
Mama Alexander dan Irena saling tatap dengan sedih saat melihat Aurora yang tampak murung berdiri di balkon kamarnya Gadis itu melamun sampau ngga menyadari kehadiran mamanya dan mama Alexander.
Pagi ini papanya beserta oma Mora dan Opa Iskandardinata berpamitan akan pergi ke Bandung dan juga ke Jogjakarta. Mereka akan takziah ke makam cucunya Oma Mien dan Opa Airlangga.
Aurora dan kedua wanita paruh baya itu tau maksud ucapan itu. Mereka akan ke makam mamanya Rihana, anak pertama Dewan dan cucu opa dan omanya yang baru ditemukan
Hanya demi menjaga perasaan Aurora, hanya sampai di situ saja Oma Mora menyampaikan. Walau bagaimana pun, Oma Mora sangat menyayangi Aurora dan ngga ingin melukai hati cucunya lebih jauh lagi.
Baik Oma Mora maupun Opa Iskandardinata belum mengatakan apa apa pada Aurora tentang Rihana. Mungkin masih mencari waktu yang tepat.
Oma Mora pun belum berkata terus terang tentang persiapan pernikahan Alexander dan Rihana.yang sudah mereka lakukan.
Masih bingung untuk merangkai kata yang ngga akan menyakiti hati cucunya-Aurora.
"Aurora ngga ke kantor atau ke agencynya?" tanya Mama Alexander-Sofia sambil menatap Mama Aurora-Irena heran.
"Setelah papanya dan oma opanya berangkat, Aurora terus berada di kamarnya," sahut Irena pelan. Hatinya sakit melihat keadaan putrinya. Sejak ditemukannya anak ngga sah itu, putrinya Aurora banyak kehilangan hal hal yang sangat berharga.
"Mungkin dia mengambil cuti buat menenangkan perasaannya," lanjut Irena.
"Ya, mungkin."
Padahal harapan terakhir putrinya, oma dan opanya akan tetap di pihaknya pun kandas. Apalagi papanya dan Alexander. Anak ngga sah itu memang banyak.
"Ngga nyangka dia cucu Oma Mien dan Opa Airlangga," ujar Mama Alexander kemudian menghela nafas berat. Rongga dadanya masih dipenuhi beban yang membuatnya merasa sesak.
"Iya," sahut Irena datar. Dia ngga peduli cucu siapa anak ngga sah itu. Yang jelas karena anak perempuan itu, putrinya jadi sangat menderita.
Mama Alexander menghela nafas panjang. Tadi pagi suaminya, Fathan-anak tertuanya dan Alexander berpamitan karena akan ikut Dewan. Suaminya mengajaknya, tapi dia tolak. Baginya menemani Aurora lebih penting. Alexander yang dimintanya jangan pergi demi menghibur Aurora, menolak permintaannya mentah mentah.
Hanya Daniel yang ngga ikut karena telanjur janjian dengan klien dari Italia.
Hati Mama Alexander tercubit melihat sikap dingin Alexander pada Aurora. Dulu dia ngga pernah begitu. Kemana pun Aurora ingin pergi, ada Alexander yang akan menemaninya.
Tapi sekarang permintaannya hanya untuk menemani Aurora yang perasaannya sangat sedih, sama sekali ngga digubrisnya.
Harusnya Alexander lebih memberatkan keadaan Aurora. Kalo Rihana sudah banyak yang menemani. Dewan dan juga orang tuanya. Sedangkan Aurora ditinggalkan sendiri bersama mamanya.
Apa Alexander tidak punya hati? geramnya membatin.
"Alexander sudah memilih gadis itu. Apa orang tuamu tau?" tanya Mama Aurora srdikit mengejek.
Orang tua mama Alexander tidak sekaya keluarga suaminya. Tapi mereka cukup rewel untuk bibit, bebet dan bobot calon istri ketiga cucunya. Karena papanya mama Alexander saat ini menjabat sebagai salah seorang menteri yang pasti akan tersorot tentang calon istri Alexander. Pasti banyak yang akan mencari tau.
"Belum," jawab Mama Alexander paham maksud ucapan Irena. Sedangkan orang tua suaminya, sudah tau dan bisa menerima gadis yang disukai Alexander.
Wajar karena para orang tua itu sudah bersahabat lama dan bekecimpung di bidang bisnis.
