekasihnya itu.


Apalagi Emra terlihat santai walaupun sudah dia pergoki.


Apa seorang player memiliki ketenangan seperti itu walaupun sudah digap kekasihnya? batin Kiara jadi kesal.


Satu notifikasi pesan membuat ponselnya bergetar.


Maunya dicuekin, tapi Kiara ngga mau ketahuan Emra kalo dirinya lagi cemburu.


Emra


Tadi itu teman Emir, ay. Dia ngirain aku Emir. Aku terpaksa harus sopan kayak Emir 🤣.... Jangan cemburu ya, ay.


Bibir Kiara berkedut setelah membaca dan langsung menuliskan balasannya dengan cepat.


^^^Me^^^


^^^Siapa yang cemburu^^^


Hatinya langsung lega begitu saja. Kiara kadang heran moodbosternya gampang sekali berubah setelah mengenal Emra.


Emra pun tersenyum melihat wajah datar itu sudah menghangat lagi. Baru kali ini dia merasa senang sekaligus khawatir dicemburui.


*


*


*


Selina


Aku melihat Emir di tempat kami ditraktir Nino, Mil.


Kamila merasa heran dengan pesan yang dikirim Selina.


Bagaimana bisa, sekarang saja Emir masih bersamanya di kantin rumah sakit. Malah di hadapannya.


"Ada apa? Harus operasi sekarang?" tanya Emir salah duga melihat ekspresi aneh Kamila setelah membaca pesannya.


Kamila menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu," jawab Kamila bingung dengan reaksi Emir jika dia mengatakan isi pesan dari Selina.


"Trus ada apa?" kali ini Emir menatapnya serius.


Kamila berdehem sebentar.


"Mungkin ngga ada satu orang yang sama di dua tempat berbeda, di waktu yang sama."


Bibir Emir melengkung membuat Kamila jadi salah tingkah.


"Jangan senyum senyum.... Aku serius," manyun Kamila tanpa sadar.


Senyum Emir tambah melebar.


"Maaf.... Perkataan kamu tadi seperti soal kuis," kali ini Emir terkekeh pelan.


Bibir manyun Kamila hilang berganti tawa juga.


Iya juga, sih, batin Kamila geli.


"Maksud kamu apa tadi?" tanya Emir setelah tawa keduanya usai.


"Ini Selina kasih tau aku, dia lihat kamu di tempat rencananya kami akan pergi. Di root top hotel bintang lima. Temanku mau traktir kita rame rame di sana," jelas Kamila sambil menggelengkan kepalanya. Kali ini dia merasa bodoh mempercayai ucapan Salina begitu saja.


Mana mungkin Emir, kan. Pasti mirip aja.


Mungkin Selina ngga jelas aja lihatnya, batinnya lagi dan dia pun ngga merasa perlu memperpanjangnya.


"Mungkin kembaranku. Rencananya aku tadi mau ngenalin kamu ke dia, juga dengan sepupuku yang lain."


"Kembaran?" Kamila langsung speechless.


Kamu ngga becanda, kan? Sepasang matanya menatap Emir lekat.


Emir tau, sulit untuk dipercaya jika ngga melihat dia dan Emra tampil bersama.


Dia pun membuka layar ponselnya, memperlihatkan foro pernikahan Alexander dan Rihana pada Kamila.


"Ini keluarga besar kami. Dan ini kembaranku yang dilihat temanmu itu," jelas Emir sambil menunjuk foto Emra yang berdiri tepat di samping Emir.


Kamila tersenyum melihat ekspresi gokil mereka.


"Mereka semua memang pada gila kalo di foto. Termasuk aku," kekeh Emir seakan tau apa yang ada di pikiran Kamila.


"Tapi aku suka melihat foto begini dari pada foto yang suasananya kaku," senyum Kamila lagi yang membayangkan kakeknya pasti ngga akan mau disuruh berekspresi seperti ini.


"Awalnya sebagian rekan bisnis. Tapi sekarang jadi ipar," kekeh Emir lagi sambil menjelaskan.


Kamila tersenyum lagi. Hatinya menghangat. Rasanya dia akan betah berada di lingkungan Emir. Bahkan opa dan omanya juga terlihat murah senyum dan tawa.


Kembali Kamila membayangkan ekspresi kaku opanya, dan dia pun tersenyum.


"Dilihat sepintas kalian mirip banget," guman Kamila, tapi rasanya dia cukup bisa mengenali Emir. Karena Emir lebih terlihat kalem.


"Kami identik. Pesanku, jangan sampai salah ya, mengenali kami," kekeh Emir lagi yang ngga bisa berhenti, sambil membayangkan jika Kamila beneran ketemu Emra. Pastilah akan langsung tau. Dan kembarannya akan langsung heboh karena tau akhirnya dia punya calon istri juga.


"Siapa namanya?"


"Emra."


"Dia juga sudah punya calon istri. Sebentar." Emir memperlihatkan foto pernikahan Puspa dan Herdin.


"Ini calon istrinya," tunjuk Emir pada foto Kiara.


"Ini pernikahan adikku, Puspa. Yang tadi sepupuku Rihana," jelas Emir lagi.


Kamila tersenyum melihatnya.


"Kalian sangat akrab," gumamnya dengan bibir penuh senyum.


"Begitulah. Karena itu aku juga ingin kamu dekat dengan mereka."


Emir menatap Kamila dengan pandangan teduh menghanyutkannya.


Kamila hanya bisa tersipu dengan puluhan kupu kupu beterbangan di sekitarnya.