NOT Second Lead

NOT Second Lead
Berani Membalas



Rihana mengusap mata saat melewati Bu Tika yang memperhatikannya dengan perasaan iba.


Sedikit banyak Bu Tika tau isu kedekatan Rihana dengan Alexander Monoarfa.


Memang untuk mereka yang dari kalangan biasa akan banyak pertentangannya jika berhubungan dengan laki laki yang sangat kaya raya. Bahkan kekayaan Alexander udah masuk taraf konglomerat. Apalagi dia pun jodohnya sudah ditentukan dan bukan kaleng kaleng. Putri bos mereka yang cantiknya selangit dan karir modellingnya pun sudah melejit.


Secantik atau sepintar apa pun mereka, pasti tetap tergilas oleh status ekonomi yang di luar batas mereka.


Rihana kini berhadapan dengan Aurora yang akan menemui opanya di ruangan papanya.


Kebetulan lorong yang mereka lalui sepi. Padahal ngga jauh lagi Rihana akan menemukan lift.


"Sebentar," ucap Aurora ketika mereka bersisian sambil menghentikan langkah.


Rihana hanya diam, menunggu mainlead papanya bicara.


"Berapa?"


Rihana menatap bingung akan ucapan singkat itu. Gadis itu menatapnya datar.


"Jangan pura pura polos," sindirnya kalem.


Rihana baru mengerti apa maksud ucapan bidadari devil ini. Tanpa sadar senyum sinisnya terukir


"Sudah merasa kalah, ya?" Rihana sudah mendapatkan kepercayaan dirinya lagi. Keluarga mamanya yang sudah menerimanya merupakan support sistem dalam dirinya.


Dia ngga takut lagi dipecat. Dia juga ngga takut kalo nanti Ibu Saras dan adik adiknya kesusahan. Oma sudah berjanji akan menjamin kelayakan hidup mereka. Bahkan Opa memintanya bersikap sebagai cucu Airlangga Wisesa yang kaya raya, walaupun banyak yang belum tau jati dirinya yang sebenarnya.


Aurora mendelikkan matanya.


Betapa beraninya? Apa karena Kak Alex sudah benar benar jadi pacarnya?


"Kalo aku mau, sekarang pun aku bisa memecat kamu," sinisnya tersinggung dengan kata kata Aurora tadi.


"Silakan,' jawab Rihana tenang.


"Hemhh," dengus Aurora makin sebal. Aurora tambah yakin kalo Kak Alex sudah mem backing nya.


Mungkin dia sudah memberikan tubuhnya hingga Kak Alex mau memberikannya apa saja. Kerjaan di perusahaannya misalnya, batinnya menuduh.


"Berapa kali kamu memberikan tubuhmu pada Kak Alex?" hina Aurora dengan senyum sinisnya.


Hampir saja Rihana menambar mulut yang ngga punya etika itu. Tanpang mungkin bidadari, tapi hati sudah jadi milik setan.


"Tak terhingga. Bahkan Alex terus saja meminta. Ohya, kata Alex dia ngga sreg dengan bau tubuhmu," sarkas Rihana ngga kalah kejamnya ganti mencela.


Dia langsung pergi dengan perasaan geram campur puas, bisa menghajar balik bidadari sempurna ini.


Kaget dengan perkataan kejam Rihana, Aurora reflek mengangkat lengan atasnya. Menciumnya. Kiri dan kanan. Seakan ngga percaya parfum mahal limited edition nya disangsikan keharumannya.


"Apa benar Kak Alex ngga suka dengan baunya?" gumamnya ngga percaya.


Memangnya gadis itu pake parfum apa? decihnya kesal dalam hati.


*


*


*


Rihana duduk tepekur di kubikelnya. Laptopnya menyala, tapi tatap matanya tampak kosong.


Kata kata pria yang menanamkan benih di rahim mamanya sangat mengganggunya.


Tadi pun dia sempat berbicara jahat padanya. Mungkin kalaupun laki laki itu tau dia anak mamanya, pasti tidak akan mau diakuinya. Buktinya dia sangat menyayangi bidadari devil itu. Sampai memintanya meninggalkan Alexander. Sepertinya laki laki itu tipikal orang tua yang akan melakukan apa saja demi kebahagiaan putrinya.


Dada Rihana sesak. Kenapa dia jadi iri. Kenapa dia juga ingin perhatian itu?


Rihana menghembuskan nafas kasar.


Laki laki itu ngga pernah mencarinya dan mamanya kah?


Rihana memejamkan matanya dengan hati sangat sakit.


"Jangan melamun. Kita makan, yuk. Sudah waktunya istirahat," ajak Puspa mengagetkannya.


"Eh, iya," ucap Rihana kemudian menshutdown laptopnya.


Winta ternyata sudah menunggu.


"Ayo," senyum Winta.


