
"Sudah Oma, jangan sedih begitu," bujuk Daiva. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Setelah tadi menunggu Aurora yang ternyata ngga mau menemui juga omanya.
"Semoga Aurora sudah membaca surat oma," sambung Rihana lembut. Dia ngga tega melihat wajah Omanya yang sangat berduka.
"Besok kita temuin Aurora lagi, Oma. Opa bisa, kan, menemani kita? Semoga Aurora luluh," lanjut Daiva membujuk.
"Aku juga bisa mengantar kalian. Tapi Rihana ngga boleh ikut, ya. Oma tolong rahasiakan, ya, dari yang lain, kalo Rihana ikut," ucap Kalandra dengan kerlingannya pada Rihana yang membalasnya dengan senyum tipis.
Kalandra tentu ngga ingin mendapat omelan oma, opa, orang tuanya, juga om om dan tante tantenya. Belum lagi kalo laki laki posesif itu tau.
Untung tadi Kak Kalandra datang menjemputnya. Tadi pagi Ansel, Kirania dan Puspa yang mengantarnya ke rumah papanya. Ngga lupa pengawal Opa Airlangga yang mengikuti mereka. Dan Kalandra tadi bermaksud menjemputnya setelah selesai bertemu rekan bisnisnya yang ngga jauh dari rumah Oma Mien.
Jadinya Rihana meminta kakak sepupunya mengantarkan mereka menemui Aurora. Kalandra tentu saja ngga bisa menolak.
Dan tumben Kalandra ngga diikuti pengawal. Tepatnya menghindari. Karena yang harusnya menjemput Rihana adalah Ansel. Tapi laki laki itu sedang cukup sibuk.
Sayangnya Aurora ngga mau ketemu omanya. Juga ngga ketemu dirinya dan Daiva.
"Kak, aku ngerasa mobil mobil di belakang mengikuti kita," ucap Rihana sambil menatap spion di depannya.
Rihana duduk di depan, di samping Kalandra yang mengemudi. Hatinya berdesir aneh melihat empat buah SUV hitam mengikuti mereka dari tadii.
Kalandra yang sudah menyadarinya, sengaja ngga memberitaukan agar ketiga perempuan yang bersamanya ngga panik.
"Ap apa? Ada yang ngikutin kita?" kaget Oma dan hatinya langsung cemas.
Daiva melihat ke belakang. Ternyata yang dikatakan Rihana benar.
Selama ini tiap dia bepergian, aman aman saja.
Apa mereka mengincar Rihana?
Karena Daiva tau, Rihana selalu dikawal. Hanya sekarang Kalandra ngga bersama para pengawalnya.
Ngga mungkin, kan, sepupu yang punya. kerjaan, duga Daiva agak panik.
Daiva merasa takut jika dugaannya benar. Aurora sudah membunuh Aiden, pasti dia masih bisa membunuh lagi.
Empat mobil itu hampir mendekat. Tapi Daiva dapat melihat ketenangan dan skil Kalandra menghadapi situasi sulit ini.
"Oma takut. Dua hari lagi Rihana akan menikah," ucap Oma tambah cemas. Dia takut suami dan putranya akan marah. Bahkan sahabatnya juga karena sudah membawa Rihana pergi bersama mereka tanpa sepengetahuan mereka.
Tapi Oma masih belum mengerti, siapa yang menginginkan cucunya celaka?
"Tenanglah, Oma. Kak Kalandra pasti bisa mengatasinya," ucap Rihana berusaha menyembunyikan ketegangannya.
'Ya, kalian tenanglah," lanjut Kalandra agar ketiga perempuan yang bersamanya ngga panik.
Saat ini Kalandra sedang berkonsentrasi penuh.
Jalan layang yang dia masuki cukup sepi dengan keempat SUV hitam itu terus mengejarnya. Ini cukup berbahaya. Salahnya dia baru menyadari saat sudah memasuki jalan layang. Ini adalah kesempatan terbaik keempat SUV itu menabrak
dan menjatuhkan mobil mereka dari ketinggian lebih dari sepuluh meter.
Kalandra membuka jendela kacanya dan mengeluarkan pistol berperedamnya.
BLUP
BLUP
BLUP
BLUP
Satu mobil lolos dari tembakannya yang mengarah ke ban mereka. Ketiganya pun saling bertabrakan dan berhenti di pinggir pembatas jalan layang.
Rihana menahan nafas melihat satu mobil di belakamgnya juga mengeluarkan pistol, mengarah ke mobil mereka.
Kalandra lebih cepat menembak duluan tangan yang memegang pistol itu dan melajukan mobilnya lebih kencang.
Yang mengagumkan Kalandra melakukannya dengan hanya satu tangan yang mengendalikan stir.
Kemudian Kalandra meraih headset bluetouchnya dan menelpon Emir.
"Tolong urus mobil yang barusan hampir mencelakaiku," katanya tanpa menunggu jawaban Emir. Langsung menutup telpon dan mengirimkan lokasinya.
Nantinya mereka akan tau, siapa yang sudah menyuruh empat SUV itu yang berniat mencelakakan mereka.
"Kamu hebat. Jantung Oma hampir berhenti," puji Oma Mora masih memegang dadanya.
