
Aurora benci sekali melihat siaran live Alexander. Hatinya terluka. Amat sangat. Alexander begitu mencintai anak h@r@m papanya itu.
Harusnya Kak Alex bisa berpikir kalo dirinya lebih baik. Ngga ada yang akan memalukannya. Malah mereka.akan jadi couple favourit sepanjanng sejarah.
Darahnya begitu mendidih karena marah. Tapi tiba dia tercekat. Ada rasa sakit menyengat di perutnya. Wajahnya memucat menahan sakit yang amat sangat
PRAK
Ponselnya terjatuh ke lantai.
"To tolong," rintihnya sambil berusaha bangkit mendekati pintu jeruji.
Seoramg petugas wanita melihatnya khawatir.
"Perutku... Aaah," jeritnya tertahan. Bahkan dia sampai membungkuk karena menahan rasa sakit yang amat sangat.
"Nona!" Beberapa petugas sipir penjara mendekat dan segera menolong Aurora yang sudah terkulai pingsan.
*
*
*
Saat ini Dewan dan Irene terkejut mendengar penjelasan dokter yang memeriksa keadaan Aurora. Keduanya segera ke rumah sakit begitu mendapat kabar kalo putri mereka tiba tiba pingsan setelah mengeluh kesakitan. Pengacara keluarga pun ikut mendampingi, tapi menunggu di luar.
"Hamil?" Dewan benar benar ngga nyangka kalo akan akan mendapat cucu secepat ini. Lagi pula Aurora belum menikah.
Alexander? duganya cepat tapi kemudian secepat itu pula dia menggelengkan kepalanya.
Aiden? Pasti Aiden, batinnya mengoreksi. Apalagi Xavi sudah menunjukkan rekaman video hubunngan suami istri Aiden dengan Aurora.
Jantungnya kembali diremas dengan sangat kuat.
Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Aiden sudah dibunuh oleh Aurora. Padahal Aiden adalah papa dari janin yang ada di perut Aurora. Bagaimana nanti mereka akan menjelaskan pada anak itu jika dia dewasa? Kalo mamanya adalah pelaku pembunuhan papanya.
"Bu Aurora mengalami kram karena terlalu stres. Syukurlah janinnya baik baik saja," jelas dokter wanita paruh baya itu prihatin dan merasa kasian akan nasib Aurora.
Bagaimana pun, baru kali ini Aurora terjerat skandal mengerikan. Selama ini Aurora dikenal model yang santun dan gemar kegiatan sosial. Kasus ini cukup banyak mengundang simpati masa.
Irena menutup mulutnya. Beliau ngga mengira putrinya bisa sampai hamil. Memang dia mengkhawatirkan keadaan putrinya yang sempat muntah muntah. Tapi di pikirannya, mengira putrinya menderita penyakit mag atau asam lambung
Apa Aurora sudah tau hamil saat dia membunuh Aiden?
Anak Aiden atau Alexander?
Irena lebih berharap kalo janin yang dikandung Aurora merupakan benih dari Alexander. Dengan ini Alexander ngga bisa mengelak dan akan menikahi Aurora. Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Kami akan menemui Aurora dulu," kata Dewan sambil berdiri dari duduknya.
"Silakan."
Dewan pun bangkit, begitu juga Irena.
Keduanya masih diam saat meninggalkan ruangan dokter.
Saat memasuki kamar perawatan Aurora, keduanya terdiam melihat Aurora yang sedang berbaring memunggungi mereka.
"Aurora," dengan langkah cepat Irena menghampiri putrinya, dan memeluknya. Dia terisak. Tapi Aurora hanya diam saja. Ngga bereaksi apa apa.
"Anak Alexander?" tanya Irena berbisik, tapi masih bisa di dengar Dewan yang reflek berdebar menunggu reaksi Aurora.
Tapi Aurora hanya diam saja. Tetap membisu.
"Mama akan meminta pertanggungjawabannya," janji Irena.
"Alexander dengan Aurora sangat dekat waktu di Inggris. Bisa saja, kan, mereka ngga sengaja melakukannya," Irena balas berseru ngga kalah sengitnya.
Hatinya langsung panas mendengar sangkalan suaminya.
Pasti dia lebih suka Alexander bersama anak h@ramnya, dengusnya dalam hati.
Setidaknya walaupun bukan anak Alexander, Irena akan berusaha menghambat pernikahan Alexander dan anak h@ram suaminya.
Dia akan memaksa mereka untuk melakukan tes dna yang pastinya bisa dilakukan setelah beberapa bulan ke depan.