Bertiga mereka berjalan ke arah lift.


"Kelihatannya kita ngga bakalan ada lembur lagi," kata Winta saat memasuki lift.


"Syukurlah. Kita bisa pulang cepat, nih," tukas Puspa senang.


"Padahal aku pengen ada lembur lagi. Kata Kak Aya, lumayan loh cuannya," sela Winta agak kecewa.


"Kita mau makan dimana?" tanya Winta saat pintu lift sudah terbuka.


"Agak jauhan dikit, mau?" tawar Puspa. Tadi dia sudah mengontak supir mamanya yang sedang berada di salon ngga jauh dari sini.


Bisa minta antar sebentar buat nyari makan siang yang rada jauhan. Mamanya juga bisa berjam jam melakukan perawatan.


"Boleh. Aku pesan taksi online dulu, ya," ucap Winta sambil mengeluarkan ponselnya.


"Ngga usah. Supir mamaku sudah nunggu di depan" ajak Puspa sambil melambaikan tangannya saat melihat audi mamanya sudah terparkir di sana, saat mereka sudah keluar dari lobi perusahaan.


"Puspa, aku jadi heran. Kamu, kan, udah kaya banget. Kenapa masih kerja?" kata Winta sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya tetap harus kerjalah. Biar tambah kaya," jawab Puspa cuek kemudian tergelak.


"Dasar," balas Winta tergelak juga.


"Hai, Pak Junod. Antar tempat makan biasa, ya, Pak," sapanya sambil masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan Pak Junod.


"Siap nona muda."


Winta tersenyum mendengarnya. Semakin yakin dia kalo Puspa bukan orang biasa.


Mobil pun melaju membelah kemacetan dan akhirnya sampai di sebuah hotel bintang lima.


"Kita makan di sini?" tanya Winta sambil membuka pintu mobil.


"Yup," sahut Puspa yang juga membuka pintu mobil.


"Pak, ikut makan, ya," ajak Puspa membuat Rihana tersenyum.


"Udah nona. Tadi sudah ditraktir tuan," tolak Pak Junod sopan.


"Papa juga nyalon?" heran Puspa, karena setaunya tadi Pak Junod hanya ngantar mamanya aja.


"Tuan ada meeting di dekat tempat nyonya nyalo."


"Oooh."


"Oke, kalo gitu. Kita pergi dulu, pak."


"Ya, nona muda." Pak Junod pun mengangguk sopan pada Rihana yang sudah dia ketahui sebagai cucu Nyonya besarnya.


Mereka bertiga pun memasuki hotel dengan anggun. Winta dapat melihat para pegawai hotel tampak sangat menghormati Puspa. Puspa pun seolah sudah tau dimana arahnya restoran hotel.


Saat akan duduk, mata Rihana menangkap sosok Alexander bersama Herdin yang berada ngga jauh dari tempatnya berada.


Dia meeting di sini? batinnya. Tapi Alexander ngga melihatnya membuatnya lega.


Tapi saat akan duduk, Rihana terkejut melihat seorang wanita seumuran omanya hampir terjatuh. Mungkin tersandung kaki kursi di depannya.


Reflek dia menahannya. Winta dan Puspa juga ngga jadi duduk karenanya.


"Terima kasih, anak cantik," ucapnya setelah hilang kagetnya.


"Hati hati, Mora," kata temannya yang juga sebaya dengannya lega. Karena temannya ngga jadi jatuh.


"Terima kasih, ya, nak. Teman Oma ini suka ceroboh," candanya.


Rihana hanya tersenyum menanggapinya. Begitu juga Winta dan Puspa.


"Aku, kan, masih jetflag," protesnya ngga mau disalahkan.


Tapi kemudian agak tertegun melihat siapa yang menolongnya.


Kedua tangannya menangkup pipi Rihana.


"Kamu cantik banget," pujinya tulus.


Rihana tersenyum tipis, tapi sentuhan ini rasanya sangat hangat.


Kemudian kedua oma itu melangkah pergi meninggalkannya.


"Mirip Wina, ya," kekeh temannya lagi.


"Iya, Dewina masih remaja," kekeh oma yang kena jetflag. Dewina adalah putri pertamanya.


"Kalo tua pengen kayak gitu. Tetap cantik," puji Winta tertawa pelan.


"Itu perawatannya mahal loh," kekeh Puspa. Teringat pada Omanya yang juga masih cantik.


"Ya ngga apa," balas Winta ngga mau kalah.


Mereka pun memesan makanan, dan lagi lagi Puspa yang traktir.


Alexander memperhatikan Rihana tanpa gadis itu sadari. Dia baru sadar ada Rihana saat mendengar jeritan kecil. Bibirnya tersenyum. Lega bisa melihat gadis itu di saat dia mengira ngga bisa melihatnya saat jam makan siang.