NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kalandra-Adriana (sesak)



"Bisnis?" Alis Kiara sedikit berkerut.


"Kata Opa kamu akan membawa proposal bisnis," ucap Kalandra tenang.


"Oh iya," senyum Kiara terlihat lega. Dia membuka tasnya dan mengeluarakan laptopnya. Sangat tipis. Kalandra yakin itu prodak terbaru m@c.


Ngga butuh waktu lama.gadis itu sudah memperlihatkan kerangka kerja sana untuk perusahaan mereka. Apa apa.saja yang akan mereka kerjakan nantinya. Lengkap dengan manpower, rincian biaya material dan grafik keuntungan besar untuk kedua perusahaan.


"Kapan kapan kamu bisa meninjau proyeknya secara langsung.


Kalandra menganggukkan kepalanya.


"Tentu," ucapnya sambil melihat dengan seksama layar laptop yang sudah diputar ke arahnya.


Kiara mengalihkan tatapannya pada sekitar mereka. Dia merasa sedang diawasi.


Dia agak tertegun melihat banyaknys senyum yang tertuju padanya.


"Kenapa?" tanya Kalandra heran melihat gadis itu terpaku di satu arah.


"Kamu mengenal mereka?" tanyanya sambil menoleh pada Kalandra.


Dan Kalandra tersenyum masam melihat wajah wajah jahil yang terpergok olehnya. Bahkan ada Adriana juga di situ. Gadis itu tersenyum kikuk saat netra tajam itu menukik ke dalam manik matanya.


"Mereka sepupuku, kecuali yang rambutnya dikuncir. Dia sekretarisku," jelas Kalandra apa adanya.


"Ooo," senyum gadis itu merekah. Membalas senyum mereka. Bahkan ada salah satu yang mengedipkan sebelah matanya.


"Ada yang kembar, ya? Mirip banget," tanyanya ingin tau. Hatinya sedikit terusik oleh sikap nakal salah satu kembaran itu.


"Ya. Yang lebih sopan namanya Emir. Yang kurang ajar namanya Emra," seringai tipis Kalandra muncul sesaat. Dia sempat melihat kedipan laki laki itu pada gadis yang sedang dijodohkan padanya.


"Oooh," gumam Kiara sambil menaikkan sedikit sudut bibirnya.


Emra, ya, batinnya.


"Sebenarnya aku sedang patah hati karena sekretarisku sudah punya pacar,' jujur Kalandra memberitau sambil menatap acuh manik mata di depannya.


Kalandra seperti menemukan seorang teman. Bukan calon istri.


Kiara tertawa.


"Karena itu kamu menerima ajakan kencan ini?"


"Karena bisnis, aku mau," senyum Kalandra sedikit melebar.


"Oke, oke. Akan ku bantu. Asalkan kamu setuju menandatangi proposal ini, aku akan membantumu memanasi hati sekretarismu nanti." Kiara tersenyum manis dengan perasaan senang yang muncul tiba tiba di hatinya. Dia paling suka membuat hati seseorang huru hara. Dia merasa yakin kalo sekretaris Kalandra agak cemburu padanya. Kiara menangkap tatapan sedih di matanya tadi.


Aneh, apa benar sudah punya pacar? batinnya ngga yakin.


"Kamu serius?" senyum Kalandra lebih melebar. Rasanya mereka sama sama ngga menginginkan perjodohan ini.


"Tentu. Aku senang kalo dia bisa putus dari pacarnya dan memilihmu," jawab Kiara lugas.


Mata Kalandra memicing dalam senyumnya. Menatap gadis yang dijodohkan dengannya agak lega.


"Aku kira kamu setuju kita dijodohkan." Kalandra mencoba memastikan. Akan lebih mudah mengatakan pada opanya kalo gadis yang akan dijodohkan dengannya ini lebih menyukai bisnis dari pada dirinya. Kalandra tergelak dalam hati.


"Awalnya aku setengah hati dengan permintaan Opa. Tapi setelah bertemu kamu, aku sedikit terpesona denganmu. Sayangnya kamu bukan tipeku. Maaf," kekehnya sopan. Sikapnya tetap tenang dan kata kata yang diucapkannya tanpa beban sama sekali. Sangat ringan, seperti angin yang berhembus sepoi sepoi.