Irena tersenyum puas. Sementara Dewan ngga bisa berkata sepatah pun. Dia agak terpengaruh oleh ucapan Irena.
Dulu waktu di Inggris Alexander memang dekat dengan Aurora. Dia seperti pengawal yang selalu menjaga keselamatan putrinya.
Tapi mereka sudah cukup lama ngga bersama, kan? bantah batinnya berusaha mengingat terakhir kebersamaan keduanya
"Kalo anak Alexander, pasti sudah ketahuan sejak lama," datar Dewan menjawab.
"Bisa aja mereka melakukannya tanpa setau kita, kan," tegas Irena bersikukuh.
Dewan terdiam, dia mengalihkan tatapannya pada putrinya yang masih memunggunginya dan membisu.
Mau bertanya, dia ngga tega. Mengingat ucapan Afif-Papa Alexander yang mengatakan Aurora tertekan dan butuh psikiater.
Dewan pun menghembuskan nafas kesal. Ngga tau apa yang harus dia lakukan untuk membela Alexander. Segala argumen istrinya memang bisa diterima. Cukup masuk di logika. Tapi hatinya berkata lain. Apalagi setelah melihat video yang diperlihatkan Xavi. Hatinya semakin yakin kalo janin yang berada di perut putrinya milik Aiden.
Secercah harapan muncul di kepalanya. Mungkin dengan adanya janin Aiden, hukuman Aurora bisa diringankan. Mama Aiden pun bisa cepat sadar dan sembuh dari sakitnya karena akan mendapat penerus dari Aiden.
"Kamu jangan asal menuduh," tukas Dewan membantah lagi
"Siapa yang menuduh?" Kini Irena menatapnya garang.
"Dengar, ya, Dewan. Alexander ngga bisa menikahi putri ngga jelasmu itu sebelum dilakukan tes DNA," tegas Irena mengancam.
"Kanu bicara apa. Ngga ada yang bisa menghalangi pernikan ini," sergah Dewan jadi kesal.
"Kenapa ngga bisa? Bagaimana kalo janin itu milik Alexander? Bukannya Aurora yang lebih berhak menikah dengan Alexander?!" geram Irena ngeyel.
Irena akan memperjuangkan keberuntungan putrinya. Saat ini Aurora sudah sangat menderita. Anak ngga jelas itu ngga boleh semudah ini melewati putrinya.
Alexander kembali menghela nafas melihat kekerashatian Irena. Pernikahan Alexander dengan Rihana ngga nyampe tiga minggu lagi. Sedangkan tes DNA harus menunggu kandungan Aurora cukup besar. Dan itu masih beberapa bulan lagi
"Aku lebih suka kalo janin itu anaknya Aiden. Pasti keluarga Aiden akan menyambut dengan perasaan senang. Mungkin saja mereka akan mencabut tuntutannya dan Aurora bisa bebas," pungkas Dewan mencoba memberikan alternatif kebebasan Aurora membuat Irena terdian, kehilangan kata untuk membalasnya.
Irena sempat memikirkan kata kata Dewan. Tapi egonya yang sudah sudah tergores, membuatnya ngga bisa berpikir jernih dan dia ngga akan membiarkan kebahagiaan bisa didapatkan @n@k haram itu setelah menyakiti hati dan fisik putrinya.
"Aku ngga peduli. Pernikahan ngga boleh terjadi sebelum adanta tes DNA. Aurora juga berhak mendapatkan Alexander," sentaknya keras kepala.
"Bukan kamu yang memutuskan kapan waktu yang tepat untuk pernikahan mereka," ketus Dewan dingin. Kepalanya sudah mau pecah dengan kegilaan Irena. Maksud hati ingin menghibir putrinya, kini yang ada hanya rasa panas di dada menghadapi tuduhan ngga mendasar istrinya.
Dewan pun berlalu meninggalkan kamar perawatan Aurora.
"Dewan! Itu keputusanku!" seru Irena ngga peduli lagi ketika suaminya akan melewati pintu.
Dewan ngga menanggapi, tapi terus berjalan keluar.
Setelah memastikan Dewan menjauh, Irena menutup pintu dan mendekati putrinya.
"Mama akan menggagalkan pernikahan anak h@ram papamu," bisiknya tapi terdengar jelas oleh Aurora.
Sedari tadi dia ngga tidur. Aurora mendengar semua perdebatan kedua orang tuanya. Seulas senyum lega menghiasai wajahnya.