NOT Second Lead

NOT Second Lead
Herdin dan Puspa



Puspa menatapnya bingung saat Herdin memaksa masuk ke dalam ruangannya.


Padahal dia sudah berpesan pada asistennya ngga menerima tamu, karena sedang bersama Ansel dan sekertaris yang beralih fungsi jadi kekasihnya.


Ada proyek yang sedang dibahas oleh mereka.


"Lo ada janji juga?" tanya Ansel usil.


"Em..... ya, gitulah," sahut Herdin agak bingung mencari alasan.


"Rasanya kita ngga ada janji," sarkas Puspa agak sinis. Setelah semua telpon dan pesannya ngga ditanggapi sekian lama, baru sekarang laki laki gagal move on inij menongolkan dirinya. Puspa ngomel ngomel dalam hati.


Ansel tersenyum jahil.


Kelihatannya berhasil, soraknya dalam hati. Dia juga tau rencana sepupu kembarnya. Nicki teman mainnya juga.


"Kamu bisa menunggu? Aku dan Puspa masih belum selesai membahas proyek ini," ucap Ansel dengan niat mengerjai Herdin. Padahal tadi dia dan Nayara sudah mau pamit karena mereka sudah menenui kata sepakat.


"Bukannya...." ucap Nayara terputus akan isyarat gelengan kepala Ansel, tanpa setau Herdin yang tampak tambah kebingungan dengan tanggapan Puspa.


"Oke, aku akan menunggu di sana," tunjuknya pada sofa yang ngga jauh dari tempatnya berdiri.


"Oke," jawab Ansel dan menahan tawanya melihat sikap sok ketus sepupunya.


Kemarin kemarin galau, ada orangnya pura pura ngga kenal, batin Ansel mengejek.


Untungnya laptop dan berkas berkas yang sudah ditanda tangani Puspa belum mereka rapikan. Jadi ketiganya pun pura pura sibuk dengan laptop dan berkas masing masing.


Sepuluh menit berlalu.


"Sampai kapan ni, Pak Ansel?" tanya Nayara perlahan.


"Mas, kali," ledek Ansel menggoda.


Nayara tersenyum tipis dengan rona di wajahnya.


"Nay, kamu jangan terlalu percaya sama buaya ini," lirih Puspa mengingatkan. Nayara terlalu mencintai Ansel sampai dia seakan buta dengan sikap seenak udel sepupunya itu.


"Kamu jangan kasih dia hasutan ngga bermutu," kilah Ansel tenang.


"Aku ngga ingin dia terlalu ketipu sama modus kamu," bisik Puspa ngga mau kalah mendebat.


"Dia ngga mungkin ketipu. Dia tau kalo aku rumahnya," jawab Ansel penuh arti sambil melirik wajah malu malu Nayara.


"Rumah bobroknya," sarkas Puspa pelan sambil melirik Herdin yang malah membuatnya tambah emosi. Laki laki itu sepertinya kini sudah masuk jauh dalam mimpinya.


Enak banget bisa tidur dengan tenang, decihnya kesal dalam hati.


Ansel yang mengikuti arah pandangan Puspa jadi tertawa tertahan.


"Oke. Sekarang urus pangeranmu. Aku mau pergi dulu," kekeh pelan Ansel sambil menyimpan laptopnya ke dalam tas punggungnya. Sedangkan Nayara menyimpan semua berkas itu ke dalam tasnya.


Puspa hanya membalas godaan sepupunya dengan wajah manyunnya.


Ansel menggusar rambut Puspa perlahan.


"Terima dia kalo dia bilang suka. Jangan sampai nyesal," nasehat Ansel kemudian berlalu.


"Yuk, Puspa," pamit Nayara dengan senyum manisnya.


"Hati hati sama Ansel. Jangan kasih dia kesempatan," lagi lagi Puspa ngga lelah mengingatkan. Menurutnya dan Kirania, Nayara terlalu lugu untuk Ansel. Harusnya Ansel sama yang pro. Yang bisa buat dia jumpalitan. Bukan yang datar dan dan bisa nerima kelakuan nakalnya tanpa perlawanan.


Bahkan demi Nayara, Puspa dan Kirania selalu menjadi satpam yang mengawal Ansel jika sedang bersama sepupunya itu.


Setelah pulang, dan dicek di rumah, pasti tensinya dan Kirania akan naik drastis.


Tapi Nayara sepertinya ngga terlalu peduli dengan kelakuan Ansel. Itu yang aneh menurut Puspa dan Kirania. Padahal Nayara udah selalu dibawa di acara keluarga mereka. Nayara berhak melarang Ansel, begitu menurut pemikiran Puspa dan Kirania.


Kini keduanya sudah pergi, tinggal Puspa bersama Herdin yang masih pulas tertidur.


Dengan langkah perlahan Puspa menghampiri Herdin.


Melihat wajah tanpa dosa yang sedang tertidur itu sedikit mengendurkan kekesalannya. Malah gelombang rindunya yang semakin membuncah dalam rongga dadanya.


"Sampai kapan aku harus ngindarin kamu," gumam Puspa lirih.


Setelah puas menatap wajah yang sangat dia rindukan akhir akhir ini, Puspa berbalik, akan melanjutkan kerjaannya. Walau ngga yakin bisa konsen karena ada Herdin.


"Akh," kaget Puspa ketika merasa tangannya ditarik dan tubuhnya kini jatuh dengan bebas di atas tubuh Herdin.


BUGH


"Auw... Kamu berat juga," kata Herdin memutus tatap mata mereka yang terjadi beberapa detik.