Kalandra belum pernah dekat dengan seorang perempuan mana pun. Sekalinya menerima perjodohan, malah langsung mendapat penolakan yang untungnya ngga berefek apa pun pada hatinya.


Dia yang selama ini ngga ada waktu untuk memikirkan perempuan, cukup.geli juga mendapat penolakan. Sangat telak karena ternyata dia bukan tipe Kiara. Ngga tau seperti apa tipenya, dan Kalandra pun ngga ingin tau.


Baru ada satu perempuan yang bisa sedikit menyentil hatinya. Adriana, sekretarisnya. Itu pun dia baru mau memulai pedekatenya dengan membelanjakan gadis itu seperti yang sering dilakukannya untuk adiknya. Tapi sayangnya terpaksa harus dia hentikan rasa tertariknya sekarang karena gadis itu ternyata sudah punya kekasih.


Dua kali dalam waktu berdekatan dia ditolak perempuan. Adalah menggelikan, gimana reaksi opa, oma, papa dan mamanya sampai tau. Salah satu pewarisnya ngga laku di mata perempuan


Kalandra ngga bisa lagi menahan tawanya. Senyum tertahannya pun berubah jadi tawa berderaian, membuat para pengintai takjub. Kalandra jarang tertawa selepas itu.


Adriana merasa dadanya sesak. Ternyata tuan mudanya sudah menentukan pilihan hatinya. Dan itu bukan dirinya.


"Secepat ini dia keok?" Emra menggelengkan kepalanya berulang kali. Ngga menyangka endingnya akan berakhir dengan kemenangan opanya.


Ada sedikit perasaan ngga rela. Gadis itu sangat cantik dan dari tadi hatinya selalu bergetar melihat senyum yang selalu terukir di bibirnya.


Sayang sekali kamu harus berakhir dengan Kalandra, batinnya ngga rela. Dia heran, begitu gampangnya merasa kepincut dengan calon istri sepupunya ini.


Sialaaann!


Opa, kamu harus carikan aku calon istri seperti itu. Kalo tidak, aku ngga akan pernah menikah, marahnya dalam hati. Baru kali ini dia merasa ngga berdaya untuk mendapatkan gadis yang dia suka.


Sementara itu Herdin dan Puspa juga serius melihat ke arah Kalandra dan calon istrinya.


"Aku bisa ditikung Kalandra, nih," canda Herdin ketika melihat wajah dua orang yang diawasinya seperti sedang di mabok cinta. Baru kali ini dia melihat Kalandra tertawa sebahagia itu.


"Hebat juga, Opa. Tau seleranya Kak Kalandra," salut Puspa sambil menggelengkan kepalanya berkali kali. Ngga percaya.


Setaunya kakak sepupunya itu sangat berbeda dengan sepupunya yang lain. Dia sangat dingin dan kaku dengan perempuan. Hanya Kak Emir yang sedikit mirip dengannya. Juga laki laki di depannya dan suami Rihana.


Puspa melirik diam diam wajah yang sedang fokus dengan makanannya.


Herdin memang tampan. Tampan banget malahan. Apa benar dia memang sudah mencintai dirinya, batin Puspa agak resah.


Harusnya dia yang minta dicarikan jodoh juga sama opanya, batinnya lagi sedikit menyesal.


Melihat Kalandra yang dengan gampangnya menerima perempuan itu, begitu juga sebaliknya. Membuat Puspa yakin, sepertinya kakak sepupunya dan calon istrinya sama sama ngga punya cerita sedih tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Kenapa?" tanya Herdin lembut. Dia tau tadi kalo Puspa menatapnya. Tadi dia hanya pura pura ngga tau saja.


Puspa menggelengkan kepalanya. Hatinya masih resah.


Apa salah kalo dia khawatir Herdin terpaksa menilihnya sebagai pelariannya saja?


Dadanya sesak seakan akan oksigen sangat sulit diikat oleh paru parunya.


"Kamu sakit?" tanya Herdin agak panik saat menyentuh lengan Puspa yang terasa dingin.


"Enggak, Kak," bantahnya pelan.


Herdin tersenyum tipis sambil meremas lembut jemari Puspa.


"Maaf di awal awal sudah buat kamu kecewa. Tapi aku ngga akan lelah membuat kamu yakin lagi pada hatiku," ucap Herdin sambil mengangkat dagu Puspa hingga dua pasang manik mereka saling bertatapan.


