
Setelah memastikan Adriana memasuki gerbang perumahannya, Kalandra melajukan mobilnya pergi meninggalkan perumahan itu, kembali ke mansionnya.
Hatinya saat ini sedang bersuka cita. Adriana adalah perempuan pertama yang membuat perasaannya ngga menentu. First kissnya.
Malah hatinya menduga kalo Adriana juga baru kali ini dicium laki laki. Karena reaksi gadis itu terlihat canggung.
Semoga saja dia ngga salah, harapnya dalam hati.
Dari yang Kalandra rasakan saat mencium gadis itu, dia tidak bertepuk sebelah tangan. Kalandra dapat merasakan degupan jantung gadis itu yang keras dan sangat kencang. Kalandra yakin kalo Adriana juga menyukainya.
Ngga mungkin seorang Kalandra akan ditolak oleh seorang perempuan, batinnya sombong.
Kalandra akan menyelidiki sejauh apa hubungan Adriana dengan laki laki berambut cepak itu. Dia akan mencari kesempatan agar mereka bisa putus dengan sukarela atau dipaksa.
Setelah merasa lembut dan manisnya bibir Adriana, perasaannya semakin menggebu untuk memiliki sekretarisnya itu.
Begitu sampai di mansionnya, Kalandra segera menelpon pengawal pribadinya. Demi merealisasikan keinginannya.
"Cepat cari laki laki yang aku akan kirimkan fotonya," tegasnya sambil keluar dari pintu mobil.
"Siap tuan muda."
"Cari tau juga, sudah berapa lama dia berhubungan dengan sekretarisku," sambungnya lagi.
"Siap, tuan muda."
Kalandra pun menutup telponnya dan mengirimkan foto laki laki berambut cepak yang dia dapatkan dari rekaman kamera cctv perusahaan di basemen.
Dia pun bertemu dengan papanya yang sedang bersantai dengan mamanya di ruang keluarga. Bahkan adiknya juga ada di sana.
Setelah mengucapkan salam, Kalandra memberikan undangan yang diberikan Kiara.
"Keluarga Opa Sumanjaya mengundang papa dan mama."
Papa yang menerima undangan itu membaca nama yang tertera di sana. Begitu juga istrinya.
"Siapa Pa," tanya Nidya kepo.
"Cucu Opa Sumanjaya yang lain akan menikah. Sepupu Kiara," jelas papanya.
"Oooh," jawab istrinya sambil mengambil undangan yang diulurkan suaminya.
Nidya manggut manggut mendengarnya.
"Gimana hubungan kamu dengan Kiara?" tanya papanya dengan minik serius. Papa dan mamanya sudah memberitahukan rencana untuk menjodohkan putranya dengan cucu Opa Sumanjaya.
Nidya juga menatap kakaknya ngga sabar.
"Bisnis," jawab Kalandra santai.
"Kamu setuju dengan proyek yang ditawarkan?" senyum Papanya melebar. Begitu juga mamanya. Mereka sudah paham maksudnya.
Haaah..... Proyek? Nidya makin heran.
"Setuju. Sudah mulai dicek kesiapannya, Pa."
"Oke. Bagus itu." Cakra-papa Kalandra dan Nidya menepuk lembut bahu putranya dua kali.
"Kok, proyek, pa? Bukannya Kiara, calon istri Kak Kalandra," sergah Nidya penasaran.
"Kakakmu dan Kiara lebih memilih proyek dari pada bertunangan," tawa mamanya ketika menatap wajah bingung putrinya. Tambah menggemaskan.
"Tapi sikap Kak Kalandra di kantor ngga seperti itu, Ma. Dia dan Kiara seperti setuju mau dinikahkan," adu Nidya kesal karena merasa kena prank dari kakaknya. Bahkan Ansel dan kedua sepupu kembarnya berarti kena tipu juga.
Papa dan Kalandra pun tergelak. Mamanya pun masih belum reda tawanya. Tangan mamanya bahkan mengusap kepala putrinya gemas.
