
Nidya masih bingung memikirkan sikap Fathan. Tadi ketika dia akan memasuki mobilnya saat akan pulang, kembali Fathan mengingatkannya agar jangan lama lama memikirkan tawarannya.
Rasanya ada suasana yang berbeda dalam hatinya saat mendengar Fathan mengulang permintaannya.
Apa seindah ini rasanya diinginkan?
Fathan juga ngga kalah tampan dari Alexander. Tinggi mereka pun sama. Juga sama dinginnya. Tapi Fathan tipe gila kerja, sama seperti kakaknya Kalandra. Karena itu Fathan kurang terlihat olehnya.
Apa dia dituntut untuk cepat cepat menikah menyusul adiknya Alex?
Mengingat Alexander membuatnya teringat lagi usahanya dulu buat meraih perhatiannya demi menjauhi Aurora.
Alexander yang dingin selalu saja ditempeli Aurora. Sampai sekarang Nidya masih bingung, kenapa ending Alexander malah menikah dengan sepupunya yang belum lama dia dan keluarganya temukan.
Lantas hubungan Alexander dengan Aurora selama ini seperti apa?
Murni adik kakak?
Rasanya ngga mungkin.
Buktinya Aurora sampai segila itu mencintai Alexander.
Tapi Alexander? Dia malah memilih bersama Rihana-sepupunya yang katanya cinta pertamanya sejak masih SMA.
Apapun alasannya, Rihana memang beruntung. Dicintai selama dan sebesar itu oleh seorang Alexander
Tapi soal kesetiaannya?
Entahlah Nidya sedikit meragukannya.
Tapi melihat kebahagiaan sepupunya saat ini yang sudah hamil, juga membuatnya ikut merasa senang. Sebentar lagi dia akan punya ponakan. Apalagi Oma dan Opanya yang sangat bahagia mendapat berita akan kehadiran cucu pertamanya.
Salah kakak dan para sepupunya juga dirinya, sih, yang ngga pada nikah nikah. Bibirnya jadi sedikit berkedut.
Masalah keluarganya pun sama dengan keluarga Alexander. Fathan dan Daniel juga akan belum nikah nikah, tapi adik mereka Alexander malah akan memberikan mereka keponakan. Kedutan di bibir Nidya semakin lebar.
"Ada apa senyum senyum terus. Manna tampang juteknya," goda Emir mengagetkan Nidya.
Laki laki ini tertawa keras melihat sepupunya hampir terlonjak saking kagetnya.
Benar benar sedang melamun berat dan ngga ingat sedang ada di tempat kerja.
Sejak Emir membuka pintu ruangan sepupunya dan melihatnya senyum senyum ngga jelas, langsung muncul niat jahil untuk mengganggunya.
Sepupunya sama sekali ngga merespon panggilannya. Malah tersenyum semakin lebar dengan tatapannya yang fokus ke arah lain. Ngga tau khayalan apa yang membuatnya bisa sesenang itu.
Nidya menatap kesal pada sepupunya yang sedang tertawa terpingkal pingkal. Mengetawakan sikap memalukannya.
Tuhan! Kenapa mahlkluk ini harus muncul di depannya saat dia sedang memikirkan Fathan!
"Kamu beneran aneh," tawa Emir sulit untuk dia hentikan.
Sekarang Emir sudah *cospla*y seperti Emra dan Ansel yang usil. Ternyata pembawaannya yang dingin itu hanya untuk menutupi watak aslinya yang sama parahnya dengan kembarannnya.
Nidya ngga henti hentinya memaki dalam hati.
"EMIR! KELUAR!" serunya marah melihat sepupunya yang terus saja tertawa kesenangan. Seolah di depannya ada badut yang membuatnya ngga bisa berhenti tertawa.
Huh. Menyebalkan!
"Maaf, maaf," ucap Emir masih dengan tawanya yang berderai derai. Ini juga momen langka buatnya bisa tertawa segelak ini
Tapi wajah sepupunya yang melamun itu benar benar sudah menggelitik ginjalnya.
Belum pernah dilihatnya wajah sepupunya yang selalu judes itu tampak sebodoh ini.
"Huh!" dengan kesal Nidya menghentakkan kakinya sebelum berlalu meninggalkan sepupunya yang masih betah dengan gelak tawanya.
Nidya juga malu. Sangat malu karena kepergok Emir sedang melamun tentang Fathan.
Dasar Fathan sialan! jeritnya dalam hati.
Belum apa apa saja dia sudah diketawain Emir. Gimana nanti kalo para sepupunya tau kalo dia dan Fathan punya hubungan spesial.
Pasti dia akan tambah diledek habis habisan. Yakin banget. Sebutan gagal move on akan terus melekat padanya untuk selamanya.