Puspa akui, dia gampang sekali tergetar hatinya jika Herdin menatapnya selembut ini.


Dia membalas senyum laki laki yang sudah mencuri seluruh hatinya tanpa meninggalkan sedikit pun sisa.


Mungkin dia hanya takut saja kalo laki laki itu akan berpaling darinya.


Mungkin kalo itu terjadi, Puspa akan menepi sejenak. Tapi semoga saja Herdin memang menjatuhkan seratus persen hatinya untuk dirinya. Jadi dia ngga akan merasakan patah hati.


*


*


*


"Kenapa kamu harus ikut ikutan memata matai bosmu," tanya Kalandra dingin saat Adriana akan menyerahkan berkas yang harus dia tanda tangani.


Adriana hanya diam. Mau menjawab jujur pasti ngga akan ada gunanya. Pasti tetap aja dia nantinya akan dicibir dan tambah panjang lagi perkataan nyinyir sang tuan muda padanya. Kalo ngga dibantah, mungkin dia akan cepat keluar dari ruangan yang mulai pengap ini. Dia butuh banyak oksigen.


Hati Adriana pun sudah merasakan hal yang ngga mengenakkan sejak mengintai bosnya tadi siang. Makanan yang tadi dipesan adik tuan mudanya hanya dimakan sepertiganya saja. Selera makannya sudah hilang. Makanan yang dia makan pun hanya sedikit bisa melewati kerongkongannya.


Adriana menunggu dengan resah tuan mudanya yang hanya memutar mutar pulpen sambil membaca berkasnya.


"Jadi hobi kamu juga kepo tentang masalah percintaan bosmu," masih sinis Kalandra berucap.


Adriana menghela nafas panjang.


"Maaf," ucapnya pelan.


Semoga bosnya ngga nyiyir lagi.


"Hemm.... Kata maaf memang paling gampang diucapkan," sindir Kalandra yang masih saja memutar mutar pulpennya.


Tuh, kan, benar, batin Adriana sewot.


Diam salah. Ngomong juga salah.


Cepatlah tanda tangan tuan muda!


Seakan paham dengan suara jeritan hati Adriana, ujung pulpen Kalandra pun menyentuh cepat berkas yang dibawa Adriana.


"Nih. Kamu ngga perlu ikutan mengintip lagi. Aku ngga suka punya bawahan yang kepo."


"Ya, tuan muda," jawab Adriana sambil mengambil berkas yang diulurkan Kalandra.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Adriana membalikkan tubuhnya berjalan pergi. Saat ini gadis itu sedang menahan air matanya yang hendak mengalir di pipinya.


Kata kata Kalandra sangat menohok sudut hati Adriana. Dia merasa kalo tuan mudanya sedang marah padanya.


Tapi Adriana ngga tau apa salahnya sampai dia harus mendengar makian kasar sepanjang harinya.


*


*


*


Kalandra tercenung melihat lagi lagi Adriana dijemput laki laki cepak itu. kedua tangannya mengepal karena menahan kesal.


"Hai, Sayang."


Panggilan itu membuatnya berpaling. Bukan hanya Kalandra saja. Adriana dan sepupu kembar Bosnya yang berada ngga jauh dari situ pun menoleh.


Kalandra tersenyum melihat Kiara yang langsung menggandeng lengannya.


"Jangan ge - er, ya. Aku ngga tega melihat kamu cemburu sendiri," bisik Kiara membuat senyum Kalandra mengembang tipis


"Jangan sampai kamu ntar jadi jatuh cinta denganku," ledek Kalandra juga berbisik.


"Ngga akan," balas Kiara dengan kekehan manisnya. Dia sedang berperan ganda. Membuat sekretaris itu cemburu dan juga sedang mengetes perasaan Emra, laki laki yang berani menggoda calon istri sepupunya tadi siang.


Emra yang melihat kemesraan itu mendengus kasar. Emir meliriknya kasian.


Kamu sungguhan naksir calon istrinya Kalandra? cela Emir dalam hati.


Sementara Adriana terpaku melihat betapa manjanya calon istri bosnya itu. Dan bosnya juga menikmatinya.


Sudah berakhir Adri. Sudah ngga ada harapan lagi, batinnya dengan dada semakin sesak.