
"Dokter..... Katakan kalo keduanya selamat," tukas Dewan dengan suara bergetar hebat.
Irena ngga sanggup bertanya. Dia juga takut mendengar hal yang buruk tentang calon cucunya
Opa Iskan dan Oma Mora pun mendekat. Daiva membantu memapah Oma.Mora bersama Opa Iskan
"Syukurlah, mereka berdua selamat. Cucu anda laki laki," ujar Dokter yang disambut dengan puji syukur yang terlontar dari mereka yang menunggu dengan penuh kekhawatiran sampai mau pingsan.
Oma Mora menangis di pelukan Opa Iskan.
Daiva menyandarkan kepalanya di lengan Opa Iskan. Jantungnya yang tadinya mau dicabut paksa kini sudah aman di tempatnya.
Dewan menghapus air matanya. Begitu juga Irena.
"Bisa kami melihat putri dan cucu kami?" tanya Dewan setelah beberapa saat kemudian larut dalam haru.
"Tentu. Putri anda ada di dalam. Sebentar lagi akan diantar ke ruang perawatan. Kalo cucu anda berada di inkubator. Mari saya antar." ajak dokter perempuan yang sebaya dengan mamanya.
"Lebih baik, Om dan tante melihat Aurora dulu. Daiva bersama opa dan akan melihat putra Aurora," sela Daiva saat Dewan terlihat kebingungan.
Dia ingin melihat putrinya, juga ngga sabar ingin mengetahui keadaan cucunya.
"Baiklah kalo begitu. Daiva, tolong video, kan, ya. Om ngga sabar sebenarnya. Tapi Om juga ingin lihat Aurora dulu," pinta Dewan dengan sangat berharap pada Daiva.
"Tenanglah. Papa akan video call nanti. Papa dan mama juga Daiva ingin melihat keadaan Aurora," sahut Opa Iskan dengan senyum merekah di bibirnya.
Wajah yang tadi sangat bersedih dan tertekan bergantikan perasaan bahagia penuh syukur. Cucu dan cocitnya selamat.
Hati Opa Iskan sudah ngga sabar untuk melihat keadaan cucu pertamanya
"Iya, pa," sahut Dewan juga dengan senyum bahagia yang ngga bisa dia sembunyikan. Keduanya pun berpisah. Dewan segera menyusul istrinya yang sudah melangkah masuk menemui putri mereka.
"Sayang," peluk Irena dengan air mata yang langsung tumpah di pipinya.
"Mama, papa, opa, oma, dan Daiva sangat khawatir. Tapi syukurlah kamu baik baik saja.
Aurora tersenyum dengan ekspresi wajah yang tak terbaca. Dia menatap papanya yang mendekat dan terlihat bahagia.
Ngga lama kemudian Dewan ganti memeluknya.
Aurora menahan perasaannya agar ngga mudah larut.
"Kamu sudah jadi ibu sayang. Ibu muda yang sangat cantik. Papa bangga padanu," bisik Dewan penuh sayang.
Hatinya sakit melihat nasib putrinya.
Air mata yang Aurora tahan, menetes perlahan melewati pipinya. Tapi ngga ada satu kata pun yang dia ucapkan.
Papa, maaf, batinnya merasa bersalah. Doa sudah jauh menyinpang dari jalurnya. Sekarang dia pun ngga mengenali dirinya lagi
Papanya mengurai pelukan, dan Aurora cepat cepat menghapus air matanya. Dewan tersenyum melihatnya.
Ngga lama ponsel Dewan berdering.
Ada video call dari Daiva. Segera doa menerimanya.
"Haaaiii.....," seru opa, oma dan Daiva penuh semangat.
Dewan tersenyum. Ketiga mengarahkan kamera pada bayi yang berada di incubator
"Anakmu, sayang," ucap papanya lembut, penuh haru.
Bayi merah tersebut nampak tampan. wajah bayi masih akan selalu berubah ubah. Kedepannya ngga tau mirip siapa. Tapi saat ini Dewan dapat merasa bayi lelaki ini mengambil banyak sisi wajah Aurora. Dalan hati dia bersyukur karenanya.
Irena merangkul putrinya dan mengarahkan tatapannya pada bayi mungil itu.
Hatinya terketuk melihatnya.
Cucunya.
Sementara Aurora juga terus menatapnya dengan perasaan aneh.
Sejak tau hamil, Aurora sama sekali ngga menginginkan kehamilannya. Tapi berbulan bulan bersamanya membuat perasaannya terasa beda. Aurora merasa ada yang hilang seteah bayi itu dikeluarkan dari dalam rahimnya. Ada kehampaan besar di sana.
Di tatapnya wajah mungil nan tampan yang sedang pulas tertidur.
Nak, maafkan mama. Tante Daiva akan menjadi mama yang lebih baik untuk kamu. Kamu pasti akan jadi anak yang baik jika bersamanya, batin Aurora mendadak merasa ngga rela bayinya nanti diasuh Daiva.
Tapi dia harus kuat. Demi masa depan bayi itu. Juga masa depannya.
Dia ingin mengubur semuanya setelah bebas. Termasuk melupakan putranya. Karena hanya akan mengingatkannya pada dosa dosanya saja.
"Sayang... Kamu baik baik aja, kan," tanya Oma Mora khawatir melihat wajah sendu cucunya.