Seperti judul novel picisan saja.
Menyebalkan!
Nidya berjalan sambil terus menggerutu dalam hati. Bibirnya pun tampak bergerak gerak ngga jelas saking mangkelnya.
*
*
*
"Alex, Aurora sudah melahirkan," ucap Rihana pelan. Saat ini Alexander memintanya untuk menemaninya di kamarnya. Karena ini hari terakhir dia berbulan madu. Setelah pulang dan menghadiri pernikahan sepupu Rihana dengan sahabatnya, dia membawa istrinya itu pulang ke rumahnya. Tepatnya ke kamarnya.
Alexander bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Rihana.
Dia mengelus lembut perut Zira-nya. Hatinya bergetar lembut. Ada calon anaknya di sini.
Rihana yang baru saja meletakkan ponselnya di samping tempat tidurnya, kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Alexander.
"Kamu mau lihat?" tanya Alexander lembut. Penuh perhatian.
"Temenin, ya," senyum Rihana sambil tengadah dan wajah mereka sangat dekat.
Alexander mengecup lembut bibir yang hampir ngga berjarak dengan bibirnya.
Dia melepaskan ciumannya setelah nafas Rihana terengah, dan istri kecintaannya itu pun memukul dadanya dengan kesal.
Alexander terkekeh sambil mengusap bibir yang membuatnya candu itu.
"Tapi apa ngga apa apa kita ke rumah sakit? Kamu, kan, lagi hamil muda, sayang. Di rumah sakit terlalu banyak virus dan kuman," jelas Alexander setelah tawanya mereda.
Rihana yang awalnya cemberut, jadi terdiam, dan mulai mengiyakan perkataan Alexander dalam hatinya.
Lagi pula tadi saat menelpon, omanya pun melarangnya ke rumah sakit.
"Nanti saja kalo bayinya sudah dibawa pulang, ya, baru kita lihat," bujuk Alexander sambil memainkan rambut Rihana.
"Iya. Tadi Oma Mora juga ngga ngijinin aku ke rumah sakit. Tapi aku penasaran, pengen lihat langsung bayi mungil itu," rajuk Rihana dengan nada manjanya.
"Udah dilarang malah ngeyel," serbu Alexander membuat Rihana kalang kabut.
"Alex, sudah," kesal Rihana sambil menjauhkan wajah Alexander dari lehernya.
Alexander ngga memaksa. Dia kembali tertawa melihat usaha pencegahan yang dilakukan Rihana. Bahkan Rihana menjejalkan wajahnya dengan bantal agar semakin menjauh. Tawa Alexander pun tambah berderai.
"Zira, sekali lagi ya. Besok aku harus kerja," mohon Alexander setelah berhasil di jauhkan Rihana.
"Tapi aku, kan, ikut dengan kamu besok." Rihana memutar bola matanya kesal. Padahal dia ingin bergabung dengan para sepupunya. Tapi suaminya-Alexander memaksanya menemaninya ke perusahaannya.
Mami dan papi Alexander juga mendukung usul itu.
"Jadi doping buat suami, sayang," tawa mami yang diikuti papi Alexander juga saat Alexander memberikan usulan itu.
"Beda, sayang. Di ruangan paling kamu cuma bisa ku kecup saja. Ngga bisa lebih. Jadwalku cukup padat," rayu Alexander lagi dengan tampang memelasnya.
Padahal dalam hati Alexander sudah diniatkannya akan tetap melakukan kewajiban menafkahi secara batin istrinya nanti. Mana kuat dia hanya mencium saja. Pasti dia akan melakukan hal yang lebih dari itu.
"Hemm.....," cibir Rihana yang sudah paham niat terselubung Alexander. Semakin lama mengenalnya, Rihana semakin tau betapa mesum suaminya.
Kenapa Alexander bisa menutupi watak mengerikannya ini semasa SMA.....?
Dulu saja Alexander ngga pernah menyentuhnya. Saat berbicara pun dia selalu menjaga jarak. Itu pun sangat jarang dia lakukan. Hanya tatapannya saja yang selalu menyorotinya.
Kadang kadang Rihana merindukan Alexander yang dulu. Yang dingin dan kaku tapi memiliki sorot mata yang lembut.
Tapi mungkin laki laki ini sudah lupa dengan kebiasaannya dulu.
"Iya sayang. Boleh ya," rayu Alexander sambil memainkan jari jarinya di lengan Rihana membuat sensasi aneh mengalir dalam aliran darah Rihana.
"Emmfh......," l*en*guh Rihana tanpa bisa dia tahan.....
Tuh, dia lemah, kan. Alexander selalu bisa menguasainya dengan mudah.