"Apa maksudnya sandiwara di kantor itu," kesal Nidya menuntut jawaban. Dia merasa jadi orang paling o-on sekarang.
"Hanya ingin mengerjai kalian saja," sahut Kalandra di sela tawanya.
"Huuuhhff," kesal Nidya bukan alang kepalang. Hampir saja dia menjitak kepala kakak tersayangnya yang sekarang berubah jadi paling nyebelin.
Tapi kenapa lakon mereka tampak nyata? omelnya dalam hati, ngga puas dengan jawaban kakak dan papanya.
"Sudah, jangan kamu pikirkan. Apa kamu mau mama kenalkan dengan anak teman arisan mama?" rayu mamanya membuat Nidya reflek menggelengkan kepalanya.
"Ngga, Ma. Aku ngga mau dijodohkan. Aku masih laku keras, kok," tolaknya membuat ketiganya makin tergelak.
"Percaya. Papa sama mama juga kakak percaya," tawa Papanya berderai derai.
"Move on dulu, baru nyari pacar baru," ledek Kalandra membuat Nidya mendelikkan matanya kesal.
Aku udah move on, teriaknya kesal dalam hati.
*
*
*
"Mir, temanku ulang tahun. Temani aku," ajak Emra yang sudah memakai setelan rapi.
"Ngapain ngajak aku. Cewe sono dibawa," cibir Emir mengejek. Dia lagi berkutat dengan laptopnya.
"Di sana aja nyarinya. Kata temanku, banyak cewe single yang diundang," bujuk Emra agak memaksa.
Emir menatapnya geli.
"Kamu kenapa sekarang ngebet banget punya cewe."
"Aku biasa aja. Kamu tau, kan, aku ngga bisa jauh jauh tanpa perempuan," kilahnya.
Emir pasti bisa merasa apa yag dia pikirkan. Tapi Emra ngga akan membiarkan Emir dengan mudahnya membaca isi pikirannya.
Kiara. Perempuan itu sudah menghancurkan harga diri playboynya. Bisa bisanya dia akan menikah dengan sepupunya dan ngga menanggapi godaannya.
Emir tertawa dengan penyangkalan adik kembarnya. Dia beberapa kali melihat Emra yang sedang menatap tajam pada Kiara saat bersama Kalandra.
Emir akui gadis yang bernama Kiara cantik banget. Gadis itu ngga perlu memakai pakaian yang kurang bahan agar terlihat seksi. Aura seksinya sudah terpancar dengan sendirinya. Wajar kalo Kalandra tergoda.
"Oke, tunggu sebentar," putusnya sambil ngesave filenya dan menutup laptopnya.
"Oke, aku tunggu di luar," jawab Emra lega. Langkahnya terasa ringan karena Emir mau menemaninya. Semoga dia bisa dapat cewe baru di sana. Yang lebih cantik dan seksi dari Kiara.
Melihat undangan tadi harapannya sudah pupus.
Kalandra akan menikahi gadis itu. Tanpa.sadar kedua tangan Emir mengepal karena menahan marahnya.
*
*
*
Pesta ulang tahun di hotel bintang lima yang megah dan mewah itu berlangsung penuh semarak.
"Makasih udah datang, bro," sambut teman Emra dan juga dikenal Emir. Hazka.
"Selamat bertambah tua, bro," kekeh Emra. Emir juga terkekeh dengan berdiri santai, kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.
"Banyak bro, perempuan single yang masih seksi di sini. Dipilih bro," kekeh Hazka.
Emra dan Emir makin tergelak.
"Well, aku nemuin yang lain dulu. Nikmati pesta," kata Hazka sambil melambaikan tangannya.
"Oke."
Keduanya balas mengangguk dan melepas Hazka pergi.
Tapi pesta kali ini cukup bersih dari alkohol. Karena bukan di club.
Keduanya dengan santai menikmatii salah satu dari berbagai es nusantara yang dihidangkan.
"Aku merasa seperti datang ke kondangan, Opa," gelak Emra.
Emir mengangguk setuju.
"Nikmati saja. Apa kamu ngga bosan minum alkohol," sahut Emir santai.
