
Sejak pulang dari survey lapangan, rasanya Rihana merasa staminanya agak menurun.
Dia merasa tubuhnya cepat lelah. Mungkin juga karena divisinya sangat sibuk hari ini. Dan tadi malam pun dia kurang istirahat.
Seperti hari ini, dia merasa agak kurang sehat. Setelah pulang dari makan siang bersama Alexander, setumpuk pekerjaan sudah ada di mejanya.
Rihana tetap berusaha mengerjakannya walau kepalanya mulai terasa pusing.
Notifikasi pesan dari Alexander membuat dia agak bingung untuk menyampaikan pada kakek neneknya.
Alexander
Aku udah reservasi tempat buat enam orang malam ini. Nanti alamatnya aku kirimkan. Aku akan bawa orang tuaku agar bisa kenalan dengan keluarga mama kamu ♡♡
Dan ngga lama kemudian alamat restoran di hotel bintang lima yang sangat mewah dikirimkan Alexander.
Rihana langsung bimbang. Ngga yakin, apa mama papa Alexander mau bertemu keluarga mamanya yang belum diketahui siapa adanya.
Alexander juga kenapa ngga bertanya dulu siapa keluarga mamanya?
Rihana jadi gedeg sendiri.
Lagian kenapa ngga besok besok aja. Dadakan banget.
Rihana mencoba menarik nafas panjang untuk mengurangi sesak di dadanya.
*
*
*
Dewan yang sedang mengunjungi Afif Suhendrata, papanya Alexander disuguhkan wajah ngga bersemangat sahabatnya.
"Ada apa?" tanya Dewan sambil duduk di depan sahabatnya.
"Alexander sudah bergerak sangat cepat," katanya mengeluh.
"Maksudnya?"
"Malam ini Alex meminta aku dan mamanya bersamanya menemui keluarga gadis itu."
Kening Alexander berkerut.
"Bukannya katamu gadis itu yatim piatu?"
Papa Alexander menghela nafas kasar.
"Katanya gadis itu sudah menemukan keluarga mamanya."
Dewan terdiam, seolah sedang mencerna.
"Apa maksudnya? Mama dan papanya pisah?"
"Alexander ngga mengatakan apa apa. Tapi bisa kutarik keseimpulan, agaknya papanya sudah meninggalkannya dan mamanya sejak lama. Atau bisa saja papanya ngga mau tanggung jawab saat mamanya hamil dirinya," jelas Papa Alexander panjang lebar.
DEG
"Bisa juga karena suatu alasan, papanya ngga sengaja, ngga bisa bertanggung jawab," jawab Dewan setelah tadi jantungnya rasanya seakan ditusuk pisau saat mendengar kata kata yang seperti vonis untuknya.
Sahabatnya seakan sedang menyindirnya.
"Ya, ya, terserah lah. Yang jelas papanya belum diketahui siapa," jawab Afif sekenanya. Dia ngga terlalu memikirkan hal itu. Yang dia sedang berusaha pikirkan bagaimana caranya agar bisa menggagalkan rencana Alexander dengan cara yang halus. Tanpa dicurigai anaknya.
Kembali Dewan merasa jantungnya seperti ditusuk lagi. Kali ini lebih dalam.
Ya, dia adalah laki laki yang ngga bertanggungjawab.
Apa Rihana juga memiliki papa yang sama seperti dirinya?
Atau memang dirinya adalah papanya? Siapa tau....
DEG DEG DEG
Jantungnya berdetak keras karena tiba tiba terpikir kemungkinan itu.
Tapi rasanya ngga mungkin. Hatinya menolak untuk percaya. Rasanya itu adalah pikiran paling aneh yang pernah mampir di kepalanya.
Karena kalo sudah memikirkan anak dan ibunya yang ngga tau dimana keberadaannya, membuat kepalanya hampir pecah.
"Mamanya lebih memilih Aurora. Gimana ini. Alexander kalo punya keinginan sudah untuk dibelokkan," keluh Afif lagi sambil membuang nafasnya kasar.
Anak bungsunya kenapa susah sekali untuk menurut. Padahal apa kurangnya Aurora, batinnya kesal.
"Apa kalian akan datang?" tanya Dewan agak was was juga. Kepikiran Aurora yang pasti terpuruk jika memdengar berita ini.
Tidak! Dia harus melakukan sesuatu untuk menggagalkan rencana Alexander.
"Apa kamu punya rencana?" Afif balik bertanya.
Dewan terdiam. Tiba tiba ada satu notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponsel yang sedang dipegangnya.
Bibirnya tersenyum miring.
"Malam ini Alexander tidak bisa menemui gadis itu bersama keluarganya. Karena dia akan lembur bersama Zerina."
Afif pun tersenyum lebar. Rasa hatinya lega. Tapi cuma sesaat. Gimana untuk besok.
Afif menghembuskan nafas kesal.
"Tapi kalo buat besok, apalagi yang akan kita lakukan?"
Afif berusaha mengikuti saran temannya agar tetap tenang.
*
*
*
Rihana menatap jam di tangannya. Dua jam lagi baru bisa pulang.
Kembali dia melanjutkan perkerjaannya.
"Rihana," sapa Zerina membuat nya mendongak.
"Iya bu," sahutnya sambil berdiri, agar tampak sopan.
"Kita terpaksa lembur sampai jam delapan malam, nih. Besok Pak Irdi minta kita ikut meeting sama klien. Kliennya mendadak datang dari Bangkok," jelas Zerina membuat Rihana terdiam sesaat. Dia teringat pesan Alexander.
"Eh, iya, Bu."
Setelah itu Zerina kembali ke ruangannya. Rupanya dia mengabari pegawainya yang akan ikut meeting satu persatu.
Dia pun mengetikkan pesan untuk Alexander.
Aku meeting sampai jam delapan. Baru dikasih tau Bu Zerina. Gimana, ya?
Ditunggu semenit, dua menit, belum ada respon dari Alexander.
Malah dia dikejutkan oleh teguran Puspa.
"Ri, aku ikut meeting. Kamu juga?" Gadis itu sudah berdiri.di depannya.
"Iya."
"Oke, deh, kalo gitu. Nanti kita minta dijemput jam delapan aja," katanya kemudian pergi mendapat anggukan Rihana.
Masih menunggu respon Alexander yang belum juga muncul membuat Rihana ngga tenang.
Dia takut Alexander ngga baca pesannya dan tetap datang nanti malam.
Akhirnya Rihana pun menelponnya.
Tapi terdengar nada sibuk.
Rihana menghembuskan nafas kesal.
Setelah ditunggu lima belas menit, Rihana pun kembali menelpon Alexander.
Tersambung.
Rihana menahan nafas saat medengar suara Alexander.
"Hai, Pacar."
Tanpa sadar Rihana tersenyum.
"Sudah baca pesannya?" tanya Rihana tanpa.membalas sapaan Alexander. Dia sudah sangat gugup.
"Udah. Tadi aku nelpon resto dulu buat batalin reservasi," jelas Alexander
"Ooo...."
Pantasan tadi sibuk, batin Rihana mengerti.
"Besok aja, ya."
Tanpa sadar Rihana menghembuskan nafas.
"Oke, deal," putus Alexander ngga mau dibantah.
"Emm... aku kabari besok, ya. Siapa tau aku lembur lagi," sahut Rihana pelan.
Hari ini aja lembur dadakan, batin Rihana.
"Oke. Kalo jam segini kamu ngga nelpon, besok aku langsung reseevasi," putus Alexander lagi.
"Iya."
"Zira."
"Ya?"
Hening. Rihana mendekatkan ponselnya ditelinganya
Masih nyambung, batinnya heran karena mengira Alexander sudah memutuskannya
"Aku senang kamu nelpon duluan."
Sunyi.
Tapi ngga dengan jantung Rihana. Berdebar seakan sedang berlarian kencang.
"Aku tutup, ya. Mau meeting. Love you."
Telpon pun diputus Alexander sebelum laki laki itu mendengar balasan jawaban dari Rihana.
Me too, batin Rihana telat.