NOT Second Lead

NOT Second Lead
Trust Me



Puspa melirik sinis pada Aurora yang masih berada di lobi setelah jam makan siang hampir berakhir.


Apa karena dia, Ri dipindah? batin Puspa kesal.


Ternyata ngga sebaik yang dikatakan orang orang, decihnya menghina dalam hati.


Saat Aurora balas menatapnya, Puspa melengos


Andai saja dia ngga sayang dengan uang lima ratus juta, taruhan dengan para sepupunya untuk bertahan satu bulan bekerja di perusahaan ini, dia pasti sudah memaki maki putri pemilik perusahaan si Aurora dengan kata katanya yang pedas. Dan siap untuk dipecat.


Tanpa dia sadari Winta mengawasi gerak geriknya yang aneh. Begitu sampai di kubikelnya, Winta pun ikut masuk dan bersempit sempit ria bersama Puspa.


"Ada apa?" tanya Puspa heran. Ngga biasanya.


"Tadi kamu berani banget ngobrol dengan Alexander. Tapi karena kamu, aku juga jadi bisa ikut ngobrol," kekeh Winta pelan dengan perasaan senang yang ngga terkira.


"Hemm...," gumam Puspa pelan. Masih dongkol jika mengingat Aurora.


"Tadi dia nyari Ri, ya?" tanya Winta.


Puspa hanya menganggukkan kepalanya.


"Kok, kamu tau dia nyari Rihana?" Winta tambah penasaran.


"Tadi pas di basemen ketemu dia lagi nungguin Ri," bisik Puspa pelan.


Winta menutup mulutnya karena terkejut.


"Serius?" bisik Winta lagi saat perlahan.


'Iya. Tapi rahasia in," bisik Puspa lagi.


Winta menganggukkan kepalanya paham.


Dalam hati merasa surprise ternyata Alexander dengan Rihana punya hubungan spesial. Sebagai teman, dia akan mendukungnya seratus persen.


"Puspa."


Keduanya langsung kaget mendengar suara panggilan Zerina yang ternyata sudah berada di depan kubikel mereka.


Sambil mengangguk sungkan, Winta keluar dari kubikel Puspa menuju ke kubikelnya.


"Iya bu." Puspa pun cepat bangkit dari duduknya, berdiri menghadap Bu Zerina dengan cukup tegang.


Dia dengar ngga, ya? batinnya was was.


"Nanti katakan ke Rihana, besok dia balik lagi ke divisi ini," jelas Zerina.


Senyum lebar langsung terkembang di bibir Puspa.


Winta yang ikut mendengar pun juga tersenyum lebar saking senangnya.


"Siap, bu."


Dengan gaya acuh ngga acuh Bu Zerina langsung melangkah ke ruangannya. Tanpa setau keduanya, sudut bibir nya naik cukup signifikan.


Rihana karyawannya yang cukup berkualitas. Dia aja sayang melepasnya ke divisi lapangan. Untungnya Pak Bos besar berubah pikiran.


*


*


*


"Hai, nona, sampai kapan kamu mau tidur?" tegur Alexander dengan senyum jahil nya tatkala melihat mata Rihana nampak mengerjap.


Butuh beberapa detik buat menyadari dimana dia berada.


"Alex, sekarang jam berapa?" tanyanya kaget dan mulai bangun dari tidurnya.


"Hati hati," ucap Alexander ketika melihat gadis itu kini sudah duduk di tempat tidurnya.


Rihana menatap Alexander bingung.


Kenapa dia masih di sini?


"Kepala kamu masih pusing?" tanya Alexander agak khawatir melihat keterdiaman Rihana


"Nggak."


Ya, pusing kepalanya sudah hilang. Dia bersyukur karenanya.


"Ayo, kita pulang," ajak Alexander sambil mengulurkan tangannya membantu gadis itu turun dari tempat tidurnya.


"Langit udah makin sore," tukas Alexander sambil menggandeng Rihana melangkah di lorong rumah sakit.


"Iya."


Genggaman Alexander terasa hangat.


Keduanya bersitatap sebentar sebelum sama sama tersenyum sarat makna.


"Aku ingin kita selamanya seperti ini," ucap Alexander lembut.


Hati Rihana berdesir karenanya.


"Trust me. Perasaanku padamu ngga pernah berubah, Zira," tegas Alexander saat keduamya sudah sampai di depan mobilnya.


"Can I....?" Rihana masih tetap saja ragu.


Alexander mendekatkan wajah Rihana dan mengecup bibirnya sekilas.


