NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kalandra dan Adriana part 2



"Ingat pilih yang paling mahal. Pilih yang banyak," kata Kalandra mengingatkan. Kemudian duduk menyandar di kursi sambil memejamkan mata. Tetlihat lelah.


"Iya, tuan muda," sahut Adriana patuh. Setelah mata tuan mudanya terpejam, Adriana menuju deretan gaun gaun indah yang seakan akan memanggil manggil jiwa miskinnya.


Beruntung sekali kliennya itu. Apa ini untuk kekasihnya?


Adriana terdiam sambil memegang ujung gaun itu yang begitu lembut.


Siapa, ya, kekasihnya? Kenapa ngga pernah datang ke perusahaan.


Adriana yakin selama.dua tahun dia bekerja, ngga pernah melihat seorang pun perempuan yang diperlakukan bosnya secara spesial.


Memang ada satu dua perempuan cantik yang berkunjung, tapi tanggapan bosnya biasa saja. Rata rata mereka teman adik bosnya, nona muda Nidya.


Mungkin ini beneran buat kekasih diam diamnya. Hemm..... Beruntung sekali.


Tanpa sadar Adriana mengelus gaun itu


Pilih yang mana ya, semuanya indah indah.


Adriana mengamati satu persatu gaun gaun itu dengan teliti.


Hemm... Katanya terserah aku, kan. Senyumnya merekah.


Hey, nona muda yang beruntung. Aku akan memilih gaun untukmu berdasarkan seleraku, batinnya mengejek.


Mungkin gaun pesta, batinnya teringat kalo besok akan diadakan pesta pernikahan megah sepupu bosnya dengan laki laki yang sudah membuat banyak perempuan patah hati.


Adriana awalnya kaget, kalo nona muda yang baru bekerja di perusahaan ternyata memiliki hubungan spesial dengan tuan muda Alexander Monoarfa. Laki laki yang dikabarkan kekasih nona muda Aurora.


Laki laki yang terkenal dingin dan kaku. Tapi hangat dan humble di sisi nona muda Rihana.


Cinta memang aneh, bisa membuat seseorang berubah dan jadi lebih manusiawi.


Tapi kalo memang bosnya sudah punya kekasih, semoga akan berubah ke arah yang lebih baik juga. Tidak jutek dan selalu menuduhnya macam macam, harapnya dalam hati.


Seperti kemarin. Masa dia dituduh menyadap. Ada ada saja. Memangnya dia stalker.


Memang bosnya tampan sekali. Teman teman staf banyak yang mengagumi dan suka membicarakannya.


Tapi sikapnya angkuh. Lebih ramah bos kembar. Tapi anehnya bos kembar juga belum punya pacar. Apa orang orang yang seperti mereka ngga punya keinginan menikah? Seperti tuan muda Alexander Monoarfa.


Sayang sekali. Harusnya mereka mengikuti jejak Alexander Monoarfa. Menikah di usia yang ngga terlalu tua. Sebelum tiga puluh tahun. Anak anak yang nantinya akan dilahirkan pun ngga akan jauh jarak perbedaan usianya.


Dirinya sekarang sudah berusia dua puluh lima tahun. Orang tuanya sudah gencar sekali menanyakan siapa kekasihnya. Mungkin jika di lain waktu ngga sibuk dia akan coba lebih memperluas pertemanan di media online. Kencan buta ngga apa sesekali dicoba. Adriana bermonolog sambil membandingkan tiap gaun di depan matanya.


Saking indahnya matanya kian silau menatapi gaun gaun itu. Apalagi saat melihat harganya. Gajinya yang sudah sebesar ini pun hanya cukup membeli satu buah gaun saja. Setelahnya dia harus berpuasa.


Bahkan banyak yang harganya melebihi gajinya. Orang orang yang membelinya pasti sudah ngga memikirkan berapa bayar listrik dan air tiap bulannya.


Tidak. Dia ngga perlu memboroskan gajinya hanya untuk tampil mewah. Walaupun sangat menggoda seperti tas dan sepatu tadi, dia ngga akan mau masuk perangkap hutang. Selama ini dia sudah nyaman. Dia juga sudah mengenakan pakaian, tas dan sepatu bermerk. Asli bulan kw. Memang bukan merk dari kelas utama. Tapi itu juga sudah membuat iri tetangga orang tuanya di komplek perumahan mereka.


Setelah meyakinkan dirinya untuk menilih tiga buah gaun dengan harga melebihi gajinya setiap bulan, Adriana memberikannya pada pelayan toko yang berada ngga jauh darinya.


Memang beda kalo belanja di pasar atau di toko biasa, umumnya akan selalu diikuti hingga membuatnya risih dan batal membelinya.


"Tuan muda. Saya sudah memilih tiga gaun," kata Adriana pelan karena melihat tuan mudanya baru membuka matanya. Seperti tau saja saat dia datang. Mata yang terpejam itu terbuka perlahan.


