
Fathan menipiskan bibirnya setelah mobil sportnya sampai di garasi rumahnya.
Mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya tadi sebelum pulang.
Flashback
"Fathan. Kita ngga bisa menikah," bisik Nidya dengan wajah jengah.
Bodohnya dia tetap bertahan di situ tanpa mau menjauh dari laki laki yang seperti sengaja memerangkap tubuhnya.
'Kenapa tidak, hemm....?" Fathan balas berbisik, menggoda gadis yang terlihat sangat salah tingkah dalam jarak yang cukup dekat dengannya.
PLAK!
Fathan tertawa saat tubuhnya terdorong satu langkah ke belakang ketika Nidya memukul bahunya cukup keras
Gemas mungkin.
Nidya melancarkan tatapan horornya saat laki laki itu terus saja tertawa.
Tapi hati bodohnya bergetar, begitu juga dadanya pun berdesir hebat.
Ternyata dia sangat tampan, batin Nidya memuji, mulai merasa ngga waras dengan alam bawah sadarnya.
Fathan yang selama ini kaku dan dingin, kini sangat luwes tertawa. Tawanya pun terdengar merdu di gendang telinga Nidya
Dia beneran sudah gila.
Besok Nidya akan memeriksakan kerusakan selaput gendang telinganya ke dokter spesialis THT.
Fathan masih ngga bisa menghentikan tawanya. Rasanya baru kali ini dia merasa sebahagia ini. Jantungnya pun berdebar kencang seoalah dia habis melakukan treadmild dengan kecepatan tinggi.
Pantasan Daniel selalu tampak bugar karena hobinya menggoda para perempuan. Mungkin ini yang dirasakannya. Saat melihat perempuan yang sedang digodanya salah tingkah, disitulah letak kesenangannya.
Apalagi bisa membuat gadis segalak Nidya bisa salah tingkah. Dia patut mendapatkan apresiasi.
Fathan merasa yakin, kalo Alexander ngga bisa membuat Nidya semanis ini.
"Aku pulang. Pamitkan pada orang tuamu dan Kalandra yang sedang mengintip kita, ya," kekehnya lagi sambil membalikkan punggungnya. Tawanya pun masih terdengar.
Ap apa katanya?
Langkah Nidya yang akan mengejar laki laki itu jadi tertahan. Reflek dia menoleh ke belakang.
Ngga ada siapa siapa, batinnya panik.
Malu ketangkap basah sudah pasti.
Tapi sudut matanya menangkap bayangan Kalandra di salah satu sudut pilar
Sialan, makinya makin malu dan mengurungkan niatnya mengejar Fathan yang masih tertawa dan sudah menjauh.
BRAK!
"Aduh," ringis Nidya sakit campur malu saat kaki bodoh ngga sengaja menabrak pot keramik tanaman hias milik mamanya hingga pecah berserakan.
Kenapa pot ini ada di sini....
Nidya mengerang kesal, dan bertambah tambah malumya apalagi Fathan membalikkan tubuhnya. Menatapnya dengan sisa tawa di bibirnya.
Tatapannya membuat Nidya tambah ingin cepat cepat menyingkir.
Tanpa mempedulikan wajah meledeknya, Nidya setengah berlari pergi meninggalkan kekacauan yang sudah dia buat.
Kalandra hanya bisa memukul kening melihat tingkah malu malu adiknya.
Fix sudah. Nidya sudah beralih hati ke Fathan. Sangat sulit diterima akalnya.
Kemudian dia melihat Fathan membalikkan tubuhnya pergi dengan senyum yang ngga bisa lepas dari bibirnya.
Sialan. Kenapa dia berubah seperti Daniel dan Emra, decih Kalandra membatin.
Bisa bisanya, batinnya ngga percaya.
Teringat sosok Fathan yang kurang lebih seperti dirinya. Kaku dingin dan datar. Sangat berbeda dengan dirinya yang sekarang.
Kemudian terbayang juga dengan kelakukannya saat menggoda Adriana.
Bukannya dia juga seperti itu, batinnya merasa malu sendiri.
Dia pun sama ternyata.
End Flashback
Perlahan Fathan memasuki mansionnya. Ternyata keluarganya sedang berkumpul dengan lengkap. Bahkan Daniel juga ada di sana.
"Memangnya apa yang mau kamu katakan?" tanya maminya lembut setelah saling pandang dengan suaminya.
"Ya, papi juga ngga sabar."
"Apa ini tentang rumor hubunganmu dengan Nidya?" cetus Daniel menyindir sambil melirik Alexander, yang langsung mengangkat satu alisnya.
"Ya," tegas Fathan ngga terpengaruh provokasi adik bengalnya, Daniel. Dia tetap tenang.
