NOT Second Lead

NOT Second Lead
Resah



Nidya menatap kesal pada kakaknya yang masih sibuk dengan kerjaannya.


Kepala Kalandra terdongak ketika pintu ruangannya terbuka. Dia mengira Adriana, ternyata adik kesayangannya.


"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" senyum Kalandra sambil menunduk lagi, sibuk dengan layar laptopnya.


"Huh, apa Adriana ngga bosan punya suami yang gila kerja seperti kamu," celanya sambil duduk di kursi di depan kakaknya.


"Dia malah senang aku sibuk kerja. Soalnya kalo nganggur, aku bakalan sibuk nyiumin dia," kekeh Kalandra masih tetap fokus dengan pekerjaannya.


Nidya langsung ilfeel mendengarnya.


Kenapa kakaknya berubah seperti Ansel dan Emra? Menggila seperti singa lapar?


Apa Fathan juga begitu?


Spontan Nidya menggelengkan kepalanya buat mengenyahkan nama itu dari pikirannya.


Tanpa sadar mulutnya mengomel, karena selalu menyangkut pautkan semua hal dengan Fathan.


Kalandra mendongak masih dengan kekehannya karena ngga mendengar suara adiknya.


Tapi Kalandra malah tambah terkekeh melihat raut remeh dan kesal adiknya padanya. Seakan dia adalah mahkluk hiper yang pantas untuk dijauhi.


"Kamu nanti akan tau kalo sudah punya pacar. Semuanya akan terasa alami," bela Kalandra santai akan sikapnya yang pasti aneh menurut adiknya.


Dulu pun dia begitu saat melihat kelakukan absurd Ansel dan Emra. Tapi kini setelah bersama Adriana, ternyata hal itu wajar karena keinginan untuk melakukan physical touch mengalir sendiri tanpa dia diperintahkan.


Berdekatan dengan Adriana, mencium aroma lembut gadis itu, sangat membuatnya gila jika tidak menyentuhnya.


Apalagi sekarang sudah ngga ada lagi penghalang. Dia sudah tau kalo Adriana single dan laki laki itu ternyata omnya. Semakin mudah saja jalannya menjadikan Adriana kekasihnya. Nanti jadi istrinya setelah dia memastikan jodoh adiknya.


Nidya mendengus mendengarnya.


Pembelaan macam apa itu? sarkasnya dalam hati.


"Kamu ke sini sebenarnya mau apa?" tanya Kalandra setelah tawanya reda.


"Ngga jadi," judesnya sambil membalikkan badannya. Dia lebih baik pergi. Kakaknya sekarang dalam kondisi sama gilanya dengan para sepupunya.


Dia butuh Puspa untuk curhat. Gadis itu lebih dewasa dari Kirania.


Sayangnya ngga bisa karena Puspa sekarang gantian berbulan madu.


Rihana juga belum kembali ke perusahaan karena ditahan Alexander di perusahaannya.


Lagian dia ngga mungkin curhat dengan Rihana. Pastinya dia akan merasa sungkan.


Kalandra menggeser kursinya ke belakang. Dia merasa adiknya sedang galau berat. Seperti memiliki beban pikiran yang sangat berat.


Dia pun melangkah cepat mendekati adiknya.


"Kamu kenapa? Kalo.ada masalah, cerita, ya, sama kakak," ucap Kalandra lembut saat sudah menghadang langkah Nidya.


Nidya terpaksa menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas panjang.


"Ngga ada apa apa," jawabnya pelan. Hatinya melarangnya untuk bercerita.


Ini terlalu privasi. Nidya masih ngga bisa membayangkan respon kakaknya jika tau. Juga para sepupunya.


"Jangan bohong," tuduh Kalandra yakin. Adiknya terlihat cukup resah. Pasti ada yang dia sembunyikan


"Ngga, kak. Aku hanya lagi badnood. Kamu sekarang sudah punya kekasih. Puspa sedang berbulan madu. Kirania terlalu bocil. Aku merasa ngga punya siapa siapaa lagi," keluh Nidya membuat Kalandra terdiam.


Kasian juga adikku.


Hatinya seolah tersadarkan akan kesepian adiknya.


"Mau kakak kenalkan dengan teman kakak?" tanya Kalandra hati hati. Takut membuatnya tambah emosi. Nidya juga suka tersinggung jika sepupunya mengusulkan hal itu padanya.


Nidya reflek menggelengkan kepalanya. Dia teringat penawaran Fathan. Nidya rasanya ingin meluapkan apa yang membuatnya resah. Tapi dia takut kakaknya mentertawakannya dan meyakininya ngga akan berhasil hubungannya nanti.


Nidya menatap Kalandra lekat. Dia setidaknya mengerti makud dari kebaikan kakaknya. Juga mungkin ketiga sepupu tengilnya. Saat ini hanya dia dan Kirania yang belum punya kekasih. Emir pengecualian.