"Berapa yang kamu ambil dengan waktu selama ini?" tanya Kalandra sambil bangkit dari duduknya.


"Tiga tuan."


"Apa? Selama ini hanya tiga?" sergah Kalandra sambil menggelengkan kepala. Ngga mengerti.


Adriana sampai terhenyak.


Ya ngga lamalah. Dia, kan, harus memilihnya secara teliti, omelnya dalam hati.


TAP TAP


Adriana mengikuti langkah bosnya yang mendekati deretan gaun yang sempat dia sambangi


Dengan ringannya Kalandra mengambil lima buah gaun bergantian dan menjejalkannya ke tangan Adriana.


Mereka sangat bersyukur bertemu dengan pembeli seperti tuan muda yang sangat tampan dan ngga pelit ini.


Mata Adriana sampai terbelalak melihat banyaknya gaun yang dibeli.


Bahkan menejer toko sampai keluar menemui mereka dan memberikan para pekerjanya untuk membantu Adriana membawakan barang barang belanjaannya.


Adriana menahan nafas melihat black card platinum yang dia tau no limit itu bekerja.


Fix nih. Adriana yakin kalo tuan mudanya membelikannya buat kekasihnya.


Dalam hati Adriana berharap dapat memiliki kekasih yang royal juga padanya. Jadi gajinya akan awet, ngga tersentuh.


Jok belakang rubicon itu penuh dengan tas tas belanjaan buat kekasih tuan mudanya


Adriana sampai menahan nafas melihatnya.


Oooh, perempuan yang paling beruntung, batinnya tiada henti.


"Rumahmu dimana?" tanya Kalandra saat menghidupkan mesin mobil.


"Ru rumah saya?" tanya Adriana heran.


"Iya. Apa kamu mau ikut aku ke hotel?" tanya Kalandra acuh tak acuh. Jauh dari kesan menggoda.


Adriana sempat tertegun mendengarnya.


"Kita ngga balik ke perusahaan?"


"Tentu saja tidak."


Adriana terdiam. Kalo tuan mudanya wajar pulang. Tapi dirinya hanyalah staf. Bahkan di hari besar besok saja mereka para pekerja ngga diliburkan. Hanya diijinkan datang ke resepsi pada jam jam yang sudah ditentukan.


Apa nanti gajinya ngga akan dipotong? batinnya cemas.


"Saya kembali ke peusahaan saja, tuan muda," kilahnya dengan sesopan mungkin. Kalo pun bosnya akan menurunkannya di sini, dia akan naek ojek online, biar cepat kembali ke perusahaan.


"Kamu ini kenapa susah sekali. Oke, ternyata kamu lebih memilih ke hotel menemani saya," dengus Kalandra kesal.


"Eh, jangan tuan." Konotasi negatif bermain di kepalanya mendengar kata hotel dan bersama tuan mudanya. Akhirnya dia pun mengucapkan deretan alamat tempat tinggalnya.


"Hemm... Kenapa ngga dari tadi," omel Kalandra sambil menggeber mobilnya ke alamat rumah sekertarisnya.


Adriana ngga menjawab, takut bosnya tambah naek darah.


Mereka melalui perjalanan dalam keadaan diam membisu.


Baru kali ini Kalandra mengantar Adriana pulang. Tapi dia mengikuti petunjuk arah online.


Kalandra malah baru tau ada komplek perumahan yang cukup lumayan ada di sini. Mobil Kalandra pun berhenti di depan sebuah teralis kokoh berwarna hitam. Rumah sekertarisnya cukup besar, ada dua lantai. Siang ini sekitaran rumah Adriana cukup sepi.


Adriana agak heran karena bosnya ikut turun sebelum dia menawarkan untuk mampir.


Saat dia sedang membuka pagar, Adriana tambah heran karena bosnya membuka pintu belakang mobilnya dan menurun belanjaannya tadi.


'Cepat buka pagarnya," titahnya sambil menutupi kepala dengan tangannya dari terik matahari.


"Oh, eh, iya, pak," sahut Adriana gugup sambil menggeser pagar rumahnya.


Tanpa menunggu dipersilakan masuk, Kalandra sudah masuk dengan dua tangan yang penuh dengan tas tas belanjaannya dan menaruhnya di teras rumah Adriana.


"Kok, di ditaruh di si sini, tuan muda?" tanya Adriana ngga mengerti. Bahkan dia sampai tergagap.


"Untukmu," jawab Kalandra sambil berjalan pergi ke mobilnya lagi. Sama sekali ngga ada manis manisnya.


Adriana bengong, ngga bisa berkata apa apa sampai mobil si bos pergi meninggalkan rumahnya.


Beneran ini untukku? Batin Adriana ngga percaya.


Dia masih menatap bingung pada tas tas belanjaan yang sangat banyak berada di teras rumahnya.


Aku bukan kekasihnya, kan?