NOT Second Lead

NOT Second Lead
Bukan teman



"Mil," panggil Ifa ketika melihat Kamila yang baru saja keluar dari ruang operasi.


Kamila yang sedang berbincang dengan dokter Sabrina yang sangat puas dengan hasil operasi barusan, melambaikan tangannya pada Ifa yang berdiri ngga jauh dari tempat mereka berada.


"Terima kasih, ya, Mil," ucap dokter yang usianya beberapa tahun saja di atas Kamila dengan senyum tulusnya.


"Sama sama, Rin." Kamila pun tersenyum manis sebelum melangkah pergi menghampiri Ifa yang baru selesai mengecek pasien di kamar super VIP.


"Ada pasien rewel?" tanya Kamila sambil menjejeri langkahnya.


Ifa tertawa kecil mengingat satu pasiennya yang selalu bertingkah manja pada pacarnya.


"Ada, tiap ganti infus harus dipelototin pacarnya dulu."


"Kenapa?" tanya Kamila tertarik. Bibirnya pun melengkungkan senyumnya.


"Takut sama jarum," tawa Ifa pun berderai derai


Kamila pun jadi tertawa mendengarnya. Ini termasuk hal yang baru di dengarnya.


"Lakinya tampan, gagah. Ngga nyangka takut sama jarum," sambung Ifa lagi dalam kekehnya.


Kamila pun ikut tertawa. Teringat seseorang yang sangat dia sayangi.


Sebenarnya ada lagi yang lebih parah dari pasien itu. Malah udah tua banget, suka marah, ngga takut nangkap penjahat tapi takut banget sama jarum suntik dan jarum infus. Ngga lain adalah opa tersayangnya.


Karena itu Kamila memilih menjadi dokter dari pada tentara atau jadi pebisnis. Niatnya hanya ingin membantu mamanya merawat opa kalo mamanya ada tugas di luar kota, dan opanya tiba tiba butuh diinfus.


"Operasinya lancar?" tanya Ifa setelah tawa mereka mereda.


"Ya."


"Syukurlah."


Keduanya saling melempar senyum.


"Tadi maaf, ya, ngga bisa gabung. Pasti seru, ya, acaranya," ucap Kamila agak menyesal.


"Ngga apa. Mungkin laen kali. Tapi tadi memang seru, sih," cerita Ifa dengan suara ceria.


"Ya, kapan kapan. Jarang jarang, kan, bisa kumpul."


Ifa tersenyum lagi. Tapi dalam pikirannya sedang bergulat, apakah akan memberitau Kamila soal keculasan Selina. Ifa hanya ngga yakin kalo Kamila akan percaya padanya. Selina cukup dekat dengan Kamila dari pada dirinya.


Tapi kalo ngga dikatakannya, nanti Kamila bisa semakin diculasin Selina.


Kamila ngga sadar kalo Selina memanfaatkannya saja?


Berbagai pertanyaan terus saja wara wiri di dalam kepalanya.


"Sekarang mau kemana?" tanya Kamila membuyarkan segala perdebatan dalam pikiran Ifa.


"Masih mau cek pasien lagi. Kamu mau kemana?"


"Mau ngecek pasien juga."


Ifa mengangguk dan kembali menatap Kamila dengan tatap ragu. Beberapa langkah lagi mereka akan berpisah.


"Mil....."


"Ada apa?" Kamila yang dari tadi sudah merasa kalo Ifa ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya ngga enakan. Kamila juga ngga tau karena apa.


Setelah menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Ifa pun membuka mulutnya.


"Mil, kamu hati hati dengan Selina, yaa..... Oke, aku ke sana," ucapnya ketika mereka.harus berpisah. Tapi Kamila menahan tangannya.


"Kenapa?" mata Kamila menatap Ifa penuh tanya.


Ifa tersenyum bingung.


"Pokoknya hati hati aja," kata Ifa lagi tanpa mau menjelaskan.


"Thank's," jawab Kamila sambil melepaskan pegangan tangannya. Dia tau, Lia ngga akan nau mengatakan yang sebenarnya.


Mungkin dia masih menghargai Selina, pikir Kamila dalam hati.


Mereka pun berpisah.


Baru saja dia beranjak ngga nyampe sepuluh langkah, di depannya tampak Selina yang seperti sengaja berjalan cepat menghampirinya.


"Hai," sapanya ceria.


"Hai."