Dia sama seperti Kalandra lebih menyukai pesta seperti ini, dari pada di club.
Ngga jauh dari tempat mereka berada, tiga gadis cantik menatap keduanya penuh minat.
"Itu si kembar yang aku ceritakan," seru Mela penuh semangat. Ngga nyangka si kembar yang sekarang pasti jadi pusat perhatian para perempuan juga hadir di pesta ini.
Kiara dan Shiza mengikuti arah pandangan temannya.
"Kita taruhan, yuk. Siapa aja yang berhasil mendapatkan salah satunya, akan mendapat satu unit apartemen mewah dengan dua kamar."
"Boleh juga," sahut Shiza tertarik.
"Oke," sahut Kiara setuju. Dia merasa yakin bisa memenangkan taruhan ini. Emra beberapa kali mengirimkan sinyal positif padanya.
Dia memiliki banyak keuntungan. Selain dikenal sebagai tunangan Kalandra-sepupu mereka, juga merupaka relasi bisnis.
Rasanya ngga akan susah, pikir Kiara enteng.
"Sip. Siapa yang bisa mengajaknya berdansa malam ini lebih dari tiga puluh menit, itulah pemenangnya," pungkas Mela penuh semangat.
"Oke," jawab Kiara dan Shiza dengan senyum lebarnya.
Mereka saat ini dapat melihat Emra yang sibuk melayani permintaan berdansa dari para perempuan.
"Kita misah," putus Mela sambil berjalan ke arah yang berbeda. Shiza juga mengambil arah lain. Sedangkan Kiara bertahan di sana.
Dia ngga akan buru buru. Kiara akan memberikan kesempatan pada kedua temannya untuk berusaha lebih dulu.
Emir dan Emra juga sudah memisahkan diri. Kalo Emir hanya fokus melihat orang orang yang sedang menikmati pesta, tapi Emra sudah berdansa dengan beberapa perempuan yang sengaja mengantri dirinya untuk berdansa. Tentu saja para perempuan itu sudah senang walau hanya berdansa dalam waktu sepuluh atau lima belas menit.
Emir hanya menggelengkan kepalanya.
Tadi dia sudah menolak tawaran dari beberapa gadis cantik yang mengajaknya melantai. Termasuk Shiza yang harus merasa kecewa. Ngga disangkanya mengajak Emir akan sesusah ini.
Ngga lama kemudian Mela dan Shiza juga sudab mendapat antrian berdansa dengan Emra. Sayangnya waktu mereka hanya sebentar. Mereka sudah kalah dalam taruhan ini.
Keduanya mencari Kiara yang sama sekali ngga ada di daftar antrian.
Tapi saat menemukan dimana sosok itu berada, mereka menggelengkan kepalanya. Saat ini Kiara sedang berdansa bersama Hazka, yang mengundang mereka.
Hazka teman mereka waktu kuliah. Mereka satu jurusan. Bisnis manajemen.
"Dia serius ngga, sih, dengan taruhan ini?" kekeh Mela sambil mengambil puding yang ditawarkan salaha satu pelayan pesta.
"Apa itu triknya?" Shiza lebih yakin kalo temannya itu ngga mungkin melakukan hal sia sia.
Dan ngga lama kemudian mata keduanya membesar melihat Emra menghampiri Hazka dan Kiara. Meninggalkan daftar antriannya yang sudah memanjang.
"Benar, itu triknya," desis Mela dalam tawanya. Ngga disangkanya, temannya bisa dihampiri Emra semudah itu. Tanpa perlu berdesakan dan menunggu sepertinya dan Shiza.
"Sekarang tinggal kita hitung, apakah bisa lebih dari tiga puluh menit," kekeh Shiza kagum. Memang harusnya begitu. Emra yang mencari mereka. Bukan mereka yang menyodorkan dirinya ke laki laki playboy itu.
Sementara Emir menyeringai.
Gadis itu datang juga.
Dia tambah menyeringai lagi saat melihat kembarannya seperti cacing kepanasan sedang melangkah menghampiri Kiara.