NOT Second Lead

NOT Second Lead
Memghilangkan bukti



Setelah pulang dari pemakaman Aiden, Aurora pamit pada mama dan papanya untuk ke kantor Agensinya dengan alasan kalo ada sedikit masalah di sana.


"Perlu papa temani?" tanya Dewan sambil menutup pintu mobil. Mereka baru saja sampai di rumah.


"Ngga usah, Pa, Aurora bisa sendiri," tolaknya kemudian mengecup pipi papanya. Ngga mungkin papanya ikut, karena dia akan menghilangkan barang bukti pembunuhan Aiden.


"Mau kemana?" tanya Oma Mora sambil menghampiri cucunya yang beberapa hari ini ngga ditemuinya.


"Ke agensi, Oma. Sebentar aja," janjinya juga beralih mencium pipi Omanya.


Oma Mora mengganggukkan kepalanya.


"Ya, udah hati hati," ucap Opa Iskandardinata sambil menggusar rambut cucunya.


"Ya, Opa," pamitnya sambil masuk ke dalam mobilnya.


Irena sempat ingin mencegah kepergian putrinya, tapi ditahannya. Takut Aurora merasa lelah. Hanya saja dia heran, kemana mobil baru putrinya. Ngga ada di garasi.


Tapi melihat putrinya yang terburu buru, membuatnya membatalkan niatnya untuk bertanya.


Aurora pun melajukan mobilnya ke arah kantor agensinya. Tepatnya ke arah basemen, tempat mobil putih barunya berada selama beberapa hari ini.


Begitu sampai di basemen, Aurora memarkirkan mobilnya di dekat mobil putihnya berada. Dia mengeluarkan kopernya yang sudah dia kosongkan.


Kemudian masuk ke dalam mobil putih bersama kopernya.


Melipat jaket dan menyinpan wig, masker, topi dan kaca mata ke dalam koper. Dia agak berdebar melihat noda darah pada jaket yang dilipatnya. Darah Aiden.


Salahmu, batinnya membenarkan tindakannya. Jika Aiden ngga terlalu banyak menuntut, dia pasti masih hidup.


Kemudian, membawa lagi koper itu ke dalam mobil yang tadi dibawanya. Menyimpannya di kursi sampingnya. Kemudian Aurora melajukan mobilnya lagi ke arah luar kota. Dia agak bingung mau membuang koper ini dimana..Mau nyuruh ob di kantor, dia takut nanti si ob malah membuka kopernya dan jadi curiga. Hari pun masih siang dan lalu lintas terlihat cukup rame. Menyulitkan untukmya membuang koper ini di pinggir jalan.


Hingga akhirnya mobilnya berhenti di sebuah kos kosan putri yang lumayan rame. Ada plang yang bertulis merima anak kost putri.


,Bibirnya tersenyum. Dia akan menyewa sebuah kamar kos selama setahun untuk menyimpan koper ini. Besok dia akan menjual mobil itu setelah lebih dulu membersihkannya di carwash.


*


*


*


Alexander sengaja mengunjungi Rihana sebelum berangkat ke perusahaannya.


"Kamu sebaiknya istirahat dulu," kata Alexander yang disetujui Puspa, Kirania dan Oma Mien.


"Aku udah sehat, kok," bantahnya kesal karena Alexander ikut ikutan mencegahnya kerja.


"Tunggulah beberapa hari lagi," kata Alexander penuh makna. Dia merasa aman jika Zira ngga pergi kemana mana dulu. Keadaan belum kondusif, apalagi kalo memang terbukti pembunuh Aiden adalah Aurora. Zira pasti dalam bahaya.


"Aku akan menemanimu kalo kamu mau kerja. Boleh, kan, Oma, Opa?" tanya Alexander serius.


"Kamu, kan, kerja. Masa sering bolos," sergah Rihana mengingatkan. Tambah sewot apalagi melihat kerlingan nakal Alexander padanya.


"Emang Alex anak sekolahan, pake acara bolos segala," kekeh Kiramia ditimpali Puspa.


Rihana melirik dua sepupunya kesal. Senang sekali meledeknya kalo ada Alexander. Alexander juga aneh. Tampak lebih hangat dan ramah. Padahal dulu dia sangat dingin dan kaku. Batin Rihana terus saja mengomel.


"Gimana kalo di perusahaanku. Sekalian latihan," tukas Alexander membuat Oma Mien dan Opa Airlangga tersenyum mengerti. Puspa dan Kirania tambah terkikik. Wajah Rihana pun memerah, dia juga mengerti maksud tersirat Alexander.