"Oh eh..... Aku baik baik saja, Oma," jawabnya pelan.
"Syukurlah, sayang. Oma rindu sama kamu," isak Oma Mora semakin ngga terbendung.
"Opa juga. Kamu cucu opa yang hebat," puji opanya dengan mata basah.
"Adikku seorang mama muda yang cantik," sambung Daiva memuji dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Memalukan keluarga dan membuat papanya kehilangsn sahabatnya. Dosa dosa yang ngga termaafkan.
Jika saja dia ngga mabok malam itu, pasti dia masih menjadi Aurora yang selalu membanggakan opa, oma, om, dan tantenya yang sangat menyayanginya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Sekarang hari demi hari dia hanya bisa menyesalinya.
*
*
*
Setelah melihat Aurora dan bayinya, Daiva pamit pulang duluan. Karena dia harus belanja perlengkapan bayi.
Dari dulu Daiva ingin membelinya, tapi Oma Mora selalu melarangnya. Katanya pamali. Nanti saja kalo mau dekat waktu lahiran.
Daiva mengalah dan menuruti saran Oma Mora yang menurutnya lebih pengalaman.
Tapi ternyata Aurora kepleset dan bayinya harus segera dilahirkan diusia kandungan tujuh bulan.
Sekarang saja di rumah oma dan opa yang ditinggali Daiva, mereka sudah menyuruh tukang untuk mendandani kamar tamu untuk kamar bayi Aurora. Mereka pun sudah memanggil desainer khusus untuk merancang kamar bayi Aurora agar tampak indah dan mewah.
Bibir Daiva ngga henti hentinya mengembangkan senyum.
Sudah lebih dari lima kantong besar belanjaan Daiva, tapi gadis ini saja masih memutari butik pakaian bayi yang sudah terkenal di salah satu mal.
"Kereta bayinya sudah dibeli?"
Daiva terkejut mendengar suara yang sudah lama ngga dia dengar.
Xavi.
Hatinya bergetar.
Saat mata mereka saling bersitatap, ada debaran rindu berdentam di sana.
Daiva berusaha menahannya. Menyimpan sesaknya dalam dalam dengan selalu menampilkan senyum tipisnya.
"Belum," sahutnya menanggapi pertanyaan laki laki ini.
Xavi juga balas tersenyum. Menatapnya lekat.
Daiva akui Xavi semakin tampan. Juga sangat tenang. Daiva sampai ngga berani menebak apa masih ada perasaan yang tersisa untuknya.
Mungkin sudah hilang. Dia sudah menikah. Pasti Zerina sudah bisa membuatnya lupa padanya, batinnya mengingatkan.
Move on Daiva. Move On.
Kata kata yang paling mudah diucapkan tapi sulit untuk dipraktekkan.
"Kalo gitu, biar aku yang beli saja, ya. Ini hadiah dari omnya," kata Xavi menyadarkan Daiva dalam lamunannya
Daiva tersadar. Kenapa Xavi cepat sekali tau. Bukannya dia di Sidney?
"Kamu tau?" tanya Daiva ngga bisa menyembunyikan keheranannya.
"Menebak saja," senyum Xavi sambil beranjak ke arah kereta bayi.
Daiva mengikutinya tanpa bicara. Hatinya tetap saja ngga percaya.
Xavi ngga berbohong. Setiap bulan dia pasti menyempatkan diri melihat keadaan Daiva. Tanpa gadis itu sadari.
Hanya dengan begitu, rindunya terobati.
Saat kedatangannya kali ini, tanpa sengaja Xavi mendapat kabar dari petugas penjara tentang keadaan Aurora yang diharuskan operasi cesar.
Karena itu dengan menggunakan topi dan masker, dia menunggu Daiva hingga gadis ini pergi dan mengikutinya.
Dia juga sudah tau perihal keponakannya yang sudah lahir dengan selamat dari pembicaraan beberapa orang suster. Maklum keluarga Om Dewan cukup sering digibahkan.
Tadi dia memberanikan diri menghampiri Daiva. Sekian lama jadi stalker, ternyata lebih bahagia bisa saling menatap dan mendengar suara Daiva.
"Ini bagus, ya," tunjuk Xavi pada kereta bayi dengan desain yang bagus dan cukup aman dengan bantalan busa yang tebal hingga terlihat nyaman
"Ya," sahut Daiva setuju dengan pilihan Xavi. Warnanya pun biru tua.
"Buat anak kita nanti yang warna pink, kalo dia perempuan," ucap Xavi penuh makna membuat Daiva tertegun.
"Anak kamu," ralat Zerina mulai grogi. Sorot mata Xavi menyorot sangat dalam. Seakan kata katanya sama sekali ngga perlu dibantah.
"Iya, anakku dengan kamu," senyum Xavi melebar.
"Bercanda aja," kekeh Daiva menyembunyikan getaran hebat di dadanya akibat ucapan laki laki itu.
Xavi ikut terkekeh untuk mencairkan ketegangan di wajah Daiva.
Daiva merasa bersyukur karena reaksi Xavi yang seakan membenarkan perkataannya kalo dia hanya bercanda saja.
Xavi belum berani mengungkapkan keinginannya dengan Daiva. Takut gadis itu kabur karena merasa bersalah pada Zerina yang merupakan temannya.