"Sudah bisa percaya?" tanya Alexander setelah menjauhkan bibirnya dengan senyum hangat.


**DEG


DEG


DEG**


Hatinya penuh bunga.


Perasaan bodohnya susah untuk dikasih tau. Tetap saja melayang akibat sentuhan sesaat itu.


"I love you, Rihana," ucapnya lembut.


Rihana masih terdiam dengan jantung yang seakan berlompatan.


Love you too, balas Rihana dalam hati.


Seakan tau apa yang diucapkan hati Rihana, senyum manis Alexander terbit.


"Kita pulang sekarang. Kamu perlu beristirahat," katanya sambil membuka pintu mobil.


Rihana hanya menurut.


Setelahnya, Alexander pun masuk ke dalam mobilnya. Dan melajukan mobilnya ke kost Rihana.


Saat berhenti di tempat biasa, dia agak heran melihat ada dua mobil mewah yang parkir ngga jauh dari situ.


Tapi Alexander ngga terlalu memikirkannya.


Dia pun mengantarkan Rihana sampai di pintu kost.


"Cepat tidur, ya," lembut suara Alexander sambil mengusap rambut depan Rihana gemas.


"Kamu hati hati pulangnya," kata Rihana sambil membuka pelan pintu gerbang.


"Ya. Kamu masuk sana," usir Alexander sambil mendorong pintu gerbang kost Rihana lebih ke dalam.


"Ya, tapi aku mau lihat kamu pergi," ucap Rihana pelan.


Alexander tersenyum.


"Oke," senyum Alexander. Kemudian dia melambaikan tangannya sebelum berbalik pergi.


Alexander beberapa kali masih membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya lagi sambil tersenyum. Karena Rihana masih menatapnya


Hingga dia berbelok, menghilang dari pandangan Rihana.


Tanpa curiga sedikitpun pada dua mobil mewah yang masih terparkir itu, Alexander melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.


"Itu anaknya Afif Suhendrata?" Opa Airlangga terus menatap laki laki tampan yang sedang menggandeng mesra cucunya.


"Ya, Pa," sahut Cakra yang satu mobil dengan orang tuanya.


Oma Mien sudah ngga sabar untuk keluar, tapi tangannya yang akan menarik handle pintu ditahan suaminya.


"Sabar, sayang. Tunggu anaknya Afif pergi dulu."


Oma Mien ngga menjawab, hanya tetap saja tampak ngga tenang. Beliau ingin segera membawa cucunya dalam pelukannya.


Begitu mobil Alexander menjauh, mereka pun turun dari mobil. Melangkah mamasuki gang rumah kost Rihana


Rihana yang akan memasuki kostnya jadi tertahan melihat keluarga Puspa mendekati dirinya. Bahkan Oma Mien yang berjalan paling depan dan semakin mendekatinya.


**DEG


DEG


DEG**


Jantung Rihana kembali ngga tenang. Keluarga mamanya kian mendekat.


Begitu mereka berada beberapa langkah saja darinya, Rihana terpaku melihat mata Oma Mien Arthipura yang sudah berkaca kaca.


Wanita tua yang masih terlihat anggun itu mendekatinya yang hanya terpaku dengan jantung yang semakin ngga berirama.


"Sayang..... Cucu Oma."


Oma langsung memeluknya erat.


Rihana bingung menjelaskan bagaimana perasaannya. Yang jelas saat ini tangisnya pun pecah menindih suara tangis omanya.


Opa Airlangga bersama anak dan mantunya pun ngga bisa menahan air mata mereka. Pertemuan ini memainkan perasaan mereka begitu dalam.


"Kamu sudah tau, kan, kalo ini Oma kamu?" suara Oma Mien bergetar karena bercampur isaknya.


Rihana menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya.


"Cucu nakal. Kenapa kamu ngga bilang."


Rihana ngga menjawab. Hanya isakannya saja yang terdengar.


Dia ingin bilang, tapi ngga mungkin oma, opa, Puspa akan percaya pada pengakuannya. Dia akan disangka ngga waras.


Tapi Rihana hanya bisa menyimpannya di dalam hatinya. Bibirnya ngga sanggup berkata kata apa pun selain isak dan tangis.


Hanya saja Rihana masih ngga menyangka, akan secepat ini mereka sadar dengan kehadirannya.


Keduanya pun bertangisan di depan gerbang kost Rihana. Untung suasana cukup sepi


Opa Airlangga pun mendekat. Dan ikut memeluk keduanya.


Dadanya bergemuruh menahan perasaan yang siap tumpah ruah.


Cucunya berhasil ditemukan.