"Mau?" tanya Kalandra dengan melipat kedua tangannya di dadanya.


"Kak, kalo kamu mau secepatnya menikahi Adriana, nikahi saja. Aku ngga akan menghalangi. Aku malah turut bahagia untukmu." Nidya menjeda sebentar sebelum melanjutkan lagi.


"Tentang kekasihku, aku akan mencarinya sendiri. Bukannya aku ngga percaya dengan pilihanmu. Tapi aku ingin aja melakukannya sendiri. Aku pasti akan menyusulmu menikah." Nidya mengembangkan senyum manisnya membuat Kalandra juga membalasnya dengan lembut.


"Ternyata adikku sudah dewasa."


"Tentulah. Ngga mungkin aku selalu berlindung di punggungmu terus," canda Nidya. Dia berusaha nampak riang, menyembunyikan kegundahannya.


Tangan Kalandra mengacak rambut adiknya gemas dan penuh sayang.


Dalam hati Kalandra tetap akan menunggu sampai Nidya menemukan jodohnya. Dia rasa Adriana akan mengerti.


*


*


*


"Tuam muda, anda kenapa?" tanya Adriana kaget melihat Kalandra sudah duduk di atas mejanya. Bahkan beberapa kertas penting ikut didudukinya.


Waduh, gimana ini, keluhnya membatin. Padahal kertas kertas itu akan disusunnya sebagai laporan. Melihat keadaannya sepintas saja Adriana tau, kertas itu sudah ngga layak lagi.


"Panggil Aku Kalandra. Jangan tuan muda," kata Kalandra dengan nada datarnya.


Kenapa kekasihnya ini ngga mau menurutinya, batinnya kesal.


"Sekarang masih jam kantor," elak Adriana menghindar.


"Kau juga lupa saat kita berciuman. Tetap saja kau memanggilku dengan tuan muda atau pak," protes Kalandra sambil menatap wajah gadisnya yang sudah merah seperti udang yang sudah direbus.


'Biasakan memanggilku Kalandra. Oke.....," sambung Kalandra lagi.


Kali ini Adriana hanya menganggukkan kepalanya tanpa suara.


Kalandra menggoyang goyangkan kakinya resah. Kata kata adiknya menyentuh hatinya dengan sangat dalam.


"Adriana," panggilnya pelan.


"Iya.....," sahut Adriana sambil mengangkat wajahnya yang masih merona. Gadis itu terlihat salah tingkah.


Kalandra tersenyum simpatik. Ngga jadi mau mengungkapkan kalo dia belum bisa melamarnya sekarang.


Tangan Kalandra meraih dagu Adriana dan mengusapnya lembut.


"Kamu cantik," pujinya dengan mata sayu.


Jantung Adriana berpacu sangat kencang.


"Nanti pulangnya tunggu aku," titahnya sambil melepaskan tangannya dari dagu Adriana dan segera bangkit dari atas meja Adriana.


Tanpa kata apa pun lagi, Kalandra berjalan memasuki ruangannya. Dia sedang menahan g@ir@hnya saat berdekatan dengan Adriana.


Kenapa akhir akhir ini daya pikat gadis itu semakin kuat saja.


Adriana yang ditinggal hanya bisa mematung. Jantungnya semakin ngga tenang. Sudah terbayang apa yang akan terjadi padanya nanti.


Dan benar saja. Kalandra seperti sengaja memanggilnya ke ruangannya satu jam sebelum kepulangan mereka. Dan terjadi lagi seperti kejadian waktu dia berada di jet pribadi bersama tuan mudanya itu.


Adriana ingin bertanya, sejauh apa hubungan yang dijanjikan bosnya. Tapi dia selalu lupa jika sudah berada dalam pelukan dan sentuhan Kalandra.


Adriana ngga munafik. Dia juga menikmatinya. Tapi dia memiliki batasan yang ngga boleh dilanggar. Kalandra ternyata sangat mengerti dan ngga memaksanya.


Begitu juga saat Kalandra mengantarkannya pulang. Bosnya selalu menciumnya lama sebelum dia bisa keluar dari mobil yang memiliki kaca gelap yang ngga akan bisa terlihat dari luar.


Kalandra sudah rutin mengantar jemputnya tanpa ada pembicaraan serius tentang arah hubungan mereka pada kedua orang tuanya.


Beberapa tetangganya sudah mulai iseng menanyakan siapa laki laki yang kerap datang ke rumahnya. Padanya juga pada mama dan papanya.


Apalagi mobil yang dibawa Kalandra ngga ada yang harganya di bawah satu milyar. Selalu berganti ganti. Ini pencapaian terbaik menurut beberapa tetangganya itu. Hal itu memusingkan kepala Adriana.


Bukannya dia ingin cepat cepat menikah. Setidaknya berilah dia dan keluarganya kepastian.