NOT Second Lead

NOT Second Lead
Yang selama ini dirahasiakan



Papa Aiden yang baru selesai meeting kaget campur senang dengan kunjungan sahabat lama sekaligus relasi bisnisnya.


Bahkan Aiden ngga tampak raut bersalahnya dan mengulurkan tangan dengan santai sambil menyapa hangat.


"Baru ketemu beberapa hari yang lalu, Om."


Dewan menahan marahnya dengan tetap bersikap tenang dan santai.


"Ya."


Papanya menatap putranya heran.


"Kamu menemui Om Dewan?"


Aiden menggelengkan kepalanya.


"Papa lupa yang sudah nyuruh Aiden ngantar berkas pengajuan tender," decaknya kesal karena sifat pelupa papanya yang ngga hilang hilang.


"Oh iya ya," tawa Papa Aiden berderai derai.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dewan membuat keduanya saling pandang. Dewan kelihatan serius.


"Oke, ayo ke ruanganku," kata Papa Aiden sambil merengkuh bahu sahabatnya.


"Ayo, Aiden. Kamu juga ikut," ujar Dewan sambil menatap Aiden tenang.


"Oke, Om," jawab Aiden santai. Dia sama sekali ngga punya firasat buruk tentang ini.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Papa Aiden setelah office boy mengantarkan kopi late dari kafe yang cukup terkenal yang berada di depan gedung perusahaannya.


Dewan tersenyum sambil menyesap kopinya. Aiden dan papanya juga melakukan hal.yang sama.


Setelahnya Dewan mengeluarkan ponselnya, mengotak atiknya sebentar.


"Kalian kenal?" katamya sambil menunjukkan foto laki laki yang sudah babak belur.


Wajah keduanya terkesiap. Tapi Aiden tampak lebih pucat


"Si Ardi kenapa bisa luka parah begini?" kaget papa Aiden sambil menatap Dewan tajam. Atmosfir ceria dan santai berubah mencekam.


Jantung Aiden berpacu kencang. Keringat dingin mengalir di punggungnya.


Sudah ketahuan? batinnya panik.


Dewan dapat menangkapnya.


"Dia siapa?" tanya Dewan ingin mendapat jawaban yang tegas.


"Dia supir kepercayaanku dan Aiden. Dari tadi malam dia ngga pulang. Kenapa kamu memiliki fotonya yang sudah babak belur?" berondong Papa Aiden penuh curiga.


Sementara Aiden sudah merasa duduknya ngga nyaman. Seakan ada kompor yang menyala dibawah kursinya.


"Dia ketahuan sudah mencelakakan salah satu staf di perusahaanku." sengaja Dewan belum menjelaskan siapa Rihana.


"Apa? Ngga mungkin!" sangkal Papa Aiden dengan suara keras.


"Aku juga kaget. Apalagi dia membawa nama Aiden," tukas Dewan tetap tenang.


"Aiden! Apa yang dikatakan Om Dewan benar!" todong Papanya galak.


Aiden memang brengsek, tapi dia ngga pernah berbohong dengan orang tuanya.


"Iya, pa," katanya mengaku. Dia menunduk seolah sudah dijadikan tersangka kasus pembunuhan berantai.


"Kamu!" Dada papanya langsung sesak. Dia melonggarkan simpul dasinya untuk melegakan pernafasannya.


"Maaf," katanya perlahan.


Dewan menghela nafas.


"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Dewan lembut. Dia ingin anak sahabatnya ngga takut bicara jujur.


Aiden menghela nafas panjang. Ada pertikaian dalam hatinya. Apakah dia akan menyebutkan nama Aurora.


Melihat kebungkaman Aiden membuat Papanya jengkel.


"Katakan yang sebenarnya!" bentak Papanya mulai emosi.


Aiden masih bungkam.


"Kamu mengenal pegawai yang hampir celaka itu?" tanya Dewan dengan suara bergetar. Dia menahan perasaan marahnya dan mencoba tetap tenang.


Aiden dengan jujur menggeleng. Dia memang ngga kenal


"Kamu aneh! Kamu ngga kenal tapi ingin melukainya!" sentak papa Aiden emosi campur frustasi.


Dewan semakin yakin ada yang menyuruh Aiden.


Dewan menghembuskan nafas panjang


"Om baru tau kalo dia putri Om yang sudah menghilang lebih dari dua puluh tahun yang lalu," ungkap.Dewan jujur dengan suara yang terdengar getir.


Keduanya menatap Dewaan kaget. Ngga percaya mendengarnya.


"Kamu jangan becamda, Dewan," seru Papa Aiden merasa kepalamya jadi makin pusing karena masalahnya jadi panjang dan ngga karuan.


"Kamu ingat, kan, malam kelulusan kita?"


DEG


Ingatan itu membawa pukulan keras pada jantungnya. Papa Aiden memegang dadanya sampai terbungkuk.


"Papa!" seru Aiden sambil memberikan obat jantung pada papanya.


Dewan juga jadinya panik. Dia segera memberikan segelas air mineral pada Papa Aiden.


Setelah menelannya, beberapa.saat kemudian rasa sakit di dadanya mulai berkurang.


"Jadi kamu?" tanyanya dengan penuh rasa bersalah. Matanya sampai berkaca kaca ketika melihat Dewan menganggukkan kepalanya.


Papa Aiden ngga sengaja mengaku pada Dewan, kalo dia lah yang memberikan obat bubuk laknat itu ke dalam dua buah gelas dan dibagikan secara acak pada beberapa teman dan undangan yang datang.


Tapi saat itu Dewan ngga mengaku kalo dia sudah meminumnya bersama seorang gadis.


"Maaf," katanya dengan suara bergetar.


Aiden menatap keduanya ngga mengerti. Papanya terlihat merasa sangat berdosa dan mohon pengampunan pada Om Dewan yang telihat menatapnya hampa.


"Staf itu hampir saja meninggal. Dia membutuhlan banyak darah. Ngga disangka golongan darahnya sama dengan yang aku miliki," cerita Dewan masih dengan suara bergetar.


Aiden mendengarkannya dengan serius, sementara papanya berkali kali meneguk salivanya.


"Saat aku kembali ke kubikelnya, ternyata dia anak dari perempuan yang selama ini aku cari," sambungnya lagi.


"Gadis itu....?" tanya Papa Aiden dengan suara mengambang.


Dia tentu tau gadis pemalu yang sempat ditaksir Dewan waktu kuliah. Sangat ngga disangka, kalo yang meminumnya adalah dia dan Dewan.


"Gadis itu sudah meninggal. Kamu tau, Hen, penyesalan dan dosa yang ada di dadaku membuatku yakin ngga akan pernah mencium bau surga sebelum mendapat pengampunannya."


Suara Dewan terdengar sangat menyayat hati.


Aiden tergetar mendengarnya. Dia juga sudah berdosa.


Sialan, apa Aurora tau kebenaran ini, umpatnya dalam hati merasa dikadali.


"Maafkan aku. Maaf," kata Hendy Permana-Papa Aiden berulang kali. Penuh penyesalan. Dia pun sama bejatnya dengan Dewan. Mungkin dia akan menemani Dewan di siksa di neraka.


Dewan menganggukkan kepalanya dengan hampa.


"Aiden, Om mohon. Kalo kamu sudah bisa jujur, katakan. Om ingin tau apa motifnya menyuruh kamu berbuat begitu," kata Dewan sambil menepuk lembut pundak Aiden sebelum bangkit dari duduknya. Dadanya sudah sesak. Ruangan ini sudah ngga memiliki oksigen untuk dia hirup.


"Aiden! Cepat katakan yang sebenarnya!" bentak papanya garang.


Aiden masih ngga menjawab. Dia menatap nanar punggung yang tampak lunglai itu.


Tetap saja ada keraguan dan ngga tega untuk mengatakannya.


Apakah Om Dewan sanggup mendengarnya?


"Aiden!" bentak Papanya tambah menggelegar.


'Om," panggilnya akhirnya. Dia sudah putuskan. Apa pun resikonya. Mungkin Om Dewan harus tau seperti apa sebenarnya putri yang sangat disanjungnya


Dewan terdiam tapi tetap tegak ngga menoleh. Dia menunggu. Berusaha sabar.


"Aurora," katanya pelan tapi bagi kedua laki laki paruh baya itu bagai ada ledakan bom di dekat mereka.


PLAK!!


Aiden hampir terjatuh akibat tamparan keras papanya.


"Kamu jangan memfitnah!" geram Hendy penuh amarah.


"Aku bicara yang sebenarnya. Pa. Aurora benci gadis itu karena Alexander menyukainya."


DEG DEG DEG


Jantung Dewan rasanya berhenti berdetak.


"APA!" Kali ini bentakan Hendy sangat menggelegar membuat Aiden berjengkit saking terkejutnya.


Maksudnya Alexander Monoarfa? batinnya ngga percaya.