"Apaan, sih," protes Puspa marah campur malu karena secara ngga langsung Herdin mengatainya gendut.


Herdin terkekeh sambil menahan tubuh Puspa yang akan menjauh. Bahkan semakin erat memeluknya.


"Sudah selesai meetingnya?" tanya Herdin setelah tawanya pupus. Wajah mereka cukup dekat. Keduanya pun bisa merasakan detakan cepat jantung masing masing.


"Sudah," jawab Puspa pelan. Posisi mereka membuatnya canggung. Tapi Herdin seperti masih betah menahannya pergi.


"Maaf tadi aku ketiduran." Saking lamanya menunggu, Herdin yang niatnya hanya memejamkan mata jadi pulas tertidur.


"Ya," ucap Puspa dengan pipi yang panas terbakar.


Puspa menatap lekat sepasang mata yang juga sedang fokus menatapnya.


"Aku bukan pelarian kamu," ucap Puspa bergetar. Matanya berkabut.


Herdin membalikkan posisi mereka hingga kini Puspa yang berada di bawahnya.


Tangannya mengusap mata basah Puspa.


"Maaf, aku bingung waktu itu. Tapi sekarang aku sudah yakin. Tolak perjodohan kamu," tegas Herdin membuat kening Puspa berkerut


"Perjodohan?" Puspa menatap ngga ngerti


"Bukannya kamu dijodohkan dengan Nicky?" Herdin balik bertanya bingung dan penasaran.


"Oo,,, Kak Nicky?" senyum terkembang di bibir Puspa.


"Jangan panggil dia kakak. Aku ngga suka," agak ketus Herdin menyahut


Tapi senyum Puspa tambah melebar. Bahkan tawanya mulai terdengar.


Ternyata berhasil, batinnya berteriak senang.


Herdin terpana melihat wajah di depannya yang sedang tertawa lepas. Bahkan tubuhnya berguncang guncang dalam dekapan Herdin.


Cantik, batinnya memuji. Kenapa selama ini dia ngga sadar dengan kecantikan Puspa, sesal Herdin dalam hati.


"Puspa," ucap Herdin sambil melirik lantai yang sudah semakin dekat.


"Hem....," masih sambil tertawa Puspa menyahut. Dia ngga menyadari kalo tubuh Herdin semakin berada di pinggir sofa.


"Kita akan jatuh."


BUGH


"Aaah," kaget Puspa karena tubuhnya terdorong ke bawah. Tawanya lenyap sudah.


Baru selesai Herdin mengucapkannya, keduanya jatuh ke lantai dengan Herdin berada di bawah Puspa.


"Kirain kamu tambah ringan setelah lama ngga ketemu. Ternyata tambah berat," goda Herdin membuat wajah Puspa kembali manyun karena lagi lagi di katai gendut.


Gimana ngga nambah berat badannya, karena saking kesalnya sama sikap Herdin, Puspa selalu mengkonsumsi coklat tiada henti.


"Tapi tambah cantik," goda Herdin lagi, tapi kali ini dia berkata jujur.


Jantung Puspa makin ngga menentu, apalagi dia merasa jantung Herdin juga memukul dadanya dengan keras.


Herdin mendekatkan wajahnya, Puspa memejamkan mata saking gugupnya.


CLEK


"Kalian ngapain?!" seru Nidya kaget melihat adegan mesra sepupunya di lantai.


Ciuman yang hampir terjadi, langsung gagal total.


Tapi saat Puspa yang malu karena ketahuan Nidya ingin menjauh, Herdin tetap menahannya, seolah ngga peduli akan kehadiran sepupunya itu.


"Herdin," bisik Puspa penuh tekanan sekaligus memohon.


Herdin pun melepaskannya dan membiarkan Puspa bangkit lebih dulu dari atas tubuhnya.


Nidya menatap keduanya sinis.


"Kenapa ngga di kamar aja, sih."


"Ngapain di kamar," kekeh Puspa menutupi rasa malunya.


Herdin tampak cuek dan duduk kembali di sofa.


"Ini laporannya. Untung cuma aku, ngga bareng Kak Kalandra," tukas Nidya sedikit mengomel. Tapi kemudian bibirnya mengulaskan sedikit senyum. Merasa ngga enak menunpahkan kekesalannya pada Puspa


Menjelang pernikahan sepupunya dengan Alexander membuat perasaannya campur aduk, ngga tenang. Antara merelakan dan engga.


Puspa mengangguk, menyambut berkas dari sepupunya itu.


"Oke, aku pergi. Kalian bisa lanjutkan," tukas Nidya sambil melangkah keluar dan menutup pintu ruangan Puspa.


"Dia masih belum terima?" ucap Herdin setelah pintu ditutup Nidya.


"Begitulah," sahut Puspa juga paham dengan tingginya rasa sensitif Nidya melihat ada yang bermesraan di depannya.


"Harusnya dia sadar," decih Herdin lagi


"Sama seperti seseorang," sindir Puspa judes membuat lengkungan sudut Herdin tambah ke atas. Dia tau maksud ucapan Puspa.


"Aku baru tau, sudah salah menafsirkan perasaanku selama ini. Ternyata kamu yang diam diam sudah mencurinya," kekeh Herdin membuat Puspa melengos


"Gombal," ejeknya dengan hati berbunga


"Aku serius. Apa kita lanjut ke kamar seperti saran Nidya?" kerling Herdin menggoda Puspa


"Apaan, sih," tepis Puspa dengan pipi semakin merah dan tawa Herdin semakin berderai.


Rasanya dada Herdin sudah plong, beban berat di dadanya sudah diangkat jauh ke atas langit.