"Boleh juga," tanggap Opa Airlangga.


Alexander tersenyum melihat wajah Rihana yang cemberut.


"Oma antar Opa dulu, ya," ucap Oma sambil berjalan di samping suaminya.


"Iya, Oma," sahut Rihana. Alexander hanya tersenyum melihat kepergian Oma Mien dan Opa Airlangga.


"Bareng Oma," ucap Puspa dan Kirania kompak.


"Dah Rihana," lambai keduanya terkekeh.


Rihana kembali memanyunkan bibirnya. Alexander kembali tersenyum geli melihat reaksi kekasihnya.


"Ada yang mau aku tanyakan," ucap Alexander setelah keempat orang itu sudah ngga terlihat.


"Apa?" masih dengan wajah manyunnya Rihana menjawab


"Maksud kamu?" Rihana mulai serius menatap Alexander. Dia pernah mendengar rumor kedekatan Aiden dengan Bu Zerina. Rihana bingung, kenapa tiba tiba Alexander menanyakannya.


"Kata kembaran Aiden, dia melihat pegawai perusahaan papa kamu menangis di makam Aiden."


Rihana menatap Alexander dengan tatapan ragu.


Sejak mengetahui Aiden bertunangan dengan Aurora, menurut Puspa, Bu Zerina tampak murung.


Apalagi sekarang Aiden sudah meninggal. Pasti Bu Zerina sangat sedih, batin Rihana.


"Kamu tau?" tanya Alexander yakin melihat ekspresi Rihana yang berubah murung.


"Bu Zerina. Kata Puspa mereka sudah cukup lama berhubungan," lirih Rihana menjelaskan.


Alexander manggut manggut dengan benak penuh tanya.


Lantas kenapa Aiden mau menerima pertunangannya dengan Aurora?


"Zira, kamu jangan dekat dekat dengan Aurora," pelan Alexander memberitau.


"Kenapa?"


"Aku dan Herdin curiga kalo Aurora yang membunuh Aiden."


Bibir Rihana terbuka, tapi suaranya ngga terdengar. Dia sangat terkejut.


Ngga mungkin, bantahnya ngga percaya.


"Kami sedang menyelidikinya. Ingat, Zira, Aurora bahaya," bisik Alexander memberi ingat.


"Karena itu kamu menahan aku di rumah saja?" tebak Rihana


Alexander menganggukkan kepalanya membenarkan.


"Untuk sementara jangan kemana mana dulu, ya," sahut Alexander mewanti wanti. Dia takut Aurora akan semakin kehilangan kontrol akan dirinya.


Rihana mengangguk.


"Kalo kamu bosan, bisa hubungi aku," senyum Alexander membuat Rihana tersipu.


"Jangan sampai terluka lagi. Aku ngga akan kuat melihatnya," lembut Alexander bergumam tapi bisa didengar jelas oleh Rihana yang jantungnya semakin berdebar ngga menentu dan semakin salah tingkah.


"Aku kerja dulu, ya. Di rumah aja, ya, sayang," ucap Alexander sambil mengecup pipi Rihana yang tambah panas merona.


Setelah mengantar Alexander pergi, Rihana teringat papa, Oma Mora dan Opa Iskan.


Gimana reaksi mereka jika tau kalo memang Auroralah pelakunya?


Rihana menghela nafas panjang.


*


*


*


"Sadis sekali," komen Opa Iskan yang sedang melihat layar ponselnya.


"Siapa, Pa?" tanya Irena yang mendekat dengan kopi panasnya.


"Terima kasih, sayang," senyum hangat Opa Iskan pada menantunya yang sudah di sia siakan putra keras kepalanya selama bertahun tahun itu.


"Sama sama, Pa. Papa lihat apa?" tanya Irena-Mama Aurora tertarik dan langsung duduk di dekat mertuanya.


"Papa lagi nonton rekaman cctv saat Aiden.dipukul kepalanya dengan.kunci Inggris," jelasnya menjeda.


"Sadis banget. Ngga tega Papa sebenarnya melihat ini," lanjutnya lagi.


"Iya, kejam," komentar Irena yang juga ikut melihat.


Tapi jantungnya berdebar keras saat melihat mobil baru berwarna putih yang dinaeki pelaku.


Irena merasa kalo itu mobil yang baru beberapa hari dibeli Aurora, putrinya.


Tidak. Tidak. Bisa saja dia salah, kan? Orang lain pasti juga memilikinya, sangkalnya dalam hati. Tapi ngga urung juga jantungnya semakin keras berdetak