Daiva dan Rihana tertawa mendengarnya. Suasana tegang sudah mencair.
Kalandra hanya melebarkan senyumnya.
"Rihana, ini peringatan buat kamu. Jangan pergi pergi menjelang nikah," sela Daiva dalam kekehannya.
"Betul," sambung Oma setuju.
Siapa yang ingin melukainya. Bahkan tadi dia bisa saja meninggal bersama Oma, Kak Daiva dan Kakak sepupunya, Kalandra.
Ponselnya bergetar. Ada wajah Alexander di sana. Laki laki itu sedang melakukan video call
Apa dia perlu mengangkatnya? batinnya sedikit panik.
Alexander akan semakin protektif jika tau apa yang terjadi padanya.
"Alexander, ya," senyum Kalandra menebak.
Rihana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya resah.
Kalandra semakin melebarkan senyumnya.
"Dia cuma begitu sama kamu saja," tukasnya lagi.
Teringat kelakuan laki laki muda itu yang membuat adik sepupunya suka geregetan karena terlalu diperhatikan olehnya.
Tapi terhadap adiknya yang tergila gila dengannya, sikap Alexander datar datar saja.
Rihana menghela nafas dulu sebelum menekan tombol acceptnya.
"Kamu dimana?" tanya Alexander dengan mimik serius saat mengetahui kalo calon istrinya berada di dalam mobil.
"Mau pulang sama Kak Kalandra," sahut Rihana berusaha tenang menghadapi tatapan penuh selidik Alexander.
"Oke. Jangan pergi pergi dulu, Zira. Cuma dua hari aja kamu dilarang, setelahnya boleh pergi sama aku."
Senyum malu Rihana terkembang. Dia malu dengan perhatian Alexander yang terlalu menyolok. Kalandra pun tersenyum menggodanya.
BRUGH
Tapi hanya sebentar, Rihana menjerit kecil karena kaget akibat mobil mereka agak menyentak maju. Begitu juga Oma Mora dan Daiva. Kaget karena mengira keadaan sudah aman. Ngga menyangka dapat dorongan mendadak dan kuat.
Kalandra mendengus kesal sambil menginjak gas lebih dalam. Dia lupa sama satu mobil yang lolos dari tembakannya. Seingatnya mobil itu juga berhenti tadi karena terhalang jalannya oleh tiga mobil yang saling bertabrakan.
Mobil yang sengaja Kalandra kurangi kecepatannya itu sedang terhentak ke depan akibat dorongan mendadak dari mobil yang berada di belakang mereka.
"Ada apa?" tanya Alexander khawatir melihat kepanikan di wajah Rihana. Selain mendengar suara jeritan Rihana, Alexander juga mendengar suara suara lain yang cukup dia kenal.
"Ak aku ngga tau. Ku kira sudah aman," katanya terbata sambil melihat Kalandra yang tiba tiba melajukan nobilnya setelah lebih dulu melakukan bantingan ke kanan.
Ponselnya hampir terlepas, karena tangan kirinya memegang pegangan di pintu mobil. Begitu juga Oma Mora dan Daiva.
"Ada apa, kak?" tanya Rihana panik. Begitu juga Daiva dan Oma.
"Kita sengaja ditabrak," seru Daiva dengan suara bergetar.
"Kasih tau lokasi kita pada Alexander," titah Kalandra sambil melajukan mobilnya zig zag. Seperti sedang menghindari sesuatu.
"Zira, katakan, kalian dimana!" seru Alexander cemas. Dia seoalah merasakan kepanikan Zira dan orang orang yang sedang bersama kekasihnya itu.
"Kami di jalan layang arah rumah Oma Mien. Aaahh," jerit Rihana, kali ini ponsel terlepas, jatuh ke lantai mobil.
"Oma, pegangan yang kuat," seru Daiva yang diangguki Omanya. Kini wajah omanya memucat. Tapi ada sedikit harapan karena rumah yang akan di tuju sudah ngga jauh lagi.
Tapi sayangnya jalan ke arah sana cukup sepi.
Kalandra menginjak gas sangat dalam. Dia ngga terlalu berharap pada Alexander, karena jarak rumah laki laki itu cukup jauh dengan keberadaan mereka saat ini. Dia pun membuka kaca jendela, bermaksud menembak.
DOR
Untung Kalandra belum sempat mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil karena dia menangkap tangan yang mengacungkan pistol ke arahnya melalui spion dari mobil yang akan jadi targetnya.
Sialan, makinya kesal. Kini mereka sudah keluar dari jalan layang dan memasuki jalan ke arah mansion mereka yang sepi dan dikitari pohon pobon besar.
Tempat yang tepat untuk mengeksekusi mereka.
DOR
DOR
BUST
Mobil oleng karena salah satu tembakan mengenai satu ban belakang yang berada di samping kanan.
"Kitan menabrak pohon!" seru Daiva panik sambil memeluk omanya. Untuk melindungi tubuh tua itu.
"Aaaah....!"
Kalandra terpaksa menginjak rem agar benturan badan mobil ke pohon ngga terlalu keras.
CIIIIITTTT!!!!