Sedangkan orang tuanya sibuk di bidang pemerintahan.
Dulu orang tuanya menerima Aurora dengan tangan sangat terbuka untuk menjadi pasangan Alexander. Aurora adalah menantu idaman.
Tapi ternyata pilihan Alexander adalah Rihana yang lahir di luar pernikahan. Bahkan Dewan ngga bisa menikahi Dilara, karena dia sudah meninggal.
Dari segi keturunan Rihana jos banget. Tapi dari segi nama baik, dia nol besar.
Afif sudah memintanya untuk membujuk orang tuanya agar menerima pilihan Alexander. Tapi hatinya masih enggan. Dia sangat menyukai Aurora.
"Aurora tidak menyukai Aiden. Dia seperti terpaksa hanya untuk membahagiakan hati papanya dan semua orang. Sekarang ini semua perhatian terfokus untuk Rihana. Apa apa Rihana. Putriku merasa tersingkirkan. Aku takut dengan kesehatan mentalnya," ungkap Mama Rihana panjang lebar, mengeluarkan semua unek unek keresahannya.
Mama Alexander terdiam. Dia akui yang dikatakan sahabatnya itu benar semua. Bahkan setelah Aurora menerima Aiden, tetap saja folus mereka pada Rihana. Aurora pasti merasa terbuang. Poor Aurora.
Mama Alexander ngga abis pikir, apa kurangnya Aurora sampai putra bungsunya hanya menganggapnya sebagai adiknya saja.
"Hanya ada satu cara," ucap Irena membuat Mama Alexander menoleh, menatapnya penuh minat.
"Coba kamu bicara pada Rihana agar dia mau melepaskan Alexander buat Aurora."
Mama Alexander tertegun mendengarnya. Tapi memang itulah cara terakhir untuk membatalkan hubungan Alexander dengan Rihana.
"Akan aku lakukan," sahut mamanya yakin.
"Terima kasih, Sofia," balas Irena senang. Harapan untuk melihat putrinya bisa tersenyum lagi sangat besar kini.
*
*
*
"Kak Alex belum pulang, ya, tante?" tanya Aurora saat mereka akan makan malam di rumah Aurora.
Setelah obrolan tadi pagi, Mama Alexander dan Irena membiarkan Aurora sendiri. Tadi siang Aurora sempat berpamitan. Dia pergi kurang lebih dua jam.
Hanya mengatakan ada sedikit masalah di agensinya. Aurora pun ngga mau ditemani.
Sorenya bahkan Aurora membantu mamanya dan dirinya berkutat di dapur. Wajah gadis itu tampak riang, seolah bebannya mulai menghilang.
"Sepertinya besok," jawab Mama Alex dengan senyum agak dipaksakan. Dia ngga ingin senyum di wajah Aurora lenyap.
"Berarti bareng papa, opa dan oma, juga Om ya, tante," senyum Aurora lagi, masih belum luntur membuat Mama Alexander lega.
"Sepertinya begitu."
Suaminya pun belum mengabarkan kapan akan pulang bersama kedua putranya.
"Opa dan Oma dari mama belum bisa ke sini, ya, Ma," cetusnya setelah menelan makanannya.
"Belum, sayang. Oma masih menemani Opa berobat," jelas Irena membuat Aurora maklum.
"Papamu masih belum sembuh?" tanya Mama Alexander prihatin.
"Masih dikemo. Kata mama tinggal dua kali lagi," jelas Irena tenang.
"Semoga cepat sembuh, ya."
"Aamiin," jawab Irena dan Aurora bersamaan.
"Puding ini enak sekali," puji Mama Alexander setelah menelan potongan kecil puding stroberi buatan Aurora.
"Syukurlah kalo tante suka. Kalo mama sukanya puding leci," senyum Aurora hangat.
"Mama selalu kangen dengan puding lecimu, princess," puji mamanya-Irena dengan senyum cerianya. Mama Alexander juga mengulaskan senyum tipisnya.
Aurora tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Nanti kamu harus sering membuatkan puding ini buat tante dan Alex," tukas Mama Alexander sarat makna.
Irena dan Aurora saling menatap dan tersenyum mendengar ucapan Mama Alexander.
"Aku mau sekali tante," jawab Aurora cepat, menyambut kode yang diberikan Mama Alexander.