"Ada yang mau aku katakan..... tapi aku takut kamu kaget," kata Selina sambil meraih tangannya dan mengajaknya duduk di depan bangku ruang lab.


"Ada apa?" tanya Kamila heran. Hari ini sudah dua orang rekannya yang membuatnya bingung.


Pertama Ifa, sekarang Selina.


Selina menghela nafas panjang, seakan kabar yang dibawanya sangat berat untuk dia katakan.


"Kemaren aku lihat Emir sama perempuan. Mesra banget." Selina sedikit membumbuinya dalam ucapannya. Tapi memang kenyataannya begitu. Emir tampak sangat menyayangi pacarnya. Dia bahkan sampai lupa dengan Kamila yang terlihat menyukainya.


Poor Kamila.


"Oooh," senyum Kamila.


Kirain apa, batinnya. Untung saja Emir yang asli sudah mengatakan sejelas jelasnya padanya kemarin. Kalo enggak, dia pun pasti akan keget seperti yang dikira Selina.


"Kok, cuma Ooo.....?" Kening Selina berkerut. Harusnya wajah pucat pasi, kan, yang ada di depannya?


"Biar saja, kami juga ngga ada hubungan apa apa," balas Kamila kalem. Dia belum merasa perlu mengatakan yang sebenarnya pada Selina


"Jadi kamu belum serius dengannya?"


Kamila menatap Selina dengan tatapan aneh. Perasaannya mengatakan kalo Selina happy mendengar dia belum punya hubungan apa apa dengan Emir.


Teringat lagi dengan ucapan Ifa.


Sebenarnya apa yang terjadi kemarin, ya? batin Kamila heran.


Dia ngga mau menjudge Selina. Tapi melihat reaksi temannya itu, dia jadi teringat soal Deco.


Entah mengapa tiba tiba Selina mengatakan dia sudah menolak Deco padahal sudah beberapa hari terlihat bersama. Menurut kabar yang Kamila dengar, Deco sekarang sedang berada di Canberra, Australia, mengurus perusahaan keluarganya.


Sekarang Kamila merasakan firasat buruk karena sudah mengingat hal yang telah lama berlalu itu lagi.


"Memangnya kenapa?" tanya Kamila dengan nada ngga suka.


"Tenang, Mila. Jangan marah, dong. Maksud ku gini, kalo kamu ngga jadian sama Emir...... Aku boleh, ya, mendekatinya," ucap Selina sangat ringan.


Kamila tertawa mendengarnya. Sekarang dia mengerti, mungkin ini makna yang tersirat dari ucapan Ifa.


Tanpa kata dia pun pergi meninggalkan Selina.


Orang yang selama ini dia anggap teman, kini terang terangan mau menusuknya.


Selina ngga mengejar. Malah dia merasa lebih baik begini. Mereka bisa fight.


*


*


*


Xavi merasa lega melihat hasil rekam jantung maminya yang ditunjukkan papinya.


"Papi akan membawa mamimu pergi bersama Dave. Kamu bisa menikahi Daiva. Restu papi ada untukmu. Tapi maafkan, papi yang ngga bisa menemani akadmu," kata Hendy-papinya panjang lebar. Suaranya bergetar. Padahal itulah harapan terakhirnya setelah Aiden meninggal. Menemani Xavi akad dengan pilihan hatinya. Tapi situasinya membuatnya harus melupakan keinginannya itu.


Saat ini mereka sedang berada di balkon kamar Xavi. Sedangkan maminya sedang beristirahat bersama Dave yang menjadi pelepas rindunya pada Aiden.


Semakin hari wajah Dave menunjukkan kemiripannya dengan Aiden dan Xavi.


"Papi...." suara Xavi terdengar serak. Perasaannya canpur aduk, antara senang dan sedih.


Dia akan menikahi Daiva dan bisa hidup selamanya dengannya. Akhir yang dia tunggu tunggu akan terjadi juga.


Tapi dia akan menjauh dari papi, mami dan keponakannya-Dave yang sedang tumbuh menjadi bayi yang lucu menggemaskan.


Awalnya Xavi ingin membawa Dave juga dan akan mengajaknya hidup berdampingan dengan bayi Eldar. Tapi pastinya ngga akan disetujui oleh papi, apalagi maminya.


"Dulu papi dan mani pernah membuat kesalahan besar pada Dewan. Membuatnya berpisah dengan mamanya Rihana, bahkan sampai meninggal. Mungkin ini balasannya. Aiden meninggal. Papi dan mami ngga boleh egois. Dewan juga pasti ngga mau melihat mama Daiva-kakak satu satunya menderita karena ulah sahabatnya," cerita papinya membuat Xavi agak terkejut, karena baru tau hal ini.


"Sekarang saatnya Papi akan menebusnya. Papi juga menyukai Daiva. Dia gadis yang baik dan lembut. Sebenarnya papi dan mami dulu ada rencana untuk mengenalkan kamu dengannya," sambung Hendy-papi Xavi dengan nada getir.


Xavi terperangah mendengarnya. Hal ini membuatnya semakin menjadi pendengar yang seksama karena ingin tau kelanjutannya.


"Kamu tipe pekerja keras. Daiva juga begitu. Mungkin pertemuan kalian akan berbeda jika ngga ada peristiwa tragis Aiden."


Ya, Xavi akui, mungkin dia akan memandang Daiva dengan cara yang berbeda dengan sekarang.


Jika dulu sampai terjadi, maka mereka akan terikat karena perjodohan. Tapi sekarang murni karena saling mencintai satu sama yang lain.


"Pesan papi, Jaga Daiva baik baik. Papi juga yakin Daiva bisa membahagiakan kamu. Sesekali, kirimlan foto bayi El pada papi, ya. Dia tetap cucu papi."


Xavi hanya bisa mengangguk, kemudian memeluk erat papinya.


"Terima kasih, Papi. Terima kasih."


"Kamu anak papi satu satunya. Kamu harus bahagia."


Mata Xavi pun memanas. Demikian juga mata papinya.


Setelah papinya meninggalkan kamarnya, Xavi pun menelpon Daiva. Dadanya terasa sangat ringan karena beban yang menggayut di sana susah hilang.


"Hai, sayang."


"Xavi, kamu apaan, sih?"


Xavi tertawa, bisa membayangkan raut kemerahan dan malu malu Daiva. Dia sudah ngga sabar mengabarkan berita bahagia ini.


"Kita akan menikah. Dua minggu, eh. engga. Seminggu lagi," katanya penuh cinta.


Hening.


"Xavi, minggu depan, kan, Fathan-kakak Alexander akan menikah dengan sepupu Rihana?"


"Appaa? Kenapa keluarga itu selalu saja menggelar acara pernikahan," decihnya dengan suara kesal.


Pertama, Rihana, kemudian Puspa. Dan sekarang sepupu Rihana yang Xavi belum tau siapa itu.


Terdengar suara tawa renyah dan merdu milik Daiva.


"Papi sudah merestui kita. Aku ingin segera menikahi kamu," decak Xavi manja campur kesal.


"Mami kamu gimana?"


Hening lagi


"Restu mami sudah lama ada. Mungkin mamiku lupa," jawab Xavi membuat Daiva bertanya tanya dalam diamnya.


"Intinya kita sudah direstui. Cuma maafkan, mereka berdua ngga bisa hadir, sayang. Ngga apa apa, ya. Tetap sah, kan. Aku ngga butuh wali," ucap Xavi bagaikan serangan bom tanpa henti.


"Ya udah, besok ke rumah temuin papi dan mami. Juga opa, oma dan Om Dewan."


"Oke, siapa takut. Tunggu aku malam besok, my dear."


"Kenapa ngga besok pagi," tantang Daiva kemudian tertawa lagi.


"As you wish, honey."


Hening.


"Aku cinta mati sama kanu, Daiva," ucap Xavi penuh perasaan. Baru kali ini dia jatuh cinta dan harus melewati jalan serumit ini.


"Jangan bilang mati, ah." Nada suara Daiva terdengar kesal dan takut.


Xavi tertawa lepas.


"Xavi! Aku serius," seru Daiva tambah kesal. Dia masih trauma dengan kematian di sekitarnya.


"Oke, oke, aku ralat. Aku jatuh cinta sedalam dalamnya sama kamu, Daiva Iskandardinata," kata Xavi sangat serius.


Di kamarnya senyum teramat manis terkembang di bibirnya. Dia sangat bahagia mendengarnya. Terlalu bahagia malah.


"Aku juga Xavi. Aku sangat mencintai kamu," ucap Daiva sangat lembut dan pelan, tapi mampu di dengar Xavi yang sudah ngga sabar menunggu besok.