Afif-Papanya berdehem sebanyak dua kali.
"Apa yang kamu ingin papi dan mami lakukan?"
"Melamar Nidya untukku."
"Kamu serius?" kekeh Daniel. Dia ngga bisa menahan tawanya. Bagaimana bisa Fathan menginginkan gadis jutek itu.
Tapi kemudian dia meringis akibat sepakan keras Fathan di tulang keringnya.
Saat akan marah, Fathan memberi isyarat dengan mengerlingkan sudut matanya ke arah Rihana.
Adik bengalnya selalu saja ngga tau situasi kalo berbicara.
Daniel hanya bisa mengumpat. Karena setaunya Rihana ngga bakalan marah. Kakaknya terlalu berprasangka buruk. Atau jangan jangan dia yang malah merasa ngga enak hati karena menyukai Nidya yang jelas jelas menyukai Alexander.
Huuh, dengus Daniel menghina.
"Besok malam. Aku sudah telanjur mengatakannya pada Om Cakra dan istrinya."
"Baiklah, kalo begitu mami dan Rihana akan menyiapkan barang barang eksklusif buat lamaran kamu, sayang," sambut mami dengan nada suara sumringah.
"Siap, Mami," sahut Rihana dengan wajah berseri seri.
Syukurlah kakak sepupunya sudah menemukan laki laki yang tepat. Sekarang ini hatinya merisaukan Kirania. Kata Puspa, dia sedang dekat dengan Hazka yang sebelas dua belas dengan Kak Daniel dan Kak Emra.
"Kamu ngga apa apa Rihana?" tanya Daniel ngga habis pikir.
Apa dia ngga takut kalo Alexander akan berpaling pada si judes yang genit itu?
"Kenapa, kak?" Rihana balik bertanya bingung.
Alexander menatap Daniel kesal. Begitu juga Fathan.
"Sudah Rihana, ngga usah kamu pikirkan. Ayo, kamu ikut mami ke atas. Kita perlu mempersiapkannya," lerai maminya sambil bangkit dari duduknya. Begitu juga Rihana.
Mami pun meraih tangan Rihana.
"Alex, malam ini sama besok, Rihana ikut mami. Aduuuh... Waktunya mepet sekali," keluh mami sambil membawa Rihana pergi.
"Ngga bisa begitu, mami. Terus aku sama siapa malam ini tidurnya," rengek Alexander ngga terima.
"Sama papi sana, bantu Fathan. Kamu juga Daniel, bantu Fathan."
"Ngga mau mami. Aku ngga bisa tidur sendiri," tolaknya masih dengan nada merengek manjanya. Rihana sampai mengurut dada begitu tau watak asli Alexander yang selama ini dia sembunyikan.
"Kamu jangan manja, Alexander!" kesal mami sambil terus membawa Rihana pergi. Banyak sekali persiapan yang harus dia lakukan. Tentu saja dia butuh bantuan menantu kesayangannya.
Rihana hanya bisa tersenyum lebar tanpa bisa berkata kata sambil melirik suaminya yang nampak nelangsa.
"Kenapa kamu harus secepat ini menikah," hardik Alexander pada kakaknya yang sedang terkekeh melihat nasib sialnya. Tentu saja setelah maminya dan Rihana sudah menjauh.
Fathan ngakak mendapat hardikan marah adiknya. Daniel dan papi pun ikut tergelak.
*
*
*
"Harusnya kamu senang, karena setelah ini kamu bisa secepatnya menikahi Adriana," komen Emir santai saat Kalandra mendatangi mansionnya dan langsung menumpahkan unek uneknya.
"Apa ini ngga terlalu cepat?"
"Menurutku nggak. Baru kali ini aku melihat Fathan tertarik dengan perempuan Dia sama sepertimu, kan. Apa kamu ngga menyadarinya?" sarkas Emir membuat Kalandra terdiam. Berusaha mengurai apa yang sudah terjadi antara dia dan Adriana, serta Fathan dengan adiknya Nidya.
Dasar, ejek Emir dalam hati.
Keduanya mungkin sama sama pewaris utama, jadi lebih memikirkan pekerjaan dari pada perempuan.
Emir sempat kaget juga karena akhirnya Kalandra bisa naksir Adriana. Itu pun setelah dua tahun baru dia bisa melihat Adriana sebagai perempuan yang menarik.
Dan si bodoh satu lagi, Fathan. Selama ini Nidya pun cukup dekat dengannya, tapi sedikitpun dia dan sepupunya itu sama sama ngga sadar kalo jodoh mereka di depan mata. Malahan Nidya selalu mengejar Alexander yang selalu mengabaikannya.
Dunia memang sukanya mentertawakan kebodohan orang orang yang berada di dalamnya.