NOT Second Lead

NOT Second Lead
Emosi



"Keadaanmu sudah membaik?" tanya Oma Mora dengan bibir penuh senyum.


Ngga disangka dia memiliki cucu yang lain selain Aurora. Gadis ini pun ngga kalah cantiknya dengan Aurora. Alexander pun berhasil ditaklukkannya.


Rihana tersenyum canggung. Di samping Oma Mora juga ada Opa Iskandardinata yang menatapnya lembut dengan bibir yang juga tersenyum.


Oma Mien dan Opa Airlangga juga berada di dekatnya.


"Panggil aku Oma juga. Karena kamu juga cucu kami," kata Oma Mora dengan mata memanas. Tangannya menggenggam lembut jemari Rihana.


"Iya, o oma." Agak gugup Rihana menyebutnya. Lidahnya terasa kaku.


Oma tersenyum sambil menghapus bulir air matanya yang mengalir perlahan.


"Cucu Oma. Maafkan kami," ucap Oma Mora dengan suara bergetar.


"Maafkan kami," kata Opa Iskandardinata sangat jelas terdengar.


Beliau ikut menggenggam jemari yang menggenggam Rihana.


Mata Rihana pun memanas. Dia kini punya dua oma dan dua opa yang menyayanginya.


Mama, Rihana ternyata disayang juga dengan mereka. Dia jadi merindukan mamanya dengan amat sangat.


"Kita keluarga," kata Opa Airlangga.


Ketiganya pun menganggukkan kepalanya. Oma Mora saling tatap dengan Oma Mien yang mengukirkan senyum hangatnya.


*


*


*


"Kita putus?" tanya Zerina ngga percaya. Dia menatap Aiden ngga terima. Setelah segala yang dia berikan.


"Ya," jawab Aiden santai. Nanti malam secara resmi keluarganya akan melamar Aurora. Om Dewan sudah memberikan lampu hijau kalo lamarannya bakal diterima.


Dalam hati bersorak, karena Aurora ngga bisa menolak. Kaenanya dia memutuskan Zerina, agar gadis ini ngga terlalu berharap padanya. Siang ini mereka sedang lunch di luar.


"Apartemen dan mobil sudah atas namamu. Juga ada tabungan setengah milyar. Aku rasa sudah cukup mengganti apa yang sudah kamu berikan padaku," tukas Aiden santai dan tanpa beban.


Zerina terdiam. Dia seperti ditampar dengan sangat keras. Selama pacaran dia memang sudah diberikan fasilitas mewah oleh Aiden.


Zerina mengira sudah berhasil mengikat Aiden. Aiden sudah memanjakannya dengan kemewahan. Tapi ternyata dia salah besar. Aiden tetap mencampakkannya walaupun tetap memberikannya pesangon.


"Kenapa?" bisik Zerina hampit ngga terdengar.


"Aku akan menikahi Aurora. Kami sudah dijodohkan."


JEGGEER!


Zerina seakan mendengar suara petir di dekat telinganya. Sangat keras dan hampir membuatnya tuli.


Aurora putri bosnya? batinnya berusaha mencerna.


"Nona Aurora bukannya mau dijodohkan dengan tuan muda Alexander?"


Aiden mendengus mendengar sebutan tuan muda yang dilekatkan pada Alexander


"Alexander akan menikahi Rihana," terangnya malas


Apa? Dia ngga salah dengar, kan?


Kembali Zerina seakan mendengar suara petir yang menulikan gendang telinganya.


Ngga mungkin. Ngga mungkin, bantahnya berulang kali dalam hati.


"Kapan?" tanya Zerina dengan suara bergetar. Selera makannya sudah hilang. Aiden mengajak mereka bicara di tengah tengah saat mereka sedang menikmati makanan mereka.


"Apanya?" tanya Aiden ngga ngerti dengan arah pertanyaan Zerina.


"Kamu dan nona Aurora, kapan akan menikah?" tanyanya pahit dan menunduk. Menahan air matanya yang mau berjatuhan.


'Secepatnya."


Zerina pun menengadah dan menatap getir Aiden yang sedang sibuk dengan ponselnya. Air matanya pun berjatuhan.


*


*


*


Aurora sengaja menunggu di basemen. Dia tau kalo Alexander akan ke perusahaan papanya. Dia harus cepat memanipulasi laki laki pujaannya itu.


Dengan malas Alexander menghentikan langkahnya. Tapi dia hanya diam saja menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir Aurora.


"Aku ingin menjelaskan tentang kejadian kakak melihatku di hotel," katanya sambil menahan rasa malunya


"Hemm..." gumam Alexander cuek.


"Aiden memaksaku, kak. Aku ngga bisa menolak keinginannya," kata Aurora hampir menangis melihat tanggapan dingin Alexander padanya.


Alexande masih ngga menjawab. Walaupun kasian setelah mendengar pengakuan Aurora, tapi semuanya sudah terjadi. Lagian itu urusan mereka berdua. Alexander sibuk mendebat dalam hatinya.


"Aiden ingin menikahiku. Aku ngga mungkin akan bahagja. Hidupku pasti akan menderita," mohon Aurora dengan suara bergetar menahan tangis.


Alexander menghela nafas panjang.


"Kamu tinggal menolaknya."


"Sulit, kak. Aiden punya foto fotoku yang ngga mengenakn busana," lapor Aurora dengan hati senang karena Aiden meresponnya. Dia tinggal berakting agar tampak sangat menyedihkan.


Alexander ngga menyahut Dia cukup terkejut mendengarnya


"Aiden memberiku obat tidur. Aku ngga bisa apa apa, kak," lapor Aurora terisak. Sedikit berbohong ngga apa apa, asalkan tujuannya tercapai.


"Karena itu dia harus bertanggungjawab," ucap Alexander setelah beberapa saat terdiam membuat Aurora ternganga. Ngga nyangka dengan respon Alexander yang ngga sesuai harapannya.


Aurora pikir Alexander akan kasian dan membelanya.


"Maksud kakak?"


"Biarkan Aiden bertanggung jawab," jawab Alexander tegas.


Sebenarnya dia ngga tega melihat air mata yang terus saja mengalir di pipi Aurora. Hanya saja Alexander ngga mau sikap baiknya menjadi blunder pada dirinya sendiri.


Alexander tentu masih ingat kejadian dulu yang membuat Rihana salah paham dan memutuskan break.


Dia ngga akan melakukan hal yang sama lagi.


"Kak," ucap Aurora tercekat.


"Aku harus pergi. Bicarakan baik baik dengan Aiden," nasihat Alexander sebelum melangkahkan kakinya pergi menuju lift.


Aurora bergeming. Ngga nyangka Alexander ngga mempedulikannya lagi. Air matanya semakin deras mengakir. Awalnya hanya ingin mendapatkan simpati, tapi kini malah membuatnya sakit hati karena merasa dicampakkan.


*


*


*


"Kamu serius, Irena?" Mama Alexander menatap Mama Aurora ngga percaya.


"Apa kamu lihat aku main main?" gusar Irena, Mama Aurora menjawab.


Setelah pertengkaran hebat dengan suaminya, paginya dia meminta Mama Alexander menemuinya.


"Aurora minta Aiden mencelakakan gadis itu. Aurora ngga tau kalo gadis itu anak papanya juga. Aaah, kenapa semuanya menjadi sangat rumit," keluh Mama Aurora dengan wajah frustasi.


"Aku ngga percaya Aurora bisa melakukannya," desis Mama Alexander shock. Setaunya Aurora gadis yang lembut dan baik hati.


"Dia cemburu, karena putramu sangat perhatian pada gadis itu," sergah Mama Aurora terdengar menyalahkan Alexander, putranya.


Mama Alexander ngga membantah. Putranya seakan sudah tersihir oleh pesona gadis itu, yang ternyata putri pertama Dewan.


Mama Alexander pun tau, kalo rasa cemburu bisa membuat seseorang gelap mata. Melakukan tindakan agresif di luar nalar mereka.


"Aku sudah berusaha, tapi Alexander kali ini sangat keras kepala," keluh Mama Alexander.


"Ya, aku mengerti. Karena itulah Dewan memaksa untuk menjodohkan Aurora dengan Aiden. Selain menutup skandal Aurora dan Aiden, juga untuk mengambil hati putrinya itu agar bisa memaafkannya," sinis Irena dengan perasaan getir.


Dewan nampak jelas lebih mementingkan putrinya yang baru dia temukan. Dia bahkan melupakan Aurora, putri yang selalu menemaninya dan sangat menyayanginya. Hati Irena miris karenanya.


Mama Alexander ngga menjawab. Jalannya untuk menyatukan Aurora dan Alexander sudah tertutup. Suaminya pun sudah menyerah, dengan membebaskan apa pun pilihan Alexander, putra mereka.


Bukan dia ngga menyukai Rihana. Tapi Mama Alexander terlalu berharap tinggi pada Aurora untuk jadi mantunya.