NOT Second Lead

NOT Second Lead
Percaya



Alexander mengusap sisa ciuman di bibir Rihana. Efek samping ciuman itu masih kerasa hingga sekarang. Dadanya masih bergetar hebat. Dia ingin lagi dan melakukannya lebih lama. Untung saja Alexander cepat sadar dan mengingat dimana tempat mereka berada saat ini.


Bibir Rihana yang candu membuatnya hingga ingin lagi mencumbunya sampai segala hasratnya tertumpahkan Tapi Alexander tau, ngga mungkin melakukannya sekarang. Dia akan menunggu sampai stempel halal diberikan untuk mereka berdua.


"Wataer proff?" senyum jahil tersungging di bibir Alexander membuat wajah Rihana tambah tersipu.


Ya, Rihana memang dibelikan satu set kosmetik ya g sangat mahal, sehingga bisa membuat make upnya tahan lama dan tetap natural di berbagai situasi dan kondisi. Terutama lipstiknya.


Jadi setelah tadi mereka berciuman, lipstiknya masih tetap menempel rapi di bibirnya, walaupun Alexander melakukannya cukup lama.


Segera dipalingkan wajah meronanya. Jantungnya berdebar keras, berdentuman ngga menentu. Tapi Rihana dapat merasakan dadanya juga kena hantaman jantung Alexander yang bertubi tubi.


Apa Alex merasakan hal yang sama? Hati Rihana berdenyut senang.


Alexander tersenyum kembali melihat Rihana. Lipstik gadis itu masih rapi. Dia pun memundurkan kursinya. Ngga kuat menahan kekasihnya lama lama dipangkuannya. Dia takut Zira merasakan ada yang aneh dan keras di bawah sana.


Tanpa berucap sepatah kata pun, Rihana pindah kembali ke kursinya. Merapikan lagi pakaiannya yang sedikit kusut.


Sempat tertegun merasakan usapan lembut tangan Alexander yang merapikan anak anak rambutnya.


"Aku antar ke ruangan kamu."


Rihana hanya mengangguk sambil membuka pintu mobil bersamaan dengan Alexander.


Alexander menghampirinya dan kembali merengkuh bahu Rihana penuh sayang.


"Jangan menatapku begitu," tukas Alexander ketika Rihana memdongak ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Rihana deg degan. Gara gara ciuman tdi jantungnya melakukan sprint tiada henti.


"Nanti aku cium lagi."


Dan Alexander terbahak ketika melihat wajah merengut Rihana dan dia pun mendapatkan pukulan lembut kekasihnya itu di lengannya.


Efek ciuman spontan dan beraninya tadi memang luar biasa. Saat ini kalo bisa Alexander ingin membawa Zira ke kamar pengantin mereka tadi. Ngga apa ngga ada kelopak mawar yang bertaburan. Yang penting bisa bersama gadisnya itu. Tapi Alexander tidak akan membuat Rihana sedih karena teringat masa lalu kedua orang tuanya yang pasti menyakitkan hatinya.


"Aku balik dulu. Nanti sore aku yang antar kamu pulang," ucap Alexander setelah mengantar Rihana ke ruamgannya.


"Ya," ucap Rihana masih gugup. Dia belum bisa setenamg Alexander.


CUP


Rihana tersentak mendapat kecupan singkat Alexander di keningnya.


Alexander tersenyum. Sebelun mendengar protes Rihana, Alexander segera pergi meninggalkan ruangan sambil tersenyum senyum.


Harinya sang indah, batin Alexander sambil melangkah pergi. Para staf sampai OB sampai bengong melihat wajah penuh senyum Alexander. Mereka seperti mendaoat bonus akhir tahun yang berlipat ganda. Karena biasanya wajah itu selalu terlihat dingin dan datar.


*


*


*


Alexander heran ketika memasuki ruanganny. Ternyata papa, mama dan Om Dewan sudah ada di sana. Mereka menatapnya dengan tatapan yang aneh menurutnya


"Ada apa?" tanyanya sambil mendekat, setelah terlebih dahulu memyalim tangan ketiganya.


Ada perasaan ngga enak wira wiri di dalam hatinya melihat keterdiaman mereka saat dia memasuki ruangannya tadi. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang sangat serius. Dan melihat tatapan ketiganya membuat hatinya semakin yakin kalo tadi mereka membicarakan hal buruk tentangnya


"Alexander," ucap mamanya sambil meraih sebelah tangannya dan mendudukkannya di sampingnya.


"Kamu dari mana?" tanya Afif mencoba berbasa basi.


"Ketemu Zira. Apa mama ngga cerita?" sahut Alexander balik bertanya dengan heran.


Istrinya menatapnya dengan tatapan bingung. Mengingat apa yang sudah terjadi tadi antara dia, Mama Puspa, Alexander dan Rihana. Dia merasa dipermainkan oleh nasib.


Setelah meyakini kalo Rihana adalah mantu yang dia inginkan, sekarang ada masalah baru yang muncul. Kepercayaannya terhadap putra bungsunya sedikit goyah.


"Iya," tegas Alexander menahan kesal.


Ada apa, sih, batinnya sewot.


Hening. Ketiga orang paruh baya itu saling pandang.


"Aurora hamil," ucap Afif memecah keheningan. Kali ini sorot para tetua itu menatap tajam padanya


"Lalu kenapa?" jawab Alexander lugas campur lega.


Pasti hamillah, batin Alexander yang mengingat gadis itu keluar dari kamar hotel bersama Aiden.


Pasti dia sering melakukannya, batinnya lagi. Apalagi Xavi sudah menunjukkan rekaman video hubungan intim keduanya yang ditemukan di kamar adiknya. Waktu itu Alexander hanya melihat sekilas dan sebentar saja. Herdin juga.


"Bukan kamu, kan, papanya?" tanya mamanya pelan, tapi bagai suara sambaran petir di telinga Alexander.


Dia langsung bangkit berdiri membuat mamanya kaget. Wajah Alexander tampak menggelap karena marah. Kedua tangannya mengepal erat.


"Kalian menuduhku. Sudah jelas itu anak Aiden," sentaknya penuh emosi. Ngga terima dan sangat tersinggung.


"Maafkan mama, Alex. Mama hanya ingin kepastian," suara mamanya terdengar memohon karena terkejut melihat ekspreesi marah putranya yang biasanya sangat tenang dan sabar


Alexander terdiam, tubuhnya masih bergetar menahan marah yang sudah naik ke ubun ubunnya.


Hampir saja dia menendang meja kerjanya.


Kenapa Aurora yang hamil tapi dia yang harus tanggung jawab. Mencium gadis itu pun ngga pernah dia lakukan. Tuduhan ini benar benar gila.


"Papa dan om Dewan percaya sama kamu. Tapi tante Irena butuh bukti tes dna," jelas papanya berusaha mengendurkan kemarahan Alexander.


"Tes dna hanya bisa dilakukan beberapa bulan lagi. Sedangkan kalian sebentar lagi akan menikah," lanjut Dewan menjelaskan.


Kenapa masalah selalu datang tiada henti, keluhnya dalam hati. Mengingat kemarahan Irena, kalo keinginannya ngga dikabulkan, istrinya itu akan mengungkapkannya ke media. Dewan yqkin kalo istrinya akan membuat skandal baru lagi agar pernikahan Rihana dan Alexander terjegal.


Alexander langsung meradang.


"Mau tes dna berapa kali pun aku siap, Pa, Om. Aku yakin seeibu persen, ngga ada canpur tangan aku dalam kehamilan Aurora. Maaf, Om," marahnya dengan jantung yang hampir meledak.


"Om percaya sama kamu," sahut Dewan sambil mendekati Alexander dan menepuk lembut pundaknya.


"Tapi gimana dengan permintaan Irena?" tanya Mama Alexander resah. Dia hanya takut kalo Alexander putranya pernah khilaf dan lari dari tanggung jawab. Karena berdasarkan hitungan Irena, di hari hari itu Alexander sudah menetap di Jakarta. Walaupun dia juga ragu kalo janin itu milik Alexander. Tapi kalo putra keduanya dia sangat yakin. Yang mengherankan malah ngga ada perempuan yang laporan padanya kalo sudah dihamili putra keduanya itu.


"Kita ngga usah memikirkannya. Malah aku kasian dengannya. Dia tetap memaksakan keinginan putrinya pada Alexander," kata Dewan menengahi.


Melihat ekspresi Alexander, sudah menambah kepercayaannya kalo ini hanya ulah Irena untuk menghambat pernikahan mereka. Dewan yakin kalo Irena tau siapa laki laki yang bertanggung jawab atas kehamilan putri mereka.


"Terimakasih, Om," ucap Alexander sangat lega karena Om Dewan mempercayainya. Begitu juga papanya. Kalo mamanya mungkin hanya shock saja.


"Maafkan, mama," ucap Mama Alexander yang tersadar akan ucapan Dewan. Beliau pun memeluk putranya dengan sesak yang sejak tadi memenuhi rongga dadanya yang sudah berkurang kini.


Mungkin saja Irena berbohong. Lagi pula ngga mungkin dia bisa menerima Aurora lagi yang sudah pernah berhubungan suami istri dengan Aiden. Mau dikemanakan harga diri putranya nanti.


"Iya, Ma. Alex ngga pernah merusak perempuan mana pun," balas Alexander yang mendapat anggukan mamanya.


"Mama percaya. Maafkan mama," ulangnya lagi demgan suara serak. Menyesal sudah melukai hati putranya.


Suaminya pun ikut menepuk pundak putranya sambil bersitatap dengan Dewan. Mereka mungkin akan mendapat serangan dari media. Pasti Irena akan mencoba memviralkan berita kehamilan putrinya jika ngga mendapatkan apa